Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Pertemuan Pertama


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Masih di malam yang sama, dan di tempat yang sama..


The Saphire..


"Sungguh, barang yang tuan produksi memang tidak pernah mengecewakan."


Seorang pria tua yang merupakan client tetap Gavin menatap barang-barang transaksi itu dengan mata yang berbinar.


Gavin hanya menatap pria tua itu dengan tatapan datarnya.


Puas menatap barang-barang transaksi itu, pria tua itu kembali menutup koper yang menjadi wadah dari barang-barang transaksi itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap pria tua itu.


Gavin menganggukkan kepalanya.


Merasa tidak aneh akan sikap Gavin yang begitu dingin dan angkuh, pria tua itu pun hanya menyunggingkan senyum kecilnya. Pria tua itu lantas segera meninggalkan ruangan bersama dengan beberapa anak buah yang di bawanya.


"Kau ingin langsung kembali ke kediamanmu?" Tanya seorang pria yang duduk di samping Gavin.


Gavin menoleh pada pria yang merupakan sepupu satu darahnya yang juga merupakan asisten pribadinya.



Pict by : knezevich.a


Pria itu bernama Sam Abigail (34 tahun).


"Tidak, aku akan di sini untuk sejenak."


"Apa kau perlu seseorang untuk menemanimu?"


Gavin tidak serta merta langsung menjawab, dia memilih untuk beranjak terlebih dahulu dari duduknya.


"Tidak perlu, aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menyalurkan hasrat ku."


Pria itu lantas berlalu pergi dari ruang VIP itu.


Sam dan beberapa bawahan pria itu pun mengikuti langkah pria itu dari belakang.


Gavin melangkah menuju sofa yang biasa dia duduki, tempat biasa dia menghabiskan waktu di club itu.


"Kau ingin memesan?"


Sam duduk di sofa yang terletak di samping kanan Gavin.


"Mmn.. Seperti biasa."


"Okay.."


Sam lantas memanggil seorang pelayan untuk memesan minuman.


Gavin menggulirkan matanya ke lantai bawah.


"Tidak pernah berubah." Gumam pria itu.


"Ku pikir kau akan langsung kembali ke kediamanmu.."


Seorang pria datang menghampiri Gavin.


Gavin lantas menoleh pada pria itu.



Pict by: mateuszsoldanski


Pria itu bernama Delon (34 tahun), teman baik Gavin yang juga merupakan pemilik tempat club malam ini.


"Aku membutuhkan sedikit hiburan." Gavin kembali menggulirkan matanya ke lantai bawah.


Pria itu mencoba untuk menikmati liak liuk tubuh para penari striptease yang tidak ada lelahnya menggerakan tubuh mereka.


"Kau ingin mencoba barang baru?"


Delon duduk di samping kanan Sam.


"Simpan saja, aku tidak membutuhkannya mal.."

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari mulut Gavin harus terhenti tat kala dia mendengar keributan dari arah depannya.


Pria itu lantas menggulirkan netranya ke arah di mana keributan itu terjadi.


"Sudah ku bilang! Aku tidak mau!"


Gavin melihat seorang gadis yang tengah berusaha untuk menghindari seorang pria yang ingin menggodanya.


"Ayolah! Jangan bercanda. Aku bisa memberikan apa pun yang kau inginkan." Sahut pria yang tengah berusaha menggoda gadis itu.


"Tcih! Aku tidak membutuhkan harta dari pria busuk sepertimu! Aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dengan usahaku sendiri!"


Gavin seketika saja menaikkan sebelah alisnya mendengar teriakan gadis itu yang terkesan sedikit pongah.


Dari perkataannya, kalian sudah pasti bisa menebak kan siapa gadis yang saat ini tengah membuat keributan itu?


Yup, siapa lagi jika bukan Elle.


"Apa dia pelanggan baru?"


Itu Sam, dia yang sedari tadi tidak terlalu peduli pada keributan itu tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya setelah mendengar teriakan Elle yang terkesan sedikit pongah.


Jujur saja, Sam merasa sedikit tertarik pada Elle. Di jaman sekarang, sedikit susah untuk menemukan gadis yang tidak tergiur akan bergelimangnya harta. Biasanya, gadis yang seperti itu merupakan gadis yang baik-baik.


