
Untuk beberapa saat, Matthew membiarkan Atreya tidak menyadari keberadaanya. Perempuan itu sepertinya asik sekali berkebun. Dia terlihat focus menyimak penjelasan Luke untuk mencampur pupuk atau entah apa dengan sangat serius. Konsentrasi Atreya terpusat pada tanaman-tanaman didepannya dan Luke, tidak yang lain.
Matthew sangat suka melihat Atreya yang seperti itu. Sudah lima hari dia tidak melihat sang istri didekatnya. Menerbitkan perasaan rindu yang tak biasa. Sejujurnya, selama melakukan kemoterapi dan dan perawatan medis lain dirumah sakit milik Steve di Munich, Matthew nyaris melupakan Atreya. Dia hanya focus ingin sembuh. Itu saja yang ada dipikirannya. Kemoterapi membuatnya tubuhnya bereaksi berlebihan, membuat Matthew tidak bisa memikirkan hal lain. Intinya dia hanya ingin sembuh. Namun saat ini melihat Atreya seperti ini, Matthew menyadari bahwa salah satu alasan dia berobat karena dia ingin hidup lebih lama lagi bersama Atreya.
“Ehh, Tuan Matthew?!” Dorothy terlihat kaget melihat Matthew dan Satria yang berdiri menyandar di gerbang villa. Dia sudah hafal kebiasaan Matthew yang sering meninggalkan mobilnya dibawah, dan sengaja ber-hiking ria sampai ke villa yang memang letaknya diatas permukaan tanah yang lebih tinggi.
“Hi, Dorothy. Apa kabarnya?” sapa Matthew tersenyum. Seruan Dorothy barusan sukses membuyarkan lamunan dikepalanya.
"Baik, Tuan. Sejak kapan tuan disini?" tanya Dorothy.
"kami belum lama, kok" ujar Satria.
Dorothy pun hanya mengangguk dan tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya ke arah sorot mata Matthew yang sedari tadi terus memandangi Atreya yang tengah bersama Luke.
“Luke!!” seru Dorothy kepada putra semata wayangnya itu. Tapi sepertinya Luke tidak mendengar seruan ibunya, dia masih saja sibuk menanam tanaman bersama Atreya.
“Hey, Luke!! Kemari, nak. Cepat bawakan barang-barang tuan Matthew!!” Dorothy kembali berseru, sedikit kesal karena putranya itu tidak peka melihat keadaan dan masih saja asik berkebun, lantas menghampiri Luke untuk mengomel entah apa dengan bahasanya sendiri.
Mendengar seruan Dorothy seperti itu, Luke tergopoh-gopoh membuka sarung tangannya. Lantas bergegas menghampiri Matthew dan Satria. Sementara Atreya berdiri mematung melihat kedatangan Matthew yang tidak diduganya. Mereka saling memandang dari kejauhan.
“Apa barang bawaan anda masih dimobil, Tuan?” Tanya Luke pada Satria. Satria mengangguk lalu menyerahkan kunci mobil pada Luke, dan lelaki itu segera beranjak mencari mobil yang dimaksud satria diarea parkir dibawah villa.
“Matt, aku duluan ke dalam ya, haus” ujar Satria pada Matthew sepeninggal Luke. Matthew hanya mengangguk.
Kini tatapan mata Matthew tertuju ke arah Atreya yang juga tengah menatapnya. Akhirnya Matthew berjalan mendekati sang istri. Kedua tangan Atreya masih memakai sarung tangan karet yang sangat kotor berwarna cokelat tanah. Perempuan itu rupanya benar-benar serius ikut berkebun dengan Luke, dari jarak sedekat ini, Matthew bisa melihat bulir-bulir keringat dikeningnya. Juga pipinya yang memerah terkena panas sinar matahari.
“Kamu sedang apa?” sapa Matthew, kedua tangannya bersembunyi disaku celana.
“Kelihatannya sedang apa?” Atreya malah balik bertanya sambil tertawa kecil.
Hati kecil Atreya sebenarnya kaget melihat kedatangan Matthew yang tiba-tiba, lelaki itu tidak mengabari Atreya sama sekali selama berada diluar kota. Atreya juga berfikir tidak harus mengganggu Matthew yang pada nyatanya sedang bekerja di luar kota dengan pertanyaan basa-basi seperti ABG labil pada umumnya.
Atreya melepas sarung tangan karet yang membalut kedua tangannya, lantas mencuci tangan di kran taman. Matthew hanya berdiri diam memperhatikan sang istri. Setelah tangannya bersih, Atreya kembali berdiri di depan suaminya itu. Atreya menatap dalam suaminya tersebut, menyadari bahwa tubuh Matthew sepertinya bertambah kurus, wajah lelah dan pucatnya tidak bisa tertutupi, matanya yang biasanya bersinar tegas kini terlihat sedikit kuyu. Melihat keadaan Matthew yang demikian membuat kepala Atreya penuh dengan pertanyaan demi pertanyaan yang tidak bisa dipaparkan. Namun yang jelas tak pernah terbesit sedikit pun di benaknya kalau Matthew tengah sakit keras dan menderita penyakit yang sangat ganas.
