
Malam itu, Matthew memenuhi undangan makan malam di kediaman Aaron. Tidak sulit baginya mencari alamat teman yang mengundangnya itu, karena kemarin Matthew sudah pernah kemari bersama Satria saat mengantarkan Casey, meski tidak ikut turun dan ia hanya menunggu didalam mobil.
Aaron dan Kinara menyambut hangat kedatangannya. Untuk pertama kali Kinara bertemu dengan sosok Matthew, namun Kinara merasa sangat familiar dengannya.
Tak lupa Aaron pun mengenalkan Matthew pada kedua anaknya. Aldrick yang sudah berusia sepuluh tahun, dan Aleena yang selisih satu tahun dibawah anak pertamanya.
"Eh ada Om ini lagi..."
Tiba-tiba Casey datang diantara Aldrick dan Aleena. Casey mendekati Matthew untuk memberikan salam. Matthew dengan senang hati menyambut uluran tangan mungil Casey dan langsung menggendongnya gemas.
"Turunkan aku, Om!! Kak Al bisa meledek ku anak bayi nanti" Casey meronta ingin diturunkan dari gendongan Matthew. Dan sukses membuat kedua kakak sepupunya itu menertawakannya.
"Tuh kan, Om. mereka meledekku. Ayo turunkan aku!!" teriaknya.
Matthew pun mencium pipi Casey dengan gemas lalu menuruti kemauan sang bocah.
Sementara Kinara tertegun dan merasa takjub saat menyadari kemiripan antara Casey dan teman dari suaminya itu.
"Kenapa begitu mirip? mirip sekali. Ah, mungkin hanya kebetulan saja" gumamnya heran. Namun Kinara segera menepis pikirannya, tidak mungkin mereka berdua mempunyai hubungan darah.
*****
Setelah ritual makan malam bersama selesai, Aaron mengajak Matthew duduk dikursi dekat kolam renang samping rumahnya. Mereka berbincang-bincang sambil bernostalgia, menceritakan masa lalu saat keduanya masih kuliah dulu.
Sementara Kinara asik menonton tv sendirian, karena kedua anak-anaknya sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Lalu dimana Casey? ternyata bocah itu sudah terlelap dikamarnya Aaron dan Kinara. Casey tidak pernah mau untuk tidur siang, maka dari itu ia selalu tidur lebih awal karena aktivitas disiang hari yang membuatnya kelelahan.
"Kin, dimana Casey? apa dia sudah tidur?"
Tiba-tiba Atreya datang dari arah ruang tamu. Dia baru saja pulang dari luar kota untuk urusan pekerjaan, sehingga dari kemarin Atreya menitipkan Casey dirumah sang kakak.
"Kamu sudah pulang? aku kira baru besok pagi."
Kinara terperanjat lalu mengubah posisi duduknya menatap Atreya yang sudah menjatuhkan tubuh lelahnya disamping Kaka iparnya tersebut.
"Kebetulan tadi sore urusannya udah selesai. makanya aku bisa pulang cepat. Oya, apa semuanya sudah tidur? sepi sekali" sesaat Atreya mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan, yang biasanya selalu ramai dengan ocehan keponakan-keponakannya yang suka berselisih pendapat itu. apalagi jika sudah ada Casey, tambah makin rame saja.
__ADS_1
" Aldrich dan Aleena sedang dikamar mengerjakan PR sekolahnya. kalau Casey sudah pulas di kamarku. anak mu itu aktif sekali, bawelnya minta ampun. kedua kakaknya sampai cape menjawab setiap pertanyaannya yang bikin lucu. makanya jam segini udah tepar aja tuh dia."
Ucap Kinara diakhiri tertawa kecil bila mengingat tingkah sang bocah yang menggemaskan itu. dan Atreya pun ikut tertawa mendengar ucapan Kinara yang menceritakan kelakuan anak semata wayangnya itu.
"Kalau kak Aaron kemana? apa dia belum pulang dari kantor?"
"Dia ada di taman belakang. lagi ngobrol sama temannya yang baru datang dari Berlin."
"Berlin? siapa? setau ku, kakak gak punya kawan dari Berlin" Atreya mengernyit, mencoba mengingat teman-teman sang kakak yang ia tau.
"Teman kuliahnya. Aaron bilang, dulu dia memang tidak terlalu kenal dekat sih. tapi kebetulan temannya itu sekarang pegang perusahaan juga disini. Dari situlah mereka dipertemukan kembali."
jelas Kinara.
"Owh..." Atreya membulatkan bibirnya.
"Kamu menginap saja malam ini, kasian Casey sudah tidur" perintah Kinara dan membuat Atreya mengangguk setuju. Rasanya dia juga sudah sangat lelah setelah seharian mengurus proyek luar kota yang mengalami kendala itu.
