
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Satu persatu orang yang ada di sana mulai pergi meninggalkan kediaman utama Jaliandro setelah mereka mendapatkan hasil akhir tentang kapan acara pertunangan Patricia akan di adakan. Kini, hanya tersisa sebagian dari keluarga besar Jaliandro yang ada di sana.
"Gevian, dia Elle. Gadis yang sempat aku ceritakan tempo hari padamu."
Gevian menatap Elle untuk sejenak, pria setengah baya namun masih gagah perkasa itu tiba-tiba saja menyunggingkan senyum kecilnya.
Gevian menoleh pada Hannah. "Gavin memiliki selera yang cukup tinggi mengenai seorang gadis."
"See, benar bukan apa kataku?"
"Ya, kau memang selalu benar honey."
Meskipun kedua orang itu membicarakan Elle dengan saling berbisik. Tapi percayalah, bisikan mereka masih mampu di dengar dengan sangat baik oleh Elle maupun setiap orang yang ada di sana.
Berbeda dengan Amy yang tersenyum senang karena secara tidak langsung ayah dan ibu Gavin menyukai Elle. Siera, Alina dan Mareta justru tampak menatap Elle dengan sangat sinis. Mereka benar-benar tidak menyukai kehadiran Elle.
Pada dasarnya, Mareta sebenarnya ingin menjadikan Alina sebagai menantunya, bukan orang lain. Tapi sayangnya, dari awal dia mengenalkan Alina pada Gavin. Gavin sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan barang sedikit pun.
Meskipun harus Mareta akui, hanya dengan melihat dari penampilannya saja, Elle memang merupakan gadis dengan kualitas tinggi. Tak dapat di pingkiri juga, Elle memang gadis cantik yang membuat siapa saja ingin menatap wajahnya berlama lama. Tapi baginya, Alina pastilah lebih unggul dalam segala hal.
Bukan tanpa alasan, Mareta begitu menyukai Alina dan Siera karena pada waktu itu, mereka pernah menyelamatkan dirinya dari suatu kejadian buruk. Setelah kejadian itu, Mareta merasa sangat berhutang nyawa pada mereka.
Padahal, tanpa dia sadari, sebenarnya Siera dan Alina sudah merencanakan kejadian buruk itu sejak jauh-jauh hari. Ya, Siera dan Alina memang sudah mengincar Mareta sebagai alat untuk mereka masuk ke dalam keluarga Jaliandro.
Bodohnya Mareta, saat semua orang ingin mengusut kasus itu. Mareta bersikukuh untuk tidak mencari tahu kasus itu lebih lanjut. Karena dia pikir, penyerangan itu hanya berasal dari para preman jalanan yang ingin merampas hartanya, bukan berasal dari para musuh. Mau tidak mau, mereka pun tidak menuntaskan kasus itu lebih lanjut lagi.
Tapi, ada yang mereka tidak ketahui. Meskipun Hannah tidak menyukai ibu mertuanya, namun Hannah tetap menuntaskan kasus itu. Hannah sebenarnya ingin membeberkan masalah ini kepada Mareta secara terang-terangan.
Namun, Hannah berpikir dua kali untuk melakukan hal itu. Melihat dari sifat ibu mertuanya yang keras kepala, Hannah yakin, Mareta tidak akan pernah mempercayai apa yang Hannah ketahui.
Oleh sebab itu, Hannah menyimpan semuanya sendiri. Hannah menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan fakta tentang penyerangan itu pada Mareta.
__ADS_1
Selain itu, Hannah juga sampai sekarang masih mencari tau tentang tujuan apa yang sebenarnya Siera dan Alina inginkan dari keluarganya.
Hannah akui, Siera dan Alina cukup rapi dalam menjalankan aksinya di kala itu. Tapi, serapi apa pun rencana yang di susun oleh mereka berdua, tetap tidak akan bisa mengalahkan kemampuan Hannah dalam memecahkan suatu kasus.
Hanya saja, Hannah sampai sekarang masih tidak tahu, apa asalan mereka ingin masuk ke dalam keluarga Jaliandro. Yang bisa Hannah lakukan untuk saat ini hanyalah mengawasi dan mengamati setiap gerak gerik mereka berdua.
Hannah tentu saja merasa takut kalau kedatangan mereka justru membahayakan keselamatan keluarganya. Namun, sejauh ini, semuanya masih aman dan baik-baik saja. Hannah harap, mereka hanya mengincar harta keluarga Jaliandro, bukan nyawa.
Jika mereka memang hanya menginginkan harta, Hannah bisa memberikan berapa pun yang mereka inginkan. Tapi untuk nyawa, Hannah bersumpah, sebelum mereka bisa menyentuh salah satu dari keluarganya. Hannah pastikan, Hannah akan lebih dulu menghabisi nyawa mereka berdua.
