
Kantor pusat NEOTECH Company, Berlin.
Pukul sepuluh, semua karyawan NEOTECH sudah memasuki ruang rapat. Suasana tegang menghampiri ruangan yang cukup besar itu. Banyak direksi yang memprediksi bahwa CEO yang baru ini akan membawa NEOTECH menjadi lebih besar lagi. Siapa yang tidak kenal Matthew, Putra kedua dari William Polan ini memang jauh lebih kompeten dan unggul daripada putra pertamanya.
Semua pegawai NEOTECH diruangan itu tengah saling berbisik dan membicarakan calon yang bakal menjadi CEO baru tersebut. Kecuali Satria, lelaki itu sepertinya tidak tertarik sama sekali. dia lebih memilih mengotak-atik ponselnya dan berselancar dengan dunianya sendiri. Bagi Satria, ini kali kedua sebagai bawahan, dan Matthew kini kembali menjadi atasannya ditempat ia bekerja. bahkan posisinya jauh lebih tinggi dari statusnya terdahulu yang hanya pimpinan kantor cabang. Memang sungguh ironis.
Tak lama kemudian suasana menjadi hening saat CEO lama dan Calon CEO baru memasuki ruangan. Diikuti dengan asisten William maupun sekertarisnya masing-masing. disana juga terlihat Bella yang notabene sebagai sekertaris sekaligus keponakan CEO lama tengah berdiri disamping William. Suasana menjadi sangat canggung, membuat semua pegawai disana menjadi diam seribu bahasa dengan tatapan penuh selidik dan kagum. Satria pun terpaksa mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang sudah tidak asing lagi dihadapannya, bahkan dulu pernah terbersit dalam benak lelaki itu untuk melenyapkannya. Untungnya hal itu tidak ia lakukan karena itu hanya akan sia-sia. membayangkan mendekam dipenjara saja sudah membuat nyalinya menciut.
Akhirnya waktu rapat pun dimulai. disini CEO lama, William Polan mengumumkan bahwa penerus dari NEOTECH Company akan diserahkan oleh Matthew Clark Polan yang merupakan anak keduanya. William merasa sudah waktunya dia pensiun, istirahat dan menyerahkan semua tanggung jawabnya pada Matthew. Rapat pun berjalan dengan lancar, banyak sesi tanya jawab yang diajukan dirapat tersebut. berbeda dengan Satria yang memilih diam membeku dan hanya menyimak semua pembicaraan dalam rapat tersebut.
Matthew sekilas memandang Satria. dia bisa menangkap tatapan Satria yang datar dan kurang berantusias dengan acara ini. "Ada yang ingin anda sampaikan, Tuan Satria?" tanya Matthew tiba-tiba ditengah-tengah rapatnya, dan sukses membuat semuanya menjadi mengarah ke arah lelaki yang masih bergeming ditempat duduknya itu.
"hah?" Satria kaget dan terlihat sangat kikuk. "Tidak, Tuan Matthew. Sudah cukup jelas semuanya bagiku." sahut Satria kemudian.
"Baiklah, aku tau kau cerdas. dan aku harap kau juga sudah siap menjadi asisten ku mulai hari ini." ujar Matthew cukup tegas.
Bola Mata Satria seketika terbelalak. Asisten Matthew?? ingin sekali Satria menolaknya mentah-mentah. tapi dia cukup tau diri siapa yang berkuasa disini. Gaji asisten CEO NEOTECH pastilah lebih besar jadi jabatannya dia sekarang, tapi bukan itu yang Satria cari. dia hanya ingin kenyamanan hati. Lelaki itu sudah bersusah payah untuk legowo, dan rongga yang menganga lebar didalam hatinya perlahan-lahan tertutup oleh seiring berjalannya waktu. tapi apa jadinya bila Matthew menunjuk Satria untuk menjadi asistennya?? Dia pun harus siap-siap kembali membuka luka lama dan membiarkan rongga hatinya menganga lagi.
Rapat pun selesai, berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan. kini tinggalah acara penyambutan CEO baru secara resmi yang digelar di Aula kantor. Acara yang sangat ditunggu-tunggu dan disukai oleh seluruh pegawai karena akan ada pesta dan makan-makan, serta banyak aneka minuman tentunya.
*****
Di pesta penyambutan itu, Atreya dan Casey datang. Matthew memang meminta istri dan anaknya itu untuk hadir agar dia bisa mengenalkannya pada seluruh pegawai Neotech juga relasi-relasinya. Dan nampak disana juga ada Cathy, Atreya sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan perempuan cantik itu.
"Hi, Cathy" Sapa Atreya tersenyum bahagia.
