
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Colorado, Amerika Serikat...
Dean memperhatikan bangunan yang ada di depannya untuk sejenak, dia lalu mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jaketnya. Dean lantas membandingkan foto itu dengan bangunan yang ada di depannya.
"Sepertinya ini memang benar-benar tempatnya."
Dean kembali memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya. Dia melangkah memasuki gerbang untuk menuju bangunan megah yang ada di hadapannya.
"Hey! Siapa kau?!"
Dean menghentikan langkahnya tat kala seseorang meneriakinya dengan mada yang begitu bengis.
"Siapa kau? Untuk apa kau kemari?!"
Pria itu menodong Dean dengan sebuah pistol.
Mau tidak mau, Dean mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan kalau di tidak akan berbuat macam-macam. Lagi pula, mau bagaimana pun juga Dean memang tidak ingin berbuat macam-macam. Jangankan untuk berbuat yang macam-macam, senjata saja Dean tidak memilikinya.
"Aku ingin bertemu dengan paman Khalid."
"Hubungan seperti apa yang kau miliki dengan Tuan? Berani sekali kau memanggilnya paman!!"
"Aku..."
"Ada apa ini?"
Dean dan pria yang masih saja menodongnya dengan pistol menoleh pada seorang pria yang datang menghampiri mereka.
Pria itu adaah pria yang ingin di temui oleh Dean. Meskipun usia pria itu sudah lebih dari setengah abad, tapi percayalah, penampilannya tak kalah gagah dari pria berusia 30an. Wajahnya yang tampan dan garang, juga tubuhnya yang tegap berotot, tidak menunjukkan kalau dia merupakan seorang kakek dari 5 orang cucu.
Khalid sebenarnya tidak tahu kalau ada keributan yang sedang terjadi. Dia, yang tadinya hendak pergi untuk menemui putra bungsunya guna membahas sesuatu hal, harus mengurungkan niatnya tat kala melihat keributan yang terjadi antara salah satu anak buahnya dan seorang pria asing.
Sebenarnya, Khalid bisa saja tidak memperdulikan mereka. Toh, anak buahnya pun sudah pasti mampu menangani pria asing itu. Namun, Khalid memutuskan untuk menghampiri mereka karena merasa familiar dengan wajah Dean.
Khalid merasa pernah menemui Dean, tapi Khalid tidak tahu dan tidak dapat mengingat di mana dia pernah melihat wajah itu.
"Apa yang terjadi?"
Khalid kembali bertanya seraya menatap Dean lamat-lamat. Dia masih mencoba untuk mengingat, kiranya di mana dia pernah melihat wajah Dean.
"Tuan.. Pria asing ini berusaha untuk menerobos masuk!"
"Tidak! Aku tidak seperti itu. Aku tidak melihat ada satu orang pun di luar, jadi aku berinisiatif untuk masuk ke dalam. Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak-tidak, aku hanya ingin menemuimu paman."
Khalid mengernyitkan dahinya. "Menemui ku?"
"Ya, menemui paman. Apa kah paman mengingatku? Aku Dean, putra Xi Chen."
Khalid semakin mengernyitkan dahinya. "Xi Chen?"
__ADS_1
"Italia, Los Valagos, Del Baramontain."
Kedua netra Khalid seketika saja berbinar, dia mengingat nama tempat yang di sebutkan oleh Dean. Bagaimana mungkin bisa dia melupakan tempat itu, tempat di mana dia hampir saja kehilangan nyawanya. Tempat di mana dia juga tidak jadi kehilangan nyawanya setelah seseorang merawatnya dengan susah payah.
"Turunkan senjatamu! Minta maaf padanya."
Titah Khalid, dia menatap bawahannya itu dengan sngat tajam.
"Baik Tuan."
"Maafkan atas sikap lancang saya Tuan."
Pria itu menunduk pada Dean guna meminta maaf dengan benar.
Dean menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, itu sudah tugasmu. Bukan kah memang seharusnya seperti itu, kau harus waspada terhadap orang asing."
Hal itu membuat Khalid menyunggingkan senyumnya. Dia sungguh kagum atas sikap yang di miliki oleh Dean. Dia tiba-tiba saja teringat akan sosok Xi Chen yang begitu penyayang dan juga baik hati, tidak heran kenapa Dean saat ini bisa memiliki sikap yang begitu berhati besar.
"Kemari lah."
Khalid meminta Dean untuk memeluknya.
Kedua pria berbeda usia itu berpelukan untuk sejenak.
"Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini? Kenapa kau tidak menghubungi paman terlebih dahulu? Paman bisa meminta seseorang untuk menjemputmu. Bukan kah paman sempat meninggalkan nomor paman pada ayah mu?"
