Lovely Atreya

Lovely Atreya
Alunan musik cinta di villa


__ADS_3

Malam harinya, selepas makan malam bersama dengan Bella dan juga Satria, Matthew langsung beranjak ke kamar untuk menemui Atreya yang entah mengapa tidak mau makan.


“Kau mau makan sesuatu? Biar aku suruh Dorothy untuk membuatkannya” ujar Matthew menaikkan tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu duduk disamping Atreya yang tengah asik membaca buku novel lawas, Le Petit Prince, karya  Antoine de Sant, yang baru saja ia temukan didalam laci nakas. 


Atreya sejenak menatap Matthew, “aku sudah kenyang makan kue bienenstich tadi sore. Rasanya perut ini masih penuh, Matt.” sahut Atreya seraya mengusap-usap perut ratanya.


“Oya? Ku kira kamu masih marah denganku karena yang tadi siang itu.”


Atreya tertegun, mengingat sikap dirinya tadi siang yang konyol. Mungkin Atreya sedang dipengaruhi hormon atau apalah yang telah menghakimi Matthew sedemikian rupa, hingga masalah sepele pun membuat Atreya merasa kesal terhadapnya. Hanya karena Matthew tidak mengatakan secara langsung tentang dirinya yang merindukan Atreya, dan berdalih hanya menanyakan bagaimana kabarnya saja.


Bukan, bukan itu yang Atreya inginkan. Dia, untuk pertama kalinya hanya ingin mendengar langsung dari bibir Matthew kata-kata bahwa dirinya sangat merindukan Atreya. Sepele bukan? Mengingat perempuan itu bukan lagi tipikal perempuan yang manja seperti dulu, sebelum dirinya dinyatakan hamil enam tahun yang lalu.


 


“Marah kenapa? Memangnya kita sedang bertengkar ya?” tanya Atreya kemudian berdalih.


Matthew tidak menjawab. Dia malah tersenyum, akhirnya dia merasa lega melihat sikap Atreya yang kembali seperti biasanya. Tak lama kemudian Matthew merebahkan badannya. Menjadikan paha Atreya menjadi bantalan di kepala lalu melingkarkan lengan kekarnya diperut Atreya, hingga sukses membuat perempuan itu malah menjadi tidak fokus membaca novelnya tersebut.


“Selama aku pergi apa kamu merindukanku?” tiba-tiba pertanyaan Matthew membuat Atreya menyerah, hingga akhirnya terpaksa menutup buku tebalnya itu lalu menyimpannya ke atas nakas.


 


Menatap wajah sang suami yang kini berada dipangkuannya. “kenapa bertanya seperti itu? Jelas aku rindu, dan sangat merindukanmu, Matt” sahut Atreya tak mau lagi menutupi perasaaannya.


“Oya? Ku pikir kamu malah senang bila aku tidak ada” ujar Matthew terkekeh dan langsung mendapat cubitan diperutnya hingga tubuhnya reflek terbangun dan duduk bersila dihadapan Atreya.


 


Terlihat Atreya mengerucut kan bibirnya karena kesal. “Kalau aku tidak senang, mana mungkin kamu bisa disini? mungkin sudah ku usir kamu dari kamar ini dan tidur bersama Casey” Ujar Atreya tergelak, lalu mendapatkan serangan tiba-tiba dari Matthew yang mencium paksa bibir ranumnya hingga tawanya terhenti seketika.


"Aku pun merindukanmu, Rea."


Setelah puas menciumnya, kini Matthew berganti mengubah posisi sang istri menjadi telentang, menindih sebagian tubuh perempuan itu dan kembali memberikan ciuman dan lummatan kecil pada bibir tipisnya yang selalu terlihat begitu menggoda.


 


Tangan Matthew mulai menjalar kemana-mana, meraba apapun yang dia kehendaki. Lelaki itu sudah tak sabar dan hendak membuka kancing piyama Atreya, namun perempuan itu menghentikannya dengan cepat hingga membuat Matthew mengerutkan keningnya.


