
Atreya bergegas menuju kafe yang memang diperuntukkan untuk seluruh pegawai Neotech yang letaknya disebuah sudut dilantai dasar untuk coffee break. Dilengkapi sofa-sofa kecil yang terlihat nyaman untuk sekedar menyandarkan punggung. Lengkap dengan etalase panjang berisi Croissant, Tiramisu, Cheesecake slice dan entah kue apalagi yang dipajang didalamnya. Semuanya tampak menggoda buat Atreya. Sepertinya perempuan itu memang perlu duduk bersantai sejenak disana setelah peristiwa yang cukup menguras pikirannya tadi, dengan segelas es kopi dan pastry croissant yang hangat.
Dan saat dia tengah memilih menu, sebuah suara yang dikenalnya dengan baik sampai ditelinganya. Cathy McLeen!!
“Saya tidak mau tau, pokoknya gaun itu harus selesai esok lusa!! Kau mengerti?”
Benar sekali, itu suara Cathy. Atreya memindai seluruh ruangan kafe yang tidak seberapa luas, dan dilihatnya Cathy sedang duduk disofa dekat jendela sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Terlihat sekali wajahnya yang ditekuk seperti sedang kesal.
“Tolong ya, jangan buat pelanggan anda kecewa!!” ucap Cathy lalu melempar ponselnya sembarangan ke atas meja yang disitu sudah terdapat cangkir kopi dan piring kue yang sudah kosong.
Setelah memesan kopi dan Croissant, Atreya bergegas menghampiri meja Cathy. Perempuan itu nampak kaget melihat Atreya yang berjalan mendekati mejanya.
“Atreya!” ucap Cathy tercekat, tidak menyangka bisa melihat Atreya disini.
“Hi, Cathy. Apa kabar?” sapa Atreya. “Kamu baik-baik aja kan? Kelihatannya kamu sedang kesal, ada masalah?” tanya Atreya berasa kepo.
“Ya, aku benar-benar sangat kesal, Rea. Coba kau bayangkan saja, aku memesan gaun pernikahanku sudah satu bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang butik itu bilang gaunnya belum siap, padahal satu minggu lagi akan dipakai. Bagaimana aku tidak kesal!!”
“Astaga!! Jadi kamu akan menikah minggu depan, Cathy?” bola mata Atreya terbelalak. Atreya benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Memangnya Matthew belum memberikan wedding invitation-nya padamu?” Cathy memicingkan sebelah alisnya.
“Tidak ada” sahut Atreya polos.
“What the hell!!” umpat Cathy seraya menepuk dahinya sendiri. “Sesibuk itu kah dia sampai melupakan wedding invitation ku untuk diberikan kepadamu?” ujarnya lagi mengibaskan tangannya.
Bagaimana mungkin Matthew bisa lupa untuk menyerahkan undangan pernikahannya dengan Steve kepada Atreya. Dan entah mengapa akhir-akhir ini Matthew seringkali melupakan banyak hal. Contohnya hari ini, dia melupakan dokumen yang dianggapnya penting. Atreya tau, Matthew orang yang sangat teliti dan well prepared, tidak mungkin melupakan dokumen penting dirumah seperti hari ini. Ada apa dengan Matthew? Apa obat-obatan itu mempengaruhi kecerdasan dan ketelitian seorang Matthew Clark Polan?
*****
Malam itu seusai makan malam Casey meminta Atreya untuk menemaninya tidur kamar. Anak itu memang tidak bisa tidur larut. Dan entah mengapa malam ini Casey terlihat sangat manja hingga ingin tidur ditemani oleh sang Mama.
“Ma, ceritakan dongeng untukku!!” pinta Casey yang sudah berbaring diatas tempat tidurnya, sementara Atreya duduk bersandar disandaran tempat tidur anaknya tersebut disebelah kanan.
“Dongeng apa? Si kancil dan buaya?” tanya Atreya.
__ADS_1
“Aku sudah tau dongeng itu dari Om Satria dulu, Ma. Yang lain dong!”
“Si gajah yang baik hati?”
“Haissh!! Aku sudah mendengarnya dari tante Kinara” sahut Casey merengut.
“Bagaimana kalau Fantastic Mr. Fox?” tanya Atreya lagi, dan berharap kali ini Casey setuju, mengingat tidak banyak dongeng yang Atreya hafal.
“Mama gimana sih? aku sudah hafal cerita itu diluar kepala. Keluarga si rubah yang tinggal dalam satu lubang besar dan setiap hari kerjaannya hanya mencuri hewan ternak dari petani yang menyebalkan itu kan?” ujar Casey seraya mengerucutkan bibir mungilnya. “Mama sudah sepuluh kali mendongeng kisah itu padaku setiap malam.”
“Seriously? Kamu menghitungnya, Cas?” Atreya tak tahan lagi untuk menahan tawanya. Bocah itu benar-benar membuat perempuan itu merasa gemas hingga mengacak-ngacak rambut Casey yang lurus itu menjadi berantakan.
