
Setelah mengobrol singkat dengan Atreya, Bella dan Satria, sepasang pengantin baru itu terpaksa harus pamit mengakhiri obrolannya karena hendak menyapa tamu lainnya yang baru saja datang.
"Kamu mau makan apa nih? Perutku kok lapar ya..." ujar Bella seraya mengusap perut langsingnya. Tadi, Satria berpamitan sebentar untuk menyapa beberapa relasi Matthew yang ikut hadir di pesta tersebut. Anggap saja Satria adalah perwakilan dari NEOTECH yang datang ke pesta pernikahan Cathy, seorang CEO dari GW group.
"Mmm..." Atreya hanya menggumam tidak jelas. Banyak sekali makanan yang terhidangkan, ada beberapa makanan khas yang belum Atreya kenali, sehingga membuat Atreya ragu untuk mencicipinya.
"Schweinsbraten saja, ya? Lebih mudah memakannya" tawar Bella, lantas mengambil daging pangang yang telah dicampur acar, kubis panggang, dan pangsit ke dalam piring kecil.
"Ini makanan khas dari Munich. Dulu aku sering makan ini kalau sedang main ke rumah Steve di Munich", ujar Bella tak sadar mengenang masa lalunya bersama Steve yang berasal dari kota Munich itu.
.
"Enak juga ya", ujar Atreya dengan mulut penuh.
DRRTT... DRRTT...
"Ah, ini dari satria, kenapa harus menelponku? Memangnya dia kemana sih?" seru Bella kesal, karena telah mengganggu acara santap menyantap sajian makanan yang ada di pesta ini. Bella menatap ponselnya yang terus saja bergetar ditangannya.
"Angkat saja, Bell! Barangkali itu penting" saran Atreya.
Bella pun akhirnya menjawab panggilannya.
"Ada apa? mengganggu saja."
"Bell, kamu kesini sebentar ya! Ini ada Tuan Juan dan Tuan Milley ingin membicarakan tentang kerjasama Neotech dengan CR Group" ujar Satria samar-samar dari seberang sana. Suaranya terdengar kecil karena terlalu riuh suara orang-orang yang ada di pesta itu, ditambah dengan alunan musik yang mengiringi acara tersebut.
"Oh, oke aku akan kesana, ini kamu dimana?" tanya Bella sedikit berteriak seraya mengedarkan pandangannya.
"Aku disini bell. Arah jam 10 dari posisimu."
"Heh?" Bella reflek mengubah posisi badannya, dari jarak beberapa meter terlihat Satria tengah melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Bella pun segera mengakhiri panggilan telponnya.
"Aku ke sana dulu sebentar, sepertinya Satria benar-benar membutuhkan ku." ujar bella menyentuh pundak Atreya sebelum pergi menemui Satria. Atreya pun hanya mengangguk karena masih menikmati makanannya.
Sepeninggal Bella, Atreya baru menyadari dia tidak mengenal siapa pun di pesta ini. Seketika dia menyesal tidak ikut Bella tadi, dia merasa tidak ada gunanya berdiri sendiri ditengah pesta seperti ini.
__ADS_1
Detik berikutnya, Atreya berinisiatif pergi untuk mencari Bella dan juga Satria. Menuju sisi ballroom yang rupanya adalah sebuah taman bunga dengan air mancur dengan lampu yang berganti-ganti warna. Tapi dia tidak menemukan keduanya disana, meskipun begitu, Atreya tetap menuju sebuah kursi taman yang menghadap ke pagar pembatas. Duduk dikursi itu, Atreya bisa menonton kota Berlin dimalam hari dibawah sana.
Perempuan itu memutuskan menunggu Bella dan Satria menyelesaikan urusannya disana, daripada harus sendirian ditengah pesta. Iya kan? Ditaman ini suara gempita pesta nyaris tidak terdengar. Atreya menyandarkan punggungnya, kakinya yang memang sudah pegal kini terasa nyaman dengan posisi duduknya begini.
"Hallo, boleh aku duduk disini?"
Atreya menoleh kaget mendengar suara baritone itu, lebih kaget lagi saat dia tau siapa pemilik suara yang kini berdiri didepannya.
"Oh, anda? Silahkan saja" ujar Atreya gugup. Sedikit menggeser tubuhnya untuk menyisakan ruang yang lebih luas agar mereka bisa duduk berdampingan dengan canggung
"Mmm... Nona masih mengingatku?" tanya lelaki itu saat sudah duduk, tubuhnya miring ke arah Atreya, seolah pemandangan kota Berlin kala malam didepannya sama sekali tidak menarik minatnya.
Atreya menghela nafas, tentu saja dia ingat betul siapa dia. perempuan itu belum terlalu tua untuk melupakan sesuatu. Dia adalah kawan semasa kecil sekaligus klien baru di perusahaan suaminya. Tapi bukan itu yang diingat Atreya, penampilannya yang rupawan lebih tidak bisa dilupakan begitu saja. Mengakuinya begitu saja bukan langkah yang tepat, Atreya harus---
"Aku Andrew, kau ingat kan?"
"Oh ya, ya... Tentu saja Tuan O'Brein."
Andrew tertawa kecil saat mendengar Atreya memanggilnya dengan Tuan O'BRIEN.
"Iya betul, Tuan. Suamiku tengah berbaring dirumah sakit saat ini."
"Lantas, dengan siapa Nona Atreya datang kemari?"
"Saya datang bersama Satria dan Bella" sahut Atreya. "Cathy dan Steve teman baik kami. Rasanya tidak enak bila tidak menghadirinya."
