
Casey terbangun lebih awal dari biasanya. Ini lah hari yang sangat ditunggu-tunggu olehnya karena dia akan pergi ke pantai bersama Atreya dan Satria selama beberapa hari kedepan.
Sebenarnya Atreya bisa kapan saja pergi ke pantai, tanpa ikut tebengan dengan rombongan bis dari kantornya Satria. Namun Casey tetap keukeuh ingin naik bis, karena ini pengalaman pertamanya naik kendaraan panjang yang sering dia sebut si tayo itu. seperti karakter di film kartun yang sering ia lihat di televisi setiap sore hari. Casey yang super excited menikmati perjalanannya menuju pantai. Dia memilih duduk dipojok dekat kaca jendela sambil berdiri melihat ke arah luar. Sementara Atreya duduk ditengah dan Satria disebelahnya.
"Perhatian semuanya!! nanti setelah sampai disana kita langsung ke ressort milik Pak Matt. Disana langsung ke bagian resepsionis untuk mengambil cardlock kamar yang telah disiapkan dan sudah kami atur. satu keluarga satu kamar ya." ucap Andi salah satu staff HRD di kantornya.
"Sat, bagaimana ini kita kan belum menikah?" bisik Atreya menyenggol bahu Satria.
"Tenang saja Rea, aku sudah memesan double bed sama panitia acara" jawab Satria santai.
"Tapi tetap saja satu kamar" timpal Atreya.
"Astaga, Rea. Aku masih punya iman lho. Aku janji tidak akan ngapa-ngapain sebelum kita nikah" ucap Satria seraya mencubit pipi Atreya gemas.
"Iya, aku percaya." Atreya melepaskan tangan Satria yang masih menempel dipipinya, malu karena mereka tengah berada didalam kendaraan bersama.
Setelah melewati enam jam perjalanan, akhirnya sampai juga di pantai yang dituju. Waktu menunjukan pukul lima sore. Mereka turun dari bis dan langsung menuju resort mewah yang menghadap lautan lepas itu untuk beristirahat, karena kegiatan acara kantor akan dimulai ke esokan harinya.
Casey masih terlelap dalam gendongan Satria. Bocah itu sepertinya kelelahan karena perjalanan panjangnya. Selama dijalan Casey tidak tidur, malah terus saja mengoceh menanyakan banyak hal yang baru saja ia lihat. Namun ketika beberapa kilo hendak sampai, barulah sang bocah pun terlelap.
Setelah mendapatkan cardlock dari receptions resort, mereka pun segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Setelah Atreya membersihkan diri lebih dulu dari Satria, dia pun lalu berjalan kearah balkon kamarnya. Memandang luasnya lautan lepas yang tersamarkan langit yang mulai gelap. Terdengar deburan ombak saling bersautan. Atreya sangat menyukainya. Terlebih kini ia bersama orang-orang yang ia cintai, Casey dan Satria. Mungkin Kita tidak bisa memilih angin atau ombak seperti apa yang datang ke perahu kita. Tapi kita bisa memilih, ke pelabuhan mana kita akan berlabuh.
"Hey, kamu lagi ngapain sayang?"
Tiba-tiba tangan kekar melingkar diperut perempuan yang sedang menyaksikan pemandangan alam yang indah tersebut. Menyimpan dagu dipundak Atreya hingga suara nafas Satria terdengar jelas ditelinga wanita yang beberapa Minggu lagi akan menjadi istrinya itu.
Atreya tersenyum tanpa menoleh ke arah Satria. Ia membalas pelukan hangat dari belakang dengan memegangi tangan Satria diperutnya. Kedua matanya masih nyaman menatap senja dilautan yang luas dihadapannya.
"Aku pernah denger seseorang berkata, masihkah engkau bertanya pada senja tentang badai dan ombak di samudra biru, sedang cakrawala kian menjauh dari bening bola matamu. Dan ketika samudra telah berpindah ke dalam ruh, ke manakah bahtera cinta itu hendak berlabuh? jawabannya adalah kamu, Rea." tutur Satria semakin mengencangkan pelukannya.
"Puitis banget sih kamu" sahut Atreya terkekeh.
__ADS_1
"Kan ku bilang itu kata orang, bukan kata aku."
"Aku gak peduli itu kata-kata punya siapa, yang jelas barusan kamu yang ngomong dan aku sangat menyukainya."
