
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Rumah Dean...
Dean menghampiri Elle yang baru saja memarkirkan mobilnya, dia lantas membukakan pintu mobil untuk Elle.
"Kau pulang lebih cepat dari pada dugaanku."
"Hmm.. Tadinya kami berniat untuk pulang di sore hari. Tapi aku terlalu lelah, jadi aku memutuskan untuk pulang di pagi hari."
"Lantas, apa liburanmu menyenangkan?"
Elle tersenyum, dia menganggukkan kepalanya.
"Cukup menyenangkan. Setidaknya cukup untuk mengusir rasa penatku."
"Syukurlah kalau begitu."
"Kau lelah?"
Dean menyelipkan helaian rambut Elle ke belakang telinga gadis itu.
"Sedikit."
"Apa saja barang bawaanmu? Aku akan membantumu untuk membawanya."
Elle lantas membuka bagasi mobilnya.
"Tidak banyak, hanya pakaian yang ku bawa dan beberapa hal yang aku beli di sana sebagai oleh-oleh."
"Kalau begitu, sebaiknya kau masuk saja. Aku akan membawakannya untukmu."
"Baiklah.."
Elle pun berlalu masuk ke dalam rumah.
Tak lama setelah Elle masuk ke dalam kamar, Dean juga datang dengan membawa beberapa barang bawaan milik Elle.
"Terima kasih, Dean."
Dean menyunggingkan senyumnya, dia menghampiri Elle yang sudah duduk di sofa.
"Tidak perlu berterima kasih, sudah tugasku untuk membantumu."
"Naikkan kakimu, aku akan memijatnya."
Dean menepuk pahanya agar Elle menaikkan kakinya ke sana.
Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak usah."
"Tak apa.. Bukan kah tadi kau bilang kau merasa lelah, jadi biarkan aku memijatmu."
Dean lantas mengangkat kedua kaki Elle kemudian meletakkannya di atas pahanya sendiri. Pria itu mulai memijat kaki Elle dengan lembut.
__ADS_1
Tak dapat di pungkiri, hal itu sontak saja membuat Elle tidak bisa menyembunyikan rona bahagianya yang timbul di wajahnya. Dia benar-benar merasa sangat bahagia karena Dean kini perlahan mulai berubah.
Pria itu kini lebih sering bersikap lembut padanya. Tanpa harus di minta, pria itu kini pasti akan membantunya dengan inisiatifnya sendiri.
Sungguh, Elle tidak menyangka kalau Dean benar-benar berubah.
Tapi, kalau boleh jujur. Elle sebenarnya juga merasa sedikit ragu atas perubahan yang di tunjukkan oleh Dean.
Firasatnya tiba-tiba saja mengatakan ada sesuatu hal yang salah dengan itu. Terlebih lagi, dia kembali mengingat apa yang sebelumnya di katakan oleh Gavin mengenai sebuah fakta.
Fakta yang hingga sekarang menjadi beban pikiran yang sangat berat untuk Elle
"Apa yang kau pikirkan?"
Elle menyunggingkan senyumnya. "Tidak, hanya sedikit masalah tentang pekerjaan. Kau tahu kan, pekerjaanku saat ini lebih sulit dibandingkan dengan sebelumnya."
"Ah ya, menganai hal itu, kenapa kau bisa di pindah tugaskan di kantor pusat?"
Elle mengedikkan bahunya. "Entahlah.. Aju juga tidak terlalu mengerti tentang alasan kenapa mereka memilihku."
"Bukan kah itu berarti kau memang kompeten?"
Elle seketika saja terkekeh kecil. "Ya, anggap saja seperti itu."
Dean pun hanya bisa menyunggingkan senyumnya.
"Ummm.. Dean?"
"Hm?" Dean melirik Elle sekilas.
"Bisakah aku menanyakan suatu hal padamu?"
Elle terdiam untuk beberapa saat, dia merasa ragu untuk menanyakan apa yang ingin dia tanyakan.
Tapi, Elle tidak kuasa menahan rasa penasarannya akan suatu hal.
Karena jujur saja, sedari tadi, Elle memperhatikan ada sesuatu hal yang sedikit berubah pada diri Dean.
"Apa kau pergi ke suatu tempat yang sangat di sinari cahaya matahari?"
Pertanyaan itu akhirnya lolos juga dari mulut Teya.
