Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Sebuah Tas


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Aquira Bag...


"Astaga.. Sudah ku katakan berulang kali! Aku yang lebih dulu memegang tas ini, jadi aku yang seharusnya memiliki tas ini."


Elle berusaha untuk menarik sebuah tas dari seorang perempuan yang juga sedang berusaha untuk menarik tas itu ke sisinya.


"Tidak bisa! Aku yang lebih dulu memegang tas ini!"


"Tidak! Jangan mengada-ngada!! Aku dulu! Bahkan aku yang lebih dulu datang ke toko ini!"


Keributan yang terjadi akibat tas kecil berwarna biru dongker di antara 2 perempuan itu sudah berlangsung hampir 20 menit lamanya.


Semua orang yang mengunjungi boutique itu tentu saja berkumpul untuk menyaksikan keributan yang terjadi di antara mereka.


Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menengahi kributan di antara dua perempuan itu. Bahkan para pegawainya pun merasa sangat enggan untuk memisahkan mereka.


Bukan tanpa alasan, mereka terlalu ngeri melihat bagaimana ganasnya 2 perempuan itu. Terlebih lagi, mereka merasa sediki was-was karena tas yang di perebutkan merupakan tas limited edition yang harganya begitu fantastis.


Sebenarnya, mereka sempat ingin memisahkan 2 perempuan itu. Tapi, bukannya terpisah, 2 perempuan itu justru berbalik memaki mereka. Bahkan sang manager toko sampai turun tangan, tapi dia tetap tidak bisa melerai keributan itu.


"Bagaimana kalau kita melihat CCTV saja! Kita buktikan, siapa yang lebih dulu memegang tas ini!"


Elle menatap perempuan itu dengan sangat sengit.


"Apa perlunya?! Sudah jelas aku yang lebih dulu memegang tas ini. Tentu saja tas ini menjadi milikku! Lagi pula, dari penampilan mu, aku tidak yakin kalau kau mampu membeli tas ini!"


"Hey!! Jaga mulutmu!! Kau kira penampilan mu lebih baik dari ku! Masih baik aku yang mengenakan pakaian layak dari pada kau yang hanya mengenakan pakaian kekurangan bahan seperti seorang wanita yang mengobral harga dirinya! Bahkan mungkin aku lebih dari sekedar mampu untuk membeli harga dirimu!"


Elle jelas tidak mau kalah. Se enaknya saja dia mengatai Elle tidak mampu untuk membeli tas ini. Ya meskipun sebenarnya Elle menabung cukup lama demi untuk mendapatkan tas ini, tapi setidaknya Elle tetap lebih dari sekedar mampu jika hanya untuk membeli tas ini.


Perempuan itu menatap Elle dengan kedua bola mata yang membulat sempurna, dia merasa tidak terima atas penghinaan yang baru saja Elle katakan.


"Sialan!! Berani sekali kau menghinaku! Kau tidak tahu siapa aku! Aku bisa menuntutmu karena telah melakukan pencemaran nama baik!"


"Bahahaha.." Elle seketika saja tertawa terbahak-bahak. Tapi sedetik kemudian, Elle kembali menatap perempuan itu dengan sangat tajam.


"Berkaca sebelum berkata! Kau yang lebih dulu menghinaku! Banyak saksi mata di sini! Jangan bersikap seolah-olah kau adalah seorang yang sangat penting yang harus di lindungi! Aku yakin, kau tidak lebih dari hanya sekedar simpanan pria tua kaya raya!"


"Kau..!!!"

__ADS_1


Perempuan itu merasa sudah kehabisan kesabaran, dia melepaskan tangan kanannya dari tas itu lalu berniat untuk menampar wajah Elle. Ya meskipun sejatinya apa yang di katakan Elle memang benar adanya, tapi dia tetap tidak terima jika ada seseorang yang berkata seperti langsung di depan wajahnya.


Perempuan tidak tahu malu bukan?


Tapi mau bagaimana lagi, begitulah Navis yang merupakan seorang model pendatang baru. Eksistensi memang terbilang cukup melambung, tapi itu semua karena dia mengencani kepala produser di agency dia berada.


Ok, cukup.. Back to the topics..


"Apa yang terjadi di sini?"


Suara seorang pria mampu mengalihkan atensi setiap orang yang ada. Termasuk Navys, dia menghentikan niatnya untuk menampar Elle.


