
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Aaaaarrrgggghhhh!!!"
Praaang!!
Dean melemparkan botol minuman beralkohol yang di genggam ke sembarang arah. Dia menjambak rambutnya dengan sangat kuat guna menghilangkan rasa berdenyut di kepalanya.
Sungguh, kepalanya begitu sakit memikirkan hubungannya dengan Elle yang sudah hancur. Ah tidak, lebih tepatnya hampir hancur.
Dean menghela nafasnya untuk sejenak, dia menyandarkan punggungnya pada tembok apartmentnya. Pria itu tiba-tiba saja menyunggingkan senyumnya. Jika di perhatikan lebih baik lagi, senyum itu bukan senyum kebahagiaan. Melainkan senyum pilu, senyum yang di penuhi dengan rasa sakit.
Dean tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi runyam seperti ini. Semuanya benar-benar kacau, semuanya benar-benar tidak berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan.
Lagi dan lagi, tidak ada yang bisa Dean lakukan selain menyesali perbuatannya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain merenungi semua hal yang terlah dia lakukan.
Andai saja dia mengalahkan egonya, andai saja dia menepati janjinya pada Elle untuk menjadi suami yang baik, mungkin saja semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin saja saat ini Dean sedang bersenda gurau bersama Elle untuk melepaskan rasa penatnya.
Ya.. Andai saja..
Sungguh, Dean ingin mengulang waktu, Dean ingin kembali ke masa kemarin. Masa di mana Elle memberikan kesempatan untuk dia memperbaiki dirinya. Mada di mana Elle masih mau menerima dan memaafkannya. Masa di mana seharusnya Dean segera mengakhiri segala perbuatan buruknya pada Elle.
Tapi apalah daya.. Keinginan itu hanyalah sekedari keinginan. Dean tidak bisa mengulang waktu. Se keras apa pun Dean mencoba, se kuat apa pun keinginan Dean, dia tidak akan pernah bisa kembali ke masa kemarin. Semuanya kini hanyalah tinggal penyesalan.
Duk! Duk! Duk!
Berulang kali, Dean membenturkan kepalanya pada tembok. Perlahan, namun cukup kuat. Dean tidak tahu lagi harus melampiaskan rasa frustasinya dengan cara apa, hanya itu yang bisa dia lakukan agar bisa sedikit mengurangi rasa berdenyut di kepalanya.
Hingga..
Tut tut tut tut tut, tlilulit..
Seseorang terdengar sedang menekan sandi pintu apartmentnya, hal itu lantas membuat Dean menoleh ke arah pintu. Sudah bisa di pastikan, seseorang yang menekan sandi pintu apartmentnya tidak lain dan tidak bukan adalah Ayana.
"Dean?"
Dean memalingkan wajahnya dari arah pintu saat mendengar Ayana memanggilnya, pria itu kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
"Deaaaaaaan?"
"De...an?"
Ayana terdiam mematung melihat seisi apartment yang sudah sangat berantakan, bahkan sepertinya kapal pecah pun kalah berantakan jika di bandingkan dengan kondisi apartmentnya saat ini.
Bantal sofa yang berserakan di mana-mana, kaleng beer dan botol minuman beralkohol yang sudah tergeletak di setiap sudut ruangan, se isi meja dan nakas yang sudah berhamburan ke sana kemari, juga pecahan botol yang bahkan Ayana sendiri tidak tahu ada di sudut mana saja.
__ADS_1
Sungguh, apartmentnya kini benar-benar tidak beraturan. Bahkan, Ayana saja sampai merasa bingung harus menginjakkan kakinya di sebelah mana. Seluruh lantai aprtemennya benar-benar di penuhi dengan benda.
Netranya lantas terpusat pada Dean yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan. Ayana terhenyak melihat raut wajah Dean yang seakan tidak bernyawa.
Kali ini, apa lagi masalah yang sedang di hadapi oleh Dean? Apa Dean memiliki masalah di tempat kerjanya? Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Se besar apa pun yang di miliki Dean di tempat kerjanya, Dean tidak mungkin sampai melakukan hal ini, Dean tidak mungkin sampai menunjukkan raut wajah se frustasi itu.
Ah, apa jangan-jangan masalahnya berhubungan dengan Elle?
Memikirkan Elle, seketika saja membuat Ayana sedikit menaikkan sudut bibirnya. Andai saja Ayana mampu, Ayana ingin melenyapkan Elle dari muka bumi ini.
