
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Wow.."
Elle tidak mampu menyembunyikan rasa kagumnya. Bayangkan saja, hanya dalm waktu yang kurang dari 3 jam, lantai bawah di rumah Gavin kini sudah berubah menjadi toko pakaian. Lengkap bersama dengan tas, sepatu, topi, juga aksesoris yang lainnya.
Pict by : Pinterest
Elle benar-benar merasa penasaran tentang berapa harga yang di bayar oleh Gavin untuk melakukan semua ini.
"Do you like it?"
Elle mengangguk kecil tanpa menoleh pada Gavin, matanya terus tertuju pada setiap deretan pakaian yang tersusun rapi di sana.
"Yes, i do.."
"Tapi, bagaiman kau menyiapkan ini dalam waktu yang begitu singkat?"
"Aku tidak menyiapkan nya. Aku hanya meminta orang untuk menyiapkan nya."
"Ah ha ha.. Ya.. Aku lupa."
"Ell? Kau mendapatkan sesuatu?"
Elle menoleh pada Hannah yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Sebentar mom.. Aku sedang memilihnya."
"Ok, pelan-pelan saja. Minta Gavin untuk menggendongmu jika kau sudah tidak kuat lagi berjalan."
Elle seketika saja tersenyum canggung, dia lantas menoleh pada Gavin yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Dengan senang hati mom.."
Senyum manis tiba-tiba saja tersungging di bibir pria itu.
"Atau haruskah aku menggendongmu saat ini juga? Atau mungkin sebaiknya aku membawamu kembali ke kamar saja?" Bisiknya.
Kedua bola mata Elle membulat dengan sempurna, netranya bergulir ke sana kemari untuk memastikan kalau tidak ada satu orang pun yang mendengarkan mereka.
"Jaga bicaramu! Orang lain bisa saja mendengar kita."
"Why? Biarkan saja. Itu urusan kita."
"Astaga! Terserah!"
Elle memalingkan wajahnya kemudian berlalu pergi begitu saja dengan langkah yang sedikit tertatih.
"Oh God, babby.. Berjalan lah lebih pelan.."
__ADS_1
Gavin segera menyusul langkah Elle.
Memang benar apa yang di katakan mommy nya. Di saat-saat seperti ini, seorang perempuan akan lebih sensitif dan pemaran dari biasnya.
Salah Gavin juga sih yang tidak mau mendengarkan perkataan mommy nya.
.......
.......
.......
Di sisi lain...
Rumah Dean...
"Kau sudah melihat gosip yng tersebar di sosial media?"
Tamara duduk di samping Dean yang saat ini tengah melamun di balkon kamarnya.
Dean tidak segera menjawab, dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya menghela nafasnya dalam-dalam.
"Ya, aku cukup terkejut saat mengetahui kalau Elle berhubungan langsung dengan pria itu. Aku bahkan sudah memastikan dengan mata kepalaku sendiri kalau Elle berlindung di belakang pria itu."
"Huh! Apa yang tidak bisa terjadi di dunia ini, Dean? Apa kau lupa kalau istrimu memiliki fisik dan otak yang sangat menarik. Wajar saja kalau dia bisa menggoda pria dari kalangan atas dengan sangat mudah."
"Bu.. Jangan berkata seperti itu. Aku yakin, Elle bukan gadis seperti itu. Aku yakin, bukan Elle yang memulai semuanya. Toh, kalau pun memang benar kalau Elle yang memulai semuanya, aku sangat yakin, Elle hanya meminta perlindungan saja. Apa ibu lupa kalau ayah Elle pernah berhubungan dengan keluarga Jaliandro? Wajar saja kalau Elle bisa meminta perlindungan pada pria itu dengan sangat mudah."
"Tcih! Sebegitu percayanya kau pada gadis itu? Bagaimana kalau apa yang kau yakini itu salah? Bagaimana kalau mereka berdua memang memiliki hubungan?"
"Kalau begitu kejar saja dia. Buktikan pada dunia kalau kau adalah suaminya. Suami yang sah secara hukum dan agama."
Dean menoleh pada Tamara.
"Dengan status sosialku yang seperti ini? Dengan keadaan keluarga kita yang seperti ini? Jangan bergurau bu.. Semuanya tetap akan berakhir dengan sia-sia. Di bandingkan pun, mungkin kita hanyalah kuman yang menempel di ujung kukunya saja."
Tamara terdiam, dia menghela nafasnya dengan sangat lesu. Tanpa harus di jelaskan lebih rinci lagi pun, Tamara sadar betul kalau mereka tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan Gavin.
