Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Awal Mula Terjadinya Kesepakatan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Flashback On..


7 tahun yang lalu..


"Aku tidak menyangka, akhirnya kita bisa mengambil alih tanah ini."


Seorang pria menatap tanah lapang seluas 20.000 m² yang ada di hadapannya itu dengan tatapan haru.


"Ya, aku juga tidak menyangka kalau kita akhirnya bisa memiliki tanah ini."


Seorang pria lainnya juga menatap tanah yang ada di hadapannya itu dengan tatapan haru.


"Tapi, tunggu sebentar. Sebelum kita merayakan keberhasilan kita karena telah membeli tanah ini. Bisa kah aku menanyakan suatu hal padamu, Chen??"


Pria yang di panggil Chen itu menoleh pada pira yang berdiri di sampingnya.


"Kau seperti kepada orang lain saja. Untuk apa kau meminta ijin? Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan."


"Dari mana kau mendapatkan uang itu? Bukan kah 4 hari yang lalu kau mengatakan kalau kau tidak memiliki dana sedikit pun? Jangan bilang kalau kau benar-benar menjual semua harta warisan milik istrimu."


Chen mengusap tengkuknya canggung. "Tapi, aku benar-benar melakukannya. Aku menjual harta warisan milik istriku."


Pria itu tampak sedikit terkejut. "Jadi kau benar-benar melakukannya?"


Chen menganggukkan kepalanya. "Mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain menjual harta warisan milik istriku. Aku sudah mencoba untuk mengajukan pinjaman pada bank. Bahkan aku juga sudah berusaha untuk meminjam pada rentenir. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berani memberikan aku pinjaman uang sebesar itu."


"Lagi pula, bukan kah sebentar lagi kita akan membangun hotel di tanah lapang ini? Dengan begitu, aku bisa mengembalikan uang itu pada istriku."


Pria itu menghela nafasnya. "Bukan kah sudah ku katakan, jika kau memang belum bisa, jangan memaksakan diri. Aku jadi merasa tidak enak hati padamu."


Chen terkekeh kecil. "Sudahlah.. Semuanya sudah terlanjur, kita hanya tinggal memikirkan langkah seperti apa yang harus kita ambil selanjutnya."


Pria itu menghela nafasnya untuk sejenak, dia lantas menyunggingkan senyumnya. "Xi Chen, aku merasa sangat senang karena bisa bekerja sama dengan sahabatku. Mari seperti ini seterusnya."


Pria itu mengulurkan tangannya pada Xi Chen.


Xi Chen menerima uluran tangan pria itu. "Aku juga merasa sangat senang karena bisa bekerja sama denganmu, sahabatku, Del Baraf Abrunachi. Dan ya, mari kita seperti ini untuk seterusnya."


.......


.......


.......


3 tahun kemudian..


"Ini sudah 4 tahun berlalu, tapi kita masih belum bisa membangun hotel itu.." Raut wajah Xi Chen terlihat begitu frustasi.

__ADS_1


Xi Chen menghela nafasnya dalam-dalam. "Haaah.. Andai saja waktu itu kita tidak mengalami hal buruk. Mungkin sajaa.."


"Untuk yang ke sekian kalinya, aku minta maaf atas hal yang terjadi di kala itu.. Itu semua salahku. Itu semua karena aku yang terlalu bodoh.. Aku terlalu tergiur pada apa yang mereka tawarkan sehingga memberikan semua uang yang kita miliki kepada mereka tanpa berpikir dua kali."


Baraf menatap Xi Chen dengan di penuhi rasa bersalah.


Xi Chen menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan meminta maaf.. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Itu juga merupakan kesalahanku. Aku juga terlalu percaya pada para kontraktor sia**lan itu.. Maaf kan aku, seharusnya aku tidak mengungkit hal itu."


"Aku hanya terlalu bingung karena sudah tidak lagi memiliki uang. Gaji hasil dari mengajar tidak seberapa, aku sampai harus bekerja sampingan sebagai supir taxi demi bisa menghidupi seluruh keluargaku.. Aku juga merasa sangat bingung karena istriku terus mendesakku untuk mengembalikan semua uang miliknya. Aku benar-benar minta maaf, aku seharusnya tidak mengungkit hal itu."


"Apa sebaiknya kita menjual tanah itu saja?" Celetuk Baraf.


Xi Chen seketika saja mengernyitkan dahinya. "Apa kau gila?"


"Lalu, apa lagi yang bisa kita lakukan? Kau kekurangan uang. Kau lebih membutuhkan uang itu dari pada aku."


"Tidak, aku tidak akan menyetujuinya. Kita sudah sepakat untuk mempertahankan tanah itu apa pun yang terjadi. Apa kau lupa kalau tanah itu merupakan satu-satunya hal yang bisa kita wariskan pada anak-anak kita kelak?"


