
"Daddy... Daddy..." teriak Casey saat Satria memberitahunya kalau ayah dari bocah itu sudah pulang kerumah.
Matthew yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tengah pun langsung terperanjat. Bocah yang sudah berbulan-bulan lamanya tak pernah ia temui secara langsung akhirnya kini berada dihadapannya.
"Casey" lirih Matthew saat tangan kecil sang bocah sudah melingkar di lehernya, Memeluk erat sang Ayah yang begitu ia rindukan.
"Daddy sudah sembuh?" tanya Casey sesaat mengangkat kepalanya yang semula bersandar didada Matthew, namun tetap membiarkan tangannya melingkar dileher Daddy nya tersebut.
"Kalau sudah pulang berarti tandanya Daddy mu sudah sembuh" sahut Bella yang duduk diantara Matthew dan Atreya.
"Asiikk...berarti Daddy udah gak tinggal dirumah sakit lagi?"
"Ya enggak, lah..." sahut Bella memutar kedua bola matanya.
Atreya dan Matthew tertawa kecil melihat percakapan antara bibi dan keponakan itu.
"Bagaimana sekolah mu hari ini? menyenangkan?" tanya Matthew, lalu menatap hangat Casey yang masih berada di pangkuannya itu.
"Of course, Dad. Besok Daddy harus mengantarku ke sekolah, nanti akan aku kenalkan pada teman-teman baruku. Mereka sangat menyenangkan, Dad. Oliver dan Kelly juga sekolah disana, bahkan satu kelas denganku", ujar Casey sangat berantusias menceritakan tentang sekolahnya.
"Oya? bagaimana dengan guru-guru disana? apa mereka baik?" Matthew berusaha masuk ke dunia Casey dan berkomunikasi secara intensif dengannya.
"Tentu saja. Apalagi Miss Clay, dia sangat baik dan cantik seperti bidadari"
"Wow, aku jadi penasaran sama miss-- siapa? Clay? besok biar Om Sat yang mengantar mu, Oke?!" ujar Satria yang baru saja masuk lalu duduk di sofa panjang yang sama disebelah Atreya.
"Modus banget kamu, Sat" sahut Atreya menyenggol bahu lelaki itu dengan bahunya.
Semuanya tertawa kecuali Bella yang hanya mendelik sinis seraya mengerucutkan bibirnya.
Huh. Percaya diri sekali sih, dia...
Tak lama kemudian Maid datang menghidangkan teh hijau hangat dan kue dominosteine yang dibelikan Jhon sepulang menjemput Casey dari sekolah.
__ADS_1
Mereka menikmati hidangan itu bersama-sama sambil bercanda tawa dengan celoteh Casey yang selalu menggemaskan.
***
Sore harinya setelah kepulangan Satria dan Bella, Matthew langsung ke kamarnya untuk beristirahat. Tubuhnya yang belum seratus persen stabil membuatnya mudah lelah. Atreya mengusul Matthew ke kamar sambil membawa air minum dan beberapa obat yang harus dikonsumsi Matthew menurut penjelasan Bella tadi sebelum pergi.
"Minum dulu obatnya, Matt" Atreya menyodorkan beberapa obat yang harus diminum suaminya tersebut di jam itu.
Tanpa banyak tanya Matthew pun meraihnya dan langsung meminum obat tersebut kedalam mulutnya bersamaan dengan air putih.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Atreya seraya menyaut kembali gelas yang telah kosong dari tangan Matthew, lalu menyimpannya diatas nakas.
"Lebih baik. Aku harap penyakit itu tidak datang lagi" ujar Matthew terkekeh seperti tidak serius. "Oh iya, bagaimana anak kita yang masih didalam ini, apa dia baik-baik saja?" ucapnya mengubah topik pembicaraan seraya mengusap perut Atreya yang buncit, dan nampak keras itu.
Atreya tersenyum, lalu menempelkan telapak tangannya diatas punggung tangan Matthew yang masih berada diatas perutnya. "perkiraan Dokter Marissa, aku akan melahirkan kurang lebih dua Minggu lagi. Jadi sebentar lagi rumah ini akan rame dengan suara tangis bayi" ucapnya sambil menatap dalam pada wajah Matthew, sungguh ia sangat merindukan suaminya itu.
"Oya? apa kamu sudah mempersiapkan nama untuknya?" tanya Matthew sangat antusias.
Atreya menggeleng cepat, "belum. Aku ingin kali ini kamu yang memberikan namanya."
