Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Terlalu Menggoda


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed.....


...----------------...


Gavin menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar.


Gavin bersumpah, selama 35 tahun dia menjalani hidup, ini adalah kulit seorang gadis yang paling halus dan yang paling lembut yang pernah Gavin sentuh.


Bahkan mungkin, kain sutra pun kalah halus juga kalah lembut jika di bandingkan dengan kulit yang di miliki oleh gadis ini.


Tidak, Gavin tidak melebih-lebihkannya. Ini adalah kenyataannya, kenyataan yang bahkan Gavin saja hampir tidak mempercayainya.


Hanya dengan menyentuhnya sedikit saja, Gavin sudah bisa merasakan getaran yang amat sangat dahsyat.


Saat membuka dress yang di kenakan Elle, Gavin tidak terlalu terfokus pada kulit halus yang di miliki oleh Elle karena pikirannya terlalu sibuk menggerutu.


Tapi kini...


Oh God! Sungguh, Gavin benar-benar menyesali keputusannya membawa Elle kemari.


Pria itu benar-benar terdiam mematung, tangannya tidak bergerak dari tempatnya barang satu centi pun.


Sungguh, Gavin rasanya ingin sekali meremas pinggang ramping Elle yang sangat pas di dalam genggamannya.


Pikiran Gavin tiba-tiba saja berkelana tak tentu arah, membayangkan hal yang mungkin saja akan Gavin lakukan jika dia benar-benar tidak bisa mengontrol hawa nafsunya.


Niat hati, Gavin ingin mendudukkan Elle agar dia bisa lebih mudah untuk memakaikan kemejanya pada Elle.


Tapi, jika sudah seperti ini, sepertinya Gavin tidak bisa lagi jika harus terus menerus menahan godaan yang terpampang nyata di hadapannya saat ini.


Namun..


"Khem!!" Gavin berdehem kecil guna meredakan hawa panas yang semakin lama semakin menjalari tubuhnya.


Pria itu memilih untuk tidak melanjutkan niatnya, dia menegakkan tubuhnya kemudian menutupi tubuh Elle menggunakan selimut.


Gavin hendak masuk ke kamar mandi, dia berniat untuk menuntaskan hasrat kelelakiannya secara mandiri.


Karena se jahat apa pun dia, se kejam apa pun dia, se bringas dan se brutal apa pun dia. Dia bukan pria bereng**sek yang akan meniduri seorang gadis yang sedang tidak sadarkan diri.


Namun..


"Eungh!"


Gavin kembali terdiam mematung mendengar lenguhan halus yang keluar dari mulut Elle.


Si**al!!


Bahkan hanya dengan mendengar seulas lenguhan halusnya saja, mampu membuat Gavin merasa semakin sulit untuk mengontrol nafsunya.


Di tambah lagi dengan dia yang kembali terbayang akan halus dan lembutnya kulit Elle.


Dam**n it!! Gadis itu terlalu menggoda!


Gavin kembali mendekati Elle yang kini sudah berganti posisi menjadi sedikit meringkuk.


Gavin tau, gadis itu merasa kedinginan karena tidak memakai pakaian.


Apakah Gavin ragu?


Tidak sama sekali.

__ADS_1


Tanpa ragu, Gavin mencoba untuk mengecup kedua belah bibir mungil gadis itu. Hanya sekedar mengecup, kecupan ringan yang tidak pernah satu kali pun Gavin berikan untuk siapa pun.


Dan ya, getaran aneh seketika saja semakin menyebar ke seluruh tubuhnya.


Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama Gavin mengecup bibir seorang gadis.


Parahnya, gadis ini sama sekali tidak Gavin kenal. Gadis yang bahkan baru saja Gavin temui dalam waktu yang kurang dari 24 jam. Gadis yang juga menjadi gadis pertama yang sengaja Gavin bawa ke dalam ruang pribadinya.


Selain orang yang bertanggung jawab untuk membersihkan tempat ini, tidak ada lagi orang lain yang bisa masuk ke tempat ini. Termasuk mommy dan daddy nya sendiri, Gavin tidak pernah mengijinkan mereka untuk masuk ke tempat ini.


Tapi, biarkanlah.. Untuk satu kali ini saja, biarkan Gavin mengabaikan hal itu.


Gavin tidak lagi peduli akan eksistensinya yang tidak bisa di sentuh. Gavin tidak lagi peduli jika saat ini dia harus menjatuhkan harga dirinya untuk memulai semuanya dengan inisiatifnya sendiri.


Satu kali.. Dua kali..


Tidak ada respon apa pun dari Elle.


Gavin mengernyitkan dahinya. Kenapa gadis ini tidur seperti mayat?!


Gavin lantas menempelkan bibirnya pada belah bibir Elle dalam waktu yang cukup lama.


Dan, hal itu berhasil membuat Elle mengerjapkan matanya.


Gavin sedikit memundurkan wajahnya, dia menatap Elle dalam jarak 10 centi.


Tanpa di sangka dan tanpa di duga, bukannya menghindar atau melawan, Elle justru memberikan kecupan ringan di bibir Gavin.


Gavin jelas saja merasa sedikit terkejut akan hal itu.


