
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Bruk!!
Gavin meletakkan setumpuk berkas di depan Vanya.
"Selesaikan hari ini juga. Ini adalah materi untuk rapat esok hari."
Hal itu sontak saja membuat Elle menjatuhkan rahangnya, dia menatap setumpuk berkas itu dengan tatapan horor.
"Ha, hari ini?" Lirih gadis itu.
Oh Tuhan.. Boleh kah Elle melemparkan setumpuk berkas ini pada wajah atasan gilanya itu yang sayangnya begitu tampan?
Ayolaaahh... Belum selesai dia mengerjakan setumpuk berkas yang sebelumnya di berikan Gavin, kini dia sudah kembali di hadapkan dengan setumpuk berkas yang lainnya.
Apa setumpuk berkas ini memang benar-benar pekerjaannya? Jika memang ya, lantas berapa anak perusahaan yang di miliki oleh pria itu? Dan juga, apa Sam juga mengerjakan hal sebanyak ini? Atau jangan-jangan, pria gila yang merupakan atasannya itu hanya ingin mempermainkannya saja?
Pertanyaan demi pertanyaan itu seketika saja mencuat di kepala Elle. Gadis itu lantas menatap Gavin dengan sedikit ragu.
"Tu, tunggu sebentar tuan.."
Gavin menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke meja kerjanya, dia menoleh pada Elle dengan tatapan datarnya.
"Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
"Khem! Begini, tuan.."
Elle menghela nafasnya untuk sejenak, dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk menyuarakan protesannya.
"Tuan tidak sedang bergurau dengan ku kan? Kenapa berkas ini banyak sekali? Apa semua berkas ini benar-benar hal penting yang harus aku kerjakan?"
Elle menelan salivanya setelah berhasil menyuarakan protesannya dengan begitu lancar. Dia tidak memperdulikan fakta tentang Gavin yang merupakan seorang ketua mafia. Yang dia pedulikan untuk saat ini hanyalah keselamatan kinerja otaknya.
Gavin menghela nafasnya untuk sejenak, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang dia kenakan, tatapan matanya tajam sarat akan rasa tidak terima atas protes yang baru saja di utarakan oleh Elle.
"Apa aku terlihat sedang bergurau?"
Elle membuka mulutnya, namun kembali dia tutup saat melihat Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"Baiklah.. Akan saya kerjakan." Lirih Elle.
Gadis itu pun kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya.
Gavin menaikkan sudut bibirnya melihat Elle yang tengah mencebikkan bibirnya. Gavin amat sangat yakin, di dalam hati gadis itu, dia pasti tengah merapalkan sumpah serapah yang dia tujukan untuk Gavin.
Tapi, ah.. Apa pedulinya Gavin? Biarkan saja.. Gavin tidak peduli akan sumpah serapah apa pun yang tengah di rapalkan oleh Elle. Karena yang pasti, Gavin amat sangat menikmati raut wajah kesal Elle.
Entahlah.. Di matanya, raut wajah kesal Elle benar-benar terlihat sangat menggemaskan.
Tunggu? Apa yang aku pikirkan!
Gavin menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengenyahkan pikiran konyol itu yang tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
Tapi.. Gadis itu memang benar-benar menggemaskan!
Haish!! Sudahlah..
Semakin memikirkannya, hanya semakin membuat kepala Gavin terasa berdenyut.
Gavin lantas kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya yang menumpuk.
__ADS_1
Ya meskipun netranya sesekali melirik pada Elle yang sangat fokus pada pekerjaannya, namun Gavin tetap bisa mengerjakan pekerjaannya dengan benar.
Haaa... Bosan.. Ya, Gavin merasa bosan untuk pertama kali dalam seumur hidupnya. Bahkan semasa kecil pun, Gavin tidak pernah merasa se bosan ini.
Entahlah, Gavin juga tidak tau kenapa. Rasa bosan itu tiba-tiba saja menghinggapinya.
Gavin melirik Elle yang masih fokus pada pekerjaannya. Gavin juga dapat melihat, sesekali gadis itu merenggangkan otot leher dan jari jemarinya yang terasa kaku.
Jujur, Gavin akui. Gavin merasa sangat kagum pada gadis itu. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, gadis itu mampu mengerjakan lebih dari sebagian berkas yang dia berikan hanya dengan satu kali mendapatkan penjelasan.
Terhitung, selama gadis itu mengerjakan pekerjaannya, dia hanya menanyakan satu pertanyaan. Dan itu pun mengenai hal yang memang sangat sulit untuk dia kerjakan.
