Lovely Atreya

Lovely Atreya
Kejahatan yang terbongkar


__ADS_3

Orang-orang suruhan Aaron telah melacak nomor terakhir yang menghubungi rumah kediaman Matthew.


"Andrew Ackerley O'Brien?" Aaron mengernyit saat mendengar nama itu. Ia merasa tidak asing lagi dengan nama tersebut.


Begitu juga dengan Matthew, ia mengeratkan rahangnya geram saat pria kekar berbalut jas serba hitam itu menyebutkan nama pemilik rumah yang telah menghubunginya via telepon tadi malam. Matthew benar-benar tidak menyangka kehilangan Atreya ternyata ada hubungannya dengan Andrew, teman kecilnya itu.


"Betul tuan, kami sudah menyelidikinya sendiri. Rumah itu dijaga dengan ketat oleh beberapa pengawal. Disamping rumah terdapat paviliun yang dijaga oleh dua orang penjaga lainnya yang mencurigakan, kami yakin nona Atreya berada disana" ujar Mike, dia salah satu anggota mafia yang disewa Aaron dengan rekomendasi dari Leon.


Aaron baru saja mengingat sesuatu, "Tunggu!! sepertinya aku kenal dengan orang itu. Dia--- ya, orang yang membeli salah satu perusahaan kami yang ada di Dublin" ujar Aaron.


"Jadi kau juga mengenalnya?" tanya Matthew kaget.


"Ku rasa begitu, Matt. Keluarga O'Brien itu pemilik dari GA Group. Siapa yang tak mengenalnya."


"Ya, kau benar sekali, Aar" Matthew membenarkan ucapan Aaron, "Sialan!! rupanya kau bermain-main denganku, Andrew" Geram Matthew seraya mengepalkan tangannya.


*


Matthew dan Aaron memutuskan untuk mendatangi rumah Andrew, pun ditemani dengan beberapa orang bayaran profesional yang sudah siap dengan senjata dibalik jas-jas perlentenya untuk berjaga-jaga.


Sementara Marshall dan Satria ditugaskan untuk tetap dirumah, menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.


***


Sesampainya di kediaman milik Andrew, beberapa orang suruhan Aaron berhasil melumpuhkan para bodyguard yang menghadangnya di pintu gerbang. Terdengar suara tembakan pun saling bersautan dan membuat beberapa orang tumbang dengan bersimbah darah.


Setelah rumah itu dinyatakan aman, barulah Aaron dan Matthew berani masuk untuk mencari keberadaan Atreya. Semua penghuni yang berada dirumah besar itu dikumpulkan diruang tengah, terlihat beberapa pelayan, tukang kebun, para bodyguard yang telah dilumpuhkan sebelumnya, Dan seorang anak kecil yang ternyata Dhyanda, putri semata wayang Andrew yang nampak shock dan menangis melihat tragedi seperti ini.


"Kenapa kau tidak bilang kalau dirumah ini ada bocah?" tegur Aaron menyikut Mike saat melihat seorang anak perempuan tengah menangis ketakutan.


"Itu anak Andrew O'Brien, Tuan" tukas Mike.


"Tetap saja itu seorang bocah, tak sepantasnya ia menyaksikan ini semua" ujar Aaron. Ia lalu meminta salah satu pelayan itu untuk membawa anak Andrew ke kamar dan menemaninya.


Setelah itu Aaron dan Matthew memaksa semua penghuni dirumah itu mengatakan dimana keberadaan Atreya. Semuanya terdiam, sampai akhirnya ada salah satu pelayan yang buka mulut setelah diancam dengan senjata berpeluru yang ditodongkan Mike.


"Mm... me-- mereka membawanya pergi, Tuan" aku pelayan itu ketakutan.


Aaron dan Matthew saling bertatapan tak percaya, "Apa mereka tau kita akan kemari?" tanya Matthew pada Aaron.


"Entahlah, mungkin saja ia memergoki orang yang mencoba menghubungi kita kemarin malam" sahut Aaron seraya raut muka yang ditekuk frustasi.


Mike lalu kembali memaksa dan mengancam siapa yang waktu itu menelpon ke rumah Matthew untuk memberitahukan keberadaan Atreya disini. Semua masih terdiam, sampai suara tembakan satu kali yang dilepas Mike ke langit-langit rumah barulah membuat salah satu dari mereka berani bicara.


