Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Penenang


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Entah bagaimana mulanya, Elle kini sudah meringkuk dengan sangat nyaman di dalam pangkuan hangat Gavin.



Pict by : Pinterest


*Gambar hanya sekedar ilustrasi.


Tangisan Elle sudah mereda entah sejak kapan, hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka. Mereka benar-benar mengunci rapat-rapat mulut mereka berdua, seolah mereka tengah menikmati suasana damai yang jarang mereka miliki. Bahkan, diamnya mereka mampu membuat terdengarnya hembusan nafas mereka yang saling bersahutan.


Kediaman mereka hanya di selingi tangan Gavin yang sesekali mengelus punggung Elle dengan sangat lembut.


Kalau memperhatikan posisi mereka saat ini, Elle merasa lucu pada dirinya sendiri. Elle tidak bisa di katakan sebagai perempuan yang mungil, Elle memiliki tinggi badan yang cukup tinggi untuk seukuran perempuan pada umumnya.


Yang membuatnya merasa lucu, kenapa dirinya bisa begitu tenggelam dalam dekapan Gavin. Rasanya seperti tengah melihat titan yang sedang memeluk boneka. Se mungil itu lah dia jika di bandingkan dengan Gavin.


Apa kah Elle memang termasuk ke dalam golongan perempuan yang mungil? Atau kah memang pada dasarnya Gavin yang memiliki perawakan seperti titan?


Pertanyaan konyol itu tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Tapi setidaknya, berkat pemikiran konyol itu, mampu membuat Elle terkekeh geli.


Hal itu tentu saja membuat Gavin mengernyitkan dahinya.


Kiranya, apa yang di pikirkan oleh perempuan ini? Belum ada setengah jam berlalu setelah dia menangis tersedu-sedu, kini perempuan ini justru terkekeh geli dengan tidak etisnya. Tidak mungkin kan perempuan ini tiba-tiba saja terkena gangguan jiwa karena masalah yang sedang di hadapinya?


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau sedang memikirkan hal yang lucu?"


Elle menggeleng kecil. "Tidak, hanya saja.. Apa kau tidak menyadari posisi kita saat ini?"


Gavin semakin mengernyitkan dahinya karena merasa semakin bingung. "Apa yang salah dengan posisi kita saat ini?"


"Kau tampak seperti titan yang sedang memeluk boneka. Ah tidak, lebih tepatnya aku rasanya seperti tengah di tawan oleh titan. Aku bahkan berpikir kalau sebentar lagi kau akan memakanku."


Hell.. What? Gavin seketika saja menjatuhkan rahangnya. Dia benar-benar kehabisan kata-kata. Bisa-bisanya Elle berpikir seperti itu. Apa yang di katakan Elle bahkan sampai membuat Gavin hampir saja tersedak ludahnya sendiri.


Gavin benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya Elle memikirkan hal konyol seperti itu di saat dia masih berada dalam situasi sedihnya.


Gavin tahu, Elle memang perempuan yang memiliki emosi yang mudah berubah. Tapi, tidak sampai seperti ini juga kan?


"Dari mana kau mendapatkan pemikiran konyol seperti itu?"


Elle mengedikkan bahunya. "Entahlah, itu tiba-tiba saja muncul di benakku. Bukan kah sudah ku katakan sebelumnya, aku memiliki imajinasi yang terlalu liar."


"Liar? Imajinasi yang kau miliki itu lebih mendekati ke arah aneh."


Elle mendongakkan kepalanya untuk menatap Gavin. "Benarkah?"


"Tcih!"

__ADS_1


Gavin memalingkan wajahnya, bukan karena pertanyaan yang di lontarkan okeh Elle. Melainkan karena melihat raut wajah Elle yang terlalu datar saat menanyakan hal itu.


"Bisakah aku bertanya?"


Elle mengernyitkan dahinya, tumben sekali Gavin meminta ijin terlebih dahulu.


"Apa kau sedang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Anggap saja seperti itu."


"Hmmm.. Baiklah, kau ingin bertanya tentang apa?"


"Apa yang kau bicarakan dengan perempuan itu?"


"Perempuan? Maksudmu, kekasih Dean?"


"Ya, apa yang kalian bicarakan?"


"Apa kah aku bisa tidak menjawabnya? Kau tahu, ini terlalu pribadi."


"Tidak.. Kau harus menjawabnya. Kau tahu, tidak ada satu hal pun yang bisa kau sembunyikan dariku."


