Lovely Atreya

Lovely Atreya
Kehadiran Baby Quinne


__ADS_3

Atreya membuka matanya pelan, tapi kemudian memejamkannya lagi, kesadarannya berangsur pulih. Hal terakhir yang diingatnya adalah saat dirinya yang dibawa ke IGD, berhenti sampai disana, apa yang terjadi setelahnya tak bisa Atreya imajinasikan.


 


Menguatkan hatinya, Atreya mengerjapkan kedua matanya sebentar, untuk kemudian memindai ruangan serba putih disekelilingnya. Hal berikutnya yang Atreya lihat adalah perutnya yang kini telah rata, tertutup selimut berwarna biru yang dipikirannya tiba-tiba berubah menakutkan, karena kemungkinan terburuk dari hal itu sudah bisa membuatnya sulit bernafas.


 


Atreya segera bergerak bermaksud untuk duduk, tapi sepasang lengan menahan bahunya untuk tetap berbaring.


 


“Hey, jangan dipaksakan, sayang.”


 


“Matt” seru Atreya pelan, membiarkan Matthew menambah bantal dibawah kepala sang istri, juga menaikkan sedikit ranjang tidurnya. Atreya menatap Matthew dengan tatapan semua pertanyaan yang sejak tadi berkeliaran tak tentu arah dikepalanya.


 


“Anak kita baik-baik saja, sayang. Seorang putri seperti yang Marissa katakan, cukup mungil dan sangat menggemaskan. Dia sehat dan sangat cantik, dan dia akan jadi anak yang tangguh seperti Mamanya”, jelas Matthew dengan suara yang bergetar bahagia.


"Benarkah itu?" kedua mata Atreya berbinar haru. Kebahagiaan itu tentu saja menulari Atreya, meski saat ini dia masih belum bisa memeluk bahkan menyentuh bayi mungil yang selama ini meringkuk dirahimnya, Atreya menangis bahagia, dia pun memeluk Matthew dan mendekapnya begitu erat.


 


“Dimana putri kita?” lirih Atreya kemudian.


 


“Dia masih diruang NICU, kita akan segera ke sana untuk bertemu dengannya” ujar Matthew pelan.


 


Hati Atreya seketika beringsut sedih, bayinya memerlukan perawatan khusus, apa karena si air ketubannya yang mendadak pecah itu? Apa dia akan baik-baik aja?


 


“Matt, apa---“


“Dia akan baik-baik saja, Rea, kamu juga akan baik-baik saja.” Mata lelaki itu terlihat basah, lalu ia pun menggenggam tangan Atreya erat, tatapannya terlihat begitu dalam dan penuh cinta. Atreya bisa merasakan hal itu.


 


***


 


Atreya menatap Baby Quinne yang tengah terlelap. Bayi mungil itu adalah semesta baru bagi Atreya setelah kehadiran Casey dalam hidupnya. Mereka adalah buah cinta dirinya dengan Matthew, meski pada kenyataannya Casey memang terlahir dari sebuah insiden. Tapi Casey sama sekali bukan kesalahan yang tidak disengaja, dia adalah anugerah Tuhan untuk Atreya.


 


Cepat pulih dari operasi Caesar yang dijalaninya, Atreya tidak terlalu lama dirumah sakit, dia boleh pulang setelah tiga hari perawatan, dan menyusul beberapa hari kemudian putri kecilnya yang sudah membaik setelah sebelumnya mengalami kuning karena tingkat bilirubinnya yang tinggi.


 

__ADS_1


Kini Atreya pun mulai menjalani rutinitasnya kembali sebagai ibu dari kedua anaknya, Casey Brooklyn O’Neil dan Quinne Celedonia Polan.


Pagi ini, jendela kamarnya yang besar sengaja dibuka Atreya agar sinar matahari bisa menerobos masuk dengan bebas dan membuat semilir angin pagi pun nampak segar untuk dihirup.


Matthew mengerjap, kembali menarik selimutnya menghindari angin yang masuk dari jendela. "Tutup jendelanya, Rea, aku masih mengantuk" ujarnya sedikit merajuk.


