Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Dua Wanita Yang Berbeda


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Di sisi lain..


Apartment Dean..


"Ay?"


Dean mengernyitkan dahinya karena Ayana tidak menyambut kedatangannya.


Ah, Dean lupa.. Ayana saat ini pasti tengah merajuk karena kemarin dia meninggalkan wanita itu di saat sedang tertidur lelap.


"Ayana??"


Dean kembali mengernyitkan dahinya melihat Ayana yang tengah berkutat di dapur.


"Ay?"


"Ah, Dean.. Kau sudah datang?"


Ayana menoleh pada Dean dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.


Hal itu sontak saja membuat Dean merasa sangat heran. Tumben sekali wanita itu tidak merajuk.


Ketahuilah, biasanya, jika Dean melakukan kesalahan. Bahkan untuk kesalahan sekecil apa pun, Ayana akan merajuk habis-habisan.


Jadi, wajar saja jika Dean merasa sangat heran saat melihat Ayana yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kenapa kau hanya berdiri di sana? Kemarilah.. Aku membuatkan makanan kesukaanmu."


Walaupun merasa heran, namun Dean tetap menghampiri wanita itu.


"Cobalah.."


Ayana menyodorkan sepiring *Tortellini pada Dean.



Pict by : Pinterest


Dean manatap Ayana dan sepiring tortellini itu secara bergantian.


"Kenapa kau hanya melihatnya, cobalah.."


Dean lantas memasukkan sesendok tortellini itu ke mulutnya.


Ayana menatap Dean dengan raut wajah penasaran, menunggu reaksi seperti apa yang akan di tunjukkan oleh Dean.


"Apa kah rasanya enak? Apa kah kau menyukainya?"


Alih-alih menjawab, Dean mengambil piring itu dari tangan Ayana kemudian meletakkannya di atas meja pantry.


Hal itu jelas saja membuat Ayana mengernyitkan dahinya, kedua mata wanita itu sedikit berkaca-kaca. Dia merasa sedikit tersinggung karena Dean sedari tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kenapa? Apa rasanya tidak enak?"


Dean menghela nafasnya, dia memegang kedua bahu Ayana.


"Tolong jawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya."


"Apa yang membuatmu bersikap seperti ini, hmm? Kau terlalu berbeda dari biasanya Ay.."


Ayana seketika saja menundukkan kepalanya, dia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk menahan tangisannya.


"Aku.." Suara wanita itu terdengar sedikit bergetar.


"Kenapa, hmm?" Dean mengapit dagu Ayana, meminta Ayana agar mengangkat wajahnya. "Katakan saja.. Jangan bersikap seperti ini, kau membuatku takut."


"Aku.. Bisa kah kau tidak meninggalkanku? Bisa kah kau menepati janji yang kau berikan padaku?"


Runtuh sudah pertahanan Ayana, air mata yang sedari tadi dia tahan kini luruh juga.

__ADS_1


"Jangan meninggalkanku.. Aku tidak memiliki siapa pun lagi selain dirimu. Jika kau meninggalkan ku, aku tidak tahu lagi harus bernaung pada siapa. Aku berjanji, aku akan berubah menjadi lebih baik lagi.. Aku, aku akan berusaha menjadi seperti apa yang kau inginkan. Tapi, tapi.. Bisa kah kau tidak meninggalkanku sendirian? Aku takut Dean.. Aku takut kalau kau benar-benar meninggalkanku.."


"Aku tidak keberatan kalau kau ingin menjalin cinta dengan Elle. Aku tidak masalah kalau kau tidak menemaniku setiap hari. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku. Kau tahu kan kalau aku tidak memiliki orang tua atau pun keluarga untuk aku jadikan tempat bersandar. Jadi tolong, jangan tinggalkan aku.. Aku takut.. Aku tidak ingin sendirian.."


Dean menghela nafasnya, dia menarik Ayana masuk ke dalam pelukannya.


Sungguh, Dean merasa sangat bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa.


Di satu sisi, Dean mencintai Elle. Di sisi lainnya lagi, Dean tidak bisa meninggalkan Ayana. Karena jujur, Dean masih sangat menyayangi Ayana. Tapi, di sisi lainnya lagi, Dean sudah berjanji pada Elle untuk menjadi suami yang baik.


Dean benar-benar merasa sangat bingung, langkah seperti apa yang harus dia ambil.


Sungguh, Dean tidak ingin menyakiti Elle dengan terus mempertahankan Ayana. Dean tidak tahu, sampai kapan dia bisa menyembunyikan hubungannya dengan Ayana. Terlebih lagi, kini hubungan Dean dan Elle perlahan mulai membaik.


Namun, Dean juga tidak bisa jika harus menyakiti hati Ayana dengan pergi meninggalkannya secara langsung. Terlebih lagi, Dean tahu, bahkan Dean sangat tahu betul, Ayana tidak memiliki siapa pun lagi selain dia di dalam hidup wanita itu.


Boleh kah Dean bersikap egois? Dean benar-benar merasa belum siap jika harus kehilangan salah satu di antara mereka.


Ya, biarkan Dean egois untuk sebentar lagi saja.


Dean berjanji, dia akan mengakhiri semuanya. Tapi tidak untuk sekarang, dia akan mengakhiri semua ini secara perlahan.


"Aku tidak akan meninggalkanmu.. Jadi, jangan menangis lagi, hmm.."


Dean mengecup kening Ayana untuk sejenak.


"Kau benar-benar tidak akan meninggalkan ku?" Suara Ayana terdengar sangat parau.


"Hmm." Dean menganggukkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu."


