
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Rumah Amy..
"Waaaahhh..."
"Hah.. Waaaaahhh!!"
"Ck! Waaaahhh!!"
"Yak! Bisakah kau berhenti berkata wah!"
Amy menatap Elle dengan sangat tajam, telinganya terasa sedikit panas akibat mendengar Elle yang terus saja berkata 'wah' sejak 10 menit yang lalu.
Amy tidak tahu, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Elle. Sahabatnya itu tampak tidak memperdulikan protesannya, dia terlihat sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.
Amy yang benar-benar merasa penasaran pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempatnya kemudian menghampiri Elle.
"Waaaaah..."
Kata itu terucap dari mulutnya tat kala melihat apa yang sebenarnya sedang di lihat oleh Elle. Di mana Elle sedang menonton siaran langsung seorang Disk Jockey favoritnya.
Amy tidak heran kenapa Elle bisa seantusias itu. Wajar saja, penampilan disk jockey itu benar-benar sangat menawan. Bahkan Amy saja merasa terpesona melihat penampilan disk jockey itu. Katakanlah, Amy juga merupakan salah satu penggemar dari disk jockey itu.
Saat sedang memperhatikan penampilan disk jockey itu, Amy mengernyitkan dahinya melihat latar belakang yang sedikit tidak asing untuknya.
"Tunggu, bukan kah itu The Saphire?"
Elle mengangguk cepat, dia menoleh pada Amy.
"Apa sebaiknya kita kesana? Aku benar-benar ingin melihatnya secara langsung."
Amy seketika saja memundurkan kepalanya dengan persimpangan yang tercetak dengan sangat jelas di dahinya.
"Kau gila?"
"Ayolah.. Kita hampir tidak pernah memiliki waktu untuk melihat penampilannya secara langsung. Dia selalu tampil di saat kita memiliki pekerjaan yang begitu banyak. Saat ini kita sedang tidak memiliki pekerjaan apa pun. Ya ya ya.. Ayo kita ke sana, aku benar-benar ingin melihatnya."
Amy menggeleng cepat. "Tidak tidak tidak! itu ide yang buruk. Aku tidak mau mencari masalah dengan calon pacarmu yang posesif itu."
"Apa kau tidak ingat? Dia hampir menghancurkan taman hiburan gara-gara kau pergi tanpa meminta ijin padanya."
Elle memutar bola matanya. "Ayolah.. Itu terjadi karena aku tiba-tiba saja pingsan di sana. Itu juga salahmu karena kau memberitahunya. Padahal saat itu aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja kepalamu! Bagaimana mungkin aku tidak memberitahu Gavin di saat kau pingsan karena kepalamu terbentur! Luka di dahi mu saja belum sembuh."
"Okay okay.. Aku akui itu salahku karena tidak berhati-hati. Aku pastikan, kali ini aku tidak akan membuat kesalahan."
"Tidak!"
Ok.. Jika sudah seperti ini, Elle sepertinya harus mengeluarkan jurus andalannya. Dia menghela nafasnya kemudian menggenggam lengan Amy dengan sangat erat.
"Aaaaaa... Ayolaaaaah.. Ya ya ya ya..."
__ADS_1
Astagaaa!! Lihatlah, betapa menyebalkannya wajah memelas yang di tunjukkan Elle. Mata bulatnya yang di buat sesendu mungkin, air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya, juga kedua sudut bibirnya yang melengkuh ke bawah, benar-benar membuat Amy merasa sangat bimbang. Haruskah dia menuruti kemauan Elle? Tapi...
"Aaaammm.. Ayolaaaahh..."
"Haishh!! Baiklah baiklah.. Tapi berjanjilah, ini untuk yang terakhir kalinya. Dan jika kau mendapatkan masalah, jangan libatkan aku di dalamnya. Ingat, aku sudah memperingati mu!!"
Elle menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, senyum cerah pun terpampang nyata di bibirnya.
"Bersiaplah, aku memberimu waktu 10 menit."
Amy lantas beranjak dari tempatnya tanpa menoleh pada Elle.
"Oh, Demi Tuhan! Aku lebih takut kepada Gavin dibandingkan kepada ibuku ayahku sendiri!!"
Amy mengusap wajahnya dengan kasar.
.......
.......
.......
Di sisi lain..
The Saphire...
"Hai kawan, kalian datang tepat pada waktunya."
Delon menghampiri Gavin dan Sam yang baru saja tiba di sana.
"Tunggu, kalian hanya datang berdua?"
"Aaaa.." Delon mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi begitu."