"Aku ingin melihat anak kita, bagaimana kalau sekarang kita temui Marissa?" ujar Matthew dan sukses membuat kedua bola matanya Atreya terbelalak.
"Yang benar saja, kamu baru keluar dari rumah sakit tadi pagi, Matt. Bagaimana kalau besok saja kita menemui Dokter Marissa, sekarang lebih baik kamu beristirahat, oke?!"
"No, Aku baik-baik saja, Rea. Ayolah!! aku akan telpon Marissa untuk membuat janji hari ini juga." ujar Matthew lalu mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja diatas tempat tidur. "kita ajak Casey juga sekalian, dia pasti akan senang melihat adiknya didalam perut Mama cantik ini", ujarnya lagi seraya mengecup bibir Atreya. Lalu membuka layar ponselnya untuk melakukan panggilan dengan Dokter Marissa.
Atreya hanya bisa menggelengkan kepalanya, rasanya percuma saja berdebat dengan Matthew, lelaki itu emang tidak bisa dibantah atau dikuasai. Dia bilang sekarang, berarti harus sekarang. Kecuali kalau dia berhadapan dengan William, barulah Matthew akan menurut.
***
Ruangan Dokter Marissa masih sama seperti sebelumnya, tapi entah kenapa Atreya selalu saja merasa deg-degan saat berada didalamnya. Walaupun Dokter Marissa selalu ramah dan hangat, dan walaupun Suster Sharon yang selalu baik padanya serta memberikan semangat untuk Atreya, tapi tetap saja ada rasa yang tidak biasa dirumah sakit ini.
Mungkin rumah sakit dan semua hal yang berhubungan dengannya selalu membuat Atreya teringat kembali pada masa-masa suram. Saat Matthew di vonis cancer, saat Matthew mendadak collapse, semua kenangan pahit itu kembali berdatangan tiap kali Atreya berada dirumah sakit ini. Maka dari itu Atreya sudah beberapa bulan ini tidak melakukan USG, Dokter Marissa lah yang setiap satu bulan sekali datang ke rumah untuk mengecek kondisi Atreya dan bayinya.
__ADS_1
"Nah, kita USG sekarang ya..." kalimat Dokter Marissa memotong pikiran Atreya. Seperti biasa, Suster Sharon mengolesi perut Atreya dengan gel yang terasa begitu dingin, dan Dokter Marissa mulai mengatur alat USG dan monitor disebelah bed tempat Atreya berbaring.
"Sehat-sehat kan, Dok?" tanya Matthew antusias, matanya serius menatap layar monitor meskipun dia tidak mungkin mengerti apa yang dimaksud oleh gambar hitam putih bagai lukisan abstrak itu.
"Detak jantungnya sangat kuat, organ vital lainnya sudah berkembang dengan sempurna. Tinggal menunggunya keluar saja" ucap Dokter Marissa tergelak.
"Syukurlah, Dok" ujar Atreya pelan. "Akhir-akhir ini dia sangat aktif lho, Dok." imbuh Atreya lagi.
"Wah, bagus itu" kata Dokter Marissa. "By the way, kalian mau tau jenis kelaminnya?" tubuh Dokter Marissa sudah menghadap ke arah Atreya dan Matthew yang saat ini sedang saling tatap.
"Mmm..." gumam Atreya, merasa tidak yakin apakah dia ingin tau jenis kelamin calon anaknya ini atau tidak. Bukan kah akan menyenangkan jika hal itu akan menjadi sebuah kejutan?
"Kamu mau tau?" Matthew malah ikut bertanya, membuat Atreya sedikit memicingkan mata, bukankah seharusnya dia yang memutuskan hal itu?
"Aku mau tau!! aku mau tau, Bibi Dokter" sahut Casey yang ternyata dari tadi mengamati percakapan orang dewasa itu.
Semuanya tertawa mendengar celotehan Casey yang sangat bersemangat ingin mengetahui jenis kelamin adik bayinya. Sesaat Atreya menatap lalu mengangguk pelan pada Casey, kedua bola mata anak itu berbinar menanti persetujuan dari keinginannya tersebut.
"Oke, Dok, beritahu kami saja" ujar Atreya mantap. Menoleh pada Dokter Marissa yang sabar menunggu.
"Kamu juga setuju kan, Matt?" Dokter Marissa mengonfirmasi ulang pada Matthew.
Matthew hanya mengangguk cepat seraya mