
Zayyan menikmati pendidikannya tanpa menghiraukan teman wanitanya selalu menanggunya, dia hanya fokus pada pemelajarannnya guru yang mengajarinya sangat memuji kepintarannya.
Gunawan sudah menjelaskan pada pihak sekolah menengai Zayyan yang pernah dia didik, bahkan tak ada guru yang mempercayainya kalau Zayyan tak pernah menduduki sekolah dasar.
" Zayyan mau keman?" Gabriel merupakan satu- satunya yang menjadi temannya, Zayyan hanya meliriknya dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Aku mau ke perpustakaan mau ikut? " Zayyan sedangkan Gabriel menolaknya. Sebab dia tahu jika waktu istirahat Zayyan menghabisi waktunya di perpustakaan.
" Lihat Zayyan sangat keren aku bersedia kok menjadi pelayannya" bisik siswi yang duduk tak jauh dari Zayyan. Para siswi kebetulan ada di perpustakaan hanya fokus melihat Zayyan membaca buku terlihat keren.
Gabriel datang membawa beberapa roti dan dua bitol minuman, dia tahu bahwa temannya ini hanya fokus pada kegiatannya hingga merupakan kesehatannya.
Gabriel hanya menggelengkan kepalanya melihat siswi yang terus menatap sahabatnya dengan kagum.
" Dasar aneh mereka ini hanya menatapmu saja sampai merupakan tujuan mereka ke perpustakaan untuk apa, ini makan dulu yang bisa tante akan memarahiku nanti jika putranya tak makan" kata Gabriel, memberikan roti pada Zayyan sesangkan Zayyan tetap fokus pada membaca buku dan tetap memasukan roti dalam perutnya.
Gabriel Bayakana adalah seorang anak yatim yang hanya tinggal berdua dengan ibunya, dia mendapatkan beasiswa hingga dia dapat bersekolah disini.
__ADS_1
Ketika Zayyan pertama kali masuk ke sekolah dia melihat Gabriel sedang dibully oleh teman sekolahnya yang merupakan anak sekolah.Dengan berani Zayyan membela Gabriel.
Awalnya sempat terjadi keributkan beruntung Gunawan datang dan melerainya, sejak peristiwa itu Gabriel terus mengikuti Zayyan dimana dan kapanpun ketika di sekolah.
Dan Zayyan hanya diam membiarkan Gabriel menjadi temannya, menurutnya Gabriel mengingatkannya pada dirinya ketika belum bertemu dengan keluarga Winter.
Setelah menghabiskan waktu diperpustakaan mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran.
" Zay boleh ini kita pulang bersama?" Gabriel terlihat gelisah. Zayyan menatap sahabatnya ini terlihat gelisah.
" Baiklah ayo" kata Zayyan, Gabriel tersenyum dan mengikuti langkah Zayyan. " Terima kadih Zay" ucap Gabriel, terlihat senang.
" Um" Zayyan dan Gabriel menaiki mobilnya dengan diantar supir, mereka menuju ke rumah Gabriel.
Terlihat rumah yang sederhana namun terlihat asri dengan banyak pohon di sekitarnya. Mobil yang membawa mereka sudah sampai di rumah Gabriel.
Rumah Gabriel berada jauh dari kota hingga dia harus menaiki kereta jika bersekolah. Gabriel terkejut melihat ibunya diseret oleh beberapa orang.
__ADS_1
" Ibu, berhenti" teriak Gabriel berlari ke arah ibunya dan melepaskan tangan ibunya dari orang berpakaian hitam.
" Jangan ganggu ibuku" teriak Gabriel, ibunya hanya bisa menangis dalam pelukan putranya. " Hei anak kecil ini bukan urusanmu ini masalah ibumu, karena dia berhutang pada bos kami untuk biaya pemakamam suaminya" kata salah satu pria berjas hitam.
Zayyan hanya mengamatinya dari mobil dia ingin tahu sejauh mana Gabriel menangani madalahnya.
" Jangan asal bicara kami sudah membayarnya" kata Gsbriel dengan tegasnya, Zayyan tersenyum melihat keberaniaan temannya.
" Ibu sudah membayarnya kan? " Gabriel pada ibunya, dia takut jika ibunya belum membayarnya.
" Ya nak ibu sudah membayarnya beberapa hari yang lalu" kata ibunya sambil bersengggukan. " Kalian dengarkan kami sudah membayarnya sekarang pergilah" teriak Gabriel.
" Ternyata dia berani juga dengar bocah ibumu memang sudah membayarnya, tapi itu hsnya bunganya saja sekarang utang ibumu masih ada, hahaha" mereka tertawa bahkan salah satunya menendang Gabriel hingga keningnya berdarah.
" Gabriel"
" Berapa hutangnya"
__ADS_1