"Oke, aku akan angkat Casey ke kamar tamu dulu."
"Biarkan Casey tidur di kamarku, Rea !! kau istirahatlah!!"
"Bener nih gak apa-apa? nanti kak Aaron tidur dimana dong?" tanya Atreya merasa tidak enak.
"Ranjang ku itu bisa muat untuk empat orang. Aldrich dan Aleena kadang tidur disana juga. Sudahlah, kamu istirahat saja sana ! biarkan malam ini Casey tidur bersama kami."
Ucap Kinara, dan akhirnya Atreya mengiyakannya. ia pun langsung pergi ke kamar tamu yang letaknya disamping rumah, memiliki jendela kamar yang langsung menjorok ke arah kolam renang.
Atreya terlebih dulu membersihkan diri dikamar mandi yang masih berada didalam kamar tersebut. setelah itu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur Kinara yang tadi Kinara berikan sebelum ia mandi.
Gorden jendela kamar itu masih terbuka. Samar-samar Atreya mendengar perbincangan kakaknya dengan temannya tersebut. Atreya sedikit kepo lalu mendekati jendela kamar untuk mengintipnya sejenak. Cahaya lampu disana memang sangat terang, ia bisa melihat dengan jelas wajah sang kakak yang tengah bersenda gurau dengan pria yang nampak tidak asing baginya.
Familiar sekali. Atreya merasa sudah tidak asing dengan ornamen wajahnya. seperti Casey.
"What the hell ??!!"
__ADS_1
Umpat Atreya seketika menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Gerak tubuhnya menjauh mundur dari jendela tersebut.
Ini tidak mungkin. Dia berharap itu hanya kebetulan. Atreya kembali mendekati jendela dengan perasaan was-was, keringat dingin di pelipis yang mulai bercucuran, tangan dan kakinya yang ikut gemetaran membuat langkahnya semakin berat menggapai daun jendela.
Perempuan itu berdiri dibalik jendela yang bertirai tipis dan tembus pandang. Untuk lebih memastikan, Atreya menyibak tirai tipis itu agar sedikit terbuka. Dan ia pun masih mengamati sosok pria tersebut. Sosok yang dulu membuatnya hampir gila karena trauma. Enam tahun telah berlalu, namun dia tidak mungkin melupakan wajah pria yang menyimpan benih dirahimnya hingga terlahirlah Casey ke dunia ini.
Di momen singkat yang mengagetkan, Pria itu sadar sedang diperhatikan. Sejenak mata yang berlainan warna itu saling bersiborok. Atreya merasa jantungnya sesaat berhenti berdetak. Ya benar, Dia Pria brengsek yang memanfaatkan keadaannya yang lemah waktu itu.
Setelah menyadari bahwa pria itu juga tengah menatapnya, dengan cepat Atreya langsung menjauh dari posisi jendela dan segera menekan switch off pada saklar lampunya. dan penerangan dalam kamar itu pun tiba-tiba menjadi gelap.
^^^^^^^^^^
"Aaron, selain istri dan anak-anak mu apa ada seseorang lagi yang tinggal disini?"
Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Matthew.
"Maksud mu kedua asisten rumah tangga ku?" jawab Aaron mengernyit bingung dengan pertanyaan temannya tersebut.
"Bu- bukan. Maksud ku yang menempati kamar itu?" telunjuk Matthew lolos menunjuk kamar tamu yang sudah dalam keadaan gelap tanpa penerangan tersebut. Kedua mata Aaron pun mengikuti arahan dari telunjuknya Matthew.
"Itu kamar tamu. Kamar itu kosong, kecuali bila kau mau menginap disini, kamar itu akan terisi."
"Tapi tadi ada seseorang disana. Sepertinya dia bukan istrimu, juga bukan kedua pembantu mu itu."
"Ah, kau jangan bercanda, Matt. Itu tidak mungkin."
"Aku tidak bercanda. Tadi aku lihat perempuan itu berdiri didekat jendela. Rambutnya panjang dan berpakaian serba putih. Wajahnya memang tidak terlalu jelas karena dia langsung menghilang dan mematikan lampunya."
Mendengar ucapan Matthew, Aaron yang terkenal takut hantu itu mulai terlihat panik. Melihat mimik wajah Aaron yang seketika berubah menciut itu pun sukses membuat Matthew mentertawakannya. Namun hati kecil pria itu terus bertanya dan penasaran. karena tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok perempuan tadi. Seperti ada kekuatan magnet yang menarik dirinya untuk mencari tau.
.
.
.
__ADS_1
.