
Baru beberapa jam keduanya terlelap tidur, tiba-tiba Atreya menggelinjang saat merasakan tekanan dipinggangnya. Ternyata tidak sadar Matthew telah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Dengan cepat perempuan itu bangkit, tapi Matthew dibawah alam sadarnya masih terus menahan tangannya ditubuh Atreya.
"Lepasin Matt!" ucap Atreya pelan.
Matthew mengerjapkan kedua matanya. Setelah sadar lelaki itu malah semakin mengencangkan pelukannya hingga Atreya merasakan sesak didadanya.
"Matt..." tidak sadar Atreya mendesah.
Mendengar desahan sang istri mambuat Matthew terbangun, seraya mengerjapkan matanya menatap punggung Atreya yang terus bergerak.
"Diamlah! aku ngantuk, Atreya" Matthew malah sengaja menenggelamkan kepalanya diceruk leher sang istri.
"Tapi ini tanganmu lepasin dulu!" Atreya berusaha melepaskan tangan Matthew yang masih mendekapnya dari belakang.
"Haishh... berisik sekali!! sekarang aku suamimu, masa memelukmu saja tidak boleh." Pria itu mulai jengah karena tidurnya merasa terganggu.
Seketika Matthew membalikkan tubuh sang istri, lalu merubah posisi dirinya dan menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan lutut diatas Atreya.
Atreya melotot dan tak bergeming. Perempuan itu mengerjap beberapa kali saat tubuhnya kini berada dibawah Kungkungan Matthew.
Satu tangan matthew mulai bergerak memindahkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik istrinya.
"Kamu sudah membangun macan yang sedang tidur, Atreya." ucap lelaki itu menyeringai.
Tenggorokan Atreya tercekat, seketika otaknya tidak bisa berfikir. Atreya menggigit bibirnya berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Sungguh ia menyesali perbuatannya hingga membangunkan gairah Matthew yang sebelumnya terlihat tenang dalam tidurnya.
Kini tangan kekar Matthew membelai lembut pipi sang istri, lalu ibu jarinya mengusap bibir bawah Atreya hingga perempuan itu melepaskan kegiatan menggigit bibirnya.
Nafas keduanya memburu dengan jantung yang berdetak kencang didalam sana.
Mata Matthew terus menyoroti bibir Atreya. Lalu lelaki itu menundukan kepalanya perlahan hendak merangkum bibirnya dengan bibir sang istri. Tapi dengan cepat Atreya menoleh ke samping dan akhirnya bibir Matthew mendarat dipipi sang istri.
Lelaki itu menjauhkan kembali wajahnya untuk melihat wajah Atreya. Beberapa detik keduanya saling memandang. Dan detik selanjutnya Matthew menempelkan bibirnya diceruk leher Atreya. Lalu menj*lat, mencium dan mengesap leher beraroma white musk itu hingga meninggalkan tanda merah disana.
Tubuh Atreya sedikit melenguh dan menegang mendapat sentuhan dari seorang lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Atreya berusaha sekuat tenaga melepas pelukan kekar itu.
"Matt... Lepasin!!" desah Atreya lagi saat bibir Matthew mulai turun ke tulang selangka dan berakhir di gundukan dadanya.
__ADS_1
Matthew kembali menegakkan tubuhnya, menatap Atreya dalam dan cukup lama, dengan mata berkabut gairah. Atreya memalingkan wajah. Menghindari tatapan intens dari sang suami yang seolah ingin segera menerkamnya.
Saat Matthew menundukan kepala hendak menciumnya kembali, telapak tangan Atreya menahan dada bidang lelaki itu.
Dengan wajah memelas Atreya menggelengkan kepala, berharap Matthew tersadar dan menghentikan aksinya.
"Tidak sekarang, Matt..." Lirih atreya
"Kenapa? salahmu membuat aku terbangun, Atreya." ucap Matthew.
"Matt..." Atreya menggelengkan kepalanya pelan.
Matthew menyadari ekspresi wajah Atreya yang berubah menjadi sedih. Mimik wajah Matthew pun seketika berubah. Pria itu merasa benar-benar menyesal karena telah memaksanya.
Setelah merasakan kungkungan suaminya melonggar, seketika Atreya bangkit dan merubah posisinya menjadi bangun, seraya memeluk bantal untuk menutupi pakaiannya yang seksi dan menerawang.
Sesaat Atreya ingat akan janjinya pada Tuhan, tepat ketika mereka mengingat janji pernikahan kemarin. Tapi dia belum siap. Atreya butuh waktu. Bahkan perempuan itu lupa bahwa setelah menikah ada part malam pertama yang mengharuskan dirinya memberikan seutuhnya pada sang suami.
"Maafkan aku Matthew, aku belum siap." lirih Atreya. Ada penyesalan menyelinap dihatinya.
