Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Dress


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Jaliandro Company..


"Ell?"


"Ya?"


Elle mendongakkan wajahnya untuk menatap Gavin.


"Apa nanti sore kau senggang?"


Elle mengernyitkan dahinya. "Apa kau ingin mengajakku berkencan lagi? Bukan kah sudah ku katakan, aku ti.."


"Bukan aku, tapi mommy ku."


Elle mengerjapkan matanya.


"Ya?"


"Tadinya aku memang berniat untuk mengajakmu berkencan, tapi tidak ku lakukan. Mommy ku yang ingin mengajakmu untuk berkencan."


Kedua alis Elle saling bertaut, dia benar-benar merasa sangat bingung.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."


"De Lana mungkin sudah mengatakan padamu kalau orang tua ku ada di Santa Marino. Mommy ku baru saja tiba di sini pagi kemarin. Dia hari ini ingin pergi belanja. Tapi dia tidak memiliki seseorang untuk menemaninya. Jadi aku memintamu untuk menemaninya."


"Aku?" Elle menunjuk dirinya sendiri.


"Hemm." Gavin menganggukkan kepalanya.


"Kenapa harus aku? Kenapa mommy mu tidak pergi dengan teman-temannya saja?"


Gavin mengedikkan bahunya. "Karena kau asisten pribadiku, jadi akan lebih baik kalau kau yang menemaninya pergi. Juga, mommy ku bukan seorang wanita yang senang memiliki teman."


"Aaa.." Elle mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tenang saja, bonus untuk mu akan aku masukkan ke dalam slip gajimu."


"Mmmmn.." Elle terlihat berpikir untuk sejenak. "Baiklah."


Gavin mengangguk kecil. "Ok, kalau begitu aku akan mengabari waktunya."


"Ok."


Pria itu hendak berlalu pergi dari sana. Namun, sebelum itu, pria itu kembali membalikkan tubuhnya.


"Ah ya, kau tidak usah bersikap terlalu formal. Anggap saja kau sedang dalam masa pendekatan dengan calon mertuamu."


Elle seketika saja membulatkan kedua bola matanya.


"Whaat?!"


Apa pria itu sudah gila? Jika seperti itu maksudnya, lebih baik dia membatalkannya saja.


"Kau tidak bisa menarik kembali perkataanmu, kau sudah setuju untuk melakukannya."


Gavin pun benar-benar berlalu pergi dari sana.


"Hei hei hei.. Yakk!! Gaviiin!!"


Elle menatap pintu yang baru saja tertutup dengan tatapan membunuhnya.


.......


.......

__ADS_1


.......


Fantury Mall..


"Hufh.."


Elle menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya. Jujur saja, dia merasa sedikit bosan menunggu kedatangan Hannah. Sudah hampir 30 menit Elle menunggu kedatangan wanita yang merupakan ibu dari atasannya itu.


Sekilas, Elle melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. Dia kembali menghela nafasnya karena Hannah tak kunjung datang.


Hingga..


"Elleonor?"


"Ya?"


Elle mendongakkan wajahnya, dia terdiam saat menatap wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya.


Jujur saja, Elle merasa sedikit terpukau pada penampilan wanita itu. Meskipun beberapa kerutan di wajahnya tidak bisa menutupi usianya, tapi tubuh bugar yang di miliki oleh wanita itu benar-benar terlihat seperti seorang gadis.


Di tambah lagi dengan pakaian yang di kenakan oleh wanita itu, benar-benar membuat wanita itu terlihat seperti seorang gadis.


Hal itu tiba-tiba saja membuat Elle merasa sedikit tidak percaya diri.


"Kau Elle? Asisten Gavin?"


Suara Hannah membuyarkan pikiran Elle.


"Ah, ya." Elle sekerika saja beranjak dari duduknya.


"Selamat sore nyonya." Dia menundukkan kepalanya untuk menyapa Hannah.


Hannah mengernyitkan dahinya. "Apa Gavin tidak memberitahu mu untuk tidak terlalu bersikap formal denganku?"


"Ah, itu.." Elle mengusap tengkuknya canggung.


"Kau bisa memanggilku Aunty Hannah, dan jangan berbicara terlalu formal denganku."


"Baik nyonya."


"Ah, itu.. Maksud saya Aunty Hannah."


"Bagus, begitu lebih baik."


Hannah mulai melangkahkan kakinya untuk mengusuri setiap sudut mall itu.


Elle pun mengikuti langkah wanita itu dari belakang.


Namun, Hanna tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.


Hal itu seketika saja membuat Elle merasa sedikit bingung. Apa kah ada sesuatu yang salah?


"Apa Gavin juga tidak memberitahu mu kalau aku tidak suka jika orang yang menemaniku berjalan di belakangku? Aku tidak ingin hal itu terkesan seperti seorang atasan dan asisten."


"Ya?"


Jujur saja, Elle belum bisa mencerna apa yang di katakan oleh Hannah.


