
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Hoaaaammm...
Seperti kebiasaan hampir semua orang di pagi hari, Elle merenggangkan tubuhnya dengan rasa nyaman, kedua mata perempuan itu masih terpejam erat. Hawa dingin di pagi hari membuatnya semakin merapatkan selimut yang melekat erat di tubuhnya.
Namun.. Hanya selang beberapa detik kemudian, perempuan itu mengernyitkan keningnya tat kala menyadari sesuatu yang sangat asing di indra penciumannya.
Perempuan itu menyadari kalau aroma yang saat ini menyeruak kedalam lubang hidungnya bukanlah aroma familiar yang selalu dia hirup di setiap pagi harinya.
Hal itu jelas saja membuat rasa kantuknya benar-benar hilang seketika. Kedua matanya kini terbuka dengan sangat lebar.
Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau saat ini dia tidaklah tengah bermimpi.
"What the hell.. Di mana aku?"
Perempuan itu bergegas beranjak dari kasur empuk yang menjadi tempatnya berbaring.
Bingung.. Sungguh, dia benar-benar bingung.
Seingatnya, tadi malam, setelah Amy pulang, dia memutuskan untuk menonton serial kesukaannya. Seingatnya pun, dia menonton serial seraya berbaring di tempat tidurnya.
Toh, kalau pun memang dia tidak sengaja tertidur, bukan kah seharusnya dia tertidur di kasurnya? Lantas, kenapa dia bisa terbangun di tempat yang begitu asing untuknya.
Ah tidak tidak.. Setelah terus memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, Elle sadar kalau dia merasa familiar dengan ruangan itu.
"Oh God..."
Perempuan itu meratap setelah menyadari tempat di mana saat ini dia tengah berada.
San Marino.. Kamar Gavin..
Elle ingat betul kalau ini adalah kamar milik Gavin. Dia sangat yakin dengan opininya karena hanya Gavin seorang yang dengan gilanya menjadikan mobil Nissan GTR sebagai pajangan di dalam kamarnya.
Bukan, bukan miniatur mobil Nissan GTR. Tapi mobil Nissan GTR yang benar-benar mobil Nissan GTR. Yang Elle sangat yakin kalau mobil itu jelas lebih dari hanya sekedar bisa dia kendarai di arena balap.
Tapi.. Bagaimana caranya dia bisa berakhir di tempat ini?
"Kau sudah bangun?"
Elle berjengkit saat suara Gavin tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam indra pendengarannya. Perempuan itu lantas segera menoleh pada Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"What? Why? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Gavin mengernyitkan keningnya melihat Elle yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kenapa?" Elle mendengus sebal. "Kau bertanya kenapa? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Bagaimana bisa aku berada di sini?"
Gavin mengedikkan bahunya. "Bukan kah sudah jelas? Aku yang membawamu kesini."
Pria itu melenggang pergi begitu saja menuju walk-in closet. Mengabaikan Elle yang tidak melepaskan tatapan tajamnya.
Elle yang merasa tidak puas akan jawaban Gavin pun memilih untuk mengikuti langkah pria itu. Perempuan itu bahkan mengabaikan fakta kalau Gavin saat ini hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit indah di pinggul kekarnya.
"But, how? Tadi malam sudah sangat jelas kalau aku tertidur di tempat tidurku."
"Itu juga tempat tidurmu Ell.."
"Bukan itu maksudku.. Tempat tidurku, kamarku.."
"Ini juga kamarmu."
"Oh God!" Elle mengerang frustasi. "Ok, mari kita lupakan tentang hal itu.. Jawab saja pertanyaanku. Bagaimana bisa kau membawaku kesini tanpa aku menyadarinya?"
__ADS_1
"Aku menggendongmu, membawamu masuk kedalam jet. Dan ya, kau berakhir di sini."
"Kau tidak membiusku kan?"
"What?"
Tangan kanan Gavin yang hendak membuka laci seketika saja terhenti saat mendengar pertanyaan konyol itu. Pria itu menoleh pada Elle, dia menatap Elle dengan sebelah aslinya yang terangkat.
"Membiusmu? Aku tidak se konyol itu babby.. Aku mampu membawamu kesini tanpa harus melakukan hal konyol seperti apa yang ada di pikiranmu. Aku lebih suka menggunakan kekerasan dari pada menggunakan hal konyol yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku."
Elle terdiam untuk sejenak. "Begitu kah?"
Gavin memutar bola matanya, dia lantas melanjutkan apa yang menjadi tujuan utamanya.
"Wait wait.. Apa yang akan kau lakukan?"
Elle merasa sedikit panik saat Gavin hendak melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya.
Gavin mengernyitkan keningnya, dia menatap Elle dengan tatapan bingung.
"Oh c'mon babby.. Apa kau tidak melihat sekelilingmu?"
Elle mengerjapkan matanya, dia menatap ke sekelilingnya. Perempuan itu menelan salivanya saat menyadari kalau dia mengikuti langkah Gavin hingga ke dalam walk-in closet.
"O.. Ok.. I'm sorry.."
Perlahan Elle membalikkan tubuhnya, dia hendak pergi meninggalkan ruangan itu.