"Ya, ya, ya... sayangnya Matthew tidak bisa datang. Sakitnya memang sudah parah, mustahil untuk bisa sembuh kembali" ujar Andrew, dan sukses membuat Atreya kontan geram.
"Apa maksud anda? begitukah rasa empati anda pada teman kecil anda?" tukas Atreya sedikit kesal, "Bagiku tidak ada yang mustahil, Tuan O'Brien." kini kekagumannya pada seorang Andrew Ackerley O'Brien kini menurun sekian derajat. Penampilannya yang rupawan tidak lagi membuatnya terkesan.
Lelaki itu tersentak mendengar kalimat ketus Atreya, lantas berdiri didepan perempuan itu. "maaf, saya tidak bermaksud membuat anda kesal, Nona Atreya."
Atreya ikut berdiri, menatap lelaki didepannya begitu tajam. Sebuah pikiran bahwa lelaki itu bukan kawan terbaik untuk Matthew pun terlintas.
"Lantas apa maksud anda?" cecar Atreya.
__ADS_1
Andrew memutar otak cepat, jangan sampai wanita dihadapannya itu lari atau bahkan berteriak minta tolong, misalnya gara-gara ia merasa terancam dengan keberadaan Andrew didekatnya.
Mungkin seharusnya Andrew tidak perlu nekad mendekatinya segala, apalagi sampai salah bicara seperti tadi. Bodoh! Seharusnya dia cukup menatapnya dari kejauhan saja seperti yang dia lakukan sebelumnya. Tapi perempuan itu sungguh cantik malam ini, gaun abu-abunya, riasan wajah yang membuatnya berbeda, semua yang ada pada dirinya seolah bersinar. Membuat Andrew tanpa sadar mendekatinya. Seperti seekor laron yang otomatis akan mendekati sebuah cahaya, meskipun dia tahu mungkin akan segera mati karena melakukannya.
Lagipula sudah terlambat, dia tidak mungkin memutar kembali waktu, Andrew harus mencari cara untuk bisa sekadar mengobrol dengan Atreya, dan tidak terjadi salah paham seperti ini. Masa sih pesona seorang Andrew tidak bisa dia gunakan untuk membuat perempuan bergaun abu-abu itu mau meluangkan sedikit waktu dengannya?
"Nona Atreya, dengarkan dulu!" ujar Andrew dengan intonasi suara paling tenang yang dia bisa. Suara baritonnya seringkali memang mengintimidasi, tapi mau bagaimana lagi, Andrew tidak mungkin mengubah suaranya agar perempuan didepannya ini tidak semakin illfeel, bukan?
Atreya hanya memicingkan matanya terlihat siaga.
"Saya tidak sejahat itu, saya hanya berbicara sesuai fakta" imbuh Andrew, berharap dalam hati perempuan itu bisa percaya ucapannya.
Atreya seperti tidak terusik, tetap diam, matanya yang kini menyipit seperti ingin menyelidiki Andrew hingga titik terdalam, membuat Lelaki itu sedikit jengah.
"Atas dasar apa?" pertanyaan Atreya terlampau cepat, diluar dugaan Andrew, dia tidak siap dengan jawaban cerdas yang bisa membuat Atreya tidak menunjukan sikap memusuhi Andrew seperti ini lagi.
"Dari pengalaman yang sudah ada" jawab Andrew akhirnya, mencoba Berdiplomatis. Atreya mencebik, pertanda perempuan itu tidak suka dengan jawaban Andrew. Lantas dia sudah melangkahkan kaki hendak pergi, membuat Andrew reflek memegang pergelangan Atreya.
"Bisa anda lepaskan ini?" Atreya menatap tajam, lalu melirik sinis pada tangan Andrew yang mencengkeram lengannya.
"Anda tenang dulu, Nona Atreya" Andrew membujuk, tangannya masih memegang tangan Atreya yang sekuat tenaga berusaha menarik tangannya dari genggaman Andrew. "Saya akan melepaskan tangan Nona Atreya jika nona berjanji tidak akan pergi dari saya"
"Lepaskan!! Atau saya akan berteriak, Tuan O'Brein" ancaman Atreya sukses membuat Andrew akhirnya terpaksa melepaskan tangannya.
Andrew tidak ingin membuat keributan dipesta pernikahan sepupunya itu, walaupun dia hampir yakin teriakan Atreya tidak akan terdengar hingga ke dalam, tapi lebih baik mengalah, daripada Atreya akan jadi sangat membencinya.
"Maaf, maafkan saya, sungguh saya tidak bermaksud seperti itu" ucap Andrew lagi, kedua tangannya ditangkupkan didepan dada. Di berharap Atreya bisa melihat ketulusan hatinya.
Atreya berdiri mematung, memegangi pergelangan tangannya yang mungkin masih terasa sakit, menatap Andrew dengan pandangan tak terdefinisikan. Andrew tidak bisa menilainya, sinar mata itu tidak menggambarkan ketakutan atau marah, atau penasaran, atau apalah. Lelaki itu benar-benar tidak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan Atreya saat ini.
Tapi dari jarak sedekat ini, perempuan ini benar-benar mirip Laura! Ya Tuhan, Andrew tahu seringkali Tuhan senang sekali bercanda, tapi maksud-Nya mempertemukan kembali Andrew dengan seorang perempuan berwajah serupa Laura tapi bukan Laura? Aaarrgghh, mengesalkan.
Apakah Atreya adalah kiriman Tuhan sebagai pengganti Laura untukku?
__ADS_1