Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Peristor?


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Kediaman keluarga Jaliandro..


"Dia masih belum mau bangun?"


Seorang wanita setengah baya memasuki kamar Gavin dengan gayanya yang begitu angkuh namun sarat akan tingginya kewibawaan.


Sam menoleh ada Wanita itu.



Dia Hannah Jaliandro (59 tahun), nyonya utama di keluarga Jaliandro. Wanita yang paling di hormati, paling di segani, juga paling di takuti di keluarga Jaliandro.


Caranya berbicara, caranya menatap, caranya bersikap, benar-benar sarat akan ketegasan. Tidak ada satu orang pun yang berani melawannya atau pun menentangnya.


Bukan karena dia adalah seorang wanita yang kejam atau pun bringas, namun karena dia adalah seorang wanita yang memegang kendali penuh atas segala hal yang ada di dalam ruang lingkup keluarga besar Jaliandro.


Dia memang bukan seorang wanita yang kejam, namun dia juga bukan seorang wanita yang suka bermain-main dengan perkataannya.


Dia bukan seorang wanita yang pendiam, namun dia juga bukan seorang wanita yang banyak berbicara.


Dia bukan seorang wanita yang sangat sulit untuk di tentang, namun dia juga bukan seorang wanita yang mudah untuk di kalahkan.


Dia bukan bukan seorang wanita yang gila akan rasa hormat, namun dia juga bukan seorang wanita yang akan diam saja jika ada seseorang yang meremehkannya.


Sama halnya dengan istilah "jika kau menghormati ku, maka aku akan lebih menghormati mu. Tapi jika kau mencari masalah denganku, maka aku akan memberi mu pelajaran dengan cara yang sangat kejam."


Kurang lebihnya, seperti itu lah Hanna Jaliandro.


Wanita yang berstatus sebagai nyonya utama di keluarga Jaliandro itu tidak lain dan tidak bukan merupakan ibu kandung Gavin.


Meskipun usianya kini sudah menginjak angka 59, tapi jangan salah, wanita itu masih bisa di sandingkan dengan gadis yang masih berusia 20an.


Tubuhnya yang bugar, wajahnya yang segar, juga tenaganya dalam segala hal, masih bisa menyaingi para gadis muda.


Wanita itu menginjakkan kakinya di tanah Italia, tepatnya di rumah utama keluarga Jaliandro, bukan tanpa alasan.


Ada suatu hal yang mendorongnya untuk menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya.


Saat itu, ketika dia tengah memimpin rapat perusahaan, menggantikan suaminya yang sedang berhalangan, tiba-tiba saja di kejutkan oleh informasi yang di kirim oleh orang kepercayaannya.


Di mana orang kepercayaannya memberitahunya kalau Gavin kini sedang melakukan sesuatu yang di luar nalarnya.


Yup, apa lagi jika bukan mendekati Elle.


Bukan, bukan karena Elle berasal dari kasta yang berbeda dengannya.


Hannah tidak merasa keberatan kalau Gavin memang ingin mengencani seorang wanita dari kasta rendah, Hannah bahkan tidak merasa keberatan kalau saja Gavin ingin menikahi wanita itu.


Hanya saja, Hannah ingin wanita itu masihlah seorang wanita yang lajang. Seorang janda pun tidak masalah, yang terpenting Gavin benar-benar mencintai wanita itu.

__ADS_1


Tapi ini? Bukan lajang, bukan juga janda, melainkan istri orang.


Ayolah.. Seorang ibu mana yang akan mendukung anaknya untuk menjadi perebut istri orang.


Hannah benar-benar merasa sangat penasaran, apa yang di miliki oleh wanita itu sehingga membuat Gavin melakukan hal yang tidak wajar.


Apa tidak ada wanita lain lagi selain Elle? Kenapa harus Elle? Kenapa harus wanita yang sudah berstatus sebagai istri orang?


Oooh.. Sungguh, Hannah benar-benar tidak tau jalan pikiran Gavin.


"Belum aunty. Aku sudah membangunkannya, tapi dia tidak kunjung bangun. Mungkin dia terlalu lelah karena baru kembali pukul 3 dini hari. Lagi pula, hari ini dia tidak memiliki jadwal apa pun."


Hannah menghela nafasnya, dia merasa lelah menghadapi tingkah Gavin yang tidak pernah berubah.


"Pergilah.. Biar aku yang membangunkannya."


"Baik aunty."


Sam pun berlalu pergi dari sana.


Hanna mendekati Gavin yang tidur dengan posisi menelungkup, dia meyibakkan selimut yang menututli tubuh Gavin.


"Jangan berpura-pura tidur, bangunlah. Mommy tau kau sudah bangun."


