Lovely Atreya

Lovely Atreya
dua pilihan sulit


__ADS_3

"Apa-apaan ini?" tiba-tiba seseorang datang seraya menatap tajam pada keduanya.


Seketika Atreya mendorong tubuh Matthew untuk menjauh darinya.


"Kak, Ar?"


Atreya begitu terkejut dengan kedatangan Aaron yang tiba-tiba datang berkunjung. Biasanya sang kakak selalu menghubunginya terlebih dulu sebelum kerumahnya. Atreya pun segera menghapus genangan air dikedua pipi oleh punggung tangannya. Berdiri tegap dan berusaha tenang untuk mengontrol sisa emosi yang tadi sempat meledak.


"Aaron" sapa Matthew terlihat tenang tanpa beban apa pun. Ia bahkan terlihat tidak terkejut sama sekali dengan kedatangan Aaron.


"Kau sudah lama disini? sudah bertemu Casey?" tanya Aaron Seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok keponakannya itu. "dimana dia?"


Atreya tak menanggapi ucapan sang kakak. Ia terus memperhatikan tingkah kedua laki-laki dihadapannya dengan tatapan mencurigakan. Ada yang gak beres dengan mereka? kenapa kakaknya itu tidak marah saat kedatangannya disambut adegan pelukan seperti tadi? biasanya Aaron sangat protektif sekali. Bahkan dulu saat memergoki Satria memeluk tubuh Atreya pun ia langsung mengeratkan rahangnya, seolah tidak rela adiknya disentuh lelaki manapun.


"Rea," Aaron menyentak Atreya yang sedari tadi terlihat bengong.


"Kak Ar, bisa kita bicara 4 mata sebentar?" pinta Atreya tiba-tiba.


"Ada apa? bicara saja disini." sahut Aaron menjatuhkan tubuhnya dikursi lalu menyandarkan punggungnya kebelakang.


"Aku tidak mau ada orang asing yang ikut mendengarkan pembicaraan kita" seru atreya seraya melirik sinis pada Matthew.


"Orang asing? siapa maksudmu orang asing? Matthew?" sahut Aaron seraya menunjuk ke arah Matthew. Atreya pun hanya mendelik dan mendengus.


"Dia bukan orang asing lagi, Rea. Matthew ayahnya Casey, dan kalian harus segera menikah. Aku su--"


"oohh, aku paham Sekarang." Atreya memotong kata-kata Aaron dengan kedua matanya yang sudah penuh. "jadi laki-laki ini tau semuanya dari kakak?"


Atreya menggeleng-gelengkan kepalanya seolah takjub dengan kehidupannya yang penuh liku-liku. Sungguh dia sangat kecewa kepada Aaron.


"Rea, bukan begi--"


"Cukup, kak !! aku bukan Casey yang butuh penjelasan secara detail. Melihat bahasa tubuh kalian saja aku sudah bisa membacanya" potong Atreya lagi dan membuat Aaron jadi terlihat emosi.


"Atreya !! kau tidak sopan sekali. Aku ini kakakmu, kau tidak berhak memotong pembicaraanku begitu saja." Seru Aaron melotot kearah sang adik.


Atreya pun menyadarinya, ia memang salah karena telah bertindak tidak sopan kepadapada Aaron. Namun ia juga berhak menentukan masa depannya sendiri tanpa harus terus menuruti apa kata kakaknya.


"Ayo, sebaiknya kita bicarakan baik-baik didalam ! tidak enak bicara diluar." Aaron beranjak dari duduknya.


Akhirnya Atreya dan Matthew pun mengikuti, mereka memutuskan masuk kedalam rumah untuk melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus.


** Flashback On


Matthew mendatangi Aaron dikantornya. Ia tak bisa berlama-lama menyimpan sesuatu yang seharusnya ia ungkapkan meski apa akhirnya mungkin akan menimbulkan aksi sarkas dari seorang Aaron.


"Ar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


kedatangan Matthew membuat Aaron sedikit kaget karena datang tiba-tiba dan menyelonong begitu saja kedalam ruangannya.

__ADS_1


"Matt, ada apa ini? bisakah mengetuk pintu lebih dulu sebelum kau masuk?" ucap Aaron jengah. Lelaki itu paling tidak menyukai bila ada orang yang datang ke ruangannya tanpa permisi.


"Sorry, Ar. tadi diluar sekertaris mu sedang tidak ada. Maka dari itu aku langsung masuk" sahut Matthew tanpa merasa bersalah.


