
satu Minggu....
dua Minggu....
tiga Minggu....
empat Minggu....
Kehidupan sepasang suami istri itu terlihat baik-baik saja. bahkan baru seminggu ini Matthew membelikan sebuah rumah untuk ditinggali oleh keluarga kecilnya itu. Awalnya William tidak setuju dengan keputusan Matthew yang memboyong cucu dan menantu kesayangannya pindah kerumah baru tersebut. namun William cukup bijak untuk menyikapi keputusan anaknya yang ingin mandiri dan sangat bertanggung jawab itu. toh jarak rumah baru Matthew tidak begitu jauh dengan kediaman William.
*****
Pagi itu,
Satria sudah sebulan menjadi asistennya Matthew. meski awalnya tidak berantusias, namun mau gak mau dia harus mulai menikmati pekerjaannya tersebut. dia mulai mengenal sosok suami dari mantan kekasihnya itu lebih jauh. dan ternyata Matthew orangnya asik-asik aja. jika sedang tidak berada dikantor, Matthew selalu memperlakukan Satria seperti seorang teman.
Hanya lelaki itu terkadang menyebalkan karena selalu membuat Satria menekuk wajahnya cemburu, kala Bosnya selalu menunjukkan sikap romantis bersama sang istri dihadapannya. seolah tak lupa untuk selalu mengingatkan kalau perempuan itu hanya miliknya.
Seperti pagi ini, Satria sudah standby dirumah Matthew setiap pagi. dia datang lebih awal karena rencananya pagi ini akan ada pertemuan dengan klien. dia pun menunggu Matthew dengan duduk santai disofa ruang tengah. sudah sebulan ini Satria mulai terbiasa melihat Atreya sebagai nyonya dari the Bos. dengan susah payah ia menghalau perasaannya dan tetap bekerja secara profesional dengan otak tanpa pakai hati.
"sudah lama, Sat?" tanya Matthew menyapanya. dia baru datang dengan pakaian kerjanya yang belum lengkap. baru mengenakan kemeja dan celana panjang saja.
"tidak, Tuan. baru 15 menit yang lalu" sahut Satria seraya mengubah posisinya menjadi berdiri.
"sekali lagi kau bilang aku tuan, ku hajar ya!!" sahut Matthew melotot ke arahnya.
"oke, sorry Matt." ucap Satria terkekeh.
tak lama kemudian Atreya datang dari arah kamarnya sambil menenteng jas, rompi dan dasi milik Matthew.
"kamu melupakan ini." ucap Atreya lalu meletakkannya dikursi.
Matthew hanya tersenyum melihat istrinya itu seraya mendarat kecupan didahinya. "iya sayang, aku kan belum mau berangkat."
Tiba-tiba ponsel Satria pun berbunyi. lelaki itu merasa terselamatkan karena bisa menghindar dari adegan yang membuatnya sedikit sesak dijiwa. Panggilan telpon dari Bella membuatnya kembali mood booster. Satria segera mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Iya Bel, ada apa?" sapa Satria.
__ADS_1
Tak lama kemudian raut wajah Lelaki itu berubah.
"Apa? Mengeluarkan aplikasi yang mirip? Sebelum aplikasi kita release? Bagaimana bisa? Sudah ada informasi bagaimana ini bisa terjadi? Apa ada kebocoran data? Sungguh? Baiklah aku akan sampaikan pada Matthew. terimakasih untuk informasinya, Bel."
Satria mengakhiri panggilan telponnya.
"Ada apa, Sat?" tatap Matthew serius.
"Telepon dari Bella. Dia dapat informasi dari sekertaris CMO, Katanya produk aplikasi kita diduplikasi oleh kompetitor. " ujar Satria.
"Apa?" bola mata Matthew seketika terbelalak. "Siapkan pertemuan dengan seluruh tim yang berhubungan dengan hal ini! " ucap Matthew dengan nada serius.
"Baik."
Satria segera menelpon seseorang untuk mengurusnya dan dia pun lalu mempersiapkan keperluan yang lain. Lelaki itu sudah paham apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi masalah ini.
"Rea, aku harus segera berangkat sekarang." ucap Matthew pada sang istri yang masih berdiri didekatnya.
"Tapi kamu belum sarapan lho. Aku bawakan bekal saja ya. nanti bisa kamu makan dikantor." ujar Atreya lalu menawarkan solusi.
