Lovely Atreya

Lovely Atreya
Kata hati Bella


__ADS_3

Atreya pun akhirnya tertidur lagi setelah Dokter Marissa datang untuk menenangkan kondisi psikis Atreya yang masih belum stabil. Sang dokter terus meyakinkan perempuan hamil itu untuk tetap optimis, apalagi ditengah kondisinya yang tengah mengandung.


 


Satria, Bella dan Lily, mereka menunggu bersama di ruang tunggu pasien yang masih berada di dalam ruangan yang sama tempat Atreya dirawat. Duduk di sofa panjang yang terletak disamping ranjang Atreya yang tengah berbaring. Bella duduk ditengah, ibunya, Lily tengah menggandeng lengan Bella dan bersandar dibahunya dengan posisi duduk.


Sementara Satria, ia tetap duduk dengan posisi tegah sambil memandangi Atreya yang tengah tertidur diatas ranjang rumah sakit. Lelaki itu tidak menyangka kalau wanita yang ia cintai setengah mati itu kini sedang tersakiti. Tersakiti dengan kenyataan oleh jalan hidupnya yang selalu menyedihkan. Satria sudah lama merelakan Atreya untuk Matthew asal perempuan itu selalu bahagia, namun kenapa jadi seperti ini??


 


Kamu harus sembuh, Matt!! Kebahagiaan Atreya itu sama kamu bukan dengan ku,  gumamnya dalam hati.


 


“Apa kalian perlu ku belikan minuman hangat?” tanya Bella akhirnya membuyarkan lamunan Satria dan Lily yang terlalu larut dalam kesedihan.


 


Lily langsung duduk tegak dan menatap putrinya itu, “Oh, Bella. Maaf jadi mengacuhkanmu. Kau tau mommy mu ini sangat khawatir sekarang, rasanya pikiran ini terbagi kemana-mana.” ucap Lily gamang.


 


“Aku mengerti, Mom. Tapi kita harus optimis dan yakin. Mudah-mudahan paman William berhasil membujuk Kak Kyle agar mau mendonorkan sumsum tulang untuk Kak Matthew.” Ujar Bella penuh harap.


 


“Iya, sayang. Dan semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.”


 


Setelah mendengar penjelasan dari tim dokter yang menangani Matthew untuk segera melakukan transplantasi sel induk, William bergegas menghubungi Kyle, putra sulungnya yang kini berada di Indonesia, tengah mengurus perusahaan yang dulu dipegang Matthew sebelumnya. Namun entah mengapa Kyle sulit sekali dihubungi, hingga akhirnya William terpaksa harus terbang ke sana menemui putranya langsung.


 


“Baiklah, aku akan membelikan minuman hangat dulu untuk kalian.” lalu Bella beranjak dari duduknya.


 


“Kalau begitu biar aku saja yang mencarinya, Bell. Kau disini saja.” Ujar Satria begitu terkesiap melihat Bella yang sudah berdiri.


 


“Kau disini saja, aku hanya keluar sebentar kok. Tolong temani mommy dan jaga Kak Atreya sebentar ya!!”  pinta Bella tersenyum seraya buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.


 


Satria mengangguk pelan,“Oke, kamu hati-hati”


 


Bella menanggapinya dengan senyuman lalu segera memalingkan wajahnya segera pergi.


 


*


Bella berjalan cepat menyusuri setiap koridor rumah sakit untuk mencari vending mesin, sebuah mesin pembuat minuman otomatis. Ia terus berjalan cepat, dan sesekali bertanya pada orang yang lewat lalu  lalang.


 


“Maaf, dimana vending mesin untuk minuman hangat?” tanyanya.


 

__ADS_1


“Lurus saja, disebelah sana” jawab seorang perempuan yang sepertinya juga keluarga pasien.


 


Wajah Bella seketika berbinar saat melihat mesin minuman yang dicarinya itu bertengger indah pada salah satu dinding koridor.


 


Ia segera berjalan cepat dan mencari uang koin dalam dompetnya. Senyum Bella seketika memudar saat menyadari seluruh uang tunainya terlihat kosong didalam dompetnya, ia lupa belum mengambilnya dari mesin ATM. “Oh, shit!! jangan kan koin, uang kertas ku juga habis.”


 


Dan inilah yang terjadi, wajah Bella seketika mulai panik. Ia terus merogoh-rogoh isi dalam tasnya, hampir-hampir mengeluarkan semua isi didalamnya. Dan ternyata ponselnya juga tertinggal di Sofa tunggu tadi.


Sial!! Bagaimana aku menghubungi Satria kalau ponsel saja tertinggal disana, umpat Bella.


 


Bella masih penasaran dengan isi tasnya itu, entah kenapa ia begitu yakin akan menemukan uang koin disana. Lalu ia memutuskan untuk mengeluarkan satu per satu barang miliknya yang ada di tas tersebut, lalu menggenggamnya ditangan sebelah kiri. Bella terus mengeluarkan lagi peralatan make up yang tercecer satu-satu dari tasnya untuk mencari koin yang terselip disana.


 


Tangan kirinya sudah mulai penuh tanpa disadari. Bella terus mengeluarkan barang-barangnya hingga tak berselang lama, sebelum semua barangnya jatuh karena tak mampu digenggamnya lagi. Tiba-tiba sepasang tangan berlengan baju putih menangkup tangan kiri Bella dari samping. Barang-barangnya tidak jadi jatuh. Awalnya Bella memang tidak menyadari dan hanya fokus mencari uang didalam tas.