Jujur, Dean tiba-tiba saja merasa sangat gugup.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
"Warna kulitmu terlihat sedikit lebih gelap. Bahkan ada perbedaan warna di kulit lenganmu."
Elle menegakkan tubuhnya, dia menyentuh lengan Dean.
"Lihatlah, bagian yang tidak tertutupi lengan baju tampak sedikit lebih gelap. Apa kau pergi ke suatu tempat yang sangat terik? Seperti pantai, atau dataran tinggi mungkin?"
Dean terdiam, dia merasa sangat bingung harus menjawab apa. Dean tidak menyangka kalau penglihatan Elle bisa sangat jeli seperti ini.
Tidak mungkin kan kalau Dean berkata yang sejujurnya pada Elle.
Toh, kalau pun dia berkata dia pergi ke pantai. Elle pasti akan menanyakan hal yang lebih lanjut lagi.
__ADS_1
Tapi.. Dean juga bingung, alasan seperti apa yang harus dia berikan pada Elle.
"Uhmm.. Itu.."
"Jika kau tidak ingin mengatakannya, kau tidak perlu mengatakannya. Aku hanya merasa sedikit heran, tidak biasanya aku melihat perubahan pada warna kulitmu."
"Tidak, aku akan mengatakannya. Sebenarnya kemarin aku sempat pergi ke pantai bersama beberapa teman kerjaku."
"Jika seperti itu, kenapa kau terlihat ragu untuk mengatakannya?"
Dean mengusap tengkuknya canggung. "Aku sudah berkata padamu kalau aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku merasa tidak enak hati untuk mengatakannya padamu. Aku juga pergi tanpa meminta ijin darimu."
Elle menyunggingkan senyum kecilnya, dia menurunkan kedua kakinya dari atas paha Dea.
"Tidak usah merasa tidak enak hati. Hanya katakan saja apa yang sebenarnya. Aku tidak akan marah. Toh, itu juga merupakan hak untukmu pergi ke tempat seperti apa pun yang kau inginkan."
"Kita memang suami istri, Dean. Tapi bukan berarti aku bisa merebut kebebasanmu. Bukan berarti juga kau harus selalu pergi atas ijin dariku. Kau bisa bersenang-senang dengan teman-teman mu, kapan pun kau mau. Tidak ada salahnya kan sekali-kali kau menghabiskan waktu liburmu dengan teman-teman mu?"
"Toh, pada dasarnya kau juga mengijinkanku untuk pergi berlibur bersama Amy. Kenapa juga aku tidak mengijinkamu untuk pergi bersenang-senang bersama dengan teman-teman mu?"
Dean seketika saja merasa tidak enak hati. Sebegitu percayanya kah Elle padanya? Sehingga istrinya ini bisa mengatakan hal itu dengan begitu mudahnya.
"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu. Tubuhku benar-benar tidak nyaman karena terlalu banyak mengeluarkan keringat."
Dean tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
Elle lantas beranjak dari sana menuju ke kamar mandi.
Elle tidak langsung membersihkan dirinya, dia berdiri di hadapan cermin besar yang ada di hadapannya. Gadis itu menatap pantulan dirinya sendiri dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.
Kenapa dia tidak bisa mempercayai apa yang Dean katakan?
Kenapa dia tidak bisa melihat kejujuran dari pancaran mata Dean?
Kenapa dia merasa kalau Dean seolah-olah tengah menyembunyikan sesuatu hal darinya?
Pertanyaan demi pertanyaan itu terus saja muncul di dalam benaknya.
Tidak, bukan karena dia terpikirkan oleh perkatan Gavin tentang fakta yang pria itu katakan. Melainkan karena Elle benar-benar tidak bisa melihat kejujuran di mata Dean.
Gerak gerik tubuh yang Dean tunjukkan, juga bagaimana pria itu menggulirkan netranya ke segala penjuru arah ketika dia bertanya kemana pria itu pergi. Benar-benar menunjukkan kalau pria itu seolah tengah menyembunyikan sesuatu hal darinya.
Elle kini merasa sangat bimbang, harus kah dia melawan rasa takutnya dan mencari tahu apa yang selama ini ingin dia ketahui?
Entahlah.. Elle tidak tahu apa yang harus dia lalukan untuk sekarang ini.
Elle lantas menghela nafasnya untuk sejenak, dia mengusap wajahnya kemudian memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..