"Kau berjanji?"


Dean menyunggingkan senyum kecilnya. "Ya, aku berjanji.."


"Jangan menangis lagi, hmm.." Dean menghapus air maya uang mengalir membasahi pipi Ayana. "Kau tahu, kau terlihat jelek ketika menangis."


Ayana mencebikkan bibirnya.


Dean seketika saja terkekeh kecil.


Perlahan, Dean mendekatkan bibirnya pada bibir Ayana. Kecupan demi kecupan Dean torehkan pada bibir wanita itu. Kecupan itu kini berubah menjadi luma**tan lembut.


Perlahan, ciu**man itu berubah menjadi ciu**man panas.


Kedua tangan Dean turun menuju pinggang wanita itu. Dalam satu kali gerakan, Dean menggendong Ayana ala koala.


Ayana mengalungkan kedua lengannya pada leher Dean, berjaga agar dia tidak terjatuh dari gendongan Dean.


Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Dean membawa Ayana menuju ke dalam kamar.


Dan.. Terjadi lah malam panas di antara dua insan berbeda jenis kelamin itu.


.......


.......


.......


Rumah Dean..


Dean menghela nafasnya, dia meilirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya.


Sudah hampir 5 menit dia berdiri di depan pintu kamarnya.


Malam kini sudah terlalu larut, Dean merasa sangat bingung, alasan apa yang harus dia berikan pada Elle tentang kepulangannya yang sangat terlambat.


Tapi, tidak mungkin kan Elle masih terjaga?


Waktu sudah akan memasuki pukul 12 malam, mustahil jika Elle masih terjaga.


Setelah menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, Dean memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamarnya.


Jantung Dean seketika saja bergemuruh melihat Elle yang masih terjaga dengan beberapa berkas yang berserakan di atas meja.


"Ell?"

__ADS_1


Dean memanggil nama Elle dengan sedikit ragu, tapi dia sudah siap untuk memberikan alasan apa pun kalau saja gadis itu bertanya tentang kepulangannya yang sangat terlambat. Dean juga sudah siap kalau saja Elle akan marah padanya.


Namun, Alih-alih marah dan bertanya tentang kepulangannya, Elle justru menyunggingkan senyum kecilnya.


"Kau sudah pulang? Apa kau lelah? Perlu aku buatkan minum untukmu?"


Dean terdiam, dia tidak menyangka kalau Elle akan memberikan respon yang sangat jauh berbeda dari ekspetasinya.


Hal itu membuat Elle mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau menatapku seperti menatap hantu?"


Dean menggelengkan kepalanya. "Kau masih terjaga?"


Elle mengedikkan bahunya. "Aku memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Aku terlalu takut untuk mengerjakan di kantor, jadi aku membawa pulang semua pekerjaanku."


"Ah ya, kau belum menjawab pertanyaan ku. Apa aku perlu membuatkanmu minum?"


Lagi, Dean terdiam.. Dia sedikit bingung melihat respon Elle yang sangat-sangat jauh berbeda dengan Ayana.


"Dean?"


"Kau tidak bertanya tentang kepulanganku yang sangat terlambat?"


Elle menyunggingkan senyumnya.


"Kemarilah, duduk di sampingku."


Elle menepuk ruang kosong di sampingnya.


Dean menurut, dia mendekati Elle kemudian duduk di samping gadis itu.


Elle menghela nafasnya untuk sejenak. "Untuk apa aku bertanya tentang hal itu? Aku percaya padamu Dean. Apa pun yang kau lakukan di luar sana, itu hak mu.."


Dean terhenyak, dia merasa sangat bersalah karena telah menyalahgunakan kepercayaan yang Elle berikan.


"Tapi, kau berhak untuk bertanya Ell.. Kau istriku."


Elle memicingkan matanya. "Begitukah?"


Dean tiba-tiba saja merasa gugup. "Te, tentu saja.. Bukan kah kita sudah sah secara hukum dan agama? Tentu saja kau istriku. Jadi kau berhak bertanya tentang apa pun."


Elle menyunggingkan senyumnya. "Dengarkan aku Dean.. Jika kau memang ingin memberitahu ku alasannya, aku akan mendengarkan. Tapi jika kau tidak ingin memberitahu ku, maka aku tidak akan bertanya. Selama kau tetap pulang ke rumah, sepertinya aku tidak perlu mengajukan pertanyaan apa pun."


"Aku bisa mentolelir apa pun yang kau lakukan di luar sana, tapi tidak dengan perselingkuhan. Aku benar-benar membenci hal itu, aku akan langsung meninggalkanmu tanpa berpikir 2x jika kau sampai melakukan hal itu."


Dean seketika saja menelan salivanya.


"Itu.."


Elle terkekeh kecil. "Sudahlah, itu hanya peringatan untukmu. Sekarang, sebaiknya kau segera membersihkan diri. Apa kau tidak penat memakai pakaian itu selama seharian penuh?"


Dean mengusap tengkuknya. "Apa kau menguarkan bau yang aneh?"


Elle menaikkan sebelah alisnya. "Haruskah aku mengendusmu?"


Dean menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak perlu."


"Kalau begitu cepatlah, aku sudah hampir selesai. Mari kita segera tidur."


Dean tersenyum, dia menganggukkan kepalanya kemudian beranjak dari sana.


...-TBC-...


*Note : Tortellini merupakan makanan khas Italia berbentk pasta berukuran kecil yang bentuknya pipih. Pasta tortellini termasuk hidangan pasta yang berisi keju dan campuran daging.


*****


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..


__ADS_2