
Matthew dan Atreya menunggu Satria datang menjemputnya keduanya. Tak lama kemudian sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti mulus didepan mereka. Satria turun dari mobil tersebut dengan pakaian rapi. Ia mengitari mobil, tersenyum dan kagum melihat kecantikan Atreya malam ini.
“Kalian mau kemana? Kencan? Dimana Casey?” cerca Satria memberondong beberapa pertanyaan secara langsung.
“Hanya Dinner biasa. Mau gabung?" ujar Matthew menawarkan. “Kalau mau aku bisa telpon Bella untuk bersiap-siap.”
"Hah?” Satria begitu terkesiap. “kenapa Bella?” Tanya Satria mengernyit.
“Lho, bukannya kamu sedang mendekati Bella kan?”
“Hahahah…” Satria malah tertawa mendengar ucapan Matthew. “Aku dan Dia tidak ada apa-apa, Matt. Kami hanya berteman. We don’t have a special relationship.” Pemuda itu berusaha menjelaskan. Namun sepertinya Matthew tidak percaya.
Lelaki itu sudah beberapa kali memergoki Satria dan Bella makan siang dikantor bersama. Matthew justru senang sekali jika memang Bella dekat dengan Satria. Gadis yang merupakan sepupunya itu pantas bahagia lagi setelah diputuskan sang kekasih yang memilih perempuan lain pilihan orangtuanya. Dan Satria? Menurutnya Satria lelaki yang tak diragukan lagi. Tak perlu penjelasan panjang lebar siapa sosok pemuda itu.
“Belum mau mengaku juga.” Hufftt! Matthew menarik nafas panjang dan menghembuskannya sekaligus. “Berikan kunci mobilnya!!”
“Heh??”
”Ayo berikan kuncinya!!” Matthew menadahkan sebelah tangannya.
Satria masih menatap bingung.
“Sat, kau bawa mobil ku yang satunya. Kuncinya ambil didalam rumah ditempat biasa. Lalu kau jemput Bella di rumah Daddy. Ajak Casey sekalian. Mengerti?”
“Heuh? Tapi Matt?”
“Gak usah banyak tanya!! Casey pasti senang melihat mu. Aku tunggu disana ya. nanti Atreya kirimkan lokasinya.” ujar Matthew.
Akhirnya Satria pun mengiyakan. Kalau bukan karena Casey, mana mau Satria melakukannya. Ini semua karena bocah cilik itu, bukan semata-mata karena Bella atau perempuan mana pun. Satria belum menemukan pengganti Atreya dihatinya. Dan lelaki itu tidak ingin segera mencari pengganti untuk mengisi ruang yang sudah kosong tersebut.
Matthew membukakan pintu mobil untuk Atreya, dan mengarahkannya untuk masuk dan duduk dikursi depan. Setelah memastikan Atreya duduk dengan nyaman, lelaki itu menutup pintu mobilnya lalu memutar tubuhnya dan duduk dikursi kemudi meninggalkan Satria yang masih berdiri tercengang ditempatnya.
“Sat, kami berangkat duluan ya. Aku titip Casey padamu.” ucap Atreya berkata lembut dari dalam mobil setelah menurunkan kaca pintunya. “kita bertemu lagi disana.” imbuh Atreya lagi dan sukses membuat Matthew sedikit malas lalu menaikkan kaca pintu disamping istrinya itu hingga akhirnya tertutup rapat.
“Kok ditutup sih? Aku kan belum selesai bicara dengannya.”
Matthew tak memberikan ekspresi, ia mendekat kearah Atreya. Atreya masih menatap wajahnya. Namun wajah matthew semakin dekat, lelaki itu menatapnya tajam sambil meraih sabuk pengaman disisi Atreya.
“Aku tidak suka kamu berkata selembut itu padanya.”
DEG!!
__ADS_1
Atreya terdiam dan tak dapat menjawab. Tatapan Mathew menusuk sampai ke batinnya. “secemburu itu kah?” gumamnya dalam hati.
Klik!
Sabuk pengaman milik Atreya terpasang. Perlahan matthew mundur dan membebaskan sang istri dari tatapan tajamnya. Wajah Matthew tetap datar memandang ke depan sambil memasang sabuk pengamannya sendiri.
“Sudah siap?" tanya Matthew.
“Iya" jawab Atreya.
Matthew menghidupkan mobilnya. Lalu membunyikan klakson tanda berpamitan pada Satria yang masih berdiri disisi kanan mobil. Tak lama kemudian pedal gas pun ditancapkannya. Membawa mobil tersebut melaju ke restoran yang sudah direservasi olehnya.
*****
“Kita sudah sampai" ucap Matthew sambil menarik rem tangan pada mobilnya.
Atreya pun langsung melepaskan sabuk pengamannya, dan berancang membuka pintu namun Matthew menahan tangan Atreya.
“Biar aku saja yang membukakan pintu untukmu.”
“Matt, itu berlebihan sekali” ujar Atreya.
