
Hari ini, Atreya mengajak Bella untuk membeli beberapa peralatan bayinya yang belum sempat ia beli sebelumnya. Tadinya Matthew ingin sekali menemani sang istri berbelanja, namun Atreya melarangnya keras dikarenakan kondisi Matthew yang baru beberapa hari lalu keluar dari rumah sakit dan baru sembuh dari sakitnya tersebut.
Atreya dan Bella mengunjungi toko-toko yang menjual perlengkapan bayi disebuah mall.
"Hey, lihatlah, ini lucu sekali..." ujar Bella menunjukan kaus kaki bergambar boneka berwarna merah muda itu kehadapan Atreya.
Atreya menoleh ke arah Bella lalu tersenyum, "Iya, semua perlengkapan bayi selalu terlihat lucu karena bentuknya yang mungil" seru Atreya lalu meraih kaus kaki yang dipegang Bella, dan memasukkan ke dalam troli belanjaannya.
Mereka kembali menyusuri rak demi rak perlengkapan bayi, memilih beberapa pakaian, topi, mantel, kaus tangan, tak lupa membeli beberapa pak diapers untuk persiapan menyambut baby girlnya yang kini masih bersemayam dirahim Atreya.
Setelah dirasa sudah cukup, Atreya pun memutuskan untuk menyudahi belanjanya. "ayo, Bella, kita ke kasir sekarang" ajak Atreya pada Bella yang masih sibuk memilih-milih pakaian lucu untuk calon keponakannya itu.
"Yaah, padahal aku masih ingin memborong semuanya ini, Kak" keluh Bella terlihat sedikit kecewa.
"Ini sudah banyak, mubasir lho. Kepakainya juga sebentar, karena bayi itu cepet banget tumbuhnya" ujar Atreya yang melihat dari pengalamannya dulu, membeli terlalu banyak perlengkapan untuk Casey, nyatanya tidak semuanya terpakai.
"Tapi ini lucu banget, lho" seru Bella menunjukan baju model dress berenda merah mungil itu kehadapan Atreya.
"Ya sudah, beli saja untuk anakmu nanti, Bell" sahut Atreya akhirnya melengos menuju tepat pembayaran.
"Hah?" Bella segera menyimpan kembali pakaian mungil itu ketempat semula, lalu bergegas mengejar Atreya tengah susah payah mendorong troli yang telah penuh dengan belanjaannya itu.
"Gak jadi dibeli?" Atreya melirik Bella yang sudah berada disampingnya ikut mendorong troli.
"Untuk apa? katanya udah cukup, kan?" ucap Bella malah balik bertanya.
Atreya tersenyum seraya melirik Bella, "makanya cepat nikah, nanti kalau sudah hamil kan bisa berburu baju-baju bayi yang lucu-lucu itu" sindir Atreya dan sukses membuat Bella sedikit jengah.
Nikah sama siapa? jangan kan nikah, punya kekasih aja gak punya, batin Bella mengejek dirinya sendiri.
"Jadi totalnya berapa?" tanya Atreya kepada Nona kasir yang telah selesai men-scan barcode pada label disetiap itemnya.
"Mmmm... tidak usah, Nyonya. Ini barang anda semuanya" sahut si kasir lalu menyerahkan semua barang belanjaan Atreya yang sudah di masukkan kedalam beberapa paper bag.
"Maksudnya apa ya? aku tidak perlu membayarnya, begitu?" Atreya mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan ucapan si kasir tersebut.
"Betul, Nyonya. Karena semuanya sudah dibayarkan oleh seseorang" ujar si kasir, dan sukses membuat Atreya dan Bella membulatkan kedua matanya masing-masing.
"Apa?" respon Bella.
"Seseorang, siapa maksud anda?" tanya Atreya masih tanda tanya.
"Mmmm, dia pemilik mall ini. Dan seseorang itu ada dibelakang mu, nyonya" sahut si kasir tampak ragu-ragu.
Reflek Atreya dan Bella menoleh ke belakang.
"Tuan O'Brien?"
Atreya cukup terkejut dengan sosok lelaki yang kini sudah berdiri dihadapannya.
"Anda disini juga, Tuan Andrew?" tanya Bella tak kalah terkejutnya.
Lelaki berpakaian santai namun tetap terlihat elegan itu hanya tersenyum ke hadapan dua perempuan yang nampak masih diselimuti tanda tanya tersebut. Apa coba maksudnya Andrew membayarkan semua belanjaan Atreya yang kira-kira sebesar 500 EUR itu??
"Maaf, Tuan. Nona kasir ini bilang anda telah membayarkan semuanya? maksudnya apa ya?" cerca Atreya langsung pada intinya.
"Hhmmm-- anggap saja itu sebagai hadiah dariku."
"What?? tidak, Tuan O'Brien! aku tidak bisa menerima ini. Aku akan membayarnya" Atreya langsung berbalik ke arah kasir, "berapa total belanjaan ku semua?" tanya Atreya seraya mengeluarkan kartu debitnya.