Haaah.. Kenapa otaknya tiba-tiba saja bekerja dengan sangat lambat?


"Berjalan lah di sampingku. Aku tidak ingin terlihat seperti sedang berjalan dengan asisten ku."


"Ah, ya, baiklah.."


Elle pun menempatkan posisinya di samping Hanna.


Mereka lantas melanjutkan langkah mereka.


Sungguh, Elle tidak menyangka kalau berhadapan dengan Hannah jauh lebih menegangkan di bandingkan saat berhadapan dengan Gavin.


"Apa kau memiliki rekomendasi pakaian yang bagus? Aku terlalu bosan dengan pakaian yang terlalu ber merk."

__ADS_1


"Umm.." Elle lantas berpikir untuk beberapa saat. "Sebelum saya merekomendasikan tempat. Kalau boleh tau, pakaian seperti apa yang ingin aunty beli."


"Pakaian yang bisa aku gunakan di berbagai acara."


"Kalau begitu, saya akan membawa aunty ke sana."


Elle menunjuk salah satu toko pakaian yang ada di dalam mall itu.


Tanpa ada pertanyaan, Hannah pun hanya mengikuti langkah Elle.


Elle membawa Hannah menuju salah satu rak yang ada di dalam toko itu.


"Aunty bisa memilih pakaian yang ada di sini. Untuk yang lainnya, itu pakaian untuk menghadiri acara-acara tertentu."


Hanna mulai memilih pakaian yang dia inginkan.


"Kenapa kau seperti sangat mengetahui tempat ini? Apa kau sering belanja di sini?" Hannah melirik Elle sekilas.


Elle menyunggingkan senyum kecilnya. "Tidak terlalu sering, hanya beberapa kali saja. Saya datang kesini hanya di saat saya benar-benar membutuhkan pakaian yang sesuai dengan acara yang akan saya hadiri."


"Ah aunty, apa kah aunty tertarik dengan dress yang ini?"


Elle menunjukkan salah satu dress yang dia temukan.



Pict by : Pinterest


"Ku lihat, pinggang aunty cukup ramping. Kaki aunty juga sangat jenjang, saya rasa, aunty cocok memakai dress ini. Simpel, tapi tetap terlihat elegan. Warna dressnya juga cocok dengan warna kulit aunty."


Hannah memperhatikan Elle dengan sekasama. Tidak ada kebohongan yang terpancar dari kedua mata Elle. Tidak ada kesan seolah tengah mencari perhatian. Nada suara Elle juga tidak menunjukkan seolah gadis itu sedang memujinya.


Bukan hanya satu atau dua orang gadis yang Hannah bawa untuk berbelanja. Ini kali pertama Hannah bertemu dengan seorang gadis yang menawarinya pakaian.


Biasanya, para gadis itu lebih mementingkan dirinya sendiri. Ketika para gadis itu menemukan dress yang bagus, mereka akan bertanya tentang apa kah dress ini cocok untuknya? Apa kah dress ini bagus untuknya?


Tapi tidak dengan Elle. Saat gadis ini menemukan satu dress yang bagus, gadis ini justru menawarkan dress itu untuk Hannah, bukan untuk dirinya sendiri.


Hannah tiba-tiba saja teringat akan rasa percaya diri Gavin yang mengatakan kalau dirinya yang akan menyukai gadis ini pada saat pertama kali bertemu.


Jujur saja, Hannah menyetujui perkataan Gavin.


Hannah langsung menyukai Elle di saat pertama kali dia bertemu dengannya.


Pakaiannya yang sopan, pancaran matanya yang penuh akan rasa hormat, sikapnya yang sarat akan tatak rama yang tinggi. Benar-benar membuat Hannah menyukai Elle.


Ayolaaahh.. Hannah sudah bertemu dengan banyak orang, Hannah bisa tau mana orang yang benar-benar baik dan orang yang hanya mencari muka.


Terlebih lagi, Hannah pernah belajar tentang psikologi. Wajar saja jika Hannah sedikit banyaknya bisa menebak tentang kepribadian seseorang.


Hannah kini merasa bimbang, harus kah dia mengijinkan Gavin merebut gadis ini dari suaminya? Atau justru, haruskah dia membantu Gavin untuk merebut gadis ini dari suaminya?


Hannah sudah tau latar belakang gadis ini, Hannah juga sudah tau pernikahan seperti apa yang di jalani gadis ini. Semua itu karena dia yang memaksa Gavin untuk menceritakan detail tentang gadis ini.


Tidak, Hannah bukan merasa kasihan akan nasib gadis ini. Hannah jelas bukan wanita yang memeiliki rasa belas kasihan yang tinggi.


Hannah hanya merasa dia benar-benar menyukai gadis ini.


"Aunty? Apa aunty tidak menyukai dress ini? Jika tidak, saya akan memilihkan yang lain."


Hanna tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. "Aku akan mencobanya."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2