Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Lampu Hijau


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Ramora Cafe..


"Apa kau lelah?"


Elle menggelengkan kepalanya. "Tidak aunty, aku justru merasa senang. Sudah lama sekali aku tidak pergi belanja bersama seseorang."


"Seseorang? Siapa?"


"Dulu aku sering pergi berbelanja bersama mama ku."


"Kau tidak melakukannya lagi?"


Elle tersenyum, dia menggelengkan kepalanya. "Butuh waktu sekitar 6 jam untuk tiba di rumah mama ku."


Hannah mengernyitkan dahinya. "Kau di sini menyewa rumah? Atau apartment?"


"Aku tinggal di rumah suami ku. Ah tidak, lebih tepatnya rumah mertua ku."


Hannah pura-pura merasa terkejut. "Jadi kau sudah menikah?"


Elle mengusap tengkuknya. "Apa aku masih terlihat seperti seorang gadis lajang?"


"Ya, raut wajahmu menunjukkan kalau kau masih seorang gadis. Apa kalian belum memiliki momongan?"


"Belum aunty, kami masih terlalu sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Kami belum memikirkan untuk memiliki momongan."


"Aaah.. Jadi begitu." Hannah mengangguk-anggukkan kepalanya.


Dia tidak menyangka kalau Elle akan mengakui statusnya. Jujur saja, sebenarnya Hannah sempat memiliki pikiran buruk terhadap Elle.


Terlebih lagi, Hannah tidak hanya satu atau dua kali bertemu dengan seorang perempuan yang sudah bersuami namun mengaku lajang.


Hannah sepertinya harus mengakui satu hal lagi yang di katakan oleh Gavin. Gadis itu apa adanya, dia tidak menutupi apa pun yang ada pada dirinya.


Entah kenapa, pikiran jahil tiba-tiba saja terbersit di kepalanya.


"Aku sedikit kecewa mengetahui kau sudah memiliki suami."


"Ya?" Elle mengernyitkan dahinya.


"Aku sempat berpikir untuk menjodohkanmu dengan Gavin."


"H, ha?"


Elle mengerjapkan matanya, dia merasa terkejut mendengar perkataan Hannah yang begitu gamblang. Terlebih lagi, raut wajah Hannah terlihat begitu serius.


Hannah mengulum senyumnya, dia merasa sedikit terhibur melihat raut wajah Elle yang begitu kebingungan. Di matanya, Elle terlihat seperti seorang anak gadis sekolah menengah yang tidak bisa mengerjakan soal ujian.


"Jangan bergurau aunty.. Toh, jika pun aku tidak memiliki suami. Aku tidak akan melakukannya."


Senyum yang di tahan Hannah seketika saja luntur, rasa terhiburnya tiba-tiba saja tergantikan dengan rasa kecewa, namun dia juga merasa penasaran kenapa Elle akan menolak hal itu.


"Kenapa?"


"Aku cukup sadar diri untuk tidak bersanding dengan Gavin."


"Apa karena kasta?"

__ADS_1


"Ini bukan hanya soal kasta, aunty. Tapi ini juga soal hati. Aku tidak akan pernah bisa merasa siap untuk mencintai Gavin, aku terlalu takut. Gavin terlalu banyak di kelilingi wanita cantik. Toh, kalau pun Gavin tidak akan tertarik dengan para wanita itu. Aku juga tidak akan siap dengan kehidupan mewahnya."


Elle menyunggingkan senyumnya. "Ketahuilah aunty, aku lebih menyukai kehidupanku yang sekarang. Tidak bergelimangan harta, tapi kehidupanku cukup tenang. Aku tidak harus menghadiri acara-acara mewah yang sejatinya hanya di isi dengan saling memamerkan kekayaan atau pun kekuasaan."


Hannah terdiam, jujur saja, Hannah merasa sedikit bingung harus memberikan tanggapan seperti apa. Hannah benar-benar tidak memprediksi jawaban Elle akan seperti itu.


Karena ya, hidup dengan bergelimang harta yang orang pikir merupakan kehidupan yang enak. Sejatinya, semua itu salah. Hidup dengan bergelimang harta tidak se enak yang di pikirkan banyak orang.


Selain apa yang di sebutkan oleh Elle, kita juga harus bisa menjaga diri dengan benar. Banyak musuh di luar sana yang ingin menjatuhkan kita, tidak hanya satu atau dua orang yang bahkan mengincar nyawa kita.


Bisa di katakan, kehidupan kita sehari-harinya tidak lah tenang. Jika kita berada di luar rumah, kita benar-benar harus hati-hati dalam meminum suatu minuman atau pun melahap makanan.


Kita tidak tahu apa yang mereka bubuhkan di dalam minuman atau pun makanan kita. Bisa saja kan mereka membubuhkan racun di dalamnya.


Hannah tersenyum, dia menghela nafasnya untuk sejenak.


"Aku cukup setuju dengan apa yang kau katakan. Hidup dengan bergelimang harta memang tidak se nyaman yang kebanyakan orang bayangkan."