“Eh?” Bella kaget dan mengerjap saat tiba-tiba tangannya disentuh orang lain. Ia memalingkan wajahnya dan,


 


“Kamu sedang mencari apa, Bell?” tanya Steve tersenyum. Lelaki itu memperlihatkan kedua lesung pipinya yang sudah lama Bella tak pernah lagi melihatnya. Lalu ia mengambil setumpukan barang-barang dari tangan Bella dan memeluknya ditangan sebelah kiri.


 


Bella tercekat saat melihat kembali wajah mantan kekasihnya itu dari jarak dekat, namun ia berusaha untuk menguasai diri dan hatinya untuk tidak baper-baperan lagi, pada lelaki yang telah memutuskan hubungan yang sudah lima tahun dibinanya. Tapi apalah daya, Bella tetap saja terpesona oleh sosok dihadapannya. Lelaki itu selalu terlihat charming, dengan jas putih khas milik seorang dokter. Bau streril dari cairan antiseptic bahkan masih melekat erat ditubuhnya. Pada saku dadanya terdapat beberapa pulpen yang diselipkan. Id cardnya menggantung dan sedikit berayun didada sebelah kiri. Stetoskop berwarna hitam yang kontras dengan jasnya dikalungkan dileher. Ia mengenakan kemeja abu-abu. Nampak sekali bahwa dia seorang Dokter Onkologi dengan sejuta charisma.


 


 


“Well, ada yang bisa aku bantu?” Steve lalu melirik ke arah mesin yang sejak tadi digeluti Bella. Walau sebenarnya, Bella hanya menggeluti tasnya saja. “kamu mau minum apa?” tawar Steve.


 


“Hmm. Teh hijau, aku sekalian ingin membelinya untuk Mommy dan temanku. Dan bodohnya aku tidak membawa uang tunai.”


 


Steve lagi-lagi tersenyum saat Bella mengatakan dirinya tidak membawa uang. “Oh, jadi Tante Lily ada disini?” tanyanya kemudian.


 


Bella mengangguk. “Iya, kami masih mengkhawatirkan Kak Matthew dan kondisi Istrinya.”


 


“Kamu yang sabar. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kesembuhan Matthew.” Ujar Steve seraya menepuk pelan bahu Bella dengan tangan kanannya, dan sukses membuat seorang Bella kembali mengatur irama jantung yang tiba-tiba menjadi tak beraturan. “Oya, bagaimana keadaan Atreya? Apa sudah membaik? aku belum sempat menemuinya setelah ia pingsan tadi.”


 


“Ya, sekarang dia sedang beristirahat.”


 


“Ah, syukurlah” Steve menghembuskan nafasnya lega. Setelah itu ia mengeluarkan beberapa koin dan uang kertas dari kantongnya lalu memasukkanya ke dalam vending mesin. Teh hijau panas keluar dari mesin tersebut dengan menggunakan cup sekali pakai dari bahan kertas. Bella dengan sigap mengambil cup berisi the hijau itu, begitu pun satu cup selanjutnya.

__ADS_1


 


“Nanti aku ganti uangnya.”


 


“Hey, tidak usah diganti, itu bukan apa-apa, Bell”


 


Bella mengangguk paham.


 


“Emmhh. Bisa bantu aku pegangkan ini sebentar?” Bella melirik kearah cup yang ada di tangannya.


 


Steve tersenyum dan meraih salah satu cup dari tangan Bella, lalu gadis itu membuka tasnya. Meraih beberapa barang yang tadi dipegang Steve, mengisinya ke dalam tas hanya dengan satu tangan. Setelah tangan Bella terbebas dari barang. Steve segera meraih cup yang satunya lagi dari tangan tangan Bella tanpa diminta. Kolaborasi kerja sama yang baik.


 


“Oke, Dokter Steve. Terima kasih atas bantuannya. Biarkan aku mengambil ini kembali” Bella segera meraih dua cup dari tangan Steve secara tiba-tiba. Steve sedikit terkejut dan mengangkat alisnya


 


“Bye!!” Bella pun pergi dengan tergesa-gesa.


 


“Hey, Tung---“


“Aaah…” Steve menghembuskan napasnya. Kedua tangan Steve bahkan masih mengulur bagai memegang cup minuman yang tadi. Bella sudah pergi sambil sedikit berlari dengan langkah-langkah kecilnya. Steve tertawa gemas melihat punggung Bella dari belakang.


 


*


 


“Mom, ini teh hijaunya.” Ucap Bella mengulurkan minuman ditangannya.


 


“Ah, iya terima kasih ya, sayang” sahut Lily langsung menyaut cup minumnya.


 


“Sat, ini minuman mu” Bella kembali mengulurkan cup yang dipegangnya.


 


Satria menarik napasnya dan menatap Bella. “Minuman mu mana?”


 


“Oh, A…aku---“


 


“Minum saja, itu untukmu. Kamu terlihat capek begitu, abis lari-lari ya?” ucap Satria terdengar datar namun tak bisa menutupi tindakan perhatiannya pada Bella.


Bella pun hanya tersenyum, seraya mengatur napasnya yang sedikit ngos-ngosan karena tadi ia sengaja mempercepat langkahnya. Gadis itu ingin segera menghindar dari lelaki yang sudah membuatnya patah hati bertubi-tubi.

__ADS_1



__ADS_2