"Hi Atreya, senang akhirnya bisa bertemu lagi." ujar Cathy. dia menatap atreya dari ujung rambut hingga bawah kakinya. mendekapkan kedua tangannya didepan dada seolah Atreya adalah putrinya sendiri yang telah membuat Cathy bangga. Atreya sempat merasa salah tingkah ditatap Cathy seperti itu.
"kau datang bersama Steve?" tanya Atreya mengalihkan pembicaraannya.
__ADS_1
Cathy mengibaskan tangannya. "tidak. Steve sedang ada praktek di rumahsakit." sahut Cathy terlihat cemberut. "oiya, dia juga titip salam untuk kalian."
Atreya dan Matthew hanya membalasnya dengan senyuman.
"aku haus, Ma." ucap Cesey seraya menarik-narik ujung gaun Atreya.
"Hey, siapa bocah tampan ini?" Cathy langsung menatap gemas Casey. "apa ini anakmu, Matt?" lirik Cathy pada Matthew yang berdiri dihadapannya.
"tau darimana dia anakku?" Matthew malah balik bertanya.
"tanpa kau mengatakannya, semua orang sudah bisa mengiranya." Cathy terkekeh. "wajah kalian begitu mirip. seperti sedang bercermin saja." ujarnya lagi seraya bergantian menatap Matthew dan Casey.
"Ayo, Ma!!" ajak Casey lagi seraya menunjuk ke salah satu stand minuman dipojok ruangan.
Akhirnya Atreya menuruti keinginan anaknya tersebut. "Matt, aku kesana dulu ya." ucap perempuan itu pamit.
Matthew pun mengangguk setelah mengecup kening Atreya dan membiarkannya pergi bersama Casey.
Atreya hendak mengambilkan orange jus untuk Casey, tapi tiba-tiba tangannya menyentuh lengan seseorang yang sama-sama hendak mengambil minuman yang sama.
"ah, maaf." ucap Atreya tanpa memandang ke arah wajahnya.
"Rea?"
Atreya sangat kenal dengan suara itu. dengan ragu-ragu dia mendongak ke atas untuk memastikannya.
"hei, Sat. apa kabar?" sapa Atreya dengan tatapan canggung berusaha menyapanya.
"baik." sahut Satria tersenyum lirih.
__ADS_1
"Om Sat ada disini juga?", pekik Casey membuyarkan rasa canggung dikeduanya.
Satria langsung membungkuk agar sejajar dengan bocah yang sedari tadi berdiri dibawahnya tanpa dia sadari. "iya dong, aku kan kerja disini juga." jawab Satria lalu mengacak-acak rambut jatuh Casey seperti biasanya.
"Tau gak Om? sekarang aku sudah pandai berenang lho." aku Casey dengan bangganya.
"Oya? aku gak percaya. memangnya siapa yang ngajarin?" Satria mendelik berpura-pura meremehkan sang bocah.
"Daddy dong. aku hampir tiap hari belajar berenang bersama Daddy. Daddy ku ternyata jago berenang seperti Om. kapan-kapan kalian harus bertanding ya, Om Sat pasti yang kalah." ujar Casey penuh semangat.
Dengan susah payah Satria menelan salivanya. tenggorokannya seakan tercekat saat Casey mulai membandingkan dirinya dengan Matthew. "Iya, aku memang sudah kalah dari Daddy mu itu untuk segala hal, casey." Lirih Matthew dalam hati.
"Casey, kamu tidak boleh berkata seperti itu sayang!!", Tegur Atreya merasa tidak enak hati pada Satria.
"tidak apa-apa kok. apa yang dikatakan Casey memang benar adanya.Aku selalu kalah darinya." sahut Satria berusaha tetap tersenyum dan bersikap baik-baik saja.
Atreya sesaat terdiam. berusaha mencerna ucapan Satria barusan. Sungguh, ia benci dengan situasi seperti ini. Atreya merasa dirinya telah menghancurkan hati seseorang sampai berkeping-keping. dan pantaskan dirinya untuk dimaafkan? Perempuan itu hanya bisa berharap Satria segera menemukan gadis yang akan menyembuhkan luka terdalamnya.
"Oke, kalau begitu kami permisi. Saya harus mendampingi Matthew." ujar Atreya lalu menggiring Casey untuk pergi dari sana. tak lupa seraya membawakan segelas orange jus yang tadi diambilnya.
Satria begitu terkesiap. Ucapan Atreya barusan seolah menampar wajahnya dengan keras. Membuka kedua matanya pada realita yang harus ia jalani. Atreya sudah memilih Matthew untuk menjadi pendamping hidupnya. Lelaki itu tersenyum miris, matanya memerah menahan amarah yang tak pernah bisa ia keluarkan.
.
.
.
Jangan lupa beri dukungan selalu buat Author ya, dengan klik Like, Coment, dan Vote tentunya.
__ADS_1
terima kasih.