
Nayla terus mencari wajah Zayyan tapi itu semua sia-sia, karena atas permintaan Zayyan tak ada sosial media mana pun mempublikasikan wajahnya.
" Eliza maaf tak ada media manapun yang memperlihatkan bagaimana rupa CEO perusahaan Winter itu" kata Nayla dengan menyesalnya. Eliza tertunduk sedih dan meremas jarinya.
" Sebenarnya apa yang kalian bicarakan, kenapa kamu sangat ingin tahu wajah dari perusahaan terbesar dari Amerika itu" kata papi Irsyad.
Eliza menunjukan artikel itu pada orangtuanya, papi Irsyad membaca artikel itu tiba saja matanya tertuju pada sebuah nama Zayyan Albern Winter, dia menatap putrinya yang tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Nak, kamu yakin ini adalah dia? " papi Irsyad, dia takut nantinya dia kecewa. Mami Farrah juga terkejut tapi dia lebih memilih diam takut nanti putrinya terluka jika harapan yang dia harapkan tidak sesuai.
" Nak papi tahu kamu sedang menunggunya tapi ini belum tentu dia nak, dia itu seorang yatim piatu, nak dan mungkin hanya memiliki nama yang sama" kata papi Irsyad tidak ingin putrinya memiliki harapan yang terlalu tinggi.
Mami Farrah menanggukan kepalanya berbeda dengan Nayla yang tidak tahu dengan keadaan ini.
__ADS_1
" Papi mami Eliza tahu kalian takkan percaya dengan semua ini, tapi disini Eliza dapat merasakannya itu pasti dia. Dia pasti sedang mencari Eliza saat ini sesuai dengan janjinya " kata Eliza memegang hatinya.
Eliza berlari menuju kekamar melihat orangtuanya hanya diam.
" Papi ayo kita lihat Eliza, mami khawatir " kata Mami Farrah, papi Irsyad menanggukan kepalanya. Mereka menuju ke kamar Eliza disusul oleh Nayla di belakang dia juga mencemaskan sahabatnya.
Dalam kamar Eliza.
" Nayla, kamu ingin tahu kan siapa yang memberiku liontin ini? " Eliza, memegang liontinnya. " Ya kamu sudah berjanji untuk menceritakannya, tapi jika kamu belum siap untuk bercerita tak apa" kara Nayla.
Ketika Nayla akan keluar Eliza mulai bercerita menengai liontinnya.
" Liontin ini pemberiannya dia memberi ini saat aku tinggal di kota padang, pada saat itu usiaku baru 10 tahun dan dia sekitar 13 tahun. Dia berjanji akan mencariku kerika kamu menunjukan artikel itu aku percaya itu adalah dirinya" kata Eliza menatap lukisannya bersama Zayyan.
__ADS_1
Nayla menghentikan kakinya untuk keluar daei kamar Eliza dan mendengar ceritanya.
"Saat aku melihat namanya tertera di artikel itu jantungku berdetak sangat kencang, dia pasti sedang mencariku seakan memintaku untuk menunggunya sebentar lagi walaupun dia minta menunggu 10 tahun lagi aku tetap menunggunya" kata Eliza, menatap lukisannya dengan senyuman.
Orangtuanya dan Nayla tersentuh dengan yang diucapkan oleh Eliza, Nayla memeluk sahabatnya dia tak menyangka bahwa sahabatnya ini sedang menanti sesorang di waktu yang lama.
" Aku tak percaya bahwa sahabatku ini sudah memiliki seseorang dalam hatinya, bahkan rela menunggu jika aku pasti takkan sanggup " kata Nayla tersenyum, menghapus airmatanya.
Orangtua Eliza meninggalkan mereka berdua dalam kamar, putrinya pasti ingin berdua saja dengan sahabatnya Nayla.
" Eliza katakan padaku jika dia berdiri tepat di hadapanmu, apa yang akan kamu lakukan. Tak perlu diberitahu pasti kamu langsung memeluknya" kata Nayla dengan bahagia menggoda Eliza.
Dengan malu Eliza menggelengkan kepalanya membuat Nayla bingung.
__ADS_1