Dean menyunggingkan senyum kecilnya. "Ceritanya terlalu panjang, paman."
"Baiklah baiklah, kau bis menceritakannya nanti. Sebaiknya kita masuk ke dalam, ku pasti merasa lelah, kau harus beristirahat terlebih dahulu."
"Jangan sungkan, paman yang seharusnya berterima kasih pada mu, terutama pada ayahmu."
Khalid lantas menoleh pada bawahannya yang masih ada di sana.
"Katakan pada Erson untuk membatalkan janji, ada seseorang yang lebih penting di sini. Nanti aku akan menjelaskan detailnya pada Eros."
"Baik Tuan."
Pria itu pun berlalu pergi dari sana untuk menjalankan perintah dari Tuannya.
.......
.......
.......
"Apa yang membuatmu datang kemari? Apa ada sesuatu yang perlu paman lakukan untukmu?? Sangat tidak mungkin kau jauh-jauh datang ke sini kalau hanya untuk sekedar pergi berlibur."
Dean mengusap tengkuknya, dia merasa canggung karena Khalid bisa langsung mengetahui niatnya. Jujur saja, Dean merasa sangat bingung harus memulainya dari mana.
Apa kah dia harus menceritakan detailnya? tapi, jika dia menceritakan semuanya secara detail, apa kah Khalid masih mau membantunya? Tapi, jika dia tidak menceritakan yang sejujurnya, bukan kah itu sama saja dengan berbohong?
Ah.. Dean benar-benar merasa sangat bimbang.
Dean lantas menghela nafasnya untuk sejenak.
__ADS_1
"Apa paman mengenal Gavin?"
Khalid mengernyitkan dahinya. "Gavin?"
"Siapa yang kau maksud? Apa kah Gavin Jaliandro?"
Dean menganggukkan kepalanya. "Ya, Gavin Jaliandro."
"Tentu saja paman mengenalnya. Paman bahkan bersahabat baik dengan ayahnya sejak kita masih muda. Paman tahu betul keluarga itu lebih dari apa yang semua orang ketahui."
Dean seketika saja menghela nafasnya dengan sangat lesu, pupus sudah semua harapannya. Dia tidak menyangka kalau Khalid berhubungan baik dengan keluarga Jaliandro. Jika sudah seperti ini, apa kah Khalid masih mau membantunya?
"Ada apa antara kau dengannya? Apa kah ada sesuatu masalah yang terjadi?"
"Anu.. Emm.. Begini."
Dean mengusap tengkuknya, dia kini merasa ragu, haruskah dia tetap melanjutkan niat awalnya untuk datang ke sini? Tapi, jika dia berhenti sampai sini, sia-sia saja usahanya untuk datang ke sini.
"Katakan saja, kau tidak perlu merasa sungkan. Jika paman memang bisa membantumu, maka paman sudah pasti akan membantumu."
"Emm.. Begini..."
Dean pun mulai mengatakan apa yang menjadi tujuannya datang menemui Khalid.
"Hhhhmmmm..."
Khalid menghela nafasnya.
"Bukan kah masalah yang terjadi di antara kalian terlalu rumit?"
Dean menganggukkan kepalanya. "Begitulah.."
"Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa, aku juga tidak tahu harus menceritakan hal ini pada siapa. Andai saja ayah masih ada, mungkin aku tidak akan datang menemui paman hanya karena hal konyol seperti ini."
Khalid terkekeh kecil. "Ini bukan hal konyol, Dean. Paman bisa mengerti kenapa kau merasa frustasi seperti ini."
"Tapi, sebelum itu. Paman turut berduka cita atas kepergian ayahmu. Maafkan paman karena paman tidak datang untuk melayat. Andai saja ada seseorang yang memberi kabar pada paman, paman sudah pasti datang untuk melayat."
Dean menggelengkan kepalanya. "Tidak paman, itu juga salah kami karena tidak memberi tahu paman. Kami bukannya tidak ingin memberi tahu hal itu pada paman, hanya saja, kami tidak tahu harus menghubungi paman kemana. Kami tidak tahu di mana ayah menyimpan nomor paman."
"Sudahlah.. Jadi, kau ingin paman melakukan apa? Paman memang bisa membantumu dalam hal apa papun. Hanya saja, dalam hal ini, paman tidak bisa gegabah. Paman berhubungan dengan sangat baik dengan keluarga mereka. Terlebih lagi, paman juga tidak tahu niat sebenarnya yang sedang di lakukan oleh Gavin."
"Aku mengerti paman. Hanya saja.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..