Didalam ruangan itu ternyata ada Marshall yang sedang membahas masalah pekerjaan bersama Aaron. Marshall yang tidak mengenal Matthew sama sekali langsung menatapnya aneh karena tingkahnya yang dianggap tidak sopan.


"Siapa dia, Ar ? tidak sopan sekali" bisik Marshall.


Namun ucapannya masih terdengar jelas oleh Matthew. Sekali lagi lelaki itu meminta maaf pada keduanya karena telah mengganggu keseriusan antara Aaron dan Marshall yang sedang membahas masalah pekerjaan di ruangannya.


"It's Oke Matt." ucap Aaron terkekeh, lalu melirik pada Marshall. "Shall, ini Matthew. Dia temanku waktu masih sama-sama kuliah dulu." tutur Aaron mengenalkan Matthew pada Marshall.


Mereka sama-sama jebolan universitas ternama di dunia. Hanya saja Matthew mengambil jurusan yang berbeda dengan Aaron.


"Matthew ini anak kedua Mr. Polan. salah satu mitra kerja O'Neill company di Dublin yang berasal dari Berlin." sambung Aaron lagi, dan sukses membuat Marshall membulatkan matanya dengan sempurna.


"Mr. William Polan NEOTECH maksudmu?"


"Ya. kini Matthew yang memegang NEOTECH di Indonesia" jawab Aaron.


Ternyata Matthew bukan orang sembarangan. Ia mempunyai pengaruh besar juga didunia bisnis di bidang Informatika khususnya.


"Ar, aku perlu bicara serius denganmu. Kau ada waktu?" ucap Matthew kemudian.


"Ya tentu. bicaralah !!" jawab Aaron santai.


Matthew lalu melirik ke arah Marshall. Rasanya tidak nyaman bila membicarakan masalah pribadi didepan orang yang baru ia kenal. Aaron pun langsung bisa menangkap sinyal itu dari wajah Matthew yang keder.


"Oya?" Matthew terlihat tersenyum tipis dihadapan kakak beradik itu.


Nyalinya sedikit menciut saat ia akan mengakui sebuah kebenaran dihadapan mereka berdua. Tapi Matthew bukan tipe laki-laki pengecut, ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aaron dan Marshall saat Matthew mengakui bahwa yang menodai dan membuat Atreya hamil itu adalah perbuatannya.


"Aaron, waktu itu aku sedang menghadiri pertemuan dengan para klien disebuah hotel sampai larut malam. Lalu aku memutuskan untuk menginap saja dihotel tersebut. Namun saat aku kembali ke kamar hotel, tiba-tiba entah dari mana asalnya ada seorang gadis mabuk didalam kamarku. Gadis itu terus saja meracau dan minta disentuh. Aku berusaha mengelak, tapi gadis itu nampaknya sedang kesakitan karena pengaruh sex drop yang sepertinya ia konsumsi juga."


"Aku terbawa suasana. Gadis itu terus memaksaku hingga membuat pertahanan ku runtuh. Akhirnya aku pun meniduri gadis mabuk itu. tap----"


"Tunggu, Matt !!! siapa yang sebenarnya kau ceritakan?" Aaron memotong cerita Matthew seraya menautkan alisnya.


Aaron merasa cerita itu hampir mirip dengan cerita adik perempuannya saat baru saja kembali dari Dublin beberapa tahun yang lalu. Namun Matthew tidak menanggapi pertanyaan Aaron, ia malah terus menceritakan kronologisnya. Matthew tau, Aaron sudah mulai bisa menangkap maksud ceritanya itu.


"Bertahun-tahun aku mencarinya, Ar. Aku cari keseluruh daerah yang berada Dublin, namun gadis itu tak bisa kutemukan. Sampai akhirnya aku mulai menyerah, lalu menerima tawaran ayahku untuk mengelola cabang perusahaan yang ada di Indonesia. Tak disangka, ternyata disini dia berada. Aku menemukannya, Aar. Mungkin Tuhan sengaja membawaku ke sini untuk menemukannya melalui tawaran Ayahku."


Tutur Matthew panjang lebar. Sementara Mata Aaron sudah terlihat memerah, dadanya terasa panas hingga menjalar ke kepala seolah ingin meledakkannya, rahang tegasnya pun mengerat dengan kedua telapak tangan sudah ia kepalkan, dan siap diluncurkan kewajah seseorang dihadapannya tersebut.


"Benarkah kau sudah menemukannya? siapa dia? apa kami mengenalnya?" tanya Marshall malah terbawa suasana saat mendengar cerita romance dari mulut Matthew. Sungguh ia tidak menyadarinya sama sekali bahwa gadis yang dimaksud adalah Atreya.