Namun, baru satu langkah dia berjalan. Elle terhenyak saat Gavin tiba-tiba saja menariknya.
Dengan gerakan cepat, Gavin membaringkan Elle dia atas sofa yang kebetulan terletak dekat dengan posisi mereka saat ini. Gavin menempatkan Elle tepat di bawah kungkungannya.
Glup..
Elle menelan salivanya dengan susah payah melihat dada bidang Gavin yang terpampang nyata di depan kedua matanya.
Suara Elle terdengar sedikit bergetar, perempuan itu saat ini benar-benar merasa gugup.
"Yes babby?"
Oh God.. Kepala Elle tiba-tiba saja terasa berdenyut.
Ayolah.. Ini masih pagi hari, tapi Elle sudah di hadapkan dengan pemandangan yang bisa membuat kaum hawa mana saja merasa sesak. Jangan lupakan suara berat Gavin yang terdengar sangat seksi, juga aroma maskulin yang menguar dari tubuh Gavin. Membuat rasa gugup Elle semakin bertambah berkali-kali lipat.
Bahkan hingga membuat Elle lupa kalau tadi malam dia masih sempat menangis tersedu-sedu di pelukan Amy.
"Gavin.. Ini.. Terlalu dekat.."
Elle memalingkan wajahnya saat Gavin perlahan mulai mendekatkan wajahnya.
Gavin menggigit bibir dalamnya melihat Elle yang saat ini sedang tersipu. Bahkan hingga membuat telinga perempuan itu benar-benar berwarna merah.
"Oh babby, ini bukan kali pertama kita sedekat ini. Kenapa kau masih saja selalu tersipu?"
Tangan kanan Gavin terangkat untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Elle.
"Hungh.." Elle mendengus sebal. "Tidak bisa kah kau menyingkir?" Elle berusaha untuk mengabaikan Gavin.
"Morning kiss.. Lalu aku akan melepaskanmu."
Elle menggeleng cepat. "No.."
"Just one kiss babby.. Anggap saja sebagai obat untuk rasa lelahku."
Lagi, Elle menggelengkan kepalanya. "No.."
"Ok.. Terserah, aku bisa bertahan dalam posisi ini selama satu hari penuh."
__ADS_1
"Oh God!" Elle memutar bola matanya.
Terkutuklah Gavin dengan segala sifat keras kepalanya.
Mau tidak mau, Elle kembali menatap Gavin. Ya, meskipun dia tidak bisa menatap kedua mata Gavin, tapi setidaknya wajahnya menghadap ke arah pria itu.
Bukannya Elle benar-benar ingin mencium Gavin. Hanya saja.. Ayolah.. Siapa juga yang akan tahan dalam posisi ini selama satu hari penuh.
"Just.. One kiss.." Lirih Elle.
Gavin tersenyum licik saat mendengar persetujuan dari Elle. Rasanya seperti baru saja memenangkan pertarungan panjang yang sulit untuk dia hadapi.
Kalau di pikir lagi, berlebihan memang. Tapi ya, begitulah.. Gavin bisa saja memaksa perempuan mana saja, tapi tidak dengan Elle. Entahlah, perempuan ini terlalu berbeda untuknya.
"Ok, just one kiss.."
Perlahan, Gavin semakin mempersempit jarak di antara mereka.
Namun....
Bruk...!!
Gavin dan Elle dengan cepat menoleh ke arah pintu masuk walk-in closet.
Itu patricia.. Dia berdiri di ambang pintu, dengan sebuah paper bag yang tergeletak tepat di bawah kakinya.
Mereka berada dalam keheningan untuk beberapa saat.
Elle yang akhirnya tersadar akan situasi pun memilih untuk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gavin.
Sedangkan Gavin, pria itu hanya terpaku menatap Patricia dengan wajah datarnya. Seolah menunjukkan kalau dia merasa kesal karena Patricia sudah mengganggu waktunya.
"I'm sorry.. Sepertinya aku mengganggu waktu kalian. Pintunya sedikit terbuka. Jadi, aku, masuk begitu saja. A.. Aku akan meninggalkan kalian.."
Patricia bergegas pergi dari sana. Namun sedetik kemudian, perempuan itu kembali ke tempatnya. Dia merasa sedikit malu melihat Gavin dan Elle yang masih berada di posisi mereka.
"Hanya saja.. Bisa kah kalian segera turun? Semua orang sudah menunggu."
Patricia bergegas mengambil paper bag yang dia jatuhkan.
"Ini dress untuk Elle, aunty hannah ingin Elle mengenakan ini."
Patricia meletakkan paper bag itu di atas nakas yang ada di samping pintu masuk.
"Kalau begitu.. Bye.. And.. Sorry.."
Patricia melenggang pergi dengan sangat tergesa, wajahnya begitu memerah akibat apa yang baru saja dia lihat.
Mendengar pintu kamar yang terbanting dengan cukup keras, lantas membuat Elle segera menarik wajahnya dari ceruk leher Gavin.
"Bodoh.."
Kata itu terucap begitu saja dari belah bibir Elle.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1