Atreya sedikit tergelak, "Daddy Matthew masih ngantuk ya... abisnya Baby Quinne semalam rewel aja sih, jadi Daddy-nya keganggu deh jam tidurnya" Atreya mengelus lembut kepala Matthew, membuat lelaki itu semakin terpejam dan semakin nyaman.


"Matt, titip Baby Quinne dulu sebentar ya!" Atreya lalu mendekati telinga suaminya dan berbisik lembut.


Matthew kembali mengerjap, "mau kemana?" tanyanya menahan lengan Atreya dari kepalanya.


"Aku mau mandi sebentar, jangan berisik, biarkan Baby Quinne anteng dulu di box nya, oke?!" ujar Atreya seraya menatap box bayi berwarna pink disamping tempat tidurnya yang didalamnya ada bayi mungil mereka yang beberapa hari lalu terlahir ke dunia ini.


"Jangan lama-lama, nanti dia keburu bangun. Aku masih ngantuk nih" ucap Matthew terdengar malas dan kembali memejamkan matanya.


Atreya hanya tersenyum, lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membawa Baby Quinne berjemur diluar. Dia jadi teringat dulu mendiang sang nenek selalu membawa Casey berjemur setiap pagi dihalaman rumah, dan Atreya sudah lama mengetahuinya dari buku yang pernah ia baca bahwa sejak pertengahan abad ke-19, sinar matahari memang sudah dikenal memiliki efek pengobatan untuk penyakit riketsia seperti kelainan tulang akibat kekurangan vitamin D, kalsium, dan fosfat. Untuk itu, kegiatan menjemur bayi masih banyak dilakukan hingga sampai saat ini. Terutama bila bayi mengalami jaundice sejak lahir.


***


Tak terasa jam menunjukkan pukul sebelas siang. Matthew mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, meregangkan otot-ototnya yang masih terasa pegal efek semalaman kurang tidur karena gadis kecilnya entah kenapa rewel terus.


Lelakinya itu begitu terkesiap saat melihat isi dari box bayi disamping tempat tidurnya kosong. Lalu diliriknya pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dan itu tandanya kamar mandi tersebut juga kosong.


Kemana mereka?


 


Matthew segera beranjak ke luar kamar, lalu menanyakan keberadaan orang-orang yang begitu spesial baginya kepada maid yang tengah membereskan peralatan rumah.


"Oh, Tuan sudah bangun? tadi nyonya berpesan untuk tidak membangunkan Tuan. Dan mereka dari sejak tadi pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan baby Quinne."


Matthew terbelalak lalu menepuk jidatnya sendiri, dia sudah melupakan jadwal kontrol untuk putrinya tersebut pagi ini. "siapa yang mengantar mereka? Jhon, apa Ken?" Matthew kemudian bertanya.


"Jhon mengantar Dek Casey, Tuan. jadi Nyonya dianter oleh Ken dan juga nona Bella" tutur Mia, Maid senior dirumah itu.


Matthew hanya menanggapinya dengan anggukan, kini ia merasa tenang karena ada Bella yang menemani mereka. Dia lalu hendak kembali ke kamarnya, tapi suara Bell pintu rumah mengurungkan niatnya.


"Aku saja yang membukanya, kau siapkan saja kopi dan apfelstrudel untukku, Mia!!"


"Baik, Tuan."


*


TING TONG!!


Seseorang kembali memencet bell rumahnya.


Apa dirumah sebesar ini tidak ada penghuninya sama sekali? batin seseorang yang hendak bertamu tersebut.


Dia masih setia menunggu dan berharap ada orang yang membukanya.


CKLEEK!!


Pintu mulai terbuka pelan. Akhirnya orang itu mendapatkan respond terhadap bell yang dipencetnya.

__ADS_1


"Andrew?"


"Akhirnya kau membukanya juga"


Matthew dan Andrew sejenak menyatukan kedua tangannya masing-masing untuk beradu tos. Lalu Matthew mempersilahkan tamunya itu untuk masuk dan berbincang didalam.


"Tau dari mana rumahku disini? kenapa tidak menghubungi ku dulu kalau kau mau berkunjung kemari?" cerca Matthew kemudian.


Andrew malah terkekeh, "Aku tau rumahmu dari Bibi Lily, tadinya ku kira kau masih tinggal di rumah Daddy mu makanya tadi aku ke sana. Ternyata kau sudah punya istana sendiri."


