
Sepulangnya dari villa waktu itu, tanpa Atreya ketahui Matthew langsung membelikannya sebuah grand piano Irmler besutan Jerman keluaran terbaru. Rupanya Matthew serius ingin mengajari istrinya tersebut bermain dasar piano, mengingat Atreya pun sangat antusias dengan alat musik besar itu. Namun karena kesibukan Matthew dikantor, membuat proses belajar pianonya tertunda. Tadinya Matthew ingin memanggil guru les piano untuk Atreya, tapi perempuan itu menolaknya dengan alasan itu tidak terlalu penting, sambil jalan saja jika ada waktu luang.
Hari demi hari pun berlalu begitu cepatnya, Atreya merasa bosan, karena kegiatan sehari-harinya lebih banyak ia lakukan dirumah saja. Prioritas utamanya hanya menemani Casey bermain dan belajar. Terkadang ia merindukan saat-saat dirinya masih bekerja dikantor kakaknya, atau saat dia masih memimpin perusahaan peninggalan sang Daddy yang ada di Dublin. Sayangnya, perusahaan itu kini sudah ganti kepemilikan karena Aaron, sang kakak telah menjualnya. Sejak insiden memalukan itu hidup Atreya boleh dibilang berantakan, semua cita dan angan-angannya hancur lebur. Semesta seakan mempermainkan jalan hidupnya yang selalu tidak berjalan mulus.
*****
Hari ini, Bocah bernama Casey punya kegiatan baru. Matthew menyewa guru privat untuk mengajarkan Casey calistung, mengingat usianya yang mau menginjak enam tahun dan berencana akan menyekolahkannya di elementary school awal semester depan. Casey di Indonesia memang sempat sekolah di taman kanak-kanak, bocah itu sudah bisa menulis huruf dan angka. Namun untuk membaca dan berhitung, memang kala itu belum terlalu lancar seperti sekarang. Apalagi dengan bahasa yang berbeda, dan untungnya sejak kecil Atreya selalu mengajarkan Casey dengan dua bahasa ibu.
Atreya tengah asik menyaksikan anaknya yang sedang belajar membaca bersama Miss. Laurent, guru privat rekomendasi dari Bella.
“ E…L…E…P…H…A…N…T” Casey terdengar menyebutkan abjad-abjad tersebut dengan fasih.
“So, read?” tanya Miss. Laurent menunggu jawaban dari sang bocah yang nampak masih berfikir keras.
“Elephant?” sahut Casey ragu.
“Yess you great, Casey!!” seru Miss.Laurent memberikan pujian. Casey memang termasuk bocah yang cerdas dan mudah menghapal. Atreya pun tersenyum bahagia dan bangga dengan kemajuan Casey yang berkembang begitu pesat, padahal baru dua hari bocah itu memulai les privatnya.
Namun kegembiraan Atreya terinterupsi saat ponselnya bergetar. Matthew yang menelpon rupanya.
“Rea, bisa minta tolong?” kalimat Matthew yang terdengar tergesa-gesa membuat Atreya sedikit panik.
“Kamu kenapa, Matt? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Atreya cemas.
“Aku baik-baik saja” tukas Matthew diseberang sana cepat. “tapi kali ini aku butuh bantuanmu secepatnya, Rea.”
“Apa? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Atreya tak sabar.
“Ada dokumen penting yang tertinggal di rumah. Dokumen itu didalam map merah yang berada dilaci meja kerjaku. Bisa kamu bawakan dokumen itu ke kantor sekarang juga? Kebetulan Satria dan Bella sedang berada diluar karena ada pertemuan penting dengan klien yang lainnya.”
“Oh, oke-oke. Aku akan segera ke sana secepatnya”
Atreya lalu berpamitan terlebih dulu dengan Miss. Laurent, dan meminta para maid dirumahnya untuk mengawasi Casey selama dirinya pergi mengantarkan dokumen itu ke kantor Matthew. Lalu ia pun bergegas ke ruang kerja Matthew, dan menemukan map merah berisi dokumen penting yang diperlukan suaminya tersebut. Tapi tunggu!! Atreya sejenak terpaku pada obat-obatan yang berserakan didalam laci yang sama.
Obat apa ini, kok banyak sekali? Ku rasa ini bukan obat vitamin yang sering Matthew katakan itu. mana mungkin obat vitamin sebanyak ini. Lagipula aku tidak terlalu bodoh untuk kau bohongi, Matt.
__ADS_1
Atreya begitu penasaran, lalu segera mengeluarkan semua obat-obatan yang tercecer didalam sana. Atreya meyakini ini pasti milik Matthew. Milik siapa lagi yang berada di laci meja kerjanya ini selain suaminya sendiri. Satu persatu Atreya baca nama obat tersebut, namun dia tidak paham juga ini obat untuk apa. Andai saja Daddynya yang seorang dokter itu masih ada, mungkin Atreya tidak akan kesulitan untuk mengetahui jenis-jenis dari obat tersebut.
Dia pun langsung membuka ponsel pintarnya, mencari info tentang nama obat-obat tersebut melalui si pintar google. Karena itulah solusi terbaik untuk segera mengetahui jenis-jenis obat apa saja yang kini ada ditangannya itu. Namun baru saja hendak berselancar, ponselnya itu kembali bergetar. Matthew kembali menelpon dirinya. Haissh!!