"Ah ya, Ell.. Bagaimana perjalanan mu? Apa semuanya baik-baik saja? Mommy belum sempat menanyakannya padamu."
FYI : Hannah dan Elle beberapa kali saling mengirim pesan, mereka sepakat untuk Elle memanggil Hannah dengan sebutan mommy. Hannah berkata, dia ingin memiliki seorang anak gadis. Jadi ya, Elle pun menyetujuinya dengan senang hati.
Elle menoleh pada Hannah, dia menyunggingkan senyum kecilnya. "Semuanya baik-baik saja mom.."
"Ah ya, Gavin.. Besok pinjamkan Elle pada mommy. Mommy akan membawa Elle untuk berbelanja. Kau perlu tahu, Elle sangat ahli dalam memilih busana. Mommy sangat menyukai rekomendasi pakaian yang dia pilihkan untuk mommy."
"What?!" Gavin seketika saja mengernyitkan dahinya. "Hal ini tidak ada dalam pembahasan kita tempo hari."
"Ck ck ck ck ck!" Hannah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kita sudah membahasnya. Apa kau lupa? Mommy sudah berkata padamu kalau mommy akan mengajaknya untuk berkeliling."
"Tcih!" Gavin menyunggingkan senyum simpulnya saat mengingat hal itu.
Gavin lupa kalau mommy nya merupakan orang yang sangat licik. Mommy nya membahas hal ini ketika Gavin sedang berkutat dengan pekerjaannya. Membuat dia secara tidak sadar mengiyakan apa yang mommy nya inginkan.
Jika sudah seperti ini, rencana yang sudah Gavin susun untuk berduaan dengan Elle akan hancur sia-sia.
"Tak apa.. Biarkan Elle pergi dengan mommy mu. Kau bisa membawa Alina untuk berkeliling. Kau sudah tidak lama datang kesini, ada banyak tempat yang baru saja di bangun di kota ini. Kau bisa mengunjunginya dengan Alina. Kebetulan, besok Alina memiliki waktu luang, jadi dia bisa menemanimu berkeliling hingga kau puas."
Siera berusaha mengambil kesempatan untuk semakin mendekatkan Alina dengan Gavin.
"Ya, aku bisa menemaimu ke tempat apa saja yang kau inginkan. Aku selalu memiliki waktu luang untuk dirimu."
Elle seketika saja menggaruk pelipisnya. Elle tidak bodoh, Elle tahu maksud Siera dan Alina. Meskipun Elle belum bisa menerima Gavin secara penuh, namun Elle tetap saja tidak suka pada Siera yang berusaha untuk mendekatkan Alina dengan Gavin.
"Bisa kah aku memberikan penolakan atas nama Gavin?"
__ADS_1
Pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mulut Elle.
Hal itu tentu saja membuat perhatian semua orang tertuju padanya. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad Elle. Dia tidak peduli, meskipun dia bukan siapa-siapa di rumah ini, tapi Elle tetap tidak suka jika nantinya Gavin benar-benar akan pergi berdua dengan Alina.
"Gavin sudah berjanji untuk membawaku berkeliling kota ini. Dia bisa menemaniku berkeliling setelah aku menemani mommy Hannah berbelanja."
Elle lantas menoleh pada Gavin, dia menatap Gavin dengan senyum manis yang dia paksakan tersungging di bibirnya.
"Apa kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk menjadi supirku dan mommy?"
Gavin mengerjapkan matanya, tapi sedetik kemudian, dia menaikkan sebelah alisnya. Jujur saja, Gavin saat ini sedang berusaha untuk menahan tawanya. Dia tidak menyangka kalau Elle bisa merasa cemburu.
Eh, cemburu? Apa Elle benar-benar cemburu? Waaaah.. Membayangkannya saja tiba-tiba membuat Gavin merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
"Khem! Tentu saja.. Aku tidak keberatan. Aku siap menjadi supir untukmu, kapan pun kau inginkan." Gavin menyunggingkan senyum manisnya.
Senyum yang membuat semua orang seketika saja merasa terperangah.
Apa kah Gavin benar-benar tersenyum?
Tapi.. Kenapa dia tersenyum pada gadis itu? Selama ini, Alina sudah berusaha dengan sangat keras untuk menarik perhatian Gavin. Alina bahkan rela merendahkan harga dirinya demi agar Gavin sedikit tertarik padanya.
Tapi, apa yang dia dapatkan? Bukannya tertarik, Gavin justru memandangnya dengan tatapan rendah secara terang-terangan.
Tapi ini.. Pada Elle? Gavin bahkan sampai menyunggingkan senyum manisnya.
Demi Tuhan, kalau saja dia tidak sedang menjaga imagenya. Alina sudah pasti menyerang Elle pada saat ini juga.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..