Lovely Atreya

Lovely Atreya
tentang satria bella 2


__ADS_3

Taman rumah sakit yang sudah sepi malam itu, beriringan dengan awan hitam yang menyelimuti langit kota Berlin. Seorang gadis duduk seorang diri diatas kursi taman bercat putih. Pada jari manisnya, tersemat sebuah cincin berlian, pemberian lelaki yang katanya akan menjanjikan masa depan bahagia hanya untuknya. Maka gadis itu bahagia luar biasa. Meskipun belum ada lamaran secara resmi yang mempertemukan kedua keluarga masing-masing.


Setengah jam telah berlalu, namun gadis itu masih setia menunggu. Barangkali sang kekasih tengah sibuk dengan Pasien yang terus berdatangan diruang prakteknya. Gadis itu tidak mau mengganggu pekerjaan mulia sang kekasih yang ingin mengobati dan menyembuhkan banyak orang.


Seulas senyum tercipta di bibir tipisnya kala mengingat bagaimana pertemuan pertama mereka berlangsung. Kala itu salju turun, gadis itu baru saja keluar dari kampusnya dan menunggu ibunya menjemput. Namun sang ibu


malah memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menjemput dirinya karena ada kepentingan mendadak. Tiba-tiba berhenti tepat dihadapannya. Lelaki berpakaian rapi yang mengendarai mobil itu memberinya tumpangan karena cuaca sangat dingin saat itu. Maka mereka memiliki obrolan singkat mengenai profesi mereka yang sebagai mahasiswa dan sebagai dokter. Hingga dari sanalah akhirnya mereka dekat, lalu mengenal satu sama lainnya.


Selang lima belas menit kemudian, sosok laki-laki bertubuh tinggi yang masih mengenakan pakaian medis berjalan mendekatinya. Wajah tampannya terlihat kelelahan akibat jam prakteknya di rumah sakit. Gadis itu sontak berdiri, memberikan pelukan hangat untuk meringankan sedikit beban yang tengah ditanggung oleh sang kekasih.


“maaf lama. Tadi banyak pasien.” Ucap lelaki itu dengan lembut.


“gak apa-apa, Steve. Aku belum lama kok.” Jawab gadis itu.


Gadis itu lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah paper bag berisi kotak makanan kesukaan sang kekasih. " Oya, tadi aku membuat Apfelstrudel khusus untukmu." ujar sang gadis sangat berantusias lalu memberikannya pada kekasihnya itu.


Jika biasanya lelaki itu akan tersenyum bahagia kala melihat jenis makanan favoritnya tersebut, maka malam itu tidak ada sedikitpun senyum yang tercipta diwajah tampannya.


“kenapa Steve, ada masalah?” tanya sang gadis menyadari sikap berbeda dari kekasihnya.


Lelaki itu terdiam, ada beban berat yang menikam dadanya. Selama lima tahun bersama, untuk kali pertama lelaki bernama Steve itu tidak bisa tersenyum kala menatap wajah cantik Bella, kekasihnya.


Steve meletakan kotak makanan berisi Apfelstrudelnya itu diatas kursi, ditatapnya wajah sang kekasih lekat-lekat.


“Maaf, Bella.”


Hanya kata itu yang dapat keluar dari bibir tipisnya. Menyisakan ribuan Tanya bagi Bella yang kini tengah menatap jari manis Steve yang telah kosong. Cincin pasangannya itu menghilang entah kemana.


“cincin kamu kemana, Steve?” Tanya Bella seraya mengusap tangan kekasihnya dengan lembut.


“Sorry, Bell. Mungkin hubungan kita harus berakhir disini.”

__ADS_1


Tubuh Bella seketika itu menegang, seperti ada sengatan dalam tubuhnya. Gadis itu ingin sekali menyangkalnya. Berfikiran positif bahwa sang kekasih hanya bergurau. Namun sedetik kemudian dia sadar, bahwa Steve jarang sekali bergurau, bahkan suara tawanya kadang terdengar kaku. Dia adalah laki-laki paling tidak lucu di dunia, yang baru saja memutuskan hubungan yang telah mereka jalin selama lima tahun belakangan.


“Bell, ini diluar kendaliku. Aku tidak mungkin menentang mereka.”


Ada yang tergores, hingga terasa perih luar biasa. Selama lima tahun bersama, pada akhirnya hubungan itu harus kandas karena perjodohan kedua orangtua Steve.


“Sorry, aku gak bisa memperjuangkan hubungan kita lebih jauh lagi. Kamu perempuan yang baik, Bell. Aku yakin kamu bisa menemukan kebahagian yang lebih pantas dari laki-laki baik diluar sana.”


Bella tidak menginginkan lelaki baik diluar sana, gadis itu hanya ingin lelaki yang kini duduk disampingnya dengan tatapan penuh Tanya. Mengapa mereka tidak bisa memperjuangkan hubungan itu sedikit lebih jauh? Mengapa Steve memilih untuk menyerah ditengah jalan setelah berbagai hal yang mereka lalui bersama? Bukankah katanya selalu ada jalan untuk mereka yang saling mencintai?


