
Di Amerika tepatnya di perusahaan Winter Group terlihat sosok gagah yang berdiri dengan tangannya masuk ke dalam sakunya ialah Zayyan Abbiya Winter yang baru saja di angkat menjadi perusahaan Winter Group.
" Ternyata jika dilihat dari sini sangat indah" guman Zayyan memandang lurus sambil tersenyum
Tok, tok, tok.
kret pintu terbuka masuklah Gabriel sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu.
" Tuan, nyonya menghubungi saya agar anda nanti siang pulang untuk makan siang bersama" kata Gabriel berdiri di belakangnya. Zayyan membalikan tubuhnya berjalan menuju kursinya.
" Gabriel katakan pada mommy aku akan pulang nanti" sahut Zayyan, ketika Gabriel pamit menuju ke ruangannya suara Zayyan menghentikannya.
" Gabriel tunggu" kata Zayyan. " Ya tuan" sahut Gabriel.
" Kamu sudah meminta mereka untuk tidak memperlihatkan wajahku untuk di publikasikan" kata Zayyan.
" Sudah tuan saya sudah meminta semua wartawan yang hadir saat itu agar tidak mempublikasikan wajah anda" kata Gabrie, Zayyan menanggukan kepalanya. Sebenarnya Gabriel sangat bingung terhadap sahabat dan bosnya ini kenapa tidak ingin wajahnya diketahui oleh orang.
Bukankah itu baik agar wanita yang dicintai oleh sahabatnya ini bisa mengetahuinya.
__ADS_1
" Gabriel apakah masih ada yang ingin kamu katakan" kata Zayyan tanpa menatapnya.
" Zayyan aku ingin tahu" kata Gabriel, Zayyan menutup laptopnya kemudian melihat sahabatnya seakan bingung.
Zayyan mengajaknya duduk di sofa agar mereka bisa lebih santai bicara.
" Gabriel katakanlah aku tahu ada yang ingin kamu ketahui, itu sangat terlihat jelas dari Wajahmu" kata Zayyan.
Gabriel tersenyum. " Aku hanya ingin tahu soal kamu tak ingin wajahmu yang tampan itu dilihat oleh dunia" kata Gabriel dengan senyuman.
Zayyan menatap Gabriel dengan datarnya. " Aku tak ingin wajahku yang tampan ini dapat dinikmati oleh wanita-wanita luar sana, hanya satu yang boleh mengetahui ketampananku" kata Zayyan dengan santainya.
Dengan kesalnya Gabriel melempar bantal sofa pada wajah Zayyan, Zayyan dengan mudahnya menatapnya.
Zayyan berdiri kembali melanjutkan pekerjaannya karena sebentar lagi jam makan siang akan tiba.
" Zayyan ini benar membuatku penasaran soal ini sepertinya kamu ingin dia tidak mengetahui rupamu.Bukankah dia akan senang karena dapat melihatmu melaui media" kata Gabriel, menatap sahabatnya.
" Itu yang aku tak mau aku ingin dia sendiri yang menengalku ketika kami bertemu" kata Zayyan.
__ADS_1
Gabriel tersenyum. " Baiklah aku pamit dulu melanjutkan pekerjaan, karena aku juga ingin makan siang bersama ibu" kata Gabriel, Zayyan menangggukan kepalanya.
Gabriel keluar dari ruangan Zayyan menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
" Eliza aku tak sabar untuk menemuimu bersabarlah sebentar lagi" kata Zayyan, memenjam matanya mengingat kebersamaan mereka.
Di kota Padang.
" Zayyan" bisik Eliza. Nayla melihat Eliza melamun saat membersihkan meja di restoran dia pun melihatnya takutnya terjadi sesuatu.
Nayla memegang pundak Eliza dan memanggilnya. " Eliza, kamu baik-baik saja? " Nayla, Eliza sadar dari melamunnyadia tersenyum.
Eliza melanjutkan membersihkan meja sambil tersenyum membuat Nayla heran.
" Eliza, apa yang terjadi padamu tadi kamu melamun sekarang senyum sendiri, jangan membuatku khawatir" kata Nayla yang sudah berada di depannya.
" Tadi aku mendengarnya dia memanggilku" kata Eliza. " Siapa? " Nayla menatap tajam pada Eliza, Nayla memandang Eliza yang terus senyum.
" Tunggu maksudmu itu dia yang entah dimana dia berada" kata Nayla yang tidak percaya pada sahabatnya satu ini.
__ADS_1
Eliza hanya senyum dan melanjutkan pekerjaannya sedangkan Nayla hanya melongo.
" Benar - benar gila"