
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
CUAP-CUAP BENTAR YA WAKK..
Mon maap ya wakk, beberapa hari ini sensi ga update. Bukannya sensi ga mau update, atau ada halangan. Jujur aja nih ya, sensi tu kehabisan ide buat ngelanjutin bab selanjutnya. Kalo sensi maksain, takutnya malah jadi aneh alur ceritanya.
Tapi yaudah sih ya, di lanjut aja.. Kalo misal nanti jalan ceritanya agak semrawut, sensi minta maaf yang sebesar-besarnya..
Monggo, silahkan di baca..
.......
.......
.......
"Jangan lupa untuk menghadiri acara pertunangannya."
"Ya mom.. Aku usahakan untuk datang. Tapi, aku tidak bisa berjanji, aku tetap tergantung pada Gavin."
"Jika dia tidak ingin datang, seret saja dia."
Elle terkekeh geli.
"Akan aku lakukan.."
Gavin seketika saja melirik Elle dengan mata yang memicing, jangan katakan kalau dia benar-benar akan melakukannya. Kalau hal itu sampai terjadi, Gavin tidak tahu lagi kenapa Tuhan menghadirkan perempuan yang begitu mirip dengan ibunya.
"Bagus, mommy akan menunggu kedatanganmu. Kalau begitu, berhati-hati lah. Kabari mommy jika kau sudah sampai di sana. Sampaikan juga salam dari mommy untuk sahabatmu, mommy tidak sempat berbincang banyak dengannya." Hannah menatap Elle dengan sedikit sedih.
Jujur saja, Hannah merasa sedikit kecewa karena tidak bisa berbincang banyak dengan Amy. Padalah, jika di perhatikan, Amy sepertinya merupakan gadis yang enak untuk di ajak berbincang. Tapi mau bagaimana lagi, Gadis itu harus kembali ke italia lebih dulu karena memiliki urusan mendesak yang tidak bisa di tunda.
"Baik mom, akan aku sampaikan.. Sampai jumpa."
"Sampai jumpa.."
Gavin dan Elle pun berlalu pergi dari sana.
"Gavin, jaga Elle baik-baik."
Gavin melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Hanna.
"Tcih! Anak itu benar-benar."
.......
.......
.......
Italia, kediaman Gavin..
"Tuan, perlu saya bantu?"
"Tidak, aku akan membawanya."
Gavin keluar dari dalam mobilnya dengan Elle yang berada dalam gendongannya. Pria itu bisa menggendong Elle ala koala dengan sangat leluasa karena Elle saat ini mengenakan celana panjang. Jadi, Gavin tidak perlu merasa khawatir kalau paha mulus Elle akan terekspos.
"Selamat dat..ang Tuan.."
De Lana memelankan akhir kalimatanya saat melihat Elle yang tertidur dengan sangat nyaman di dalam gendongan Gavin.
Gavin mengangguk kecil untuk membalas sapaan dari De Lana.
__ADS_1
De Lana yang mengerti pun, membiarkan Gavin kembali ke kamarnya tanpa menanyakan hal yang lainnya yang di butuhkan oleh Gavin. Diam-diam, De Lana menyunggingkan senyumnya. Dia merasa sangat senang melihat kedekatan Gavin dan Elle.
Sungguh, De Lana sangat berharap agar Elle menjadi nyonya di rumah ini. De Lana benar-benar mengharapkan hal itu dari hatinya yang paling dalam. Andai saja bukan Elle, mungkin De Lana tidak akan berharap sebesar ini.
"Beruntung sekali gadis itu."
De Lana berjengkit karena merasa terkejut akibat sebuah suara yang tiba-tiba saja terdengar di telinganya. Wanita tua itu memicingkan matanya saat melihat kalau suara itu berasal dari cucu perempuannya yang juga ikut bekerja di kediaman Gavin.
"Bisa kah kau tidak mengejutkan nenek? Bagaimana kalau nenek tiba-tiba saja mati karena terkejut."
"Ck! Nenek.. Jangan berkata seperti itu, maafkan aku, okay.."
Sella menatap De Lana dengan di penuhi rasa bersalah.
De Lana menghela nafasnya, dia berlalu pergi dari sana dengan Sella yang mengikuti langkahnya.
"Sudahlah, sedang apa kau di sini? Bukan kah kau seharusnya membereskan cucian?"
"Aku sudah melakukannya nek.."
"Yasudah, kembali lah ke kamarmu, kau perlu belajar untuk tugas akhir kuliahmu."
"Aku akan melakukannya nanti. Aku masih harus menata meja makan."