“Kenapa?” tanya Matthew.


Atreya sejenak melihat ke arah  pintu kamarnya. “Sudah kamu kunci pintunya? Bagaimana kalau Casey datang tiba-tiba seperti biasanya?”


“Ooh, kirain---“ Matthew tersenyum lega, karena ia sempat berfikir Atreya menolak untuk melakukan hubungan dengannya. “tunggu sebentar!” Matthew pun segera beranjak turun dari kasurnya. Ia mengunci pintu kamar lalu kembali menghampiri Atreya dan melanjutkan keinginannya yang tadi sempat tertunda. Percintaan mereka kali ini sangat berbeda, karena keduanya dipenuhi rasa rindu yang luar biasa. Rasa rindu yang biasa mereka lakukan dengan penyatuannya yang begitu dalam.


 


*****


 

__ADS_1


Ke esokkan harinya, mereka bersiap mengemasi barang masing-masing karena akan kembali ke kota, dan menjalani rutinitas seperti biasanya. Setelah selesai berkemas, Satria dan Bella mengajak Casey berkuda dulu sebelum kepulangannya nanti siang.


Sementara Matthew mengajak Atreya ke sebuah ruangan di Villa yang selama ini selalu terkunci rapat, dan tidak ada yang boleh membukanya atas ijin Matthew atau William. Kecuali Dorothy, wanita itu dipercaya untuk membersihkan ruangan itu setiap harinya.


“Ini kamar siapa?” tanya Atreya mengernyit.


Matthew tidak menjawab, dia sibuk membuka kunci kamar itu setelah Dorothy mengambilkan kunci kamar tersebut dari dalam lemari yang terletak diruang tengah.


CEKLEKK!! Pintu itu pun terbuka.


Ruangan itu sangat bersih, tidak berdebu sedikit pun. Mungkin Dorothy setiap jam membersihkan ruangan ini hingga semua benda didalamnya terlihat mengkilat dan licin.


 


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, asik dengan pikiran masing-masing. Matthew kembali mengingat masa lalunya saat masih ada sang Mommy yang selalu mengajaknya bermain dan belajar segala hal diruangan ini.


Sedangkan Atreya merasa takjub dengan ruangan yang sungguh mengesankan ini. Ruangan yang tampak luas. Terdapat banyak koleksi buku-buku yang tersusun rapi dirak berbahan kayu jati. Juga terdapat meja kerja klasik yang terlihat indah ditengah-tengah rak buku yang menjulang tinggi tersebut. Entah buku-buku apa yang mereka koleksi. Namun kedua mata Atreya langsung terfokus ke benda besar itu.


Atreya baru menyadari ada sebuah Grand Piano Yamaha berwarna putih terletak disudut ruangan sebelah sana, seperti berkamuflase diantara lantai dan dinding yang sama-sama berwarna putih. Tuts hitamnya yang tersebar sangat kontras terlihat.


“Piano siapa?” tanya Atreya.


“My Mom.” Jawab Matthew pendek.


“Ibu mu? Dimana beliau sekarang?”


Atreya baru sadar tentang keberadaan ibu dari sang suami, selama ini dia belum bertanya tentang ibu mertuanya itu. Dimana ibunya Matthew? Apa beliau masih ada, atau sudah tiada seperti kedua orangtuanya? Aah, kenapa baru sekarang Atreya menyadari kebodohannya.


“Oh, Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih, Matt” Atreya langsung meraih tangan Matthew karena merasa tidak enak hati dengan pertanyaan terakhirnya.


 


“No problem. Aku sudah jauh lebih kuat dan tegar saat ini” sahut Matthew kembali tertawa. Dan Atreya Nampak sangat lega melihat sikap suaminya tersebut.


 


“Kamu bisa main piano?” tanya Atreya kemudian mengalihkan pembicaraan.


 


“Sedikit” ujar Matthew seraya mengedikkan bahu. “Mommy sudah mengajariku sejak kecil bersama Kyle. Bahkan Kyle lebih mahir daripada aku.”