Elle seketika saja merotasikan kedua bola matanya.


"Aku bisa saja mencari tahunya sendiri. Tapi, bukan kah akan lebih baik jika aku bertanya secara langsung kep..."


"Dia hamil.."


Gavin terdiam untuk sejenak, dia merasa sedikit bingung setelah mendengar apa yang di katakan Elle.


"Hmm.." Elle menganggukkan kepalanya. "Kenapa? Apa kau terkejut?"


"Shhh.. Tidak. Hanya saja, aku merasa sedikit bingung. Bagaimana mungkin bisa dia menghamili perempuan itu di saat dia sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan kalian. Mungkin kah apa yang sedang dia lakukan hanyalah akting untuk mendapatkan tanah itu?"


Elle menggelengkan kepalanya. "Entahlah.. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Aku pun sama sepertimu, sedari tadi aku bertanya-tanya mengenai hal itu."


Ya, memang benar adanya. Jangankan Gavin, bahkan Elle saja sedari tadi terus menerus memikirkan hal yang sama.


Kenapa Dean melakukan hal itu? Apa kah rasa penyesalan yang dia tunjukkan hanyalah kepura-puraan semata? Apa kah semua itu karena sebidang tanah yang sedang dia incar?


Tapi.. Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Sikap Dean seolah-olah menunjukkan kalau dia memang benar-benar merasa menyesal. Sikap Dean menunjukkan seolah-olah kalau dia memang ingin memperbaiki hubungan.


"Apa hal itu yang membuatmu menangis?"


"Entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya. Meskipun aku bisa menerima kenyataannya, hanya saja aku tidak bisa menyangkal rasa sakit yang aku alami. Rasanya seolah-olah air mataku mengalir begitu saja."


"Lantas, apa sekarang kau merasa lebih baik?"


Sejatinya, pertanyaan itu hanyalah sebuah basa basu belaka. Ayolah.. Lagi pula, siapa juga yang akan mengira Elle tidak baik-baik saja setelah perempuan itu berimajinasi tentang titan dan boneka.


Hahhh.. Sungguh.. Andai saja Gavin tidak mencintai Elle, mungkin saja Gavin saat ini sudah melemparkan Elle dari lantai 2. Meskipun tidak membuat Elle, setidaknya perempuan itu mendapatkan pelajaran kalau imajinasinya benar-benar aneh dan di luar nalar.


"Aku baik-baik saja.. Aku bahkan tidak pernah merasa sebaik ini. Dengan begitu, aku memiliki alasan yang kuat untuk berpisah dengan Dean. Aku benar-benar lelah jika harus terus menjalani kehidupan rumah tangga yang seperti itu."

__ADS_1


"Hmm.. Itu keputusan yang cukup baik. Ah tidak, itu merupakan keputusan yang tepat."


Elle seketika saja menatap Gavin dengan kedua matanya yang memicing tajam.


"Kenapa aku merasa seolah-olah ada hal yang tersirat di dalam perkataanmu."


Gavin mengerjapkan matanya, pria itu menatap Elle dengan raut wajah yang seolah menunjukkan kalau dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan Elle.


"Apa kah terdengar seperti itu?"


"Tcih! Jangan seolah-olah.." Elle mencebikkan bibirnya dengan sedikit kesal.


"Ah ya, pukul berapa sekarang?"


Gavin lantas melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "3 sore."


"Astaga.. Apa kau tidak menghadiri rapat?"


Gavin menggelengkan kepalanya. "Seseorang menahanku dengan tangisan pilunya."


Elle mengerjapkan matanya. "Sepertinya aku mengenal orang itu."


"Ya.. Kau sangat sangat sangat mengenal orang itu."


"Hehe.." Elle benar-benar merasa tidak enak hati, perempuan itu hanya bisa menampilkan cengiran lebarnya. "Apa kah aku sudah mengacaukan rapatmu?"


"Tidak juga, rapat itu memang batal. Ada beberapa hal yang perlu aku selesaikan terlebih dahulu."


"Jadi, itu bukan salahku kan?"


"Tidak babby.. Kau tidak bersalah dalam hal apa pun."


"Tcih! Sebaiknya kita bersiap untuk pulang."


Elle lantas beranjak dari pangkuan Gavin.


"Pulang ke rumahku?"


Elle memutar bola matanya, dia menoleh pada Gavin dengan tatapan malas.


"Kita pulang ke rumah kita masing-masing.."


Gavin menghela nafasnya. "Okay.."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2