"A...Arumi, Tuan"


"Arumi?" Matthew mengernyit. "Dimana dia?"


"Tadi Arumi dikurung di gudang belakang" sahut pelayan itu lagi.


Mike dengan sigap langsung meminta salah satu anak buahnya untuk menelusuri setiap ruangan dirumah ini mencari Arumi.


Tak sampai lima menit mereka menemukan perempuan bernama Arumi itu. Wajahnya nampak lebam-lebam seperti habis dipukuli. Ia ketakutan dan terlihat trauma.

__ADS_1


"Tenanglah, kami tidak akan menyakiti anda, Nona" ujar Matthew mendekati Arumi. Arumi beringsut mundur, ia mengatupkan kedua tangan didepan dadanya seperti memohon.


"Saya Matthew, anda yang semalam menelpon saya kan?" Matthew mencoba berbicara lagi kepada Arumi yang masih terlihat shock berat.


"A...anda Tu-- tuan Matthew?" lirih Arumi ragu.


Matthew mengangguk seraya tersenyum, "Terimakasih sudah memberitahu keberadaan istri saya disini. Sekarang tolong katakan, apa anda tau dimana dia sekarang?" tanya Matthew pelan.


Arumi terdiam, ia malah mengedarkan matanya seolah mencari seseorang diantara banyak orang yang ada diruangan itu. "Aa... aku takut" lirihnya malah menangis.


"Hey, tenanglah" Matthew memegang kedua pundak Arumi, memaksa kedua mata Arumi untuk menatap dirinya, "Kami bukan orang jahat, kami hanya mencari Atreya. Tolong, jika kau tau keberadaannya beritahu kami"


Arumi kini mulai tenang, sentuhan Matthew membuat Arumi yakin bahwa lelaki yang kini berada dihadapannya itu memang suami dari Atreya, dan dia orang baik.


"Mmm... yang aku dengar mereka akan membawa Nona itu ke villa yang ada di daerah pegunungan. Nyonya Claire telah memukulinya didepanku, Tuan. Aku tidak tega melihatnya."


"Nyonya Claire?"


"Claire?"


Matthew dan Aaron menyauti bersamaan. Matthew mengernyit bingung, ia merasa tidak kenal dengan nama wanita yang barusan disebut. sementara Aaron mengernyit curiga, siapa Claire yang ia maksud, apa emang namanya saja yang sama, atau---


"Bagaimana ciri-ciri orang itu?" tanya Aaron penasaran.


"Nyonya Claire, maksud Tuan?"


"Iya, siapa lagi? kau tadi menyebut-nyebut nama itu kan? ada hubungan apa dia dengan Andrew?" cerca Aaron. Ia berharap ini hanya nama yang kebetulan sama.


"Setau ku nyonya Claire itu adik dari mendiang Ayah tuan Andrew" ujar Arumi.


"Ayo, Aar!!" sentak Matthew membuyarkan semua praduganya.


"Kita harus cepat menyusulnya, Tuan. Sebelum kehilangan jejak. Barusan anak buahku mengabari mereka sudah berhasil mengikuti komplotan yang membawa adik Tuan" ujar Mike dan sontak membuat Aaron sangat berantusias.


"Oke, ayo kita pergi sekarang!!" ucap Aaron segera beranjak.


***


Disebuah villa bernuansa etnik itu, Atreya tengah dikurung disalah satu kamar di tempat tersebut. Wajahnya yang sembab seperti habis menangis terlihat dengan jelas, apalagi luka lebam di pipi akibat tamparan dari Claire berkali-kali membuat Atreya semakin tak habis pikir. Apa salah Atreya sampai sebegitu bencinya Claire terhadapnya?


"Kau tau apa salahmu, Atreya?" Claire malah balik bertanya, "Karena kau anaknya Freya, aku membenci wanita jal*ng itu seumur hidupku"


Mendengar nama mendiang sang Mommy disebut-sebut Atreya semakin meradang, rasa perih ditubuhnya sudah tak ia rasakan lagi. Dengan sekuat tenaga Atreya mendorong tubuh Claire.


"Kau yang jal*ng, bibi Claire!! jangan pernah kau sebut mommy ku seperti itu lagi!" bentak Atreya geram.


