Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Terlalu Sensitif


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Tidak bisa kah kau memberitahuku kenapa kau tiba-tiba membawaku kesini?"


Lagi, untuk yang kesekian kalinya, Elle menanyakan hal yang sama.


Bukan Elle namanya jika dia menyerah begitu saja. Dia tidak akan berhenti bertanya sampai Gavin menjawab pertanyaannya.


Namun ya, bukan juga Gavin namanya jika dia tidak berpegang teguh pada prinsipnya. Pria itu benar-benar menulikan pendengarannya, dia bahkan bersikap seolah Elle hanyalah bayangannya.


"Oh c'mon Gavin. Tidak bisa kah kau menjawab pertanyaanku?"


"Babby, tidak bisa kah fokus bersiap saja? Kenapa kau terus menanyakan pertanyaan yang sama? Bukan kah sudah ku katakan kau akan tahu jika sudah tiba waktunya."


Elle jelas saja mendengus kesal, dia melirik Gavin yang sedang duduk di sofa melalui cermin meja rias. Rasa kesalnya semakin nertambah besar saat melihat Gvain yang hanya sibuk dengan ponselnya.


"Hey, ini bukan lelucon Gavin. Aku jelas harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa seijinku, kau membawaku hingga san marino. Aku bahkan meninggalkan pekerjaanku yang begitu menumpuk. Apa kau tidak sadar kalau kelakukanmu ini hanya menambah beban pekerjaanku?!"


Elle berkata dengan sangat bersungut-sungut. Dia benar-benar kesal pada kelakuan Gavin yang selalu seenaknya saja.


Demi Tuhan, andai Elle bisa mematahkan leher pria itu. Elle sudah pasti akan melakukannya sejak 3 jam yang lalu.


"Calm down babby, aku sudah menyerahkan semua pekerjaanmu pada orang yang tepat. Percayalah, sekembalinya kita nanti, kau tidak akan memiliki pekerjaan apa pun."


Apa yang Gavin katakan tidak serta merta membuat Elle merasa tenang. Justru, hal itu semakin membuat Elle merasa kesal.


Bukan karena dia tidak senang atas orang lain yang mengerjakan pekerjaannya. Melainkan karena Gavin yang bersikap seolah acuh tak acuh atas hal itu.


Demi Tuhan, Elle sangat benci ketika seseorang menanggapinya dengan acuh tak acuh. Elle merasa seperti menjadi seorang yang sangat paling tidak berarti.


Katakanlah kalau Elle sekarang merasa Gavin sudah melukai harga dirinya.


Elle tidak merasa keberatan untuk mengikuti Gavin kemana pun selama Gavin memberitahunya terlebih dahulu. Elle juga tidak merasa keberatan kalau pun Gavin mengajaknya tanpa memberitahukan tujuan yang sebenarnya.


Tapi, bukan begitu caranya. Ayolah.. Elle bukan lah sebuah barang yang bisa di bawa kemanapun sesuka hati pemiliknya.


Apa kah Gavin tidak tahu? Bagaimana terkejutnya Elle saat mengetahui kalau dia sudah terbangun di tempat asing.


Elle memang bukan seorang perempuan yang memiliki rasa panik yang begitu tinggi. Dia bisa menghadapi situasi apa pun dengan tenang.


Tapi jujur saja, cara Gavin yang satu ini benar-benar membuat Elle merasa sangat takut.


Elle tadi bahkan sempat membayangkan hal di luar nalarnya.

__ADS_1


Bagaimana kalau dia terbangun di tempat orang asing yang ingin mencelakai atau pun berbuat macam-macam kepadanya?


Andai saja tadi Elle tidak segera menyadari kalau dia berada di kamar Gavin. Mungkin saja Elle akan nekat untuk melompat dari jendela guna kabur dari tempat itu.


"Apa kah kau menganggap ku se mudah itu?"


Pertanyaan yang sedari tadi Elle tahan akhirnya meluncur juga dari mulutnya. Sungguh, Elle kini sudah tidak kuasa lagi menahan rasa kesalnya.


Suara Elle yang terdengar sedikit bergetar, seketika saja membuat Gavin meletakkan ponselnya.


Gavin merasa terkejut melihat kedua mata Elle yang memerah dan sedikit berkaca-kaca.


Kini Gavin baru menyadari, kalau apa yang dia lakukan benar-benar membuat Elle merasa kesal.


Dengan cepat, Gavin segera menghampiri Elle. Pria itu duduk bersimpuh di hadapan Elle. Dengan rasa takut yang nyata, Gavin menggenggam kedua tangan Elle di atas paha perempuan itu.