Elle menyunggingkan senyum kecilnya, dia lantas menyesap kopi miliknya.


"But, kau tau Ell?"


"Yes aunty?"


"Hidup bergelimang harta juga tidak seburuk yang kau bayangkan. Jika kau memang tidak ingin terekspos, kau bisa bersembunyi di tempat seperti apa pun yang kau inginkan. Jika pun kau tidak keberatan untuk terekspos namun tetap ingin hidup sederhana, kau tentu saja masih bisa melakukannya. Tergantung pada dirimu sendiri, kau ingin menjadikan hidupmu seperti apa dan bagaimana."


"semua itu tetap tergantung pada apa yang kau pilih, bukan pada apa yang kau jalani. Pilihlah hidup seperti apa yang ingin kau lakukan, jangan hanya meneruskan hidup yang sudah kau jalani. Kau berhak untuk memilih jalan hidupmu sendiri Ell."


"Semuanya memang sudah di tentukan oleh yang maha kuasa. Tapi ingat, selagi masih ada kesempatan untuk memilih jalan yang akan kau lalui, maka lakukanlah. Jangan hanya berjalan di jalan yang lurus, setidaknya coba lah satu kali untuk berbelok arah, melewati jalan yang berlubang dan tidak rata. Anggap saja hal itu sebagai suatu kenangan yang bisa kau ceritakan pada anak juga cucumu nanti."


Elle tersenyum, dia lagi dan lagi merasa terpukau untuk yang kesekian kalinya pada wanita yang saat ini duduk di hadapannya.


Elle tidak tau kalau masih ada orang kaya yang sangat rendah hati dan juga bijak, selain Amy tentunya.


"Kalau kau membandingkanku dengan Gavin, sebaiknya jangan. Gavin memiliki sikap dan sifat yang sama persis seperti daddy nya."


Elle seketika saja terkekeh kecil, dia menatap Hannah dengan mata yang sedikit memicing.


"Apa aunty seorang peramal? Aunty bisa membaca pikiranku dengan sangat akurat."


Hanna tertawa renyah. "Anggap lah seperti itu."


"Sudahlah, sebaiknya kita pulang, ini hampir malam."


"Baik aunty."


Mereka berdua beranjak dari sana.


"Kau membawa kendaraan?"


Elle menganggukkan kepalanya.


"Kau begitu hati-hati. Kau bisa pulang terlebih dahulu, aku ada urusan lain yang harus aku selesaikan. Lain kali, pergilah berlibur ke Santa Marino. Aku akan membawamu untuk berkililing Santa Marino."


"Dengan senang hati aunty, terima kasih untuk hari ini."


"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu."


Hannah mengelus bahu Elle untuk sekilas.


Elle menyunggingkan senyumnya. "Jangan sungkan aunty. Kalau begitu, sampai jumpa."


Hannah mengangguk kecil. "Ya, sampai jumpa."

__ADS_1


.......


.......


.......


Kediaman Jaliandro..


"Sepertinya mommy cukup bersenang-senang."


"Astaga Gavin! Apa kau ingin membuat mommy terkena serangan jantung!"


Hannah menatap Gavin dengan sangat tajam.


"Lagi pula, apa yang kau lakukan di sini? Tidak biasanya kau menghabiskan malam mu di ruang tamu."


Gavin menaikkan sebelah alisnya. "Apa mommy juga menempatkan mata-mata di rumah ini?"


Hannah memutar bola matanya. "Itu kebiasaanmu sejak kecil, kau hampir tidak pernah menginjakkan kaki di ruang tamu."


Gavin mengedikkan bahunya. "Sekali-kali, tidak ada salahnya."


"Terserahlah, mommy lelah.. Mommy akan pergi untuk beristirahat."


Hannah berlalu pergi dari sana.


Namun, sebelum itu, Hannah menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Gavin.


"Ah ya, Gavin."


"Hm?" Gavin menoleh pada Hannah.


"Bulan depan, Uncle Robert akan mengadakan makan malam keluarga untuk membahas acara pertunangan Patricia. Kau harus menghadiri makan malam itu, kau bisa membawa Elle bersamamu."


Gavin mengerjapkan matanya. "Sorry?"


"Mommy yakin, telingamu masih berfungsi dengan baik."


Hannah lantas benar-benar berlalu pergi dari sana.


Senyum kecil tiba-tiba saja tersungging di bibir Gavin. Jujur saja, dia tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya.


Apa mommy nya secara tidak langsung telah menyetujui apa yang dia lakukan?


Jika ya, sepertinya Gavin harus benar-benar melakukan langkah selanjutnya. Toh pun kalau tidak, Gavin tetap akan melakukan langkah selanjutnya.


Ingat, Gavin bukan pria yang akan menyerah hanya karena tidak mendapat restu dari orang tuanya. Dia tetap akan mengusahakan apa pun yang menjadi keinginannya.


Bayangan wajah Elle tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.


"Wait for next, babby.."


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2