Apa gadis yang ada di hadapannya saat ini masih dalam kondisi mabuk? Terlebih lagi, gadis itu tiba-tiba saja menyunggingkan senyumnya.


"Akhirnya kau mau menyentuhku.. Setelah sekian lama,, akhirnya kau tertarik padaku.."


Suara Elle terdengar sedikit parau, kedua sudut bibir gadis itu sedikit melengkung kebawah. Kedua mata gadis itu juga mulai terlihat berkaca-kaca.


Apa sebelumnya mereka pernah bertemu?


Tapi, kapan?


"Fuc**k!"


Gavin mengumpat tat kala Elle tiba-tiba saja berhambur memeluknya dengan sangat erat.


Andai saja refleks yang di miliki Gavin lemah, mungkin saja dia sudah jatuh terjengkang ke lantai dengan Elle yang menindih tubuhnya.


"Terima kasih.. Terima kasih karena kini kau sudah mau menyentuhku.. Terima kasih karena kini kau sudah tertarik padaku.. Terima kasih.."


Alis Gavin bertaut mendengar isakan kecil yang mulai keluar dari mulut Elle.


Gavin melepaskan pelukan mereka, dia memegang kedua bahu Elle seraya menatap Elle dengan tatapan bingung.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau maksud."


Namun, bukannya menanggapi perkataan Gavin, Elle justru menabrakkan bibirnya pada bibir Gavin.


Awalnya hanya sekedar menempel, lambat laun, Elle mulai melum**at bibir Gavin dengan gerakan yang sangat kaku.


Gavin tidak serta merta langsung membalasnya, dia terdiam untuk sejenak. Apa kah ini kali pertama gadis ini berciu**man? Kenapa gerakannya kaku sekali?


Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di dalam benak Gavin.


Kepalang tanggung, Gavin segera mengenyahkan pikirannya. Dia membalas ciu**man Elle. Bahkan kini Gavin membalikkan keadaan menjadi dia yang memimpin ciu**man panas itu.

__ADS_1


Meskipun ini juga merupakan kali pertama Gavin mencium seseorang, namun Gavin tidak bisa di katakan tidak handal dalam melakukan hal itu.


Bahkan membuat Elle sedikit kesulitan untuk mengimbangi Gavin.


Puas dengan itu, Gavin melerai ciu**man panas mereka.


"Bolehkah?"


Pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mulutnya.


Sejatinya, Gavin bisa saja langsung melakukannya tanpa harus meminta persetujuan dari Elle. Tapi, entahlah, Gavin merasa kalau gadis ini sedikit berbeda dari kebanyakan gadia yang Gavin temui.


Gavin merasa kalau saat ini dia harus meminta ijin terlebih dahulu pada Elle sebelum dia benar-benar melakukan hal yang lebih.


"Sentuh aku sepuasmu.. Aku sudah menjadi milikmu sejak lama.."


Meskipun merasa sedikit ambigu atas jawaban yang Elle berikan, namun Gavin memilih untuk mengabaikannya.


Tidak ada satu inci pun kulit halus Elle yang terlewatkan dari kecupan Gavin. Pria itu benar-benar merasa sangat menggila pada Elle. Saking gilanya, Gavin bahkan mengabaikan alat pengaman yang tidak pernah dia lupakan.


Tapi, ketika Gavin akan melakukan permainan intinya.


Gavin menghentikan aksinya saat dia merasa menabrak sesuatu yang menghalangi jalan masuknya. Bertepatan dengan Elle yang meringis seraya menyebut nama pria lain.


Namun, Gavin mengabaikan hal itu, dirinya lebih terfokus pada sesuatu yang menghalangi jalan masuknya.


Gavin lantas mencoba satu kali lagi untuk memastikan sesuatu.


Sial!! Dia perawan!


Mengabaikan hasrat kelelakiannya, Gavin memilih untuk beranjak dari sana. Dia tidak ingin menjadi lelaki ba**jingan yang meniduri seorang perawan tanpa ada hubungan apa pun.


Gavin memang bukan hanya satu atau dua kali meniduri seorang perawan, tapi itu karena memang gadis itu sendiri yang menjual keperawanannya pada Gavin.


"Tunggu!! Kau mau kemana Dean? Kau akan mencampakkanku kembali?"


Elle mencoba untuk menahan Gavin.


Tapi Gavin tidak menghentikannya, dia menghempaskan tangan Elle yang menggenggam tangannya kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi.


"Dean!! Tunggu!!" Elle kini terisak pilu.


Blaam!!


Pintu kamar mandi tertutup dengan kasar.


Harga diri Gavin benar-benar merasa tergores, hasrat yang sedari tadi mencuat kini redam seketika.


Selain karena mengetahui fakta kalau Elle masih seorang perawan, juga karena mengetahui fakta kalau Elle masih dalam keadaan mabuk. Dan yang lebih parahnya adalah karena Elle yang menganggapnya sebagai pria lain.


Gavin menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di hadapannya dengan nafas yang sedikit memburu karena menahan emosi


Sungguh, Gavin tidak pernah merasa sangat terhina seperti saat ini.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2