
Terlihat Atreya dan Satria tengah mengikuti brankar rumah sakit yang baru saja menghilang dibalik pintu. Seorang perawat menahan mereka disana sambil berkata, "maaf, Tuan, Nyonya. Pasien sedang dalam penanganan. Kalian tidak diperkenan kan masuk. Mohon dapat menunggu di luar."
Wajah Atreya terlihat sangat cemas. Ia mengerutkan alisnya seraya memohon, tapi kembali ditolak oleh perawat tersebut. Perempuan itu akhirnya menyerah dan membiarkan petugas medis melanjutkan tugasnya.
"Tenanglah, Rea" Satria mengusap pundak Atreya untuk sekedar menenangkan.
Perempuan yang sedang gelisah tersebut langsung memalingkan wajahnya ke arah Satria disampingnya. "Sat?" lirihnya dengan suara gemetar menahan tangis.
Satria memegang kedua lengan Atreya. "Matthew akan baik-baik saja, Rea"
Atreya mendesah cemas. "Sebelum kamu datang Matthew masih sadar. Tapi kenapa tiba-tiba dia jadi tidak sadarkan diri begitu, Sat?"
"Kita akan mengetahui penyebabnya setelah dokter selesai memeriksa Matthew. Kita harus selalu berfikir positif, Rea" ujar Satria.
Atreya membuang nafas lesu. Tak mampu lagi mengeluarkan kata.
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang IGD. Menurunkan masker yang menutupi mulutnya seraya menatap fokus pada Atreya.
"Dokter, bagaimana suami ku? apa dia sudah sadar? Dia baik-baik saja kan?" cerca Atreya seolah tak mau membuang-buang waktu untuk menanyakan keadaan suaminya tersebut.
Dokter itu membuang nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan perempuan dihadapannya tersebut.
"Suami anda baik-baik saja, Nyonya. Anda sudah bisa menemuinya" ucap Dokter itu tersenyum hambar.
"Apa suami ku sudah sadar?" tanya Atreya.
Sang dokter hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Senyum Atreya merekah, binar mata birunya memancarkan rasa senang yang luar biasa.
"Tuan Matthew sudah menunggu anda di dalam bersama dokter Steve." ujarnya dan sukses membuat Atreya begitu girang. "tapi maaf, hanya boleh dikunjungi oleh satu orang saja" kata sang dokter lagi seraya menatap kilas pada Satria.
"Sat, kamu tunggu disini ya!" pinta Atreya. dan Satria pun mengangguk setuju.
Tubuh perempuan itu segera bergerak, langkah kakinya melangkah pasti menuju ke dalam ruangan IGD.
^^
"Matt?" Atreya mendekati Matthew yang tengah berbincang dengan dokter Steve.
"Atreya" sapa Steve, dan perempuan itu hanya membalas sapaan Steve dengan senyuman kecil. Perhatiannya kini tertuju pada suaminya yang masih berbaring diatas sana.
"Matt" lirihnya.
Lelaki yang nampak pucat itu akhirnya menoleh, lalu tersenyum tipis menyambut kedatangan sang istri yang begitu dicintainya.
"Apa yang kamu rasakan?" Atreya langsung mendaratkan punggung tangannya di dahi Matthew. "Apa masih terasa pusing?" tanyanya lagi ingin memastikan kondisi suaminya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, sayang" ucap Matthew tertawa kecil melihat tingkah Atreya yang menurutnya berlebihan.
"Kalau baik-baik saja tidak mungkin sampai tak sadarkan diri seperti tadi, Matt."
"Tapi nyatanya aku baik-baik saja, Rea. kalau tidak percaya kau bisa tanya Steve. Betulkan Steve?" Matthew sekilas memberi isyarat mata pada Steve yang berdiri di belakang Atreya. "Aku memiliki riwayat anemia makanya bisa tak sadarkan diri seperti tadi" ujar Matthew berusaha meyakinkan sang istri agar mempercayainya.
"Anemia?" Atreya memicingkan sebelah matanya. "aku juga dulu punya riwayat anemia. Tapi belum pernah sampai tak sadarkan diri begitu."
"Setiap orang miliki ketahanan tubuh masing-masing, sayang. Mungkin aku tidak sekuat dirimu. Aku akui aku lemah" ujar Matthew seraya menghembuskan nafasnya.
"Tidak, kamu tidak lemah. Kamu pelindung ku dan Casey. Jadi kamu harus sembuh ya! berjanjilah untukku." ucap Atreya seraya mengelus lembut rahang pipi milik Matthew, lalu menundukkan wajahnya ke arah wajah sang suami yang berbaring diatas tempat tidur rumah sakit.
CUPP!!
"I love you" bisik Atreya setelah mengecup sekilas bibir Matthew yang nampak kering dan pucat pasi itu.
Matthew mengerjap, senyumnya kembali merekah saat mendengar bisikan dari istrinya tersebut.
Atreya, terimakasih karena akhirnya kamu mau mencintai ku. Aku juga mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Semoga aku bisa terus melihat senyum mu dengan kedua mata ku ini selamanya.
*****
Lima hari kemudian.
Matthew sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dia rutin mengkonsumsi obat-obatan dari Steve untuk menghambat sel-sel kanker menjalar cepat. Namun hari ini adalah jadwal pertama buat Matthew untuk kemoterapi sesuai anjuran Steve ketika dirumah sakit waktu itu.
"ke luar kota? kenapa mendadak sekali?" Atreya menghentikan jemarinya lalu mendongak menatap sang suami.
"Semalam Cathy menghubungi ku saat kau sudah tidur. Ada kendala di perusahaan yang Cathy pimpin terkait calon investornya."