__ADS_1
“kamu”
“Aku”
Matthew dan Atreya berkata bersamaan, membuat keduanya tertawa.
“Kamu duluan saja” kata Matthew akhirnya.
“Nggak apa-apa, kamu aja dulu” ujar Atreya.
“Ck! Udah kamu aja dulu, Rea. Mau bilang apa tadi?” Desak Matthew.
Atreya mengesah, ini tidak akan ada ujungnya. Dia pun tidak punya pilihan selain harus mengalah.
“Aku minta maaf, Matt. Aku pakai kemejamu gak bilang-bilang” ucap Atreya akhirnya, seraya menunjuk pada kemeja flannel biru kotak-kotak yang sedang dipakainya.
Matthew tersenyum, “no problem, tapi kemeja itu terlihat seperti mini dress ditubuhmu.” Komentar Matthew membuat Atreya tertawa. Dan tawa Atreya yang renyah membuat Matthew tersenyum. Lelaki itu berfikir, mungkin tawa Atreya yang seperti itulah yang akan selalu ia rindukan sampai kapan pun.
“Oh, iya…” Matthew sepertinya lupa apa yang hendak dikatakannya tadi, karena dia tidak mengatakan apa pun lagi.
“Apa?” Tanya Atreya lagi, masih menunggu, dan ingin tahu.
Matthew menghela nafas panjang. “kamu—“
“Ya?” Atreya berkesiap.
“Mmm… kalian baik-baik saja, kan?”
“Hah?” Atreya terbelalah. Dia pikir Matthew akan bertanya tentang apa, ternyata hanya ingin mengetahui keadaan dirinya, Casey dan mungkin Bella. Ku kira dia akan mengatakan, aku merindukan mu, Rea. Hufft!! kenapa aku jadi lebay begini?
“Ya, tentu saja kami baik-baik saja” ujar Atreya datar.
Jawaban Atreya barusan membuat kening Matthew mengernyit.
__ADS_1
“Kenapa harus sinis seperti itu sih?” pertanyaan Matthew berikutnya membuat kening Atreya berkerut.
“Sinis? Maksudmu?”
“Ya itu, barusan, you are being cynical, Atreya”
“Aku tidak merasa sedang sinis” jawab Atreya, kesal karena tuduhan Matthew sangat tidak beralasan. Entah kenapa dengan dirinya akhir-akhir ini yang terlalu sensitive.
“Heii, kalian sedang apa disini? Mau mencicipi spaghetti buatanku?” seruan Bella yang tengah membawa sepiring spaghetti membuat Matthew dan Atreya sontak menoleh ke arah gadis yang baru datang itu.
“Ya, tentu saja. Aku sangat lapar, Bella” sahut Atreya mendekati Bella dan mengabaikan Matthew karena masih kesal.
Detik berikutnya Bella mengajak Atreya duduk dikursi teras. “Ayo, cicipi ini! Tadi Casey bilang spaghetti buatanku ini lebih enak dari pada mamanya.”
Mendengar hal itu sudut mata Atreya langsung mendelik, Apa betul Casey berkata seperti itu? lalu segera ia menyaut garpu dan menggulung spaghetti untuk bersiap dimasukkan kedalam mulutnya. Namun belum sempat spaghetti itu sampai dimulutnya, tiba-tiba saja bau aroma spaghetti itu sungguh menusuk hidungnya, bahkan aromanya malah membuat Atreya menjadi sangat mual.
Terpaksa Atreya menaruh garpu spaghetti itu kembali ke atas piringnya. “Kok baunya gini sih, Bell. Kamu pakai saus pasta apa?” Tanya Atreya seraya menutup hidungnya.
“Seperti biasa, pasta Bolognese” sahut Bella mengerutkan keningnya. “memang baunya beda ya?” Tanya bella sedikit heran. Karena ia merasa baunya sama saja kok, soalnya dia menggunakan saus Bolognese instant yang tersedia disupermarket seperti biasanya.
“Iya, Bell. Ini baunya gak enak banget. Bikin aku mual” ujar Atreya, lalu menelan salivanya dengan susah payah karena aroma spaghetti itu sudah membuat perutnya seperti diaduk-aduk.
“Masa sih? sini biar aku cobain dulu rasanya” Matthew langsung menyambar piring spaghetti dari tangan Bella. lalu melahap mie yang berasal dari Italian itu. “Bau dan rasanya standart kok, gak ada yang aneh menurutku.” Ujarnya dengan mulut yang masih penuh.
“Tuh kan, gak ada yang berbeda dari makanan ini” sahut Bella meyakinkan kembali Atreya.
Atreya menghembuskan nafasnya, “aneh” gumam perempuan itu merasa heran.
.
.
.
__ADS_1