Love Line (Gavin X Elle)

Love Line (Gavin X Elle)
Di Balik Sebidang Tanah


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Rumah Dean..


"Kau masih belum bisa menghubungi istrimu?"


Dean menggeleng dengan lesu.


"Elle mematikan ponselnya sejak tadi malam."


Tamara menghela nafasnya. "Apa kau benar-benar tidak tahu harus mencari istrimu kemana?"


"Aku harus mencarinya kemana bu? Selama ini saja aku bahkan hampir tidak pernah berbincang dengan istriku. Bagaimana mungkin aku tahu kemana aku harus mencarinya."


Tamara mendengus. "Semua itu karena kau terlalu fokus pada wanita benalu itu."


Dean menatap Tamara dengan tatapan lelah. "Bisa kah ibu berhenti menyalahkan Ayana? Dan bisa kah ibu tidak menghinanya? Mau bagaimana pun, dia kekasihku bu."


Tamara seketika saja menatap Dean dengan sangat tajam. "Kau masih membelanya di saat seperti ini? Apa kau tidak sadar kalau Elle pergi dari rumah ini karena wanita itu! Jika sudah seperti ini, bagaimana nasib tanah yang seharusnya menjadi milik ibu?!"


"Itu semua karena ibu duluan yang membahasnya! Andai saat itu ibu tidak membahas Ayana, mungkin hingga saat ini Elle masih ada di rumah ini!" Dean membalas teriakan Tamara. 'Dan apa yang ada di kepala ibu hanya soal sebidang tanah itu?! Apa ibu hanya mempedulikan sebidang tanah itu?! Apa ibu tidak memikirkan perasaanku juga?! Aku lelah jika harus seperti ini bu! Tolong pikirkan aku juga, jangan hanya memikirkan sebidang tanah itu saja!"


"Ya! Hanya ada sebidang tanah itu yang ada di dalam pikiran ibu! Ketahuilah Dean, ayahmu bisa mendapatkan sebidang tanah itu karena menjual seluruh harta warisan yang ibu miliki. Apa kau tidak berpikir bagaimana susahnya hidup kita setelah ayahmu menjual seluruh harta warisan yang ibu miliki demi untuk mendapatkan sebidang tanah itu! Itu sebabnya ibu sangat menginginkan sebidang tanah itu! Ibu ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hak milik ibu! Ibu harus bisa mendapatkannya, bagaimana pun caranya!!"


"Lagi pula, apa yang harus ibu pikirkan tentang perasaanmu?! Tentang kau yang lelah menjalin hubungan dengan 2 orang wanita sekaligus? Jika itu alasanmu merasa lelah, maka kau sendiri yang harus menanggung rasa lelah itu. Ibu tidak sudi menerima rasa lelah yang kau alami akibat hal itu!"

__ADS_1


"Dengarkan ibu baik-baik Dean.. Ibu memang tidak menyukai istrimu. Tapi bukan berarti ibu membenarkan tindakanmu yang menduakan istrimu! Ibu selama ini sudah berulang kali memintamu untuk meninggalkan wanita itu! Tapi kau justru tetap saja masih berhubungan dengannya! Ibu juga wanita Dean, ibu tau bagaimana rasa sakitnya ketika di duakan!"


"Selama ini ibu diam dan membiarkan perbuatanmu karena ibu terlalu lelah memberitahumu! Ibu juga diam karena ibu mencoba untuk percaya padamu.Tapi nyatanya apa? Kau justru terlalu sibuk dengan wanita benalu itu hingga mengabaikan apa yang seharusnya kau lakukan!"


"Kalau pun seandainya ibu harus memilih, ibu tetap akan memilih istrimu. Istrimu benar-benar jauh lebih unggul dalam segala hal jika di bandingkan dengan wanita tidak berguna itu!"


Dean seketika saja bungkam, lidahnya terlalu kelu untuk menanggapi perkataan Tamara. Pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Dia tidak tahu kalau selama ini ibunya sangat menginginkan sebidang tanah itu karena alasan tersendiri. Dean kira, ibunya sangat menginginkan sebidang tanah itu karena ibunya memang gila harta.