"Hey hey hey.. Babby, what happened? (ada apa? / Kenapa?)" Pria itu bertanya dengan suara yang terdengar sangat cemas.


Namun, tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulut Elle. Entahlah, Elle benar-benar merasa kalau lidahnya terlalu kelu untuk berucap. Elle juga merasa bingung dengan perkataan seperti apa yang harus dia katakan untuk mengutarakan perasaannya.


Sungguh, bukan ini yang Elle harapkan. Elle tidak menyangka kalau Gavin akan bersikap seperti ini.


Apa kah Elle sudah terlalu berlebihan?


Tapi sungguh, Elle juga tidak mengerti kenapa dia bisa bereaksi seperti ini. Elle tidak tahu kenapa dia bisa se cengeng ini.


Pertanyaan demi pertanyaan itu terus saja bergejolak di dalam pikirannya. Karena ya, jujur saja, saat Gavin duduk bersimpuh di hadapannya, Elle baru menyadari kalau dia tidak seperti dia yang biasanya.


"Babby?"


Gavin mencoba untuk menyentuh wajah Elle.


Namun, Elle segera menghindar dengan semakin menundukkan kepalanya hingga wajahnya benar-benar tertutup oleh rambutnya.


Bukan karena dia tidak ingin Gavin menyentuhnya. Hanya saja, dia tidak ingin Gavin melihatnya menangis karena hal konyol seperti ini.


Namun ya, usahanya tetap sia-sia. Air mata yang Elle tumpahkan jatuh tepat ke atas punggung tangan Gavin.


Yang mana hal itu jelas saja membuat Gavin merasa semakin terkejut. Gavin belum terlalu mengerti dengan situasinya. Gavin tahu, apa yang Gavin lakukan memang sangat salah sepertinya.


Hanya saja, yang Gavin tidak tahu adalah alasan Elle menangis. Entah karena Gavin sudah membawanya kesini dalam keadaan Elle yang masih tertidur, entah juga karena Gavin yang tidak memberitahu tujuan mereka datang kesini.


Atau, apa kah mungkin karena Elle berpikiran kalau Gavin menganggap Elle semudah itu.


Bersamaan dengan itu, seorang pelayan masuk ke dalam kamar dengan niat untuk meminta Gavin dan Elle segera turun ke bawah.


Namun, Gavin memberikan isyarat melalui tatapan matanya agar si pelayan tidak mengatakan satu patah kata pun.

__ADS_1


Si pelayan yang mengerti akan situasi pun segera pergi meninggalkan Gavin dan Elle.


"Hey.. Look at me babby.."


"Babby, c'mon.. Look at me."


Mau tidak mau, Elle pun akhirnya menatap Gavin.


"Listen, i'm really sorry babby. Aku akui, aku salah. Aku benar-benar minta maaf. Tapi ketahuilah babby, Demi Tuhan, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku tidak pernah berpikir kalau kau semudah itu."


"Aku hanya berpikir untuk memberikan kejutan padamu. Aku tidak tahu kalau apa yang aku lakukan benar-benar menyakiti perasaanmu. Maafkan aku."


"Stop crying please.. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahanku. Hmm?"


Elle menggelengkan kepalanya. "Don't say sorry.. Aku yang seharusnya minta maaf karena bersikap terlalu berlebihan. Tapi aku tidak tahu kenapa aku bersikap seperti ini. Aku tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini aku menjadi terlalu sensitif."


Gavin menghela nafasnya untuk sejenak, tangannya terangkat untuk menghapus air mata Elle yang terus saja mengalir.


"Tidak, kau tidak bersikap berlebihan. Ini salahku karena bersikap seenaknya padamu. Lain kali, aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi. Jika aku akan memberimu suatu kejutan, aku akan melakukannya dengan cara yang lebih baik lagi."


"Dan juga, jika kau memang tidak menyukai apa yang aku lakukan, sebaiknya kau berkata terus terang. Jangan hanya memendamnya saja. Aku tidak menyangka akan membuatmu sampai menangis seperti ini. Maafkan aku, hmm?"


Elle mencebikkan bibirnya seraya mengangguk kecil.


"Jadi, apa sekarang kita sudah berdamai?"


Elle kembali menganggukkan kepalanya.


Hal itu seketika saja membuat Gavin menyunggingkan senyumnya.


"Kalau begitu berhentilah menangis. Segera lah bersiap, semua orang sudah menunggu sejak tadi."


"Ok." Cicit Elle.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2