Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Keselamatan


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


The Saphire...


"Ell, perasaanku tidak enak. Apa tidak sebaiknya kita batalkan saja?"


"Ayolah Am.. Kita sudah membahas hal ini berulang kali. Dan jawabanku tetap sama, kita tetap akan masuk ke dalam sana. Jadi, buka pintunya dan ayo kita masuk. Lagi pula, ini baru pukul 9 malam. Tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu hingga pukul 11."


Amy mencebikkan bibirnya, dia menatap Elle dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Ketahuilah, mereka sudah berdebat sejak 20 menit yang lalu. Amy dengan kebimbangannya, dan Elle dengan antusiasme nya.


Jujur saja, Amy sebenarnya juga ingin masuk ke sana. Tapi entah kenapa, dari lubuk hati Amy yang paling dalam, Amy merasa ada sesuatu yang janggal di sana. Rasanya seperti ada sesuatu yang sedang menunggu kedatangan mereka.


Ah entahlah, Amy juga tidak tahu. Entah karena memang seperti itu, entah hanya karena Amy terlalu takut kalau mereka sampai ketahuan oleh Gavin.


"Apa kau sudah cukup berpikir? Kita sedari tadi hanya membuang waktu percuma."


Amy menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Haruskah dia menuruti Elle?


"Baiklah baiklah.. Ayo kita masuk. Tapi kau harus menepati janjimu."


Senyum manis seketika saja tersungging di bibir Elle. "Okay.. Aku berjanji, aku akan menjadi anak yang baik."


"Bagus.. Ayo kita masuk."


.......


.......


.......


"Hah.."


Amy menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Sungguh, Amy merasa sangat lelah menghadapi tingkah Elle yang sangat sulit untuk di atur. Lihatlah, betapa menyedihkannya kondisi Elle saat ini. Gadis itu terkapar tak berdaya di atas sofa setelah menenggak 4 botol minuman beralkohol sendirian.


Amy tau, Elle pasti merasa stress akibat perceraiannya dengan Dean yang tak kunjung usai. Amy juga tau, Elle pasti merasa sangat terpuruk akibat hubungan rumah tangganya yang tidak berjalan mulus. Tapi, haruskan dia seperti ini? Bukan kah ini di namakan dengan menyiksa diri sendiri?


Tapi, mau bagaimana lagi, di balik itu juga Amy tahu, setiap orang juga pasti berpikir kalau alkohol adalah jalan terbaik bagi mereka guna menghilangkan rasa frustasi barang untuk sejenak.


Ya, katalanlah, sedari awal, sebenarnya tujuan Elle bukan lah sang disk jockey, melainkan hanya untuk menenggak alkohol guna membuat dirinya kehilangan kesadaran dari penatnya pemikiran duniawi.


"Ell.. Ayo kita pulang."


Elle mengerjapkan matanya, dia menoleh pada Amy dengan matanya yang begitu merah.


"Hm? Apa?"


"Ayo kita pulang.. Kau sudah mabuk."


"Aku?" Elle menunjuk dirinya sendiri. "Tidak! Aku tidak mabuk."


"Kau bahkan tidak mampu mengangkat tanganmu, sebaiknya kita pulang sebelum kau mengacaukan tempat ini."


Elle menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mau pulang."


"Ayolah Ell.."


"Em em em.." Elle menggelengkan kepalanya. "Apa kau tidak tahu? Aku saat ini sedang merasa sangat frustasi. Baji**ngan itu sangat sukit untuk di ajak berkompromi. Setelah apa yang dia lakukan padaku, dia masih saja mengikatku dengan tidak tahu malunya. Apa kah dia tidak merasa cukup hanya dengan satu perempuan? Kenapa dia begitu tega menghianatiku!! Bahkan sejak awal hubungan pernikahan kita.."


Elle tiba-tiba saja menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Aku tahu.. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi, sebaiknya kita pulang sekarang, hmmm?"


Amy menepuk-nepuk bahu Elle dengan sangat lembut untuk menenangkan tangisan gadis itu.


"Yak! Haish!"


Amy merasa sangat terkejut karena Elle tiba-tiba saja beranjak dari tempatnya.


"Yak! kau mau kemana?"


Amy mencoba untuk menahan Elle yang hendak berlalu pergi dari sana.


"Lepaskan aku, aku ingin menari."


"Apa kau gila? Tidak tidak! Kembali ke tempatmu!"


"Emmmhhh! Aku tidak mau."


Elle berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Amy. Dalam satu kali sentakkan, Elle berhasil lolos. Gadis itu pun melangkah sedikit tergesa dengan sedikit limbunh menuju lantai dansa.


"Oh astaga ya Tuhaaaan.. Kenapa aku rasanya seperti sedang mengurusi bocah umur 5 tahun."


Amy mengusap wajahnya dengan kasar. Mau tidak mau, dia pun harus beranjak dari tempatnya untuk menyusul Elle.


Beruntungnya, Elle berlari ke arah sudut ruangan. Di mana di sana tidak terlalu padat oleh pengunjung, membuat Amy bisa menemukan Elle tanpa harus bersusah payah.


"Kemarilah, mari menari bersamaku."


