Lovely Atreya

Lovely Atreya
kembali melihatnya


__ADS_3

Matthew sedang mengemudikan mobilnya menuju ke kantor ketika tatapannya tidak sengaja melihat wajah yang amat familiar. Tepatnya saat lampu merah dipersimpangan memberhentikan setiap kendaraan yang hendak melintas. Sebuah taksi biru berlogo burung dengan kaca tembus pandang berhenti tepat disebelah mobilnya. Matthew mengalihkan tatapan, mengusir halusinasi. Efek selalu memikirkan wanita yang sudah beberapa tahun ini selalu ada dalam fikirannya.


Atreya, panggil matthew direlung hatinya. Nama yang sangat unik dan sangat sesuai dengan fisiknya yang juga sangat luar biasa. Matthew bisa ngilu hanya dengan mengingat rasa yang pernah mereka bagi berdua saat itu. Saat pusatnya menghujam lembut milik sang wanita, Saat bibir tipisnya itu meneriakkan racauan tidak jelas memanggil nama kekasihnya, dan tatapan mata sayunya setelah berkali- kali mereka melakukan pelepasan.


Ia berfikir dirinya sangat beruntung. Bisa menghabiskan satu malam panjang walaupun dengan akhir yang memilukan karena sang wanita yang pergi begitu saja tanpa jejak. Wanita yang menarik perhatiannya, wanita yg membuat netranya betah, menjadi wanita pertama yang memperkenalkan rasa candunya yang perdana.


Mata matthew terkesima. Lagi lagi perempuan di taksi menarik perhatiannya saat dilampu merah tersebut. Begitu mirip Atreya, tapi rasanya itu tidak mungkin meski hatinya terus meyakinkan bahwa itu kenyataan.


Di momem singkat yang mencanggungkan, wanita itu sadar sedang diperhatikan. Sejenak netra berlainan warna itu saling bertatapan. Matthew merasa ulu hatinya ditusuk sembilu. Ya benar, Dia wanita yg memenuhi kepalanya selama bertahun-tahun ini. Namun wanita itu hanya menatapnya sekilas dan berlalu. Tanpa benar-benar menyadari bahwa dia adalah lelaki yang merampas kesuciannya.


Lampu lalu lintas pun berubah hijau. Taksi yg membawa wanita itu kini melaju pelan. Tapi semakin lama roda taksi itu berputar cepat, semakin jauh dan hilang dalam jangkauan netranya.


Tiiddd...tiiddd!!


Suara klakson saling bersahutan membuat Matthew tersentak dalam lamunannya. Reflek menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Matthew memutuskan halusinasinya sendiri, dan meyakinkan dirinya bahwa yang barusan dilihatnya itu hanyalah sebuah ilusi semata.


*****


Siang itu setelah jam istirahat Matthew dan Satria pergi ke kantor O'Neill Company untuk menemui pemiliknya. seorang sekretaris mengantar keduanya menuju ruangan CEO.


Aaron menyambut hangat kedatangan teman lamanya. Namun ia cukup terkejut saat Satria ikut bersamana juga. Hubungan Aaron dan Satria memang agak sedikit merenggang sejak mantan calon adik iparnya itu memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahannya dengan sang adik. Namun Satria tetap berusaha memperbaiki dan menjalin hubungan baik dengan Aaron dan Kinara meski sering mendapatkan tanggapan kurang menyenangkan.


"Kak Aaron" sapa Satria seraya mengulurkan tangannya. namun Aaron tak menyambut uluran tangan Satria dan lebih memilih mengabaikannya. Matthew yang melihat sikap dingin Aaron jadi mengernyit heran.


"Ini Satria, dia programmer senior dikantor ku" ucap Matthew memecah suasana.


" Oya?" sahut Aaron melirik sinis pada Satria.


Tanpa banyak basa-basi lebih lama akhirnya mereka langsung membicarakan inti dari tujuan utama kedatangannya ke kantor tersebut.


"Oke, Aaron. Kalau begitu aku pamit dulu. Nanti akan aku kabari bila semuanya sudah beres." ucap Matthew mengakhiri pertemuannya.


"Tunggu, Matt !! rasanya baru sebentar kita mengobrol. Bagaimana kalau besok malam aku mengundang mu untuk makan malam dirumah ? sekalian akan aku kenalkan pada istri dan anak-anakku."


"What? kau sudah menikah dan punya anak?" kedua mata Matthew terbelalak tak percaya.


"Aku sudah punya seorang putra dan seorang putri" sahut Aaron.


"Woww... hebat."


"Apanya yang hebat. Kau sendiri bagaimana?"


"Aku?" Matthew terkekeh. "masih single."


"Tapi kekasih pasti ada kan?" ledek Aaron tertawa kecil.


"Entahlah. Hubungan ku rumit" jawabnya kembali terkekeh geli.


Satria yang masih berada disitu pun hanya diam dan cukup menjadi pendengar saja.


Tiba-tiba ponsel Aaron bergetar diatas meja kerjanya. Lalu meminta ijin sebentar untuk mengangkat panggilan telepon seluler nya.


"Ada apa Rea?"

__ADS_1


"..................."


"Oh, oke. tapi bisa kau handle sendiri kan?"


".................."


"No problem."


Aaron pun langsung mengakhiri panggilannya dengan sang adik.


"Oke, Matt. Sepertinya aku juga harus buru-buru karena ada kepentingan mendesak."