“Seriously? tapi kamu senang kan belajar piano?”


 


“Ya...begitulah. Daripada aku tidak diperbolehkan main game?” sahut Matthew.


 

__ADS_1


Atreya tertawa mendengar pertanyaan retorik dari Matthew. Atreya bisa membayangkan dengan jelas dikepalanya, bagaimana ibunya memerintah dengan tegas kepada si bocah bernama Matthew kala itu yang merengut tidak suka, tapi tetap terpaksa belajar piano karena alasan sang ibu. Dia jadi teringat wajah Casey bila sedang merengut jika dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.


 


“Dulu aku selalu ingin bisa memainkan alat music” ujar Atreya. “tapi ya… aku punya keterbatasan fisik yang tidak bisa semua aku lakukan  waktu itu. Masa kecilku lebih banyak bolak-balik masuk rumah sakit untuk melakukan pembedahan ortopedi dan banyak terapi khusus, daripada menghabiskan waktu untuk menyalurkan minatku akan alat music.” Tambah Atreya lantas berjalan pelan menuju piano, menarik kursinya dan duduk disana.


 


“Tapi pengorbananmu tidak sia-sia kan? Buktinya sekarang kamu bisa berada disini dengan sempurna. Aku salut padamu, Rea. Kamu perempuan yang kuat,  kamu istriku, ibu dari anakku.” Ucap Matthew merasa kagum. Atreya pun hanya tersenyum, rona merah muda jelas terpancar di wajahnya kini.


Lalu dilihatnya sang istri yang sedang mengusap lembut tuts-tuts piano dengan jarinya, seperti ingin menekannya tapi tidak berani seolah hal itu bisa membuat si piano bisa mengeluarkan suara yang tidak enak didengar.


 


“Kamu bisa belajar mulai sekarang” ujar Matthew dengan suara yang sedikit bergetar. Kalau perlu dia sendiri yang akan mengajarinya bermain piano.


 


Atreya lagi-lagi tersenyum, jemarinya masih perlahan menyentuh tuts piano. “Seriously? apakah aku masih bisa belajar diusiaku yang sekarang ini?” tanya Atreya ragu.


“Pasti bisa kalau kamu mau. Meski tidak harus sehebat Mozart, kan?” Matthew terkekeh.


 


Atreya mengangguk, “Ya, tidak perlu menyaingi Yiruma atau Joey Alexander, yang penting aku bisa memainkan satu lagu saja dengan benar, itu sudah cukup. Kira-kira musik apa ya yang paling mudah dimainkan, Matt?” tanya Atreya.


 


Matanya yang cemerlang bersemangat membuat Matthew tersenyum. Lelaki itu berdiri dan mendekatinya. Lantas duduk di samping Atreya. Kedua tangannya sudah bersiap diatas tuts piano, kakinya sudah menginjak pedal. “nanti kamu akan tau sendiri. Hampir semua orang mengenal lagu ini, dan sangat mudah untuk dipelajari”


 


“Apa yang akan kamu mainkan, Matt?” tanya Atreya begitu antusias.


 


Matthew menjawabnya dengan mulai menekan tuts demi tuts piano dengan jari jemarinya, dan bahkan di nada ketiga yang Matthew mainkan, Atreya sudah terlihat berantusias karena sangat mengenal lagu yang dimainkan suaminya tersebut.


 


“Opening Game of Thrones!! Ya ampun, sayang, ini lagu kesukaanku.” Atreya menangkup pipinya dengan kedua tangan karena merasa takjub dengan kelihaian sang suami memainkan alat musik itu, dan terdengar sangat indah sekali.


Matthew hanya tersenyum lebar. Dia tau Atreya menyukai lagu itu karena dia juga memang sangat menyukainya. Lelaki itu kian bersemangat memainkan pianonya kembali, dia memainkan musiknya dengan sepenuh hati untuk perempuan yang kini sangat dicintainya, setelah sang ibu yang lebih dulu meninggalkannya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2