Raut wajah kesal Navys seketika saja terganti dengan raut wajah terkejut saat melihat pria itu yang ternyata adalah Gavin.


Bagaimana mungkin bisa pria itu ada di sini? Apa yang sedang dia lakukan di sini? Oh astagaaa.. Sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menarik perhatian pria itu. Dengan begitu, popularitas ku bisa semakin melonjak. Lagi pula, tidak mungkin kan pria itu tidak mengenaliku?


Pikiran demi pikiran itu seketika saja terlintas di benak Navys.


Navys lantas menatap Gavin dengan pandangan memelas, mulitnya terbuka karena hendak mengatakan sesuatu.


Namun..


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Navys seketika saja menatap Elle dengan dahi yang mengernyit. Kenapa perempuan ini berbicara dengan begitu santainya pada Gavin seolah dia sangat dekat dengan pria itu? Atau, apa kah dia benar-benar dekat dengan Gavin?


What! Menjemput? Yang benar-benar saja.. Jadi mereka benar-benar dekat? Tapi, bagaimana bisa? Penampilan gadis ini saja tidak meyakinkan. Navys benar-benar tidak bisa percaya akan hal ini, dia sungguh bingung menghadapi situasi ini.


Tidak jauh berbeda dengan yang lainnya, mereka menatap Elle dan Gavin dengan raut wajah bingung. Sejak kapan Gavin dekat dengan seorang perempuan?


"Menjemputku?"


"Perlu ku ingatkan? Kau kesini tanpa membawa mobil."


Elle terdiam, dia juga baru ingat kalau kemarin dia datang ke sini di antarkan oleh pria itu. Pantas saja tadi pagi Elle tidak melihat mobilnya. Elle kira, mobilnya di pakai oleh Baraf. Oleh sebab itu dia datang kesini menggunakan mobil milik Baraf.


Elle yakin, saat ini Baraf pasti sedang menggerutu karena Elle menggunakan mobil kesayangannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu.


"Lalu apa yang sedang kau ributkan?"


Elle seketika saja teringat kembali pada tas yang tengah dia perebutkan dengan Navys.


"Aku hendak membeli tas ini, tapi perempuan ini malah merebutnya dariku. Padahal sudah jelas aku yang lebih dulu memegang tas ini."


Navys menggelengkan kepalanya, dia menatap Gavin dengan tatapan memelas.

__ADS_1


"Tidak, dia berbohong, aku yang lebih dulu memegang tas ini."


"Sudah ku katakan, mari kita lihat CCTV. Kita buktikan, siapa yang lebih dulu memegang tas ini!!"


Gavin seketika saja menggaruk pelipisnya, dia melirik sang manager toko.


Namun sang manager toko hanya bisa menggeleng lemah.


"Ell, kau bisa mendapatkan tas yang lebih bagus."


Elle menatap Gavin dengan tatapn tidak terima.


"Tidak bisa! Aku sudah mengincar tas ini sejak beberapa bulan yang lalu. Tas ini hanya tersisa satu, aku ingin memilikinya. Lagi pula aku yang lebih dulu memegang tas ini."


"Jangan berbohong, aku yang lebih dulu mendapatkan tas ini!"


"Berikan tas itu padaku!"


Gavin menjulurkan tangannya, meminta 2 perempuan itu untuk memberikan tas itu padanya.


2 perempuan itu menatap Gavin dengan tatapan yang berbeda.


"C'mon!"


Mau tidak mau, mereka pun memberikan tas itu pada Gavin.


"Kau benar-benar tidak ingin tas yang lain? Di sini masih banyak tas yang lebih bagus dan lebih mahal."


Elle menggelengkan kepalanya. "Aku menginginkan tas itu."


Gavin lantas menatap sang manager toko. "Aku akan mengambil tas ini, kekasihku menginginkannya. Hancurkan tas model ini yang akan kalian edarkan kembali di pasaran, aku tidak ingin ada lagi tas yang sama dengan tas model ini."


Tanpa menunggu jawaban dari sang manager toko, Gavin menarik Elle untuk berlalu pergi dari sana.


Hal itu sontak saja membuat semua orang yang ada di sana merasa sangat terkejut. Bukan karena apa yang Gavin minta, tapi karena Gavin yang mengakui Elle sebagai kekasihnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2