Kini giliran Claire yang geram, emosinya sungguh tak terkendali mendengar Atreya yang malah balik mengatainya jala*ng. "Kau?! berani sekali kau mengatai ku seperti itu!!" tiba-tiba Claire menodongkan pistol ke depan dada Atreya yang baru saja ditarik dari salah satu bodyguardnya.


Atreya langsung Shock melihat pistol jenis revolver yang ditodongkan kearahnya kini berjarak sekitar setengah meter didepan dadanya.


"Bibi, jangan gegabah!! Aku tidak mau dia terluka" Andrew tiba-tiba datang, menahan Claire agar tidak emosi apalagi kalau sampai menarik pelatuk pistol tersebut.


Mendengar hal itu perempuan yang usianya sudah lebih dari setengah abad ini pun malah tertawa, "jangan bilang kau telah jatuh cinta dengan perempuan ini, Drew!!" ujar Claire disela tawanya.

__ADS_1


BRAKK!!!


BUKK! BUKK!


DORR!


Terdengar suara orang yang berkelahi dan diakhiri dengan suara letupan senjata api diluar kamar yang kini ditempati Atreya, Andrew dan juga Claire.


Dengan sigap Andrew mengintip dari balik pintu untuk melihat situasi diluar sana. Lalu ia kembali menutup pintu kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


"Apa yang terjadi?" tanya Claire terlihat panik.


"Mereka menemukan kita, Bibi"


"Siapa?"


"Matthew dan Aaron" sahut Andrew ikutan panik.


"Apa?" kedua mata Claire terbelalak.


Kak Aaron ada disini? Syukurlah, gumam Atreya.


Tak lama kemudian terdengar gedoran pintu dari luar, Claire dan Andrew begitu terkesiap.


"Kita harus bagaimana, Tuan?" tanya satu bodyguard yang bersama mereka.


"Tidak ada jalan lain, Mike. Komplotan mereka lebih dari lima orang, mereka bersenjata semua, kita tidak bisa apa-apa selain keluar dari sini" ujar Andrew. Ia merasa usahanya akan sia-sia. rasanya tidak mungkin Andrew terus mempertahankan Atreya apalagi memilikinya, sementara semua anak buahnya diluar sana sudah berhasil dilumpuhkan orang-orang suruhan Aaron.


"Apa maksudmu? kau mau kabur, begitu? tidak!! aku belum puas melihat perempuan ini menderita" ucap Claire sambil menunjuk pada Atreya.


"Terserah bibi, aku tidak mau mati sia-sia" ujar Andrew, ia lalu mendekati Atreya ingin membisikkan sesuatu, "Kali ini terpaksa kau lolos, Laura. Tapi suatu saat nanti kau akan kembali menjadi milikku" ucap Andrew masih memanggil nama Laura kepada Atreya.


Dasar stress!!


Lelaki itu pun akhirnya nekat membuka jendela yang ada dikamar tersebut. Andrew keluar dari sana diikuti oleh Mike, mereka berusaha meloloskan diri dan berlari ke arah halaman belakang yang menuju langsung ke area hutan.


"Andrew!! kau mau kemana? jangan tinggalkan bibi!!" teriak Claire mendekati arah jendela, dan tak lama kemudian,


BRAKK!!!


Pintu kamar itu terbuka secara paksa setelah sengaja didobraknya.


"Mami??" Aaron begitu terkejut saat mendapati Claire disana. Sosok ibu yang sudah berkali-kali membuat Aaron kecewa dan geram.


Claire menarik tubuh Atreya, dengan cepat mengunci lehernya seraya menodongkan revolver itu ke pelipis Atreya, "selangkah lagi kalian mendekat, abislah dia."


"Atreya!!" pekik Matthew,


"Matt!!" lirih Atreya ketakutan, kini ia berasa diambang kematiannya sendiri. ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Claire orangnya nekat, sepertinya perempuan itu diciptakan hanya untuk menyakiti orang saja, meski pada sesungguhnya manusia diciptakan Tuhan dalam keadaan fitrah (baik) hingga terlahir sampai tumbuh dewasa, akan tetapi keluarga atau lingkunganlah yang menjaga apakah akan menjadi baik atau akan membuatnya jahat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2