“Rea, kau sudah berangkat kan? Satu jam lagi dokumen itu harus ditanda tangani oleh Tuan Andrew sebelum beliau kembali ke London”
“Oh, aku sudah mau berangkat ini, Matt. Map nya baru saja aku ambilkan dari ruang kerjamu.” Sahut Atreya lalu dengan cepat memasukan kembali obat-obat itu kedalam laci, mengurungkan niatnya untuk mencari tau tentang obat-obatan tersebut. Dia pun segera pergi dari ruangan kerja suaminya sambil menenteng dokumen penting itu.
Atreya bergegas ke kamarnya untuk mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian yang lebih pantas dari wardrobenya, Ia pun sedikit bersolek. Bagaimana pun dia adalah istri dari seorang Matthew Clark Polan, CEO dari NEOTECH Company yang harus selalu menjaga sikap dan penampilannya dihadapan publik.
Dress berwarna hitam selutut dipilihnya untuk kepentingan mengantar dokumen ke kantor Neotech hari ini, dipadukan dengan cardigan berwarna putih, dan ankle boot hitam juga kate spade putih tulang tempatnya menyimpan dokumen itu dengan aman. Atreya hanya mengikat rambutnya keatas dengan rapi tanpa aksesoris apapun.
“Nyonya mau berangkat sekarang? Ken sudah menunggu nyonya didepan.” tanya salah satu maid yang baru saja memberitahukan Ken, sopir pribadi Atreya untuk bersiap-siap mengantar majikannya ke kantor Neotech.
“Baik, Nyonya. Hati-hati dijalan.”
Atreya pun hanya tersenyum lalu bergegas menuju mobil yang sudah siap untuk mengantarnya.
*****
Entah kenapa dan ada apa jalanan menjadi macet. Padahal biasanya tidak pernah macet seperti ini. Ah, Atreya jadi teringat Indonesia kembali. Jakarta utamanya, ibukota yang setiap saat dipenuhi mobil-mobil dan motor-motor yang semuanya ingin segera tiba ditujuan. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang rela bersabar. Bunyi klakson bahkan masih tega untuk saling bersahutan meski efeknya, pergerakan tiap kendaraan tidak lebih dari satu meter. Dan hal serupa kini terjadi di Berlin, situasi ini sangat membuat siapa pun menjadi stress mendadak.
Terlebih lagi Atreya yang harus segera mengantarkan dokumen penting Matthew yang tertinggal. Hati perempuan itu menjadi cemas. Bagaimana kalau ia terlambat mengantar dokumen itu? Bagaimana kalau Tuan yang berasal dari London itu sudah tiba dikantor? Bagaimana kalau dia gagal menyelamatkan hari suaminya? Mungkin Atreya akan dicap sebagai istri yang tidak becus. Masa mengantar dokumen saja butuh waktu berabad-abad?
Astaga!! Kenapa aku bisa berfikiran seperti itu? Tidak, tidak mungkin begitu kenyataannya. Tenanglah, Atreya!!
Perempuan itu terus mengendalikan pikirannya tersebut. Terutama pikiran negative dan ketakutannya. Tidak semua hal di dunia ini bisa diramalkan oleh kekuatan pikiran buruknya. Kenapa tidak mencoba untuk berpikir yang positif? Atreya kini menantang dirinya sendiri, sembari memperhatikan mobil-mobil yang mengantri panjang dihadapannya.
__ADS_1
TIIN!! TIIN!!
Astaga!! Sebuah mobil dibelakang mobil Atreya membunyikan klakson dengan begitu emosional, membuat Atreya tersentak dan membuyarkan lamunannya sendiri.
“Benar-benar tidak sabaran” ujar Ken dibelakang kemudi.
Atreya tertawa ringan, “Iya, Ken. Kira-kira ada apa ya bisa macet begini? Biasanya kan jarang terjadi.”
“Kalau macet begini biasanya ada kecelakaan, Nyonya.” Jawab Ken mengintip wajah Atreya melalui kaca spion tengah.
“Apa tidak ada jalan alternatif lain menuju ke kantor, Ken?” tanya Atreya sudah tidak sabar rasanya.
“Ada, Nyonya. Diperempatan depan kita belok ke kanan. Jalan itu menghubungkan ke jalan dibelakang gedung NEOTECH, tapi sedikit memutar."
“Oke, kita coba lewat jalan itu ya, Ken. Semoga saja lancar”
“baik, Nyonya”
Obrolan singkat tadi membawa mereka maju beberapa meter dari posisi sebelumnya. Tidak signifikan sih, tapi lumayan. Setidaknya kemacetan ini bergerak. Lalu mobil berbelok ke kanan menuju jalan yang agak kecil dari yang sebelumnya, namun tidak sepi juga. Ada beberapa kendaraan yang juga muncul dari arah berlawanan.
“Hati-hati, Ken!! Jalannya kecil” Atreya mulai sedikit cemas.
“Aman, Nyonya. Saya sering melewati jalan sini, kok.”
“Hmm, Oke” suara Atreya mengambang, masih diliputi keraguan.
Persis ketika Ken membelokkan mobil, tiba-tiba anak kecil melintas begitu saja menggunakan sepedanya.
CKIITT!!
Ken sesegera mungkin menginjak dalam Rem mobil. Untung saja tidak sampai menabraknya, dan sang bocah itu malah dengan polosnya pergi begitu saja tanpa menghiraukan orang yang berada dalam mobil ini bergitu syok dan kaget karena ulahnya.
“Ya ampun!!” Atreya reflek memekik. Sungguh, penampakan bocah yang melintas itu sangat tiba-tiba sekali.
Dan detik berikutnya,
BRAAKK!!
.
.
.
Bersambung!!
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan bagi poinnya untuk Author ya.... terimakasih 🤗