Tapi, Tamara tiba-tiba saja menyunggingkan senyumnya saat dia teringat akan suatu hal.
"Dean?"
"Ya bu?"
"Kau ingat paman Khalid?"
Dean menoleh pada Tamara. "Paman Khalid?"
"Ya.. Pria yang pernah ayahmu tolong 6 tahun yang lalu. Apa kau tidak ingat? Kau juga ikut membantunya."
Dean tidak menjawab, dia kembali menatap pohon rindang yang tumbuh di halaman belakang rumahnya. Bukan tanpa alasan, pria itu sedang berpikir mengenai pria yang di maksud ibunya.
"Aaaahh.. Pria yang waktu itu menumpang di rumah ini selama hampir 1 tahun lamanya?"
Tamara menganggukkan kepalanya. "Mintalah bantuan kepadanya."
__ADS_1
Dean mengernyitkan dahinya. "Maksud ibu?"
"Kau tahu benar apa maksud ibu, Dean.. Pria itu memiliki kekuasaan yang hampir setara dengan Gavin. Ibu ingin kau meminta bantuan padanya, ibu ingin kau menjatuhkan Gavin. Ibu ingin kau menjatuhkan orang yang sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milikmu."
"Tunggu dulu, aku masih belum mengerti apa yang ibu maksud."
Tamara menghela nafasnya, dia menggenggam tangan Dean dengan lembut.
"Dengar kan ibu, Dean.. Ibu tidak memintamu untuk melakukan tindakan yang keji
Ibu hanya ingin kau bisa membuktikan pada semua orang kalau Elle adalah istrimu, Elle ingin kau bisa menunjukkan kalau Elle adalah milikmu. Ibu tau, ini mungkin terdengar sedikit konyol. Tapi Dean, ibu ingin kau membuktikan pada Elle kalau kau adalah pria yang lebih layak di bandingkan dengan Gavin."
"Apa ibu memintaku melakulan hal ini karena sebidang tanah itu?"
Tamara menyunggingkan senyumnya. "Tidak nak, di bandingkan dengan sebidang tanah itu, ibu lebih mementingkan kebahagiaanmu di atas segalanya. Ibu tau, ibu selama ini sudah salah bersikap. Ibu ingin memperbaiki semua kesalahan yang sudah ibu lakukan. Ibu sedih, ibu sangat sedih melihat kau yang terus saja murung di setiap harinya. Ibu merasa gagal menjadi seorang ibu karena sudah menjerumuskanmu pada hal yang salah."
Dean menatap kedua bola mata Tamara dengan sangat intens, dia mencoba untuk mencari kebohongan di sana. Tapi sayangnya, Dean hanya bisa melihat ketulusan yang terpancar di mata ibunya.
Karena sejatinya, Tamara memang tidak berbohong. Setelah semua yang terjadi, Tamara benar-benar merasa menyesal. Andai saja waktu itu Tamara tidak mendorong Dean untuk menikah dengan Elle karena alasan sebidang tanah itu, mungkin saja kehidupan putranya tidak akan seperti ini.
Tamara tidak hanya merasa bersalah pada Dean, dia juga merasa bersalah pada Elle karena sudah menyakiti kehidupan gadis itu. Andai saja dia meminta Elle untuk menjadi menantunya dengan cara baik-baik, mungkin saja Elle saat ini sedang bersenda gurau bersama putranya.
Karena tidak dapat Tamara pungkiri, sebenarnya Tamara sangat menyukai Elle dalam segala hal. Hanya saja, Tamara lebih mengugu keegoisannya hingga menyebabkan hancurnya kehidupan dua orang.
Tamara benar-benar berharap, dengan apa yang dia minta pada Dean untuk saat ini, bisa mengembalikan semuanya seperti awal lagi. Ya, Tanara benar-benar berharap hal itu akan terjadi.
"Aku akan melakukannya."
Tamara sontak saja menatap Dean dengan mata yang berbinar.
"Kau akan melakukannya?"
"Ya, aku akan mendatangi paman Khalid."
"Ya.. Lakukanlah, ibu akan mendukungnya. Hanya saja.."
Dean mengernyitkan dahinya. "Hanya saja?"
"Selesaikan dulu hubunganmu dengan Ayana, ibu tidak ingin kau menyakiti Elle untuk yang kedua kalinya."
Dean mengangguk tanpa ragu. "Ya, aku akan menyelesaikannya secepatnya."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1