"Tunggu, Sayang!!" sergah Andrew, dan reflek membuat Atreya mengerutkan keningnya, "eh, maksudku Nona Atreya. Aku tidak ada maksud apa-apa. Matthew itu kawan baikku, aku belum sempat memberikan hadiah apa-apa dihari pernikahannya dulu. Jadi anggaplah ini hadiah untuk kalian dariku. Saya mohon terimalah" ujar Andrew sedikit memelas seraya mengatupkan kedua telapak tangan didepan dadanya.
"Tapi aku tidak bi---"
"Kak, terima saja pemberian darinya. Toh Tuan Andrew kan bukan orang asing buat kak Matthew. Mereka sudah berkawan lama" ujar Bella memotong kalimat Atreya, meyakinkan perempuan itu kalau Andrew itu bukan orang asing bagi Matthew. Bahkan William pun kenal baik dengannya.
"Tapi, Bella. Aku tidak suka caranya seperti ini" bisik Atreya mendekati telinga Bella.
"Tidak apa-apa, tidak enak juga kan bila kita menolaknya" sahut Bella kembali.
Atreya terdiam, rasanya dia sudah malas untuk berdebat lagi karena tiba-tiba saja tubuhnya terasa lelah, mungkin karena ia dan Bella sudah hampir dua jam berjalan keliling mall dan telah melupakan makan siangnya.
"Baiklah, Tuan Andrew. Terima kasih atas kebaikan anda. Kalau begitu kami permisi pulang dulu, sepertinya Kakakku ini sudah kelelahan" ujar Bella kemudian.
"Kalau begitu aku akan mengantar kalian pulang, bagaimana?"
__ADS_1
"Ah, tidak-tidak!! maksudku tidak perlu. Sudah ada sopir yang menunggu kami ditempat parkiran" sergah Atreya dengan cepat. Dia tidak mau lebih banyak lagi merepotkan lelaki itu.
Andrew menghembuskan nafasnya, "Baiklah. kalau begitu kalian hati-hati ya" ujar Andrew terlihat kecewa.
Lalu Atreya dan Bella pun pamit dan segera keluar dari toko tersebut.
Andrew tersenyum miring menyaksikan kepergian kedua perempuan itu, tatapan matanya tak lepas dari sosok perempuan yang tengah hamil, ya dia, Atreya.
Suatu saat nanti, aku akan memilikimu lagi, Laura.
***
"Kenapa belanjanya lama sekali?" protes Matthew setibanya Atreya dan Bella dirumah.
"Namanya juga perempuan, kalau udah belanja suka kalap" ujar Satria nimbrung. Entah sejak kapan pria itu sudah ada dirumah Matthew, bahkan terlihat Lily juga ada ditengah-tengah mereka.
"Mommy kesini sama siapa?" tanya Bella langsung menyapa sang Mama daripada harus mengomentari kedua laki-laki itu.
"Sama Satria" jawab Lily, "tadi Mommy sama Satria habis mengantar William ke bandara. Setelah itu langsung mampir kesini deh, Mommy kangen Casey."
"Paman Will jadi ke New York hari ini? dikiranya diundur Minggu depan" ujar Bella lalu menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, duduk disamping Matthew yang saat itu tengah memperhatikan Atreya yang nampak lemas dan lelah itu.
"Kamu kenapa, Sayang? capek? kalau gitu aku antar kamu ke kamar saja ya?" cerca Matthew terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, hanya lelah sedikit. Oya, Casey belum pulang dari sekolah?" tanya Atreya tiba-tiba teringat anak sulungnya itu yang tidak terlihat diantara mereka.
"Tadi Jhon telpon, katanya hari ini ada latihan untuk pementasan gitu disekolahnya. Jadi hari ini dia akan pulang terlambat" ujar Matthew.
Atreya hanya mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya kesandaran sofa yang membuatnya sangat nyaman untuk tubuhnya saat ini.
Mereka akhirnya berbincang ringan diruang tengah sambil menikmati kopi dan menyantap pastry Croissant buatan para maid.
“Itu…itu apa Kak?” Bella yang baru sadar terlihat kaget dan langsung panik saat melihat ke arah Atreya.
“Ada apa sih, Bel?” tanya Satria gusar. Telunjuk tangan Bella terarah ke lantai dibawah kaki Atreya.
Atreya menatap air bening yang merembes ke betisnya dengan pandangan tidak percaya. Dia tidak merasakan apa pun, hanya sedikit kelelahan saja. Jangankan kontraksi, mulas pun tidak dirasakan perutnya. Dia pun tidak sedang ingin pipis, maka saat dilihatnya air bening yang terus mengalir jatuh itu, Atreya sama sekali tidak menyadarinya. Dulu saat hamil dengan Casey, Atreya merasakan kontraksi luar biasa. Tapi kenapa ini tidak? Atreya jadi sedikit khawatir.
“Matt, ayo cepat bawa Atreya ke mobil, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!!” perintah Lily tegas.
Matthew yang berbengong-bengong segera tersadar saat Satria menyentuh bahunya, lantas langsung mengangkat Atreya, menggendongnya menuju mobilnya yang terparkir didepan.