"Tidak usah. Aku buru-buru. lagipula tadi sudah minum kopi buatanmu"
Lalu dengan sigap perempuan yang sudah mencintai suaminya sepenuh hati itu maju kehadapan Matthew. Mengambil dasi yang diletakkan disamping jas kemudian mengalungkannya ke leher suaminya tersebut, ia mulai memasangkannya dengan serius. Matthew hanya menunduk menatap wajah sang istri dari atas. Selesai memasang dasi, Atreya bergerak mengambil rompi. Reflek Matthew membalikkan tubuhnya, menyambut rompi yang buka sang istri. Begitu juga dengan jas yang sudah disiapkan.
Satria yang melihat adegan itu hanya mampu menelan saliva begitu dalam. dia hanya mampu berandai-andai jika posisi Matthew itu digantikan olehnya. Namun dengan cepat Satria membuang khayalan itu jauh-jauh. Dia pun harus mulai terbiasa dengan hal semacam ini. Semoga rasa yang luar biasa ini akan pudar seiring berjalannya roda kehidupan yang terus berputar.
*****
Matthew duduk dibelakang dan tengah serius dengan ipad di tangannya. Sementara Satria duduk di kursi kemudi. Ia menyetir mobil sambil serius menelpon dengan earphone wireless yang terpasang ditelinganya. Satria menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan rapat Matthew sebelum tiba dikantor.
"Selamat pagi tuan Matthew" sambut para pegawai neotech yang berpakaian rapi didepan pintu gedung kantornya. Matthew hanya mengangguk tanpa melempar sedikit senyuman.
* diruang rapat
"Pokoknya kalian harus membereskan semua ini dalam kurun waktu 1x24 jam. Kalian tau kan pentingnya proyek aplikasi ini bagi NEOTECH? Kenapa data bisa bocor? Tolong cek registrasi hak patennya! Urus semuanya dengan benar! Jika masalah ini belum selesai sesuai waktu yang saya tentukan, maka dengan berat hati semua yang ada di tim ini saya pecat!! Paham? " ujar Matthew tegas.
"Baik tuan Matthew. " jawab serentak para peserta yang ikut rapat.
__ADS_1
Matthew menyudahi rapat dengan langsung berdiri dan keluar pintu. Wajahnya tampak sangat kesal.
Dia kembali ke ruangan kerjanya. Langsung membuka laptopnya diatas meja. Wajahnya nampak serius mengutak-atik pekerjaan dan data laporan disana.
"Tuan Matthew, ringkasan minute of meetingnya sudah saya emailkan." ujar Satria dan sukses membuat Matthew jengah.
"Sat, aku sudah bilang berkali-kali jangan panggil tuan. Panggil saja nama seperti biasanya. Risih aku mendengarnya." tegur Matthew sesaat menatap Satria lalu kembali ke arah benda persegi tipis dihadapannya.
"sorry, Matt. ku pikir ini kan dikantor." sahut Satria.
" tidak ada pengecualian. aku sudah menganggap mu lebih dari sekedar asisten. kini kau temanku, bukannya kau juga seorang sahabat untuk istriku?"
glekk!! Satria menelan salivanya.
"maksudnya?"
Matthew menghentikan aktivitasnya sejenak.
"aku harap kita bisa berteman. lupakan ketegangan yang pernah kita hadapi kemarin-kemarin." ujar Matthew, lalu ia merasa tiba-tiba kepalanya menjadi pusing. "Casey sangat menyukaimu. aku tidak bisa menjauhkan dia darimu, Sat" Ujarnya lagi seraya memijat-mijat pelipisnya sendiri.
Satria menatap wajah Matthew yang nampak pucat. dia menjatuhkan tubuhnya duduk didepan Matthew karena ada yang membuatnya merasa ganjal. Dia memperhatikan cairan berwarna merah yang keluar dari indera penciuman Matthew. Lelaki itu segera menarik tissue dari kotaknya diatas meja lalu menyodorkannya pada Matthew.
"apa ini?" Matthew mendongak menatap dua lembar tissue yang disodorkan oleh Satria ke hadapannya.
" sepertinya kau sedang tidak sehat, Matt. hidungmu mimisan."
"hah?" reflek Matthew meraih tissue dan langsung mengusap bawah hidungnya menggunakan tissue tersebut. Benar saja, Matthew mengalami epistaksis atau yang biasa disebut mimisan.
Matthew segera beranjak ke toilet pribadinya yang masih berada diruangan tersebut untuk membersihkan sisa-sisa epistaksisnya yang mulai berhenti. setelah bersih, dia pun menatap dirinya melalui cermin diwastafel.
"aku harus kuat." ucapnya berkata lirih.
.
.
.
__ADS_1
.