Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Melelahkan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Astagaaaa... Pria itu benar-benar memberiku hukuman yang sangat berat."


Elle menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, dia melirik jam yang terpasang di dinding yang kini sudah menunjukkan pukul 11.23 a.m.


"Waaah, ck ck ck ck, dia membuat ku kewalahan selama 4 jam."


Elle menggerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara perlahan untuk melenturkan otot lehernya yang terasa kaku.


"Oh God, sekujur tubuhku terasa sangat sakit."


Kedua tangan Elle tergerak untuk memijat bagian tubuhnya yang tercapai. Kaki, leher, punggung, pinggang, lengan, ah.. Semuanya benar-benar terasa sangat pegal.


Lelah dengan keadaan, Elle pun memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa. Baru saja kepalanya bersentuhan dengan empuknya bantal sofa, rasa kantuk seketika saja menghampiri Elle.


Elle tidak peduli kalau tubuhnya masih lengket dengan keringat. Yang Elle butuhkan untuk saat ini hanyalah tidur guna menghilangkan rasa penatnya dari hukuman yang di berikan oleh Gavin.


FLASHBACK, 5 JAM YANG LALU, 06.00 a.m.


"Eunghhh..."


Elle melenguh seraya merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Dia membuka matanya guna untuk melihat keadaan sekitar. Namun, gadis itu hanya mampu membuka dalam waktu 4 detik saja.


Sungguh, kedua kelopak mata Elle terasa sangat berat seperti ada beban yang menimpanya. Ah, bukan hanya kelopak matanya saja, bahkan sekujur tubuhnya pun terasa linu.


Sebenarnya, apa yang terjadi semalam? Elle berusaha untuk mengingat kejadian tadi malam.


"Haish.."


Elle mengusap wajahnya dengan kasar saat ingatan itu sudah tersusun rapi di kepalanya. Tapi, setidaknya Elle masih bisa menghembuskan nafas lega karena pakaiannya masih utuh.


Tunggu, masih utuh? Oh God, itu berarti akan ada hukuman lain yang menantinya.


Elle seketika saja menoleh ke arah sampingnya, tempat di mana Gavin seharusnya tertidur.


Elle mengernyitkan dahinya karena tidak melihat keberadaan Gavin. Dia lantas melirik jam yang terpasang di dinding.


"Kemana dia pergi di pagi buta seperti ini?"


"Ah, sudahlah.. Biarkan saja.. Sebaiknya aku berpikir tentang bagaimana aku harus menghindari pria itu."


Namun...


"Kau sudah bangun?"


Belum juga sempat berpikir, orang yang sangat ingin dia hindari tiba-tiba saja sudah muncul di hadapannya.


"A, ha ha.. Ya.. Aku, emm.. Ya, seperti yang kau lihat, aku sudah bangun."


Elle perlahan beringsut dari tidurnya, dia duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur.


"Bagus.. Ganti pakaianmu lalu temui aku di lantai 3."


"Lantai 3? Untuk apa?"


Gavin mengedikkan bahunya, "seharusnya kau tahu itu tempat apa. Ku beri waktu 10 menit."


Tanpa berkata apa pun lagi, Gavin berlalu pergi dari sana, meninggalkan Elle yang masih saja terpaku pada rasa bingungnya.


"Lantai 3?"


Elle masih saja berpikir mengenai lantai 3 yang di sebutkan oleh Gavin. Dia sedang mengingat tempat seperti apa yang ada di sana. Lagi pula, ada banyak lantai di bangunan ini. Dan di setiap lantainya merupakan tempat dengan fungsi yang berbeda. Wajar saja kan jika Elle sedikit kesulitan untuk mengingatnya?


"Oh God! Mati aku.."


Elle mengusap wajahnya dengan kasar saat sudah teringat tempat seperti apa yang akan dia datangi. Gadis itu pun lantas bergegas beranjak dari tempatnya, bersiap untuk menghadapi apa yang akan dia hadapi.


***


"Huh huh huh huh.."