"Kalian sudah memesan minuman?"
"Hmm.." Sahut Gavin cepat. "Bagaimana barang baru milikmu?"
Pria itu bertanya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari meriahnya lantai bawah yang di isi oleh para pengunjung club yang sedang meliak likukkan tubuhnya mengikuti irama music yang sedang berdentum.
"Ohooo.. Kau tidak perlu bertanya, sudah pastinya melebihi ekspektasi. Apa kau ingin menco.."
Gavin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tertarik."
Delon seketika saja menatap Gavin dengan di penuhi rasa tidak percaya, matanya mengerjap seolah dia sedang berusaha untuk mencerna jawaban spontan yang di berikan oleh Gavin.
Ketahuilah, selama dia menawarkan barang baru kepada Gavin, ini kali pertama pria itu menolak tawarannya tanpa berpikir panjang. Pria itu bahkan menolak sebelum Delon menyelesaikan kalimatnya.
"Hey, apa ada yang salah dengannya?"
Delon berbisik pada Sam yang duduk di sebelahnya.
"Apa kau belum mendengar desas desus yang terjadi beberapa waktu terakhir ini? Ada seorang gadis yang mampu membuatnya bertekuk lutut di bawah kakinya."
"What?!"
Teriakan nyaring Delon seketika saja membuat atensi semua orang yang ada di sana terpusat padanya, tidak terkecuali Gavin.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
Delon dan Sam menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ha ha.. Ti tidak, kami hanya sedang membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting. Ya, tidak terlalu penting."
Delon mengusap tengkuknya, dia berusaha untuk mengalihkan pandangannya dari Gavin.
Tingkah mencurigakan Delon jelas saja membuat Gavin menaikkan sebelah alisnya, namun dia tidak terlalu memusingkan hal itu. Lagi pula, apa juga yang akan di bahas oleh Delon dan Sam jika bukan tentang perempuan.
Gvin pun hanya mengangkat bahunya acuh, dia lantas kembali memperhatikan keramaian yang ada. Karena baginya, tingkah aneh yang di lakukan oleh orang-orang yang ada di sini cukup menghiburnya dari rasa lelahnya.
"Aku baru sadar kalau kau mengundang The K untuk menjadi DJ malam ini."
Gavin memperhatikan sang disk jockey yang sedang menari bersama beberapa perempuan penghibur.
"Hmm.. Aku cukup beruntung karena dia bisa datang malam ini. Kau tahu, dia memiliki jadwal yang cukup padat. Sangat sulit untuk bisa mendapatkannya di club ini."
"Pantas saja malam ini lebih ramai dari biasanya. Kau tahu, aku juga salah satu penggemarnya. Dia cukup terampil dalam memainkan irama music, sangat wajar jika banyak orang yang menggemarinya."
Sam ikut menimpali percakapan Delon dan Gavin.
"Kabarnya, dia memiliki tarif yang cukup tinggi. Benarkah itu?"
Delon menoleh pada Sam kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, tapi aku tidak membayarnya. Dia tampil dengan suka rela. Dia berkata, itu sebagai permintaan maaf karena sudah berkali-kali membatalkan janji untuk tampil di sini."
Sam pun mengangguk-anggukkan kepalanya seraya ber "oh" ria.
Saat Delon sedang menggulirkan netranya ke setiap sudut ruangan, matanya tertuju pada satu kerumunan yang ada di sudut barat ruangan itu. Di mana ada beberapa orang pria yang sedang mengerumuni dua orang gadis.
"Sepertinya ada keributan yang sedang terjadi."
Gavin mengernyitkan dahinya, dia menoleh pada Delon kemudian memperhatikan arah pandang Delon.
"Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan gadis itu."
Delon beranjak dari tempatnya, dia hendak menghampiri kerumunan itu.
Namun, langkahnya terhenti saat Gavin tiba-tiba saja melewatinya dengan langkah yang sangat tergesa.
Hal itu jelas saja membuat Delon merasa sangat bingung, dia pun lanyas menoleh pada Sam.
"Ada apa dengannya?"
Sam menampilkan cengiran lebarnya. "Sebaiknya kau mengikutinya sebelum kekacauan benar-benar terjadi di sini."
Sam kemudian menatap kerumunan itu, kerumunan yang menjadi tujuan Gavin saat ini. Sam tidak tahu, apa kah ini sebuah kebetulan, atau kah takdir yang memang harus di hadirkan. Ah, sungguh, Sam tidak tahu kenapa hal ini harus sterjadi.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..