
Berlin, Jerman.
"Selamat datang di Berlin, Istriku", ucap Matthew saat dirinya, Atreya dan Casey baru tiba di Berlin Schonefeld airport.
Kota tua penuh pesona yang di mata turis selalu menarik untuk dijelajahi, termasuk Atreya yang baru kali pertama menginjakkan kakinya di salah satu kota terbesar di Eropa yang menyimpan beragam pesona. Berlin identik dengan pesta dan kehidupan malamnya yang semarak. Bisa dikatakan semua jenis hiburan dan ihwal berbau kesenangan tersaji di ibu kota Republik Federal Jerman ini. Namun, tentu bukan hanya itu daya pikat Berlin. Beragam pesona lain jadi daya tarik kota ini sejak dulu. mulai film, sastra, arsitektur, sejarah, hingga kuliner.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga besar William Hopper Polan.
"hi, senang bisa berkenalan dengan kalian." Sapa seorang perempuan paruh baya yang terlihat mempesona dan begitu elegan menyapa Atreya dan Casey. Bocah itu terlihat bersembunyi dibalik tubuh sang Mama jika merasa dirinya asing ditengah-tengah lingkungan yang baru.
"Rea, ini bibi Lily. adik dari Daddy." ucap Matthew mengenalkannya.
Atreya tersenyum lalu mengenalkan dirinya dan juga Casey pada Lilly.
Selain Lily, ternyata dirumah yang besar itu juga sudah ada Kyle. kakak Matthew yang baru datang dari Sidney. juga Jeany, istri Kyle yang tengah hamil tua.
"dimana Daddy." tanya Matthew pada Lily.
"William masih golf bersama rekan-rekan bisnisnya. mungkin sebentar lagi dia akan kembali." jawab Lily. "kalian sebaiknya istirahat dulu dikamar. kasihan Casey, dia pasti lelah setelah berjam-jam di pesawat." saran Lily.
Matthew pun akhirnya membawa istri dan anaknya tersebut ke salah satu kamar yang sengaja sudah dipersiapkan untuk Matthew dan keluarga kecilnya.
*****
Malam harinya, keluarga besar Polan sedang menikmati makan malam bersama. Diruang makan William mulai membuka topik pembicaraan yang sedari tadi sudah ditahannya. Laki-laki berperawakan tegap dengan aura bijaksana itu sambil memotong daging steaknya berkata, "gimana Matt, perusahaan disana aman?" kata direktur utama NEOTECH company itu.
Matthew yang tadinya menyuapi Casey mengangkat kepalanya. "Aman, Dad. Nilai saham juga lumayan meningkat." jawabnya.
"Gara-gara aplikasi game itu kan?" tanya sang Daddy.
Matthew tersenyum samar. "Iya, yang kata daddy gak akan berhasil ternyata belum satu minggu sudah dapat satu juta pengguna." katanya menyombongkan hasil pencapaiannya, dan dia memang tidak mengada-ngada. Berkat aplikasi game itu nama neotech semakin melambung dan dikenal banyak orang diseluruh dunia. Bahkan satu minggu terakhir ini Matthew kelimpungan saat mendapat banyaknya tawaran kerja sama dari perusahaan lain.
Sang ayah tersenyum bangga mendengar ucapan Matthew. Anak bungsunya itu memang bisa dindalkan dan cocok dijadikan penggantinya kelak.
__ADS_1
"Aku juga dengar kamu nolak proposal punya kyle ya?", ucap William dan membuat mood Matthew jadi turun.
Mendengar namanya disebut, Kyle langsung menatap dua orang itu bergantian. Sementara Matthew langsung meletakkan garpunya. Dia sudah punya firasat kalau sang ayah akan membahasnya malam ini, dan dia tau kalau Kyle sudah pasti mengadu pada William.
Matthew menatap Kyle tajam, sementara yang ditatap menampilkan wajah tak bersalah sama sekali. "Maaf aku gak tertarik, dad." ucap Matthew kemudian.
"Gak tertarik bukan berarti gak laku dipasaran kan? " sela William, dia kemudian menatap Matthew dengan senyuman tipis. "Game buatan mu itu buktinya. Daddy gak tertarik, tapi ternyata bisa laku dipasaran."
Matthew mendengus kecil. Sang ayah selalu bisa membalikkan semua keadaan dengan ucapannya. "Beda cerita. Gak ada yang mau download aplikasi usulan Kyle." ucap Matthew.