Matthew memegang pundak sang istri, lalu membawa tubuh Atreya kedalam pelukannya. Memang jauh didalam hatinya Matthew kecewa dengan penolakan perempuan yang kini sah menjadi istrinya.
Matthew juga tak mengerti mengapa ia melakukan itu pada Atreya. Lelaki itu menyugar rambutnya kebelakang dengan satu tangannya sambil mendesah frustasi. Matthew merutuki kebodohannya beberapa saat yang lalu. "Sabar, Matt. Buatlah Atreya merasa nyaman dulu saat bersamamu, setelah itu barulah dia akan menjadi milikmu seutuhnya." gumam Matthew dalam hati menyemangati dirinya sendiri meski harus menahan hasratnya yang mulai tak terkendali.
"lebih baik kita kembali tidur. Aku janji tidak akan memaksamu lagi." ucap Matthew lalu kembali merebahkan tubuh sang istri dan dirinya. Lelaki itu kembali memeluk Atreya, menenggelamkan kepala perempuan itu ke dada bidang miliknya. Kini tak ada penolakan apapun dari Atreya. Perempuan itu hanya tidak ingin mengusik kembali hasrat Matthew yang kembali tenang, hingga akhirnya kedua mata Atreya kembali tertidur.
*****
Keesokan paginya Kinara dan Aaron datang untuk mengantarkan Casey yang merengek minta ke ibunya.
"Casey!!" Atreya langsung memeluk putranya itu saat Matthew membukakan pintu kamar hotel.
"Mama, kenapa gak bobo sama aku? malah bobo sama Daddy." celoteh Casey polos saat memergoki dikamar itu hanya ada Atreya dan Matthew.
Aaron dan Kinara malah tertawa sambil berpandangan satu sama lainnya.
"Iya mama minta maaf. mama nanti bobo sama kamu deh, gantian" ucap Atreya merasa tidak enak dan malu diperhatikan Aaron dan Kinara. Sementara Matthew hanya tersenyum-senyum sendiri ditempat tidurnya.
__ADS_1
"Ini pakaian ganti kalian. Sorry semalam kita terlalu lelah, jadi gak sempat mengantarkannya, dan tidak ada yang bisa kami suruh juga untuk mengantarnya. mungkin yang lainnya juga sama-sama lelah" ucap Kinara menyerahkan tas jinjing berisi sepasang baju ganti untuk Atreya dan Matthew.
"iya gak apa-apa, Kin. Untungnya masih ada baju ini." ucap Atreya melirik lingerie yang masih melekat ditubuhnya dengan lirikan jijik. "Siapa kira-kira yang menyimpan pakaian kurang bahan seperti ini disini?" Atreya lalu memandangi Kinara dan Aaron secara bergantian dengan tatapan curiga.
Aaron atau pun Kinara menjadi gelagapan. Atreya sebetulnya bisa membaca bahasa tubuh mereka tanpa harus menunggu mereka untuk mengaku.
"Sorry, Rea. Itu rencana jail Aaron." Kinara akhirnya mengaku.
"Kakak !!!" Atreya berteriak lalu memukuli dada Aaron. Dan membuat sang kakak malah tertawa meledek.
"Arr!! jadi itu ulahmu?" Matthew pun bereaksi lalu beranjak mendekati Aaron.
"Tapi kau suka kan lingerie pilihan ku, Rea?" ucap Kinara tersenyum nakal dan sukses membuat Atreya terbelalak.
"Ternyata kalian berdua gila!" umpat Atreya.
Kinara menyipitkan matanya saat memperhatikan adik iparnya tersebut, lalu mendekatkan bibirnya kearah telinga Atreya. "Nanti siang kalau mau check out, tutupi leher mu dengan syal. Kissmark nya jelas banget tuh." bisik Kinara yang sontak membuat Atreya reflek menutup lehernya dengan kedua telapak tangannya.
"Sialan! semua gara-gara dia." umpat Atreya dalam hati.
Aaron dan Kinara tertawa. lalu mereka memutuskan untuk kembali ke kamar hotelnya yang berbeda satu lantai dengan pasangan pengantin baru itu.
Sembari menundukan kepalanya, Atreya melewati Matthew hendak ke kamar mandi. Matthew hanya bisa menelan salivanya sambil memejamkan sakilas matanya saat melihat leher jenjang milik sang istri. Matthew melihat bekas merah dilehar Atreya, membuat Matthew semakin diliputi rasa bersalah.
"Casey, apa kau sudah makan?" tanya Matthew mengalihkan pandangannya, dan kembali fokus pada bocah kecil yang merupakan darah dagingnya sendiri itu.
"Belum, Dad." sahut Casey masih asik bermain game diponsel milik Matthew.
"Nanti setelah mama selesai mandi, kita sarapan bareng dikafe ya."
"Oke, Daddy" Casey sejenak mengacungkan ibu jarinya.
Matthew tersenyum, lalu mengecup puncak kepala Casey dengan lembut dan penuh kasih sayang.
.
.
__ADS_1
.