"Tapi, jika begini caranya, bagaimana kita bisa mengelola tanah itu? Jangankan untuk menabung, hanya untuk sekedar menghidupi keluarga kita saja, kita masih kekurangan."


Xi Chen menghele nafasnya lelah. "Entahlah.. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku bingung."


"Atau, bagaimana kalau kita menikahkan anak kita berdua? Dengan begitu, biarkan mereka saja yang mengelola tanah itu. Anakmu sudah bekerja, anak ku juga sudah bekerja. Jika tanah itu menjadi milik mereka, aku sangat yakin kalau mereka akan mengelolanya dengan baik. Kita juga tidak perlu membagi tanah itu menjadi dua. Tanah itu akan tetap menjadi satu."


Xi Chen terlihat berpikir untuk sejenak. "Itu bukan ide yang buruk. Tapi, bagaimana kalau anakmu tidak setuju untuk menikah dengan anakku? Terlebih lagi, mereka belum pernah bertemu."


"Itu bukan hal yang harus di pusingkan, aku yakin kalau Elle akan menerima pernikahan ini. Anakku bukan gadis yang suka membantah. Aku justru khawatir kalau anak mu lah yang akan menolah anakku."


"Tidak usah khawatir, aku bisa membujuk Dean."


Baraf mengulurkan tangannya pada Xi Chen.


"Ya, kita sepakat." Xi Chen membalas uluran tangan baraf.


"Ada satu hal lagi.. Jangan memberitahu kan hal ini kepada anak kita sebelum mereka memiliki keturunan. Aku hanya ingin berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan."


Xi Chen menganggukkan kepalanya. "Aku setuju."


"Ah, aku tidak sabar untuk menjadi besanmu."


Baraf memeluk Xi Chen dengan sangat erat.


Xi Chen membalas pelukan Bafar dengan tak kalah eratnya.


"Ya, aku juga tidak sabar untuk menjadi besanmu."


Flashback Off..


.......


.......


.......

__ADS_1


Itulah awal mula kenapa Dean dan Elle bisa menikah.


Semua itu berawal dari dua orang pria yang sudah bersahabat sejak menduduki bangku sekolah menengah atas yang berencana untuk membangun bisnis hotel bersama.


Mereka berencana membangun hotel itu sebagai harta warisan untuk anak-anak mereka.


Namun, karena mereka tidak terlalu berpengalaman dengan dunia pembangunan. Mereka di tipu habis-habisan oleh pihak kontraktor abal-abal.


Modal untuk membangun hotel itu di bawa kabur oleh para penipu itu hingga habis tak tersisa.


Mereka sudah melaporkan hal itu pada pihak berwajib. Namun, selama 3 tahun menunggu, mereka masih tidak mendapatkan kabar apa pun.


Lambat laun, mereka pun mulai merasa putus asa hingga hampir menyerah.


Tapi, sebelum mereka benar-benar menyerah, kesepakatan itu pun terjadi.


Para istri pun menyetujui kesepakatan yang di buat oleh suami mereka.


Dan ya, Dean pun akhirnya menikah dengan Elle tanpa ada hambatan apa pun.


Hingga ketika Xi Chen tiada, Tamara yang bertanggung jawab untuk menyimpan sertifikat tanah itu pun mulai menunjukkan sisi serakahnya.


Dia tidak rela jika tanah itu sampai jatuh ke tangan Elle. Dia ingin menguasai seluruh tanah itu.


Ayolah, 20.000 m² bukan lah tanah yang sempit. Wajar saja jika Tamara merasa serakah.


Tapi, Tamara tidak bisa dengan se enak hatinya mengambil sertifikat tanah itu kemudian merubahnya menjadi hak miliknya.


Tamara memang menyimpan sertifikat tanah itu, namun dia tidak bisa mengambilnya karena sertifikat itu tersimpan dengan sangat baik di dalam brangkas milik Xi Chen.


Selain Xi Chen dan Baraf, satu-satunya orang yang mengetahui kode brangkas itu hanyalah sang notaris, sahabat baik Xi Chen semenjak bangku kuliah.


Sang notaris yang memang sangat setia pada Xi Chen pun tidak mau memberikan kode brangkas itu kepada Tamara sebelum Dean dan Elle memiliki keturunan.


Satu-satunya cara yang bisa Tamara lakukan hanyalah membujuk Dean agar Dean segera memiliki keturunan dari Elle.


Pada awalnya, Dean tentu saja menolak hal itu dengan sangat tegas.


Tapi, entah bagaimana caranya, Tamara berhasil meyakinkan Dean kalau keluarga Elle lah yang merebut tanah itu darinya. Dan itu berhasil membuat Dean setuju untuk melakukan rencana itu.


Namun pada akhirnya, semua rencana itu menjadi kacau balau seperti sekarang ini.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2