"Nenek akan meminta maid yang lain untuk melakukannya."
Senyum cerah seketika saja tersungging di bibir gadis itu. "Baiklah kalau begitu, nenek memang terbaik."
"Hmmm.."
"Tapi nek, bisa kah aku menanyakan sesuatu?"
"Hmm.."
"Siapa perempuan yang bersama Tuan? Sepertinya dia berbeda dengan perempuan yang lainnya."
Raut wajah Sella terlihat sangat penasaran. Ini adalah kali pertama dia melihat Elle. Sella tidak tahu kalau Elle selalu datang ke sini di setiap paginya karena dia memiliki kelas pagi.
Sella mengernyitkan dahinya. "Kenapa seperti itu? Bukan kah setiap perempuan yang datang ke sini akan langsung pergi dalam beberapa jam?"
De Lana menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Sella. De Lana lantas menatap Sella untuk sejenak.
"Jangan mencari tahu lebih jauh dan kau harus selalu ingat untuk menjaga mulut juga pandanganmu. Jika ada maid lain yang menggunjingkan nona Elle, usahakan untuk tidak bergabung dengan mereka. Kalau kau bisa, kau justru harus menghentikan mereka. Hanya lakukan saja apa yang nenek minta. Kau hanya perlu tahu kalau Nona Elle sangat berbeda dengan perempuan yang lainnya. Tunggu saja, nanti kau juga akan mengerti dengan apa yang nenek maksud."
Sella mengangguk kecil, dia menatap De Lana dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Baik Nek.."
.......
.......
.......
"Eungh.."
Elle cukup terganggu dengan suara langkah kaki Gavin yang terdengar cukup nyaring.
"Ssssst.."
Gavin mengelus punggung Elle dengan lembut agar gadis itu kembali nyaman dalam tidurnya.
"Gavin.."
Lirih Elle.
"Hm?"
"Apa kita sudah sampai?"
__ADS_1
"Ya, tidurlah lagi. Aku sedang membawamu menuju kamar."
"Hmm, baiklah.."
Elle pun mengeratkan pelukannya pada leher Gavin seraya menyamankan posisi kepalanya yang menyandar pada bahu lebar Gavin yang begitu nyaman dan hangat. Gadis itu masih belum sadar kalau saat ini dia sedang berada dalam gendongan Gavin.
Hingga..
1 detik, 2 detik..
Elle membuka kedua matanya, dia menatap keadaan sekitar dengan mata yang mengerjap. Kepalanya masih setia bersandar di bahu Gavin.
Sadar kalau saat ini dia sedang berada di gendongan Gavin, Elle seketika saja menelusupkan wajahnya pada perpotongan leher pria itu. Dia merasa sangat malu karena saat ini ada beberapa pasang mata para maid yang mencuri pandang ke arahnya.
"Gavin, turunkan aku.."
Elle merengek dengan suara yang sedikit teredam.
"Kenapa harus?"
"Aku malu.. Apa kau tidak lihat, para maid menatap ke arah kita."
"Abaikan saja. Anggap saja hanya ada kita berdua."
"Ck!"
Elle pun hanya bisa menuruti perkataan Gavin, dia mencoba untuk tidak memperdulikan keadaan sekitar dengan terus menyembunyikan wajahnya pada perpotongan leher Gavin.
Lagi pula, kenapa juga letak kamar Gavin harus berada di lantai paling atas? Terlebih lagi, Gavin melangkah dengan begitu pelan seolah menikmati saat di mana dia menggendongnya. Apa kah pria ini sedang mencari kesempatan dalam kesempitan? jika seperti ini, kapan mereka akan tiba di kamar Gavin??
"Percepat langkahmu."
"Kita sudah sampai babby.."
Elle pun mengangkat wajahnya.
"Turunkan aku."
Gavin menurunkan Elle di atas kasur.
"Kau lelah?"
Elle menganggukkan kepalanya.
"Tidurlah lagi, aku akan membersihkan diri." Gavin mengelus kepala Elle dengan sangat lembut. Pria itu tiba-tiba saja menatap Elle dengan tatapan jahilanya. "Atau, mungkin kau ingin ikut denganku?'
"Tcih! Jangan harap."
Elle membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan membelakangi Gavin.
"Baiklah baiklah.." Gavin terkekeh geli.
"Beristirahatlah untuk sejenak. Makan malam akan tiba sebentar lagi."
"Hmm.."
Gavin pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya, dia pantas berlalu pergi dari sana untuk membersihkan dirinya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..