“kenapa steve? Aku yakin kita bisa lalui bersama, tolong jangan menyerah.” Ucap Bella setengah memohon. Dan entah mengapa terdengar seperti perempuan putus asa yang mengemis cinta. “apa jangan-jangan kamu memang


menyukai perempuan pilihan orangtua mu itu?” Tanya Bella berucap lirih.


“aku tidak tau, Bella. Tapi aku tau ini berat, tapi demi kebaikan kita bersama, kita harus terima keputusan ini.” Ujar Steve.


“keputusan? Ini keputusan sepihak, stev. Kamu yang selalu bilang kalau suatu hari nanti pasti kita bisa bersama asalkan mau bersabar dan selama lima tahun aku selalu bersabar. Berapapun waktu yang kamu butuhkan aku


“tapi sampai kapanpun aku tidak bisa menikahi seorang perempuan tanpa restu mereka. Tolong mengerti, aku anak tunggal dari kedua orangtuaku.”


“aku  juga anak tunggal, Stev. Meski kedua orangtuaku sudah berpisah.” Ujar Bella menahan tangisnya. “jadi lima tahun ini gak ada artinya?”


“sorry, Bell. Selama ini aku berusaha semampuku buat menyakinkan mereka, mungkin sekarang batas akhirnya.”


Mendengar hal itu Bella tiba-tiba beringsut, harapan untuk hidup bersama dengan bahagia itu pada akhirnya sia-sia. Dan gadis itu akhirnya tidak dapat lagi membendung air matanya. Dia sadar bahwa detik ini, ia telah kehilangan laki-laki yang dicintainya. Berbagai kenangan akan waktu-waktu yang mereka habiskan bersama kini berputar dalam kepalanya, seolah ingin menggandakan rasa sakit yang menghujani dadanya.


Steve hanya bisa menundukan kepalanya. Dia merasa gagal sebagai seorang laki-laki yang tidak dapat melindungi gadis yang ia cintai. Tak ada kalimat yang pantas keluar dari mulutnya, kecuali permintaan maaf. Janji-janji palsu yang selama bertahun-tahun ia keluarkan pada akhirnya menguar bersamaan dengan ikatan yang telah terputus. Cincin dijari manisnya telah lama ia lepas beberapa minggu lalu tanpa Bella sadari, kala keputusan itu telah bulat ia ambil untuk lebih memilih Cathy daripada Bella.


“Maafkan aku, Bella.”


Sakit rasanya mendengar suara tangis dari gadis yang selama ini selalu berusaha untuk dia jaga agar selalu tertawa. Sayangnya, seperti yang orang-orang katakana, saling mencintai saja tidak cukup untuk mengantarkan dua manusia dalam ikatan pernikahan dan kehidupan yang bahagia.

__ADS_1


Steve lalu memutuskan untuk pergi. Lelaki itu bergegas bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin menunjukkan sisi terlemahnya pada Bella karena telah memutuskan ikatan diantara mereka.


“goodbye, Bella. I’am sorry.” Ujarnya lalu melangkah cepat dan kembali ke gedung rumah sakit tempatnya dia mengabdi disana.


Ditempat lain, Satria dari tadi menyimak dan menyaksikan semuanya dari kejauhan. Dia bersebunyi dibalik pepohonan yang cukup rindang hanya untuk mendengar percakapan antara Bella dan kekasihnya itu selama ini. Sampai-sampai lelaki itu tidak menyadari ada kawanan semut yang tengan berkerumun dibawah kakinya.


“Aww…aduuh…” pekik Satria seraya menepuk-nepuk kakinya dengan kedua tangannya.


“Hey siapa disana?” Bella terkesiap mendengar suara itu lalu segera berdiri dari duduknya. Dengan cepat ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipi dengan punggung tangannya.


Satria tidak menghiraukan reaksi Bella. Dia masih sibuk mengusir kawanan semut yang sudah terlanjur masuk kedalam celana jeansnya.


“Kau?” Bella cukup terkejut saat melihat Satria tengah sibuk sendiri. “kenapa bisa disini? Kamu mengikutiku?”


“Sial!! Jadi ketauan kan.” Umpat Satria masih mengibas-ngibaskan kakinya agar semut itu terjatuh.


“Oh, bagus. Ternyata style kamu itu seorang penguntit ya.” Ujar Bella sinis.


“enak saja. Aku hanya tidak sengaja bertemu denganmu disini.” Sahut Satria berusaha beralibi.


“Oya? Benarkah yang kau katakan itu, Tuan Satria?”, Tanya Bella seraya menautkan kedua alisnya.


Satria jadi kikuk harus menjawab apa. Dia pun akhirnya mengakui kebenarannya. Bahwa dirinya hanya ingin memastikan Bella baik-baik saja sampai dirumahnya. Namun ternyata gadis itu tidak langsung pulang, malah


turun disebuah taman. Dan lelaki itu mau tidak mau harus mengikuti sampai akhirnya harus menyaksikan adegan putus cinta seperti tadi. Entah kenapa Satria bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Bella saat ini. Mungkin kisah pahitnya hampir serupa dengan apa yang tengah ia alami.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2