"Brengsek !!!"


Bukk!! Bukk!! Bukk!!

__ADS_1


Tanpa aba-aba Aaron meninju wajah Matthew.


"Aaron, kau ini apa-apaan sih !!" Marshall begitu terkejut dengan sikap Aaron yang tiba-tiba saja memukul kawannya tersebut. Namun Aaron tak memperdulikan perkataan Marshall sama sekali.


"Jadi Kau yang sudah berani meniduri adikku hingga hamil!" Aaron berteriak dengan penuh amarah, lalu menendang perut Matthew hingga laki-laki itu terjatuh ke lantai.


Mendengar teriakkan Aaron barusan, membuat Marshall begitu terkesiap hingga membelalakkan kedua matanya tak percaya.


" Apa? jadi kau bajing*n yang sudah bikin Atreya menderita?" giliran Marshall yang tersulut emosi. Ia meninju wajah Matthew sebanyak dua kali.


Matthew mencoba berbicara, namun Marshall tak memberikannya kesempatan bicara lagi. Habislah Matthew babak belur oleh kedua laki-laki yang merupakan saudara dari wanita yang telah ia tiduri waktu itu.


"Hey, hentikan!! ada apa ini?"


Tiba-tiba Sean datang keruangan Aaron karena hendak menyerahkan berkas-berkas yang harus ditandatangani. Sean menyimpan berkas-berkas di dalam map tersebut keatas meja, lalu dengan cepat mengamankan laki-laki yang menjadi bulan-bulanan Marshall dan Aaron.


"Kalian ingin membunuh orang ini lalu berakhir dibalik jeruji, hah??" timpal Sean seraya membantu Matthew berdiri lalu mendudukkannya disofa yang masih berada didalam ruangan Aaron.


Aaron dan Marshall terdiam. Emosinya sudah mulai sedikit reda setelah sukses membuat Matthew babak-belur begitu.


"Ada apa ini sebenarnya? Aar, kau biasanya bisa lebih mengontrol emosi daripada Marshall. Kenapa ini malah jadi sebelas dua belas sih? kompak sekali kalian berdua." ucap Sean terkekeh dan memecah suasana yang awalnya tegang menjadi sedikit rileks.


Akhirnya Aaron menceritakan semuanya pada Sean. Awalnya Sean juga terlihat naik pitam saat mengetahui kebenarannya. Namun ia bisa mengontrol dirinya untuk tetap tenang. Lagipula itu semua telah berlalu, dan sudah lama sekali kejadiannya. Sean berhasil membuat ketiganya kembali tenang, lalu mereka pun duduk bersama-sama untuk membicarakan masalah ini dengan kepala dingin.


"Aku ingin mengambil hak asuh Casey." ucap Matthew seraya mengusap-usap rahangnya yang memar.


"Jangan gila kau, Matt !! Atreya yang mengandung dan mengurusnya. Seenaknya saja mau mengambil begitu." sergah Aaron masih terlihat geram.


"Tapi dia anakku juga, Ar."


"Anakmu apa ?! kau sudah memperkosa adikku, dan aku bisa saja menuntut mu." tukas Aaron dan malah membuat Matthew terkekeh geli.


"Oya? silahkan saja kau mau menuntutku sampai dimana. Ini tidak akan berpengaruh, Ar. Kejadiannya udah lama, lagipula aku dan Atreya melakukan berdasarkan suka sama suka. Tidak ada pemaksaan ataunpun kekerasan sama sekali."


"Brengsek !! seandainya kau bukan temanku, sudah ku bikin kau mampu*s dan ku kirim kau ke neraka" sarkas Aaron yang kesal kenapa harus orang yang dia kenal, yang telah membuat adiknya menderita beberapa tahun lalu.


"Baiklah, aku tidak akan mengambil Casey. Tapi ijinkan aku menikahi Atreya. Sungguh, aku sangat mencintainya, Ar." ucap Matthew kemudian, dan sukses membuat Aaron, Marshall juga Sean terperanjat kaget.


"Luar biasa, Matt. Pilihanmu gak ada bagus-bagus sama sekali." Sahut Sean menyunggingkan senyuman miring pada Matthew.


Aaron benar-benar bingung harus bagaimana. Beberapa Minggu lagi Atreya akan menikah dengan laki-laki pilihannya sendiri. Tapi disatu sisi jika Atreya jadi menikah dengan Satria, ia takut Matthew akan membawa Casey pergi jauh. Laki-laki ini tidak bisa dianggap main-main. Matthew punya pengaruh besar untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa kita duga.


** flashback off


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2