Tapi, Sam segera menepis pemikirannya m Jika gadis itu merupakan gadis yang baik-baik, untuk apa gadis itu datang ke tempat seperti ini?


"Sepertinya begitu, aku juga baru melihat wajahnya." Sahut Delon.


"Sepertinya aku harus menolong gadis itu."


Delon hendak beranjak dari duduknya saat melihat pria yang menggoda Elle kini tengah mengunci pergerakan Elle dengan posisi Elle yang menelungkup di atas sofa.


Bukan Delon ingin ikut campur, hanya saja, Delon tidak suka kalau sampai ada keributan di club malamnya.


Ya meskipun ini merupakan club malam tempat orang-orang jahat berkumpul, namun Delon tetap tidak suka jika sampai ada seseorang yang membuat keributan di club malamnya.


Belum sempat Delon beranjak, dia harus mengurungkan niatnya tat kala melihat Elle yang membalikkan keadaan.


Mata Delon sedikit berkedut saat melihat betapa mudahnya Elle membalikkan keadaan menjadi dia yang kini mengunci pergerakan pria itu.


Salah satu teman pria yang kini tengah berada di bawah kuncian Elle mencoba untuk membantu pria itu. Dia hendak menyentuh bahu Elle untuk menyingkirkan Elle dari atas panggung temannya itu.


Namun, belum sempat dia menyentuh bahu Elle. Elle sudah lebih dulu memegang tangan pria itu. Dengan gerakan cepat, Elle beranjak dari duduknya kemudian membanting pria itu ke atas lantai.


"Kau tidak jadi menolong gadis itu? Bukankah kau tidak menyukai adanya keributan di club malammu?" Tanya Sam.


"Tidak, sepertinya aku harus mentoleransi keributan yang satu ini." Sahut Delon cepat.


Biarkanlah keributan ini terjadi. Hanya untuk satu kali saja, Delon akan membiarkannya.


Karena jujur, Delon sedikit terkesima pada setiap gerakan Elle yang terlihat begitu anggun namun mematikan.


Tidak hanya satu teman pria itu saja, ada beberapa pria lainnya juga yang menyerang Elle karena merasa tidak terima melihat temannya di kalahkan oleh Elle. Terlebih lagi, Elle dapat menumbangkan teman mereka hanya dengan satu kali gerakan.


Tapi ya, mereka sepertinya salah menyerang seorang gadis. Karena bukannya dapat melumpuhkan Elle, mereka justru menjadi korban keganasan Elle yang tengah dalam keadaan mabuk.


Haruskah Gavin tertawa melihat betapa lemahnya para pria itu? Menangani seorang gadis saja tidak mampu mereka lakukan. Atau haruskah Gavin mengapresiasi kehebatan gadis itu? Karena dia mampu melumpuhkan para pria itu dengan sangat mudah.


Merasa tidak ada lagi yang bisa dia lihat, Gavin hendak memalingkan netranya dari Elle. Namun, dia harus mengurungkan niatnya tat kala netranya bersibobrok dengan netra Elle.


Gavin menaikkan sebelah alisnya saat Elle perlahan melangkah ke arahnya dengan tatapan yang begitu menantang dan juga menggoda.


Langkah Elle terlihat sangat anggun namun sirat akan ketegasan di dalamnya. Gavin bahkan dapat melihat aura dominan yang terkuar dari tubuh gadis itu.


Gavin kini merasa sedikit tertantang untuk membawa gadis itu naik ke atas kasur. Apakah permainan Elle saat di atas kasur sama hebatnya dengan keahlian Elle saat berkelahi?


Gavin merasa sangat percaya diri saat Elle semakin mendekat ke arahnya. Dia mengangkat tangan kanannya saat beberapa anak buahnya hendak menghentikan langkah Elle.


But...


Whatt??!!


Gavin mengernyitkan dahinya tat kala Elle justru hanya melewatinya begitu saja. Elle bahkan bersikap seolah tidak melihat keberadaan Gavin.


Hal itu jelas saja membuat harga diri Gavin merasa sedikit tergores.


Bukan kah gadis itu tadi menatap ke arahnya dengan sangat intens? Lantas mengapa gadis itu kini hanya melewatinya begitu saja?