Tapi, itu bukan sepenuhnya salah Dean. Dia berpikiran seperti itu karena ibunya tidak pernah bercerita padanya.


Ah, tapi tetap saja kan tidak seharusnya Dean berpikiran buruk seperti itu pada ibunya.


Hah.. Apa kah dia se buruk itu? Apa dia se jahat itu?


"Jangan hanya diam dan merenungi kesalahanmu! Berpikir lah, kemana kau harus mencari istrimu! Ibu tidak peduli pada retaknya hubungan rumah tangga kalian, itu kesalahan yang sudah kau lakukan sendiri. Ibu tidak ada hubungannya dengan keretakan rumah tangga kalian. Ingat Dean, ibu sudah memperingatkan mu tentang hal ini berulang kali. Kau bukan lagi anak belasan tahun yang hanya bisa mementingkan cinta dari pada kehidupan nyata."


"Jika kau memang ingin mempertahankan rumah tangga mu, maka berusahalah untuk mendapatkan Elle kembali. Toh pun kalau kau tetap tidak bisa mendapatkan Elle kembali. Ibu tidak mau tau, bagaimana pun caranya, kau harus bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ibu."


Tamara berlalu pergi begitu saja, dia sudah terlalu muak melihat tingkah bodoh yang di lakukan Dean.


Jujur saja, Tamara sebenarnya tidak berniat untuk mengambil semua hasil dari penjualan tanah itu. Tamara hanya ingin mengambil apa yang memang seharusnya menjadi miliknya. Tamara tetap akan memberikan sebagian hasil dari penjualan tanah itu pada Elle.


Tamara bukan wanita jahat yang hanya akan memanfaatkan anak dan menantunya hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Selama ini, dia memperlakukan Elle dengan begitu buruk, bukan tanpa alasan. Tamara hanya merasa marah, lebih tepatnya marah pada Baraf. Tamara melampiaskan amarahnya pada Elle karena wajah dan karakter Elle benar-benar foto copyan dari Baraf.


Sungguh, semua yang ada pada diri Elle benar-benar sama persis dengan Baraf. Bisa di katakan, Elle adalah Baraf versi perempuan.

__ADS_1


Tamara merasa marah karena Baraf lah, Xi Chen sampai menjual harta warisan miliknya demi untuk membeli sebidang tanah itu. Yang membuat Tamara merasa sangat marah bukan karena masalah Xi Chen yang membeli sebidang tanah itu, melainkan karena Xi Chen menjual seluruh harta warisan yang Tamara miliki tanpa meminta ijin pada Tamara terlebih dahulu.


Andai saja Baraf tidak mengiming-ngimingi Xi Chen untuk membeli sebidang tanah itu demi untuk membangun hotel yang bahkan rencana pembangunan hotel itu saja gagal, mungkin saja Tamara tidak akan hidup kesusahan seperti ini.


Kala itu, ketika Tamara mendapatkan harta warisan itu, Tamara berniat untuk menjual harta warisan itu dan menggunakan hasil dari penjualan harta warisannya untuk membuka sebuah usaha.


Tamara berpikir, jika dia memiliki sebuah usaha, dia tidak akan merasa kesusahan selama masa tuanya. Ya meskipun usaha yang akan Tamara bangun bukan usaha yang besar, tapi setidaknya Tamara tidak akan menyulitkan putra dan putrinya dalam hal ekonomi ketika dia sudah tua nanti.


Tapi apalah daya, rencana hanya tinggal rencana. Rencana itu kandas karena masalah sebidang tanah itu.


Sebenarnya, kalau Tamara berhasil mendapatkan sebidang tanah itu, Tamara akan melanjutkan kembali renacanya dalam membangun sebuah usaha.


Tapi, jika sudah seperti ini jadinya. Tamara tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa. Tamara tidak tahu lagi harus menata rencana di masa tuanya bagaimana.


Apa kah masih ada Kesempatan untuk menata kembali rencana di masa tuanya? Atau kah Tamara justru harus mengubur rencana masa tuanya itu dalam-dalam? Tamara benar-benar tidak tahu.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2