
"Kau tau Layla?"
"Layla?" Satria mengernyit Bingung.
"Pegawai baru dibagian keuangan. cewe cantik, putih dan bohay itu, Sat." tegas Alan begitu bersemangat mendeskripsikan mahluk yang dianggapnya paling seksi itu. Namun Satria hanya mengangkat bahu seakan tak tertarik dengan obrolan teman sekantornya itu.
"Tadi dipantry dia minta nomer mu." tukas Alan lagi menepuk bahu Satria.
"Terus lo kasih?"
"Ya iyalah, masa nggak. Kayanya ada yang ditaksir nih." ledek Alan terkekeh.
"Gak tertarik gue." sahut Satria menyulut sebatang rokok ditangannya.
"Astaga, Sat. Kurang apa lagi coba dia? inget umur Lo, sampe kapan jadi bujang lapuk begitu. Lo harus cepat menikah sebelum uzur."
"Sialan gue dikatain bujang lapuk." sewot Satria menyembulkan asap dari mulutnya.
"Eheemm..."
Tiba-tiba suara deheman terdengar dari arah belakang mereka yang tengah asik merokok di balkon ruangan di jam kerjanya.
"Eh, pak Matthew."
Keduanya begitu terkesiap dengan kedatangan bossnya tiba-tiba mau mampir ke ruang kerja yang didominasi kaum programmer itu. Pegawai lainnya yang masih setia didepan laptopnya masing-masing itu pun hanya bisa menonton ekspresi wajah Satria dan Alan yang mulai pucat pasi dihadapan si boss.
"Apa yang kalian lakukan disini? apa tidak ada pekerjaan lain selain duduk santai sambil merokok? liat yang lainnya !! mereka masih berkutat dengan pekerjaannya sebelum jam makan siang."
Sorot mata Matthew seolah mengintimidasi dua pegawainya tersebut dan membandingkan dengan pegawai lainnya yang masih duduk tenang didepan laptop. padahal jika diamati lagi, mereka juga sama saja. Bermain game disela-sela kejenuhan dalam pekerjaannya itu wajar. Hanya cara Satria dan Alan itu terlalu nekat. Merokok sambil minum kopi dengan duduk nongkrong di balkon itu terlalu kentara diperusahaan yang terkenal tegas dan disiplin tersebut.
Terlebih Satria yang merupakan karyawan paling lama dan teladan diperusahaan itu seharusnya memberikan contoh baik kepada para pegawai lainnya.
Satria dan Alan hanya bisa menurunkan pandangannya. menjawab pun rasanya akan tetap salah bila menghadapi orang yang beda kasta seperti Matthew.
"Saya tunggu kamu diruanganku sekarang!!" Matthew menaikkan jari telunjuknya mengarah ke wajah Satria.
"Saya pak?" Satria tercengang dengan mengarahkan telunjuknya sendiri kearah dadanya.
"Kamu yang bertanggung jawab dibagian ini kan?" ucap Matthew menatap tajam. Satria pun akhirnya paham dan mengiyakan nya.
*****
Setelah Satria mendapat teguran keras terkait sikapnya yang tadi, Matthew juga sedikit butuh bantuan kepada salah satu pegawainya tersebut.
"Teman lamaku meminta untuk menambahkan konten marketing dan beberapa menu lain di web perusahaannya. Ini memang diluar kerjasama antar perusahaan. Tapi aku memintamu untuk membantu membuatkannya." ucap Matthew pada Satria diruangan pribadinya. dan pria yang jago coding itu pun hanya mengangguk-angguk saja.
"O'Neill Company itu perusahaan yang begitu menjanjikan. Kebetulan aku kenal baik dengan CEO nya. Besok siang kita akan kesana untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut."
Satria begitu terkesiap mendengarnya.
__ADS_1
"O'Neill Company, Pak?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Pak Matthew kenal dengan kak Aaron?" Satria menyipitkan matanya.
"Yup. Aaron teman kuliahku waktu di Harvard university. Memang kau mengenalnya?"
Satria malah cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, hingga membuat Matthew memicingkan sebelah alisnya melihat tingkah konyol pegawainya itu.
"Emmhh... dia---"
Tiba-tiba ponsel Matthew bergetar diatas meja dan membuat beberapa kertas diatasnya ikut bergerak. Matthew mengernyitkan dahi saat meraih ponselnya tersebut.
"Oke. sekarang kamu boleh pergi. Besok siang setelah jam istirahat kita berangkat bersama-sama ke kantor O'Neill."
"Baik, Pak." Satria pun akhirnya mengerti. Mungkin Atasannya itu baru menerima panggilan privasi yang tidak boleh diperdengarkan orang lain. Ia pun beranjak dari duduknya hendak keluar dari ruangan si boss.
"Oiya, Sat. Jaga anakmu itu dengan benar. Jangan dibiarkan dia bermain sendirian diluar rumah. bahaya itu !!" ucap Matthew dan sukses membuat Satria mengernyit bingung.
"Anak? anak siapa?" gumamnya dalam hati.
*****
Sore itu, Motor Satria masuk ke halaman rumah Atreya. dan tanpa disadari mobil Matthew kebetulan berada dibelakangnya karena tujuan Satria yang memang searah dengan tempat tinggal si Boss.
Satria datang saat Atreya tengah melonjorkan kedua kakinya di sofa ruang tengah sambil menonton tv. Sedangkan Casey tengah asik bersila dilantai sambil bermain mobil remote control diruangan yang sama pula.