“Stopped, Ma!!” pekik Casey berusaha menghindari tangan Atreya dari kepalanya.
“Hey, ada apa ini?” tiba-tiba Matthew datang, lalu duduk ditepian tempat tidur Casey disamping sebelah kiri. “kenapa kamu belum tidur, Cas?” tanya sang Daddy.
Casey tidak menjawab, bocah nampak merengut kesal seraya menundukan wajahnya.
“Dia minta diceritakan sebuah dongeng. Aku tawarkan beberapa dongeng yang aku hafal ternyata dia sudah mengetahuinya” ujar Atreya berusaha menjelaskan pada Matthew. Lelaki itu pun tersenyum lalu menatap Casey yang masih terlihat ngambek itu.
Casey mendongak menatap Matthew, bocah itu terlihat penasaran dengan cerita yang barusan Matthew ucapkan. “Aku belum mendengarnya, Dad. Bisakah kamu mendongengkannya untukku?” pinta Casey sangat berantusias.
Atreya menyunggingkan senyuman, ia merasa terselamatkan oleh Matthew. Ah, Akhirnya ada cerita baru juga untuk anak ini, batinnya bergumam.
“Oke, waktu kecil dulu Daddy juga sering dibacakan dongeng ini oleh kakek William, tapi tidak pernah membuat ku merasa bosan mendengarnya. Cerita ini berjudul, Where the wild things are.” Matthew menghembuskan nafasnya sejenak sebelum memulai dongengnya. “Pada suatu hari, Bocah laki-laki bernama Max itu dihukum oleh ibunya karena nakal, lalu Max menciptakan dunia sendiri di kamarnya. Dengan imajinasinya, ia mulai menumbuhkan hutan dan bahkan membuat lautan. Bocah itu mengembara, lalu ......."
Casey begitu terkesima dengan dongeng yang diceritakan oleh Matthew. Bocah itu menyimak dengan baik sampai cerita itu selesai dan dinyatakan tamat.
“Well, sekarang waktunya kamu tidur ya, sayang.” Ucap Atreya seraya menaikkan selimut sampai ke leher Casey. Bocah itu pun mengangguk tenang.
“Good night, Ma, Dad!!” lirih Casey.
“Good night, Casey” sahut Atreya dan Matthew bersamaan.
Lalu Atreya pun mematikan lampu utama kamar Casey dan menggantinya dengan lampu tidur yang pencahayaan begitu temaram, setelah itu keduanya pun pergi dari kamar anaknya tersebut.
__ADS_1
*
Kini Atreya dan Matthew sudah berada didalam kamarnya. Mereka tengah berbicang santai diatas tempat tidur karena keduanya memang belum mengantuk.
“Jadi minggu depan Cathy dan Steve akan melangsungkan pernikahan?”
“Astaga!! Untung kamu mengingatkannya, Rea. Karena aku hampir saja melupakan pernikahan mereka, bahkan undangan dari Cathy untukmu saja masih ada diruangan kerjaku” ujar Matthew seraya menepuk dahinya sendiri.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Untungnya tadi di kafe aku sempat bertemu dengan Cathy” sahut Atreya tidak mau memperpanjang lagi. “Oya, bagaimana dengan kerjasamanya dengan sahabat kecil mu itu? Siapa, Tuan O’Brein?”
“Ya, kami sudah sepakat untuk bekerja sama. Aku menanam modal di perusahaannya yang baru berdiri di Berlin. Begitu juga sebaliknya, Andrew akan membantu memuluskan kontrak kerjasama Neotech dengan GA Company yang berada di London.”
“GA Company? Rasanya aku pernah mendengar perusahaan itu” Atreya mengernyit, ia berusaha mengingat nama perusahaan yang terdengar sangat tidak asing lagi ditelinga Atreya.
“GA Company itu milik Ayah Andrew yang bernama Tuan Louise O’Brein. Paman Louise berasal dari Irlandia, ia menikah dengan ibunya Andrew yang berasal dari Jerman. Setauku mereka sudah lama menetap di London dan meneruskan perusahaan GA Company peninggalan dari ayahnya paman Louise” jelas Matthew berusaha menjelaskan asal usul tentang sahabat kecilnya itu.
Tapi entah kenapa nama GA Company seakan sangat familiar ditelinga Atreya sejak lama. Namun perempuan itu tak mampu mengingatnya, mungkin kapan-kapan ia perlu menanyakannya pada sang kakak. Atreya yakin pasti Aaron mengenal nama perusahaan tersebut.
"Ada yang mengganggu pikiran mu?" tanya Matthew membuyarkan semuanya.
"Heh? tidak ada."
"Kalau begitu ayo kita tidur! ini sudah larut, sayang."
Atreya mengangguk, lalu mengikuti suaminya yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu. Seperti biasa, Matthew menarik tubuh Atreya ke dalam pelukannya hingga keduanya pun akhirnya terlelap.
.
.
.
Terimakasih sudah mengikuti alur novel LOVELY ATREYA sampai di episode ini 😉
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya!! 😘😘
__ADS_1