Gavin menghela nafasnya, gagal sudah rencananya untuk mengulur waktu.


Gavin tau betul kenapa mommy tersayangnya itu datang kesini. Apa lagi jika bukan untuk membahas masalah Elle.


Bukan Gavin tidak ingin membahas Elle dengan mommy nya, dia hanya belum siap untuk membahasnya. Dia belum memiliki alasan yang bagus untuk menjawan setiap pertanyaan yang akan mommy nya ajukan padanya.


"Bangunlah.. Kau tau apa yang ingin mommy bicarakan denganmu."


Mau tidak mau, Gavin pun beranjak dari tidurnya. Sekejam dan sebringas apa pun dia, dia tetap tidak bisa melawan wanita yang sudah melahirkannya dengan sangat penuh perjuangan itu.


"Pukul berapa mommy tiba di sini? Kenapa mommy tidak mengabariku. Aku bisa saja menjemput mommy ke bandara."


Hannah mendengus. "Jangan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Katakan saja apa yang harus kau katakan."


Gavin berdiri, dia mendekati meja kemudian menegak segelas air mineral yang ada di sana hingga tandas.


Sungguh, Gavin tiba-tiba saja merasa sangat haus, bahkan dia merasa kalau tenggorokannya benar-benar terasa kering.


"Apa yang harus aku katakan?"


Hannah mengernyitkan dahinya. "Kau bertanya? Seharusnya mommy yang bertanya. Kemana akal sehatmu? Bisa-bisanya kau mengincar istri orang."


Gavin menatap gelas kosong yang dia pegang untuk beberapa saat.


"Apa ada yang salah dengan hal itu? Toh, dia juga tidak bahagia dengan pernikahannya. Aku hanya mencoba untuk melepaskan dia dari penderitaannya."


"Sejak kapan kau mulai peduli dengan urusan orang lain?"


Gavin meletakkan gelas itu, dia menoleh pada Hannah. "Sejak.. Bertemu dengan dia, mungkin."


Hanna menjatuhkan rahangnya, bisa-bisanya anak semata wayangnya itu berkata seperti itu.

__ADS_1


Apa yang merasukinya? Kenapa anaknya mengatakan suatu hal di luar kebiasaannya? Kenapa anaknya kini berubah menjadi sangat menyeramkan?


Ah tidak, lebih tepatnya dia berubah menjadi sangat anaeh.


"Apa ada sesuatu yang merasukimu?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Tidak.. Aku melakukannya dengan sangat sadar."


"Ok, terserah apa katamu. Mommy tidak peduli. Yang jelas, kau harus menghentikan niatmu. Mommy tidak menyetujuinya. Lakukan apa yang mommy minta sebelum daddy mengetahuinya."


"Aku tidak akan berhenti."


Hannah merasa sedikit takjub melihat keyakinan yang terpancar dari netra Gavin. Setelah bertahun-tahun lamanya, Hannah kini kembali melihat pancaran mata keyakinan itu dari Gavin.


Terakhir kali dia melihat pancaran mata itu, adalah ketika Gavin ingin mendirikan perusahaannya sendiri. Dan itu terjadi sekitar 8 tahun yang lalu.


Hannah tiba-tiba saja merasa salut pada Elle karena bisa membuat Gavin kembali memancarkan rasa keyakinan yang sangat tinggi.


"Ayolah Gavin.. Lakukan saja apa yang mommy minta, tinggalkan wanita itu. Jangan menjadi peristor."


Gavin seketika saja mengernyitkan dahinya. "Peristor?"


"Iya peristor, perebut istri orang."


Gavin mengerjapkan matanya, tangannya terangkat untuk menggaruk pelipisnya.


Sungguh, Gavin benar-benar merasa sangat heran pada mommy nya yang selalu bisa memikirkan istilah-istilah aneh.


"Sudahlah mom.. Biarkan aku mengurusnya sendiri."


"Tidak, tidak bisa.. Kau sudah melakukan hal yang di luar nalarmu sendiri. Apa pun alasannya, yang jelas mommy menentangmu."


Gavin mengedikkan bahunya. "Untuk saat ini, mommy memang tidak menyetujui apa yang aku lakukan. Tapi percayalah padaku, ketika mommy bertemu dengannya, mommy pasti akan menyukainya."


"Kenapa kau terlihat sangat yakin?"


Gavin mengangkat bahunya acuh. "Mommy akan tau nanti." Pria itu berlalu pergi dari sana.


"Hey hey, kau mau kemana?"


Namun Gavin tidak menanggapinya, dia tetap berlalu pergi dari sana. Bahkan tanpa melirik Hannah barang untuk sedikit pun.


"Astagaaaa.. Anak itu benar-benar! Kenapa aku harus melahirkan anak seperti itu!!"


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2