Elle menarik Amy agar lebih dekat dengannya, dia mengalungkan kedua lengannya pada leher Amy kemudian menari sesuka hatinya.


Amy pun hanya bisa memutar bola matanya, dia berulang kali menghela nafasnya karena merasa sedikit lelah dalam menghadapi Elle. Namun, meskipun begitu, Amy tetap memegang erat pinggang Elle guna penopang tubuh gadis itu agar tidak limbung.


Ya ketahuilah, se kesal apa pun Amy terhadap Elle, se lelah apa pun Amy menghadapi Elle, Amy tetap tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Elle. Selain karena Amy menyayangi Elle seperti saudar kandung sendiri, Elle juga selalu melakukan hal yang sama seperti apa yang Amy lakukan saat ini ketika Amy sedang terpuruk.


Lambat laun, Amy pun mulai menikmati alunan musik yang terus saja berdentum, dia melompat menikmati musik seirama dengan lompatan Elle. Di tambah lagi dengan beberapa gelas minuman alkohol yang sebelumnya dia tenggak, membuat Amy kini mulai terbuai dengan dentuman music yang semakin lama semakin menggelegar.


Amy mengangguk menyetujui apa yang Elle katakan.


"Ya, sudah cukup lama kita tidak bersenang-senang seperti ini."


"Setelah ini, kita harus bersenang-senang lebih sering lagi."


Amy terkekeh kecil. "Aku tidak yakin hal itu akan terjadi."


Elle pun ikut terkereh. "Salahkan saja pria titan itu karena terlalu posesif kepada kita."


"Em em.." Amy menggelengkan kepalanya. "Dia hanya posesif kepadamu."


Elle tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak tahu kenapa aku justru sangat suka menantang keposesifannya."


"Tcih! Kau gila Ell.." Amy pun ikut tertawa terbahak-bahak.


Mereka terus menari mengikuti alunan music disco. Hingga tiba-tiba...


"YAK!!!!"


Teriakan Elle membuat orang-orang yang ada di dekatnya merasa sangat terkejut. Mereka menatap Elle dengan tatapan bingung.


"Ada apa denganmu?"


Amy mengernyitkan dahinya melihat raut wajah Elle yang tampat seperti sedang menahan marah.


Namun Elle tidak menjawabnya, gadis itu justru membalikkan tubuhnya menghadap seorang pria yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?!"


Teriak Elle pada pria itu.


"Aku? Apa yang aku lakukan?"


Pria itu mengerjapkan matanya seolah bingung dengan apa yang di maksud oleh Elle.


"Jangan pura-pura bodoh! Kau baru saja meremas pantatku!!"


"Ah, a ha ha ha.. Itu.. Apa salahnya? Bukan kah itu menyenangkan?!"


"Oh.. Mati sudah.." Lirih Amy, dia menatap pria itu dengan di penuhi rasa kasihan.


Amy sudah bisa menebak apa yang akan di lakukan Elle selanjutnya. Apa lagi kalau bukan...


Bugghhh!!!


Nah, benar kan.. Elle melayangkan tinjunya pada wajah pria itu hingga pria itu terhuyung ke belakang. Demi Tuhan, Amy tidak mengkhawatirkan Elle. Amy justru mengkhawatirkan pria itu.


"Yak! Dasar gadis ******, berani sekali kau memukul wajahku!"


Pria itu menatap Elle dengan sangat nyalang.


"Jaga perkataanmu! Se enak kepalamu kau mengataiku gadis ******. Dasar pria tua mesum!"


"What?! Yak, rasakan ini!"


Pria itu hendak membalas pukulan Elle. Namun dengan mudahnya, Elle dapat menghalau pukulan dari pria itu. Dengan sekali gerakan, Elle menendang pria itu hingga jatuh dalam keadaan terlentang.


Tidak memberikan kesempatan untuk pria itu bangun, Elle duduk di atas perut pria itu kemudian memukilinya dengan membabi buta.


"Sia**lan kau!! Berani sekali kau meletakkan tangan kotormu di tubuhku!!"


Bugghh!!


"Berani sekali mulut kotormu mengataiku gadis ******!!"


Bughhh!!!


Kericuhan pun terjadi akibat hal itu, bahkan hingga membuat Delon meminta The K mematikan music untuk sementara waktu.


Bukannya Amy tidak ingin melerai, hanya saja, Amy merasa sedikit takut pada Elle. Jika sudah seperti itu, Elle tidak akan pernah memperdulikan keadaan sekitarnya. Dia akan memukul siapa saja yang berani menghalanginya.


Lagi pula, kenapa juga tidak ada satu orang pria pun yang berani melerai Elle. Apa mereka takut pada seorang gadis? Tapi, wajar saja.. Elle saat ini berwujud seperti seorang dewi pencabut nyawa.


"Haish!! Das..."


Amy hendak mengumpat saat seseorang menabrak bahunya dengan cukup keras. Namun, umpatan itu hanya tertahan di tenggorokannya saat melihat orang yang menabrak bahunya.


Kini, bukan hanya keselamatan Elle saja yang harus dia khawatirkan. Dia juga harus mengkhawatirkan kesematannya sendiri.


Atau, haruskan dia pergi meninggalan Elle? Tapi...


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2