"Berapa hari?" tanya Atreya kembali memasangkan dasi suaminya.
"Aku belum tau, mungkin empat atau lima hari. Tapi akan ku usahakan pulang lebih cepat."
Atreya membulatkan bola matanya. "kenapa lama sekali? biasanya satu sampai dua hari saja. Ini hanya keluar kota kan bukan ke luar negeri?"
Matthew tersenyum mendengar semua pertanyaan Atreya yang terlontar. "Iya, aku hanya ke keluar kota saja, sayang. Kebetulan ada beberapa pertemuan dengan beberapa klien disana, jadi biar sekalian. Seperti pribahasa yang mengatakan, 'sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui' betulkan?" ujar Matthew terkekeh.
Atreya hanya mencebik. Entah kenapa dirinya enggan ditinggalkan Matthew meski hanya beberapa hari. Mengingat sang suami yang baru saja sembuh dari sakit malah sudah harus sibuk ke luar kota untuk urusan pekerjaannya. Atreya berfikir apakah sebaiknya dia ikut saja menemani Matthew? tapi bagaimana dengan Casey? bocah itu tidak bisa Atreya titipkan kepada ayah mertuanya itu, karena kebetulan William dan Lily sudah dua hari berada di Amsterdam untuk menghadiri pernikahan salah satu kerabatnya.
"Agar tidak bosan dirumah selama aku diluar kota, pergilah ke villa daddy didaerah perkebunan. Udara disana masih sangat segar, Casey pasti menyukainya" ujar Matthew memberi saran. Lelaki itu mengerti akan kecemasan Atreya saat ini.
"Villa?" Atreya mengernyit.
"Ya, itu menyenangkan bukan?"
__ADS_1
Wajah Atreya tiba-tiba berubah, dia terlihat begitu antusias mendengarnya. "Baiklah, aku mau, Matt. Tapi boleh ku ajak Bella?"
Pertanyaan Atreya membuat Matthew tertawa. Dia senang Atreya terlihat sudah melupakan kecemasan pada dirinya yang selalu terlihat sejak beberapa hari sebelumnya.
"Tentu saja boleh. Bella sudah sering liburan disana. Tinggallah disana sampai aku pulang" ujar Matthew.
Atreya mengangguk, perempuan itu terlihat sangat senang lantas memeluk Matthew, erat. Dia berfikir setidaknya tidak akan terlalu bosan daripada dirumah saja tanpa kehadiran Matthew selama beberapa hari kedepan.
Matthew sangat kaget mendapat pelukan tiba-tiba dari istrinya. Tapi kemudian Matthew menyunggingkan senyumannya, lantas dia pun melingkarkan lengannya, balas memeluk tubuh Atreya dan menarik sang istri ke dalam dekapannya.
*flashback
Matthew telah siuman saat Steve sedang memeriksanya di ruang IGD waktu itu. Matthew mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatan dan kondisi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Apa yang kau rasakan, Matt?" tanya Steve seraya memeriksa bagian dada Matthew menggunakan stetoskopnya.
Matthew menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan dari dokter Steve. "badanku hanya lemas saja" ujarnya.
"Kamu harus segera melakukan kemoterapi dan penanganan medis lainnya, Matt!! aku akan segera menjadwalkannya."
"Terserah. Lakukan saja apa mau mu, Steve" sahut Matthew terdengar malas seolah terpaksa.
mendengar hal itu membuat Steve mengernyit. "kau sebenarnya ingin sembuh atau tidak sih?"
"Sekarang aku ingin tanya padamu. Apa dengan melakukan kemoterapi akan menjamin akan sembuh total? tidak kan? itu hanya salah satu cara memperlambat pertumbuhan sel-sel kanker saja. Dan pada akhirnya itu akan sia-sia. Aku akan tetap mati karena penyakit ini" jawab Matthew seolah sudah putus asa.
Steve menghembuskan nafasnya kasar. "Mati seseorang itu rahasia Tuhan. Setidaknya kita telah berusaha untuk bertahan hidup. Jangan pesimis dulu, banyak diluar sana penderita leukimia yang bisa sembuh dan bisa bertahan hidup sampai sekarang." ujar Steve dan sukses membuat Matthew terdiam.
"Kalau kau mencintai istri dan anakmu, setidaknya berjuanglah untuk mereka. Atreya dan Casey akan sangat sedih bila tau hal ini, Matt" ucap Steve seraya menepuk dada Matthew yang masih posisi terbaring diranjang rumah sakit.
"Oke, kau atur saja jadwalnya. Namun beritahu aku dulu sebelumnya. Aku akan mengatur alasannya pada Atreya agar dia tidak curiga" kata Matthew. Omongan Steve barusan mengubah pola pikir Matthew yang tadinya pasrah menjadi sedikit bersemangat lagi untuk melawan penyakitnya itu.
"Apa sebaiknya Atreya tau dengan kondisi mu, Matt? setidaknya kau akan mendapat dukungan moril dari orang-orang yang kamu cintai. Atreya pasti akan menjadi penyemangat mu."
"Tidak" Matthew menggelengkan kepalanya. "tidak ada yang boleh tau kecuali dirimu dan Cathy. Tanpa Atreya tau tentang penyakitku ini, dia sudah menjadi penyemangat hidupku." ujar Matthew dan sukses membuat sang dokter menggeleng-gelengkan kepalanya merasa takjub dengan pasiennya yang satu ini.
"Baiklah, jika itu memang keputusan mu. Sekarang aku akan meminta dokter lain untuk memanggilkan Atreya diluar agar tidak curiga. Dia sangat cemas mengkhawatirkan mu, Matt"
Dan Matthew pun mengangguk.
*flashback end.
.
.
__ADS_1
.
.