“Matthew, berapa usia kehamilan istrimu?” tanya Lily yang ikut berlari kecil dibelakang Matthew.
“Mmmm, berapa minggu, Re?” Matthew malah balik bertanya, dia sedang tidak mampu berfikir, apalagi mengingat hal sepelik usia kandungan istrinya di saat-saat genting seperti ini.
“Minggu ini minggu ke-37, Bibi.” Jawab Atreya, kedua tangannya melingkar dileher Matthew, dia tidak merasakan gerakan apa pun di perutnya, tidak ada rasa sakit di tubuhnya dan itu malah membuat Atreya cemas.
“Bibi, kenapa memangnya kalau usia kandungannya 37 minggu?” cerca Matthew, bersusah payah mendudukan Atreya di kursi belakang mobil.
“Bell, Momy ikut mobilnya Matthew saja, ya. Kamu langsung menyusul bersama Satria” seru Lily pada Bella yang ikut terpogoh-pogoh dibelakang mereka, seraya naik ke kursi penumpang depan, disamping Ken yang pegang kendali stir mobil.
“Bibi? Atreya dan anak kami akan baik-baik saja, kan? Iya kan, Bibi?” tanya Matthew mulai panik, dipeluknya bahu Atreya, diusapnya perut Atreya, bulir keringat dingin muncul dikeningnya dengan cepat, napasnya memburu cepat.
__ADS_1
Lily menelan salivanya dengan susah payah, “Bibi juga tidak tau, Matt. Mudah-mudahan Atreya dan anakmu baik-baik saja ya.”
Matthew mengesah, merasa marah entah pada siapa. Baru kali ini Matthew merasa sepanik ini. Kenapa air ketuban Atreya pecah? Bukankah selama ini kandungannya baik-baik saja? Apa yang sedang terjadi sebenarnya?
“Santai aja, Matt. Jangan panik gitu, aku yang hamilnya saja tidak apa-apa” ujar Atreya pelan, berusaha tetap tenang dan berharap hal itu pun bisa menenangkan suaminya tersebut.
Sudah beberapa hari terakhir Atreya memang sudah jarang merasakan tendangan atau gerakan-gerakan sang bayi di rahimnya. Dia sudah berkonsultasi dengan Dokter Marissa via telpon, dan katanya itu wajar terjadi, karena ruang di rahim semakin terbatas seiring sang bayi yang semakin tumbuh didalam rahim.
Lantas kenapa air ketubannya sudah pecah tanpa kontraksi apa pun? Atreya tidak mengerti. Tapi kalau sampai air ketuban itu habis, bukankah bayi didalam sana akan kesulitan untuk bernafas? Bukankah air ketuban itu yang selama ini membuat sang bayi bertahan hidup?
Atreya segera menepis pertanyaan-pertanyaan konyol itu dari pikirannya. Dia yakin betul, anaknya didalam sana baik-baik saja, dan dia akan tetap baik-baik saja. Atreya rela menukar seluruh hidupnya untuk keselamatan bayinya.
“Kau bisa lebih cepat lagi gak sih, Ken?” omel Matthew pada Ken yang sudah sejak tadi ikut panic. Lily berkali-kali menengok ke belakang dan juga terlihat tidak tenang melihat air ketuban Atreya yang sepertinya terus mengalir.
Atreya membelai lengan Matthew pelan, dia mengerti kepanikkan suaminya itu. “tenanglah, semua akan baik-baik saja, Matt” lirihnya. Namun Matthew terlihat masih belum tenang.
Atreya menutup matanya, mencoba bermeditasi, mencoba terhubung dengan bayi yang ada didalam rahimnya tersebut, bertahanlah sebentar lagi, Nak. Kita akan segera bertemu, ujar Atreya dalam hati.
Melihat Atreya yang terpejam, hati Matthew semakin kacau. Sebuah sekenario buruk terlintas dikepalanya. Lalu Matthew menepuk-nepuk pipi Atreya dengan tidak sabar. “Rea, sayang, jangan tertidur begitu, sebentar lagi kita sampai. Atreya, ayolaah!! Kalian berdua akan baik-baik saja, oke?”
Atreya mengangguk lemah, dia percaya dengan apa yang dikatakan Matthew. Dia tersenyum saat Matthew mencium keningnya, dan kembali memejamkan mata, tapi tangan lelaki itu kembali menepuk-nepuk pipinya yang terasa begitu dingin, membuat Atreya terpaksa kembali membuka matanya.
***
Mereka sudah tiba di rumah sakit, Atreya segera dibawa ke ruang Instalasi gawat darurat. Samar terdengar ditelinga Atreya suara Matthew dan Lily yang mencoba menjelaskan pada perawat dan dokter tentang apa yang terjadi.
“Jika air ketubannya sudah benar-benar habis, harus segera di caesar untuk menyelamatkan keduanya”
“Lakukan yang terbaik, Dok.”
“Seandainya---“
“Selamatkan Atreya, Aku tidak bisa hidup tanpa istriku.”
Suara-suara disekeliling Atreya semakin sayup, semakin hilang, semakin hilang dan benar-benar menghilang sesaat kemudian.
.
.
.
.
__ADS_1