Mendengar itu Kyle menyatukan kedua tangannya, menyatukan ke sepuluh jarinya diatas meja makan. "Seyakin apa kamu?", Kyle menatap tajam pada adiknya tersebut.
Ditanya seperti itu membuat tatapan mata Matthew menajam. Dia sangat yakin dengan prediksinya, dia tidak pernah salah dalam memprediksi apakah aplikasi itu bisa diterima pasar atau tidak. Diterima mungkin iya, tapi jika sampai dikatakan laku, Matthew lebih memilih untuk tidak pernah membuat aplikasi tersebut daripada harus kehilangan banyak uang untuk proses produksinya.
"Apa salahnya kau membantu kakak mu, Matt. Ini aplikasi pertama yang dia rancang sendiri. Gak ada salahnya mendukung saudara sendiri," kata William Polan bijak.
Matthew menyandarkan punggungnya dikursi. Pada situasi seperti ini dia tidak bisa mengelak. sang Ayah berhasil memposisikannya sebagai orang jahat yang tidak mau kalah dengan saudaranya sendiri.
Matthew memandang Kyle lurus. Lelaki itu benar-benar malas mendengar omong kosong Kyle.
"cukup!! kalian tidak perlu berdebat masalah itu lagi didepan anak kecil." ucap Lily mencoba menghentikan pembicaraan antara William, Matthew dan Kyle.
William langsung menatap Casey dan Atreya secara bergantian.
"Atreya, menantu ku. maaf sudah membuatmu tidak nyaman." ucap William.
"tidak apa-apa, Tuan." jawab Atreya tersenyum tipis.
"hey, kenapa memanggilku tuan? panggil Daddy. kau juga kini anakku. dan Casey adalah cucu kesayangan ku." ucap William.
Sementara Kyle dan Jeany terlihat tidak senang dengan kehadiran Atreya dan Casey. mereka menganggap saingan bagi keduanya, karena mereka tau William berencana akan mengalihkan sebagian besar hartanya untuk cucu pertama yang berjenis kelamin laki-laki. kebetulan Jeany baru bisa hamil setelah diusia pernikahan ke enam dengan Kyle. dan setelah di USG ternyata kemungkinan calon bayinya itu berjenis kelamin perempuan.
"baik tu--, eh Daddy." ucap Atreya masih sedikit ragu.
__ADS_1
"aku baru tau kalau kamu ternyata anak dari dokter Kevan O'Neill." kata William kemudian.
"anda mengenal Daddy ku?", Atreya begitu terkesiap mendengar kalau ayah mertuanya ternyata mengenal mendiang ayahnya.
"Ya, tentu saja. Dulu kami sempat bertemu disebuah pesta. aku lupa, tapi kami sempat berbincang waktu itu. dokter Kevan membawa istri dan seorang anak seusia Casey. apa kau memiliki saudara laki-laki?"
"Ya, aku memiliki seorang kakak. namanya Aaron." sahut Atreya.
"Aaron Gildan kan? dia saudara tiri mu. Aaron anaknya nyonya Claire." tiba-tiba Kyle menyahuti perbincangan antara Atreya dan William.
"Kyle!! apa maksudmu bicara begitu?", Matthew begitu murka saat mendengar ucapan tidak sopan yang dilayangkan Kyle kepada sang Istri.
"kenyataannya memang seperti itu kan? kau hanya anak pelakor dari hubungan ayah mu dan ibunya Aaron." ucap Kyle dan sukses membuat Atreya merasa terpojok dengan kedua mata yang sudah memerah namun ia hanya bisa diam.
"Kyle!! jaga mulutmu!!", bentak Matthew. dia tidak terima dengan ucapan sang kakak yang malah memojokkan Atreya.
"aku hanya bicara kebenaran. tidak salah kan?", Kyle tersenyum miring.
"cukup Kyle!! kamu tidak sopan sekali bicara seperti itu pada menantu ku? ternyata dari dulu kamu tidak pernah berubah." William menggebrak meja makan karena ia merasa jengah mendengar perdebatan antara Matthew dan Kyle tiap kali keduanya bertemu.
Casey terlihat ketakutan melihat dan mendengar perdebatan ini. "Ma, aku mau pulang." ucap Casey menarik-narik ujung pakaian Atreya.
"sayang, kita ke kamar saja bagaimana?", sahut Atreya seraya menangkup kedua pipi chubby Casey disebelahnya. bocah itu pun mengangguk.
Akhirnya Atreya membawa Casey dari ruang makan itu menuju ke kamarnya. Atreya memang ingin sekali segera pergi dari ruangan itu.
.
.
.
.
__ADS_1