Matthew tertawa, "Ya, selamat datang di istana ku, Bro"


Andrew menyunggingkan senyumnya menanggapi pernyataan kawan kecilnya itu. "bagaimana keadaanmu sekarang, sudah lebih baik kan?" tanyanya kemudian.


"Yup, sebenarnya aku sudah siap untuk ke kantor lagi, tapi istri ku itu terlalu berlebihan. Aku harus menunggu satu bulan lagi untuk bisa kembali bekerja" ujar Matthew mengesah.


"Seriously? mungkin istrimu terlalu mencintaimu makanya dia tidak ingin kau sakit seperti kemarin. Kau sangat beruntung, Bro" Andrew menepuk bahu Matthew, lalu mengambil sekotak rokok dari dalam jaketnya.


"Hey, sorry... rumahku bebas asap rokok, kau bisa merokok diluar. Bagaimana kalau kita ngobrol disamping saja?!" ajak Matthew pada Andrew yang hendak menyulutkan api pada rokok yang baru saja ia keluarkan dari kotaknya.


"Oke"


Mereka pun memutuskan untuk berpindah tempat dekat kolam renang. Mereka duduk santai sambil bercengkrama entah membicarakan apa. Lalu seorang Maid datang membawa dua cangkir kopi dan camilan apfelstrudel kehadapan Matthew dan tamunya tersebut.


Andrew kini leluasa merokok sambil sesekali mengesap kopinya, sementara Matthew lebih suka memakan apfelstrudel untuk mengganjal perutnya yang sejak pagi belum terisi apapun. Matthew memang bukan perokok aktif, dan sejak menikah dengan Atreya, dia sudah jarang menghisapnya lagi. Apalagi ditengah kondisinya yang baru pulih seperti sekarang.


Ditengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba Atreya dan Bella datang. Baby Quinne tengah tertidur lelap digendongan Bella.


"Baby Quinne, aduuh daddy kangen banget, Nak. " ujar Matthew segera menghampiri Atreya dan Bella.


Sejenak mata Atreya dan Andrew bertemu, Atreya pun menyapa lelaki itu sopan dan sekedar basa-basi, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Matthew yang semakin mendekati baby Quinne.


"Maatt, tangan kamu habis ngapain tadi? Iih, cuci tangan dulu sana! Itu baju kamu bersih gak? yakin gak kena asap rokok?" seru Atreya cepat, benar-benar merentangkan kedua tangannya menghalangi Matthew. Terlebih saat dirinya melihat asap rokok mengepul dari mulut Andrew.


"Ya Tuhaaan, ini kok galak amat sih?" erang Matthew seperti frustasi, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak. "Iya, iya aku ganti baju dan cuci tangan dulu" ujar Matthew, dan detik berikutnya sudah mencium bibir Atreya lembut dan dalam, seolah dia sudah tidak mencium istrinya itu beberapa tahun.


"Haissh, kalian ini ya---" Bella tak melanjutkan kalimatnya, Ia malah kembali masuk kerumah meninggalkan mereka yang tengah merangkum bibir itu.


Atreya terperagap, tapi lengan Matthew yang sudah melingkari pinggangnya membuat Atreya tidak bisa berkutik, "Mmph, Matt..." erang Atreya tak berdaya, tapi akhirnya Atreya menikmatinya saja meskipun Andrew dibelakangnya terlihat tercekat pilu melihat pemandangan itu.


Sebuah deheman pendek membuat Matthew melepaskan ciumannya. Atreya yang masih terengah harus berpegangan pada lengan Matthew sebelum bisa berdiri tegak diatas kakinya sendiri lagi.


"Oops sorry, ku pikir kau sudah enyah seperti Bella" Matthew terkekeh, membuat Atreya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kembali konyol. Sudah lama sekali perempuan itu merindukan sosok Matthew yang seperti ini, konyol, pemaksa, tapi romantis.


"Sialan kau, Matt!" batin Andrew mengumpat.


.


.


.


.


Kirimi aku VOTE nya dong!!! sama rate bintang limanya ya... biar novel ini bisa diatas seperti novel-novel terkenal itu 🤗 ngayal nih authornya 😂😂

__ADS_1


__ADS_2