Atreya membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan. binar mata birunya terpancar sangat indah. Satria mengusap puncak kepala Atreya, lalu turun kearah kepala belakangnya, sedikit mendorong kedepan menjadi lebih dekat. Satria merangkum bibir ranum milik Atreya. Lalu mel*matnya dengan lembut. Tidak ada penolakan sama sekali, Atreya sangat menyukai ciuman dari Satria yang hangat dan jauh dari kata kasar atau rakus. Ia pun membalas ciuman calon suaminya itu dengan lembut. Membiarkan deburan ombak menjadi saksi pagutan keduanya ditengah senja yang indah.
" Ma...!!!"
Teriakan Casey membuat keduanya menyudahi pagutan memabukkan itu. Atreya dan Satria segera menemui sumber suara.
"Kau sudah bangun?" sapa Atreya ikut menjatuhkan tubuhnya disamping Casey yang masih mengucek kedua matanya diatas tempat tidur.
"Ini dimana, Ma? bukannya tadi mau ke pantai?" tanya sang bocah setelah kedua matanya mengerjap mengamati ruangan yang nampak asing.
"ini sudah didekat pantai sayang. Tapi kita istirahat dulu di hotel karena sudah mau malam. besok pagi baru kita bermain-main dipantai." ucap Atreya seraya mengusap kepala Casey yang raut wajahnya berubah cemberut.
"Aku mau ke pantai sekarang!!" Casey mengerucutkan bibir mungilnya, lalu melipat kedua lengan didadanya. Tingkahnya persis seperti Atreya ketika sedang ngambek.
"Ini sudah mau malam, Casey. Kamu tidak liat diluar sana ?!" Atreya menunjuk kearah pintu balkon yang masih terbuka lebar agar Casey bisa melihat apa yang dikatakannya memang benar.
"Casey !!" sentak Atreya mulai jengah dengan sikap Casey yang keras kepala dan belum mau mengerti.
"Rea !!" Satria menggelengkan kepalanya pada Atreya. berharap Atreya tidak memarahi Casey. Ia lalu berjalan mendekati sang bocah dan duduk disebelahnya.
"Kamu mau ke pantai sekarang?" tanya Satria, dan Casey pun mengangguk pelan.
"Oke, tapi sebentar saja ya. Ini kan sudah mau malam. kalau gelap apa yang mau dilihat? cuma bisa denger suara ombaknya saja, kan gak seru." ucap Satria. Casey pun mengangguk senang. ia segera beranjak turun dari tempat tidur.
"Ayo, Om !! "
" Siap, bos kecil" sahut Satria.
Atreya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Casey yang kadang sangat sulit untuk dinasehati. hanya Satria yang bisa meluluhkannya dengan caranya sendiri.
__ADS_1
"Kamu mau ikut ?" tanya Satria pada Atreya.
"Aku tunggu dikamar saja."
"Oke, lagi pula hanya sebentar, biar Casey gak penasaran saja" ucap Satria terkekeh.
Atreya hanya mengangguk dan tersenyum. ia lalu mengambil sweater untuk Casey, dan memakaikannya sebelum Satria membawa anak itu keluar dari hotel.
*****
Satria menuntun Casey berjalan menuju keluar hotel dan resort mewah itu. Namun saat di lobby mereka berpapasan dengan Matthew yang baru saja datang dengan mobil mewahnya yang masih berada didepan pintu hotel. Terlihat ada beberapa pelayan hotel sedang sibuk mengeluarkan beberapa koper miliknya dari dalam mobil tersebut.
Ke dua mata Matthew langsung tertuju pada bocah yang tengah berada disamping Satria.
"Casey?" Matthew langsung menyapanya heran, namun bocah itu diam saja dan hanya melemparkan senyum tipisnya.
"Sat, kok bisa ada Casey?" kedua mata Matthew beralih menatap pada Satria.
"Iya Pak. Saya mengajak Casey dan calon istri saya." jawab Satria percaya diri.
"Calon istri? siapanya Casey?" Matthew mengernyit.
"Ibunya."
"Hah??" Matthew menganga seolah tak percaya. Ia tidak yakin adik dari seorang pengusaha muda seperti Aaron mau menikah dengan Satria yang hanya pegawai biasa dikantornya. Sederhana sekali perempuan itu, dan Matthew sangat penasaran dengan sosok ibu dari bocah bernama Casey yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatiannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa di like dan kasih poin yang banyak ya... biar tambah semangat nih up nya 😁😁