Karena ya, sejak awal, memang bukan Gavin yang menjadi tujuan Elle. Melainkan pria yang duduk tepat di belakang Gavin, pria yang memiliki perawakan dan wajah yang sedikit mirip dengan Dean.


Itulah alasan kenapa Elle naik ke lantai atas. Dia ingin memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Dia ingin memastikan, apa kah pria itu memang Dean? Atau kah bukan?


Tapi, tepat saat Elle berada di samping Gavin. Elle tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya saat seseorang tidak sengaja menyenggol bahunya.

__ADS_1


Salahkan saja Elle yang terlalu fokus pada pria yang dia kira sebagai Dean hingga membuat dia tidak memperhatikan jalan dengan baik.


"Kenapa tidak sakit?" Elle bergumam dengan mata yang terpejam erat, kedua tangannya tergenggam erat di depan dadanya.


Elle menelan ludahnya saat menyadari kalau ada sesuatu yang salah.


Bukan, bukan kerasnya lantai yang menjadi tempatnya terjatuh. Melainkan nyamannya pangkuan seseorang. Dia juga merasakan tangan yang melingkar di pinggangnya seolah menjaganya agar tidak terjengkang ke belakang. Terlebih lagi, ada sesuatu yang mengganjal di bawah pantatnya.



Pict by : Pinterest


*Note: Gambar hanya sekedar ilustrasi.


Oh God! Sesuatu yang mengganjal?! Pangkuan seseorang?!


Elle seketika saja membulatkan kedua bola matanya karena merasa sangat terkejut setelah menyadari tempat di mana dia terjatuh.


Semua orang yang melihat hal itu pun sama terkejutnya dengan Elle, terlebih lagi melihat tangan Gavin yang melingkar di pinggang gadis itu seolah sengaja menjaga gadis itu agar tidak terjengkang.


Karena biasanya, Gavin tidak akan sudi memegang seorang gadis dalam jenis apa pun dan dalam bentuk apa pun.


Biasanya, pria itu tidak akan pernah peduli walau pun gadis itu terjatuh dalam keadaan bersimbah darah sekali pun.


Tapi ini? Oh, entahlah, tidak ada satu orang pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara.


Setelah menetralkan rasa terjejutnya. Bak gerakan slow motion, Elle menoleh pada pria yang kini tengah memangkunya.


Elle terdiam mematung saat melihat wajah pria itu yang kini tengah menatapnya dengan sangat tajam.


Jujur, Elle sedikit terpesona pada ketampanan yang di miliki oleh pria itu. Tapi hanya sedikit, okay.. Kalian perlu menggaris bawahi.. Sedikit..


Gavin menaikkan sebelah alisnya karena Elle menatapnya hampir tanpa berkedip.


"Is there something strange on my face, babby?"


Bisakah Elle menenggelamkam dirinya ke dalam lautan? Suara baritone pria itu terdengar sangat seksi, membuat hasrat yang ada di dalam diri Elle tiba-tiba saja naik ke permukaan.


Ayolah.. Elle sudah menahan hasratnya selama 2 tahun, wajar saja jika Elle merasa sedikit tergoda akan hal itu.


Elle menelan ludahnya dengan sedikit kasar, mulutnya terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu.


Namun...


Hueeekk!!


Bukan kalimat, justru isi perutlah yang keluar dari mulut Elle. Tepat setelah mengeluarkan isi perutnya, Elle terkulai lemas akibat kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


"Ck! Haish!!" Gavin memejamkan matanya rapat-rapat.


Kesalahan apa yang hari ini dia perbuat sehingga hari ini dia harus mendapatkan kesialan seperti ini?


...-TBC-...


*Note :


- Cuma sekedar pemberitahuan aja, visual yang sensi jadiin karakter cerita sensi itu semuanya sensi ambil dari IG ya wakk..


- Satu lagi.. Sensi belum dapet visual yang pas buat jadi Gavin. Entah itu karena belum nemu, entah karena emang selera sensi yang ketinggian.. :D


Kalo misalkan ada wakk wakk yang punya saran, tolong cantumin di kolom komentar ya..


Yang penting harus gagah, brewokan, cakep, ah begitulah pokoknya..


Ya kali mafia mukanya imut-imut, kan ga lucu jadinya..


Sensi kebanyakan mintak yak? :D


Ya pokoknya gitu aja lah ya..


****


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2