Elle sedari tadi terus saja bernafas dengan sangat tersengal-sengal. Keringat pun kini sudah membasahi sekujur tubuhnya. Tidak ada keberanian dalam dirinya untuk menyuarakan keluhannya. Setiap Elle berkeluh kesah, Gavin akan semakin menambah kecepatannya.


Bayangkan saja betapa lelahnya, Elle sudah hampir 1,5 jam berlari di atas treadmill dengan kecepatan 20 mph tanpa berhenti. Rasanya saat ini Elle seperti ingin menangis saja, kedua kakinya benar-benar sudah mati rasa.


Elle melirik Gavin yang sedari tadi duduk seraya memperhatikannya tanpa henti. Elle merasa sedikit heran pada pria itu, bagaimana dia bisa begitu betah memperhatikan Elle? Apa pria itu tidak merasa bosan?


Ah, tidak.. Elle harus meralat pertanyaannya. Apa pria itu tidak merasa kasihan Seharusnya pria itu tau kalau daya tahan tubuh Elle tidak se tangguh dirinya. Tega sekali dia menyiksa Elle sampai seperti ini.


"Ada apa?"


Gavin pun mengeluarkan suaranya karena Elle terus saja melirik ke arahnya.


"Gavin, aku lelah.."

__ADS_1


Suara Elle kini sudah terdengar sangat bergetar.


Gavin menghela nafasnya untuk sejenak, dia pun beranjak dari tempatnya kemudian melangkah mendekati Elle.


Jujur saja, sebenarnya dia merasa sedikit tidak tega melihat betapa tersiksanya Elle mendapatkan hukuman darinya. Tapi ya, mau bagaimana lagi, jika tidak seperti ini, maka Elle tidak akan pernah merasa jera.


"Lakukanlah pemanasan selama 5 menit."


Gavin menurunkan kecepatan menjadi 2 mph per mil.


"Hah? Masih ada 5 menit? Apa tidak terlalu lama? Tidak bisa kah kita mengakhirinya saja?"


"Menurutlah, kau membutuhkan pemanasan agar kakimu tidak kram. Atau haruskah aku kembali menambahkan kecepatannya?"


Elle seketika saja menggeleng cepat. "Ok, 5 menit."


***


"Lagi?"


Elle mengernyitkan dahinya saat Gavin mengulurkan tangannya pada Elle, meminta Elle untuk beranjak dari tempatnya.


Bukan tanpa alasan, Elle kini benar-benar sudah merasa tidak mampu lagi untuk bergerak. Setelah selesai dengan treadmill, Gavin masih menyiksanya dengan berbagai alat olahraga yang lain.


Dan kini, Gavin lagi dan lagi memintanya untuk memakai alat olahraga yang lainnya lagi.


Elle benar-benar tidak habis pikir. Sebenarnya, Gavin sedang memberikan hukuman untuk Elle? Atau kah pria itu memang benar-benar suka melihat Elle tersiksa?


Gavin mengangguk kecil.


"Tapi.. Aku baru saja beristirahat 10 menit yang lalu."


"Seharusnya kau bersyukur karena aku memberikan waktu 10 menit untuk beristirahat. Dalam berolahraga, istirahat 10 menit adalah waktu yang sangat lama."


"Tapi.."


"Come on.."


"Ugh.. Baiklah.."


Elle beranjak dari tempatnya dengan sangat lesu. Dia memposisikan dirinya di tempat yang di tunjuk oleh Gavin.



Pict by : Pinterest


"Pusatkan kekuatanmu di kaki mu. Ku tahu kan? Jika kau tidak menopangnya dengan benar, kau akan mengalami cedera yang cukup serius."


"Bagus."


Gavin tersenyum kemudian mengambil besi pemberat.


"E eh, tunggu dulu.. Kau benar-benar menyuruhku untuk mengangkat beban seberat itu?"


Elle menatap horor pada Gavin yang masih memasangkan besi pemberat.


"Bukan kah kau sudah terbiasa mengangkat beban 30 kg? Tidak ada salahnya kan dengan mencoba 40 kg?"