Atreya tersenyum, rona wajahnya semakin terlihat. Matthew memang selalu membuatnya merasa diawang-awang. Dan ini lah salah satunya yang membuat Atreya semakin mencintai Matthew.
Matthew mengitari mobil dan membukakan pintu untuk sang istri tercintanya. Ia menekuk tangan kirinya, seraya mempersilahkan Atreya untuk menggandeng dan berpegangan disana.
Atreya lagi-lagi tersenyum dan menyambut tangan Matthew. Suaminya itu terlihat begitu gentle dengan sikap lembutnya.
Mereka masuk ke sebuah restoran mewah. Seorang pelayan berpakaian rapi langsung menyambut mereka.
“Tuan Matthew, Nyonya Atreya, silahkan ke sebelah sini.” pelayan tersebut membawa Matthew dan Atreya ke bagian outdoor restoran. Hanya terdapat satu meja dan empat kursi disana. Matthew sengaja memesannya buat kapasitas empat orang. Yakni untuk dirinya dan Atreya, juga Satria dan Bella.
Eksklusif dengan lampu-lampu dan lilin yang menyala ditengah meja. Sepanjang jalan menuju meja tersebut berderet lilin yang memagar disisi kiri dan kanan. Menyala lembut dengan cahaya kuning yang melambai.
“ini indah sekali.” ucap Atreya berdecak kagum.
Atreya memang sudah biasa ke restoran mahal bila bersama Aaron saat menemui klien dulu. Namun untuk settingan tempat yang terlihat eksklusif dan romantic seperti ini, perempuan itu belum pernah mengalaminya. Dulu saat masih bersama Satria, dia lebih sering mengunjungi kafe atau coffee shop yang lebih kearah santai dan tidak begitu formil. Jadi tempat Ini pertama kali untuk Atreya seumur hidupnya.
“Kamu suka, sayang?”
Atreya mengangguk cepat. Dan Matthew pun tersenyum melihat wajah sang istri yang terlihat bahagia itu. Tidak sia-sia ia mempersiapkan semua ini.
__ADS_1
“
“Mari silahkan duduk Tuan, Nyonya.” ucap sang pelayan akhirnya mengakhiri perbincangan mereka.
Mereka pun lalu duduk berhadapan di meja yang telah disediakan.
“Makanan pembuka akan segera disajikan Tuan. Apa anda ingin wine terbaik kami?” tanya pelayan tadi menawarkan.
Matthew tersenyum dan melirik kea rah Atreya, dia sedikit membuka mulutnya. Entah mengapa terlihat seperti bersiasat.
“Ambilkan wine yang terbaik untuk wanita cantik didepanku, dan air putih saja untukku. Aku mengemudi.” Matthew melemparkan senyuman ke arah pelayan.
“Baik tuan Matthew, akan segera kami sediakan sesuai permintaan anda.”
“Pastikan itu adalah wine yang terbaik ya. yang paling mahal yang kau punya, sehingga sayang jika tidak dihabiskan.” Timpal Matthew masih berbicara dengan pelayan itu namun tatapannya mengunci lurus pada Atreya.
Atreya memandang Matthew sambil mengerutkan dahinya. Seketika dia mencubit lengan suaminya tersebut. “kamu mau membuatku mabuk didepan anakku sendiri?” Atreya melotot. "kau lupa sudah meminta Satria untuk mengajak Casey kemari?"
“OH MY GOD!! Aku lupa, sayang. Bagaimana ini? aku cancel saja ya kalau begitu?" tanya Matthew baru tersadar.
Namun baru saja Matthew hendak memanggil pelayan yang tadi, pasangan Satria dan Bella sudah terlihat dari kejauhan berjalan ke arah mereka.
Sejenak Atreya mengernyit, karena diantara mereka tak terlihat sosok bocah cilik yang telah dilahirkannya kedunia ini beberapa tahun lalu.
"Mana Casey?" tanya Matthew setelah mereka sudah berada dihadapannya.
"Paman tidak memperbolehkan Casey ikut bersama kami. karena Paman sendiri nanti yang akan mengantarkan Casey ke rumah kalian. Itu pun jika Casey sudah minta pulang" ujar Bella.
"Ah, kenapa sekarang malah Daddy yang ngatur Casey? aku kan ayahnya." Matthew jadi sedikit kesal karena Casey tidak jadi datang.
Sejak William memutuskan untuk pensiun, lelaki yang sudah berusia enam puluh tahun itu selalu meminta Casey untuk menginap dirumahnya, bahkan hampir setiap weekend Casey selalu menginap dirumah kakeknya tersebut.
"Sudahlah, setelah dari sini kita pulang ke rumah Daddy saja ya!" ucap Atreya mencoba menenangkan Matthew seraya mengusap-usap lengannya.
Matthew pun mengiyakan dan akhirnya mempersilahkan Satria dan Bella untuk duduk di satu meja yang sama.
.
.
.
__ADS_1