"Caseeyy! liat apa yang Om bawa?" bocah itu pun langsung terkesiap, mengabaikan mainannya dan langsung mendekati Satria. Mencium pipi pria yang sudah dianggap ayahnya itu terlebih dulu, sebelum mengambil hadiah yang dibawa Satria untuknya.
"Yeaay... Lego Dino." seru bocah itu kegirangan.
"Bilang apa Casey?" ingat sang mama.
"Thank you, Om. I love you."
"I love you too." balas Satria seraya mengacak rambut sang bocah.
Casey beranjak ke kamar dengan membawa mainan barunya. Bocah itu memang lebih suka mengerjakan proyek legonya dikamar sendirian. Mungkin ia butuh konsentrasi penuh untuk membangun proyek itu agar menghasilkan hasil yang sempurna sesuai digambarnya.
"Mau minum apa?" tanya Atreya beranjak dari duduknya menuju dapur.
"Kopi aja deh." sahut Satria.
Atreya lalu membuatnya sesuai pesanan.
"Besok aku akan ke kantor mu, lho" ucap Satria seraya menyandarkan punggungnya di sofa. mengangkat kedua tangan untuk menyangga kepalanya dibelakang.
"Untuk apa?" tanya atreya sambil meletakkan secangkir kopi yang masih panas ke atas meja.
__ADS_1
"Ngapelin kamu." sahut Satria dan mendapat lemparan bantal tepat dimukanya.
"Seriusan ini." ucapnya lagi terkekeh.
"Apaan sih, Sat? kaya anak ABG aja ngomongnya."
Atreya mengerucut kan bibirnya kesal. Lelaki dihadapannya itu selalu membuat dirinya melayang tinggi di udara, namun nyatanya pria itu juga yang kembali menjatuhkannya ke dasar laut terdalam.
Apa yang Satria mau dari Atreya? hubungan mereka memang terlihat baik-baik saja. Bahkan masih tetap seperti sepasang kekasih padahal sudah lama pria itu mengakhiri rencana pernikahannya. Tapi bukan hubungan seperti ini yang Atreya inginkan. wanita itu hanya ingin kepastian.
"Memangnya kak Aaron sudah kembali dari Dublin ya? bagaimana dengan perusahaanmu disana, apa sudah ada yang menggantikannya?" tanya Satria seraya mengaitkan jemarinya kegagang cangkir berisi kopi buatan atreya.
"Akhirnya Kak Aaron menjual semuanya. Hanya tersisa rumah sakit peninggalan Daddy saja yang kami pertahankan" sahut Atreya.
"Ooh" Satria membulatkan bibirnya, ia tidak tertarik untuk membahasnya lagi karena itu diluar urusannya. "Aku jadi kangen sama anak-anaknya Kinara. Siapa? Aldrick dan Aleena, ya? Mereka sudah ABG sekarang." ucap Satria menyeruput kopi panasnya, sambil membayangkan saat Aldrick dan Aleena masih seusia Casey sekarang.
"Dan kamu tidak ada keinginan untuk menikah? mempunyai anak sendiri, begitu?" tanya Atreya mulai memancingnya.
Satria tercekat mendengar pertanyaan Atreya barusan, ia sedang berusaha mencerna pertanyaan tersebut untuk beberapa saat.
"Hubungan seperti ini tidak bagus, Sat. Bagaimana jika Tante Dewi tau kalau selama ini kamu masih sering menemui ku dan Casey?"
Pertanyaan itu membuat Satria tersentak. Benar juga yang diucapkan Atreya. Mama Satria menjadi sangat membenci Atreya saat tau dia hamil dari orang lain, dan bukan dari anaknya. Beliau menganggap Atreya terjerumus pergaulan bebas sejak memutuskan tinggal di Dublin.
"Tapi aku nyaman dengan hubungan seperti ini, Rea. Aku cukup bahagia bila melihat kamu dan Casey bahagia saat bersama ku."
"Tapi aku tidak, Sat. Aku lebih nyaman dan bahagia bila kamu selalu ada untukku dan Casey setiap saat, setiap waktu bahkan setiap aku terbangun dari tidurku." ucap Atreya terisak. Ia sudah tidak tahan menahan perasaannya yang terombang-ambing tanpa tujuan yang pasti.
"Aku minta maaf, Rea, Aku memang tidak tegas tentang hubungan kita selama ini. Jujur saja aku sempat ragu saat ku tau kamu mengandung benih pria brengsek itu. Aku takut suatu saat ayah Casey datang. Dan kau akhirnya memilihnya karena alasan Casey. Tapi kurasa pria itu sudah tidak ada lagi dimuka bumi ini. Mungkin sudah saatnya aku harus meyakinkan mama untuk merestui kita kembali." ucap Satria meraih wajah Atreya, mengusap lembut pipinya yang mulai basah.
Dan kata-kata itulah yang wanita itu tunggu bertahun-tahun. Setidaknya mereka punya tujuan dari hubungannya yang selama ini mengambang tak terarah.
"Mana mungkin aku memilih lelaki brengsek itu, Sat. Mengingatnya saja aku gak Sudi. Mungkin Casey tidak akan pernah bertemu dengan pria itu seumur hidupnya. Bahkan keberadaannya pun aku tidak pernah ingin tau." tutur Atreya begitu sesak bila kembali membuka masa lalunya itu.
"Dan mungkin kau benar, Sat. Lelaki itu sepertinya sudah ditelan bumi. Dan semesta sudah melenyapkannya karena telah menodai ku." gumam Atreya dalam hatinya.
.
.
.
.
jangan lupa like sama poinnya ya 😁
selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya.
😘😘😘😘
__ADS_1