Mereka pun akhirnya sama-sama keluar dari ruangan tersebut. Hendak masuk ke dalam lift untuk turun kelantai dasar namun suara benturan heels dengan lantai marmer terdengar memburu seolah mengejarnya.


"Pak. Aaron!!" teriak Noami, Sang sekertarisnya itu menyusul langkah Aaron bersama Matthew dan Satria dengan nafas sedikit ngos-ngosan.


"Bapak sudah ditunggu diruang rapat" ucap Naomi yang membuat Aaron mengernyit lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Shitt !! kenapa aku melupakannya? bagaimana ini?" Aaron malah menjadi panik sendiri. lalu sorot matanya tertuju pada Satria yang tengah mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Ada apa?" tanya Matthew curiga dengan gelagat teman kuliahnya itu. hingga membuat pandangan Satria pun beralih pada Aaron.


"keponakanku sudah menunggu ku ditempat les privat nya."


Yang ada dipikiran Satria langsung tertuju pada Casey. Siapa lagi keponakan Aaron selain Casey, anaknya Atreya.


"Casey, kak ?" tanya Satria.


"Iya sat. Rea sekarang sedang ada pertemuan dengan beberapa klien dihotel. Tidak ada yang bisa menjemput Casey ditempat les Renangnya." ungkap Aaron akhirnya membutuhkan bantuan pria yang gagal menjadi iparnya itu.


"Biar aku saja yang menjemput Casey" ucap Satria dan sukses membuat Matthew mengerutkan dahinya bingung. Casey?


"Oke, tolong jemput Casey lalu antar dia kerumahku. Mungkin ibunya akan pulang malam, biarkan Casey menginap di rumahku saja daripada dengan bibi dirumahnya."


Satria pun hanya membalasnya dengan anggukkan.


*****


Didepan tempat parkir perusahaan O'Neill company, Satria meminta ijin kepada Matthew untuk menjemput Casey sebelum dirinya kembali ke kantor. ia hendak memesan taksi tapi atasannya itu segera mencegahnya.


"Dimana tempat lesnya?" tanya Matthew.


"Di jalan pemuda, Pak" sahut Satria.


"Itu satu arah dengan kantor. Ayo sekalian saja!"


"Memangnya bapak tidak apa-apa saya ajak dulu jalan-jalan?" tanya Satria ragu.


" it's oke. aku sedang tidak sibuk."


Akhirnya Matthew dan Satria segera meluncur menuju tempat dimana Casey tengah menunggu seseorang menjemputnya.


"Apa Casey yang dimaksud itu anakmu yang tempo hari ditoko kue?"

__ADS_1


Tiba-tiba Matthew melemparkan pertanyaan yang membuat Satria jadi tidak enak hati karena telah membohonginya.


"Iya, Pak. Casey itu sebenarnya bukan anak saya. melainkan anak Rea, adiknya kak Aaron" jawab Satria tersenyum tipis seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan salah satu tangannya.


Matthew yang duduk dikursi penumpang depan pun mengalihkan pandangannya kearah Satria yang masih fokus dibalik kemudinya dengan tatapan tajam dan sulit diartikan.


^^^^^^


"Lho, kok Om Satria sih yang jemput?" protes sang bocah saat melihat Satria turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Casey yang tengah duduk dikursi beton ditemani gurunya.


Satria menyalami sang guru dan meminta maaf karena terlambat menjemput Casey. Gurunya itu memang sudah kenal dengan Satria karena pernah beberapa kali menjemputnya bersama Atreya. Tak lama kemudian pria itu pun berpamitan untuk membawa Casey pulang.


"Mama kemana, Om?"


"Mama masih kerja. jadi Om yang jemput kamu."


"Emangnya Om gak kerja ?" tanya sang bocah.


"Ya kerja lah. Tapi Om sedang tidak sesibuk mama mu. makanya bisa jemput" jawab Satria dan membuat bocah itu mengerti.


"Ayo masuk!!" perintah Satria setelah membukakan pintu penumpang belakang mobil milik Matthew.


"Mobil baru, Om?" tanya Casey dengan jeli.


"Bukan" sahut Satria.


Setelah Casey masuk kedalam mobil dan duduk ditempatnya, Satria langsung berjalan memutar dan masuk kedalam mobil diposisi bagian kemudi.


Casey tidak tau kalau didalam mobil itu ada orang lain selain Om nya yang tengah menunggu.


"Lho, ini kan Om bule yang waktu itu mau tabrak aku?" ucapnya sambil menaikkan telunjuknya ke arah Matthew.


"hai Casey, kita bertemu lagi" sapa Matthew menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Om temannya Om Satria ?"


"Yup, betul."


"jadi Om ini bukan penculik anak ya?"


Bola mata Matthew terbelalak. ternyata bocah itu masih menganggap Matthew salah satu komplotan penculik anak yang berkeliaran dimana-mana.


"Casey!! kamu tidak boleh bicara begitu. Om Matthew ini boss aku dikantor, tau gak?" ucap Satria memposisikan dirinya sebagai kawan sang bocah.


"Ooohh. Berarti kaya Om Aaron dong" jawab bocah menggemaskan itu.


"Iya" ucap Satria akhirnya melajukan Mobilnya membelah jalanan dengan celotehan Casey yang tiada habis-habisnya selama diperjalanan menuju rumah Aaron.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2