Kini Gavin mengerti, kenapa NJ Company menjadi satu-satunya anak cabang perusahaan yang paling unggul dalam segala hal.
Salah satu orang yang bekerja di anak perusahaan itu saja memiliki kemampuan yang seperti ini. Jadi, wajar saja jika NJ Company bisa menjadi satu-satunya anak cabang perusahaan yang unggul dalam segala hal.
Sepertinya, setelah ini Gavin harus memberikan reward tambahan untuk seluruh staf karyawan yang bekerja di NJ Company.
Kenaikan gaji? Atau liburan, mungkin?
Entahlah, Gavin akan memikirkannya nanti.
Gavin melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya, waktu kini hampir memasuki jam makan siang.
Haruskah dia mengajaknya keluar untuk makan siang sebagai langkah awal pendekatan?
Tapi.. Untuk urusan apa?
Alasan apa yang harus dia berikan?
Tidak lucu kan kalau dia tiba-tiba saja mengajak gadis itu untuk makan siang?
Gavin lantas beranjak dari duduknya kemudian berjalan mendekati Elle.
Gavin mengetuk meja kerja Elle.
"Ya Tuan?"
Elle menatap Gavin dengan sedikit was-was. Apa ada berkas tambahan yang harus dia kerjakan?
Oooh.. Jangan sampai hal itu terjadi. Sungguh, Elle sudah terlalu lelah jika hari ini dia harus mendapat pekerjaan tambahan yang mungkin saja harus dia selesaikan hari ini juga.
"Ikut aku."
"Ya?" Elle mengerjapkan matanya.
"Kau tidak tuli."
Gavin berlalu pergi begitu saja.
"Tapi, berkas ini? Pekerjaan ini?"
Elle menatap setumpuk berkas itu kemudian menatap Gavin secara bergantian.
"Haish! Sudahlah.."
Elle menyambar ponselnya kemudian mengikuti langkah Gavin.
"Jangan berjalan di belakangku, berjalan di sampingku."
Tanpa ada bantahan, Elle mensejajarkan langkahnya dengan langkah Gavin.
Tidak hanya satu ada dua orang staf karyawan yang bekerja di sana yang melirik ke arah Elle.
Berbagai pandangan mereka berikan kepada Elle.
__ADS_1
Siapa gadis itu? Kenapa dia bisa berjalan berdampingan bersama sang Tuan? Apa kah dia karyawan baru? Tapi, di bagian mana dia bekerja? Dan, kenapa tidak ada kabar apa pun?
Atau kah mungkin dia gadis milik sang Tuan? Jika memang begitu adanya, kenapa gadis itu memakai pakaian kantor?
Mungkin, seperti itulah pertanyaan yang muncul di benak mereka.
Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menggunjingkan Elle. Mereka hanya bisa bertanya-tanya di dalam benak mereka.
Ayolah.. Mereka masih sayang nyawa.
Karena dalam peraturan no 2 dan yang paling teratas, di larang bergunjing di area kantor.
Lantas, apa peraturan no 1?
KEPUTUSAN GAVIN ADALAH MUTLAK!!
Dan masih banyak aturan yang lainnya lagi.
"Kita akan pergi kemana, Tuan?"
Elle memberanikan diri untuk bertanya.
Gadis itu mencebikkan bibirnya karena Gavin tidak memberikan jawaban apa pun.
Elle mengernyitkan dahinya tat kala mereka masuk ke area cafetaria. Terlebih lagi, mereka masuk ke dalam ruang VIP.
"Kau tidak akan duduk?"
Gavin melirik Elle yang hanya berdiri di ambang pintu.
"Apa yang akan kita lakukan di sini, tuan?"
"Menurutmu?"
"Bertemu dengan client? Atau mungkin, makan siang?"
"Hal yang ke dua."
Elle masih belum bisa mencerna apa yang di katakan Gavin.
"Makan siang?"
Gavin menghela nafasnya untuk sejenak. Gavin merasa tidak habis pikir, gadis ini benar-benar sangat ahli dalam hal bekerja. Tapi kenapa gadis ini sangat lambat dalam mencerna situasi?
"Apa yang akan kita lakukan di sini selain makan siang? Atau.." Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Haruskan kita mengunci pintu dan mengulang malam panas yang belum tuntas itu di sini?"
Elle seketika saja menelan salivanya.
"Tidak, terima kasih."
Gadis itu segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Gavin.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1