"Ah, tapi.."


"Aku akan menjagamu."


Elle pun hanya bisa menghela nafasnya. Di lawan pun percuma, dia tetap akan kalah pada akhirnya.


"Atur nafas mu, lalu angkat. Mari kita mulai dengan 15 kali pertama."


"What? 15?"


Gavin mengendikkan bahunya, seolah acuh dengan keluhan yang terpancar dari kedua mata Elle.


Mau tidak mau, Elle pun hanya bisa melakukan apa yang di katakan Gavin. Dia mengatur nafasnya kemudian mulai mengangkat beban itu menggunakan kedua kakinya.


"Satu.. Perlahan saja, okay.."


Gavin bersiap siaga menjaga beban, kalau saja Elle sudah tidak kuat, dia bisa mengangkatnya dengan mudah.


"Dua.."


Baru saja di hitungan ke 7, Elle benar-benar sudah tidak kuasa lagi mengangkat beban itu.


"Ga, Gavin, bisa kah kita menghentikannya? Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. Aku minta maaf, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Suara Elle terdengar sangat bergetar. Sungguh, Elle benar-benar sudah kehabisan tenaganya.


"Ok, mari kita hentikan."


Gavin mengangkat beban yang ada di kaki Elle kemudian meletakkannya ke tempat penyangga. Pria itu menyunggingkan senyum kecilnya melihat Elle yang sudah terkulai lemas tak berdaya dengan kedu matanya yang terpejam erat.


Ya, kau di hitunga, Elle sudah menggunakan lebih dari 10 alat olahraga. Gavin tau betul bagaimana lelahnya yang di rasakan oleh Elle. Terlebih lagi, Elle bisa di katakan cukup pemalas dalam berolahraga.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita beristirahat."


"E, eh.."


Elle cukup terkejut saat Gavin tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal.


"Luruskan kaki mu, aku akan mengambil air minum."


Gavin mendudukkan Elle di sofa yang ada di sana.


"Minumlah."


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Elle meminum sebotol air mineral yang di berikan Gavin hingga tandas.


Hal itu membuat Gavin tak kuasa menahan senyumnya.


"Apa se begitu lelahnya?"


Elle seketika saja melayangkan lirikan tajamnya.


"Kau masih bisa bertanya seperti itu?"


Gavin pun hanya bisa terkekeh kecil.


"Aku akan memijat kakimu."


"E, eh.. Tidak perlu."


"Diam lah, aku melakukannya agar otot kaki mu tidak kaku."


"Ba, baiklah.."


Elle pun hanya bisa membiarkan apa yang di lakukan Gavin. Karena jujur saja, pijatan yang di berikan Gavin cukup membuatnya merasa nyaman.


"Apa terasa nyaman?"


Elle mengangguk kecil. "Hmm.."


Drrrrttt.. Drrrrtttt.. Drrrrtttt..


Ponsel Gavin bergetar saat dia menerima panggilan telepon.


"Aku akan mengangkat telpon dulu."


Elle menganggukkan kepalanya.


"Ada apa?"


Elle bertanya saat Gavin selesai dengan telponnya.


"Aku harus menemui seseorang."


"Pergilah.."


"Aku akan mengantar mu ke kamar terlebih dahulu."


Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Pergilah.. Aku ingin di sini sedikit lebih lama."


"Kau yakin?"


"Hmm.." Elle menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.. Aku akan kembali sebelum makan malam."


Elle mengangguk kecil.


Gavin menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berlalu pergi dari sana. Namun, sebelum dia benar-benar berlalu pergi. Dia tidak lupa menyematkan kecupan singkat di kening Elle.


Elle yang mendapatkan kecupan itu pun hanya bisa mengerjapkan matanya. Jujur saja, rasanya dia dan Gavin benar-benar seperti sepasang suami istri sungguhan.


"Tcih!"


Elle hanya bisa tersenyum kecil saat membayangkannya.


Tidak ingin berdiam diri terlalu lama, Elle pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Flashback off...


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2