Karena semenjak kehadiran gadis itu di dalam hidup Dean, hubungannya dan Dean menjadi hancur berantakan. Hidup Ayana benar-benar menjadi sangat sulit. Cintanya, kehidupannya, mebahagiaannya, semuanya telah di renggut oleh gadis itu.
Haaahh... Sudahlah...
Ayana menghela nafasnya, dia menyingkirkan barang-barang yang berserakan di lantai agar dia memiliki jalan untuk menghampiri Dean.
"Apa yang terjadi, Dean?"
Dean hanya diam, pandangan matanya lurus ke depan. Pria itu seolah tidak memiliki niat untuk menanggapi Ayana. Bahkan pria itu bersikap seolah tidak menghiraukan keberadaan Ayana.
"Dean.."
Ayana hendak menyentuh bahu Dean.
Namun, belum sempat Ayana benar-benar menyentuh bahu Dean. Pria itu sudah lebih dulu menepis tangannya.
Hal itu sontak saja membuat Ayana mengernyitkan dahinya.
"Dean?"
"Ya?"
"Pergilah.. Tinggalkan aku sendiri."
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
Perlahan, Dean menoleh pada Ayana. Dia menatap Ayana dengan tatapan jengahnya.
"Pergilah selagi aku meminta dengan baik. Jangan ganggu aku, aku sedang ingin sendiri."
"Heh." Ayana menaikkan sudut bibirnya. "Kau mengusirku?"
"Ayana.. Ku mohon.."
"Waaah.." Ayana tersenyum lebar, dia tidak menyangka kalau Dean akan bersikap seperti ini kepadanya. Tapi hal ini menandakan kalau pria itu benar-benar memiliki masalah dengan Elle.
"Apa kau menjadi seperti ini karena perempuan itu?"
"Ayana, cukup. Aku sedang tidak ingin berdebat."
__ADS_1
"Cukup? Cukup kau bilang? Kau memiliki masalah dengan perempuan itu, tapi justru aku yang terkena imbasnya?? Salahku apa Dean? Kesalahan apa yang telah aku lakukan kepadamu sampai-sampai kau selalu melampiaskan amarahmu kepadaku? Kau selalu seperti ini ketika kau memiliki maslah dengan perempuan itu. Kau selalu saja menjadikan aku pelampiasan amarahmu!! Apa salahku?? Apa?"
"Pergilah Ayana.. Ku mohon.."
"Tidak!! Aku tidak akan pergi sebelum kau memperbaiki keadaan ini!"
Dean memejamkan matanya, dia berusaha untuk menahan emosinya.
"Tinggalkan perempuan itu!! Bukan kah kau berjanji akan meninggalkan perempuan itu? Kenapa kau masih bertahan dengannya! Kemana perginya semua janji yang kau berikan padaku?! Aku muak kalau harus terus bersabar. Aku jengah harus terus menunggu kepastian dari mu!! Aku.."
"DIAM!"
Ayana merasa terhenyak.. Lagi.. Entah untuk yang ke berapa kalinya, Dean membentaknya.
Ya, ini bukan kali pertama Dean membentaknya. Tapi tetap saja, rasanya sakit.. Sungguh sakit.. Hatinya benar-benar terasa sangat sakit.
"Dean.. Kau.."
Dean beranjak dari tempatnya, dia berdiri di hadapan Ayana dengan segala rasa yang bercampur aduk di hatinya.
"Cukup! Kita sudahi sampai di sini. Aku lelah.. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Kedua mata Ayana seketika saja berkaca-kaca, sudut bibirnya bergetar menahan isak tangis yang sebentar lagi akan keluar dari mulutnya.
"Ap, apa maksudmu Dean?" Suara Ayana terdengar begitu bergetar.
"Mari kita sudahi sampai di sini saja.. Aku lelah.."
"Tapi.."
"Ku mohon.. Aku ingin sendiri, jangan ganggu aku. Aku benar-benar lelah. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan. Tapi ku mohon, jangan ganggu aku untuk sementara waktu ini. Aku benar-benar ingin sendiri."
"Dean.."
Air mata kini mengalir membasahi pipi Ayana.
Apa kah ini akhirnya? Apa kah ini benar-benar berakhir? Apa kah hubungannya dengan Dean benar-benar usai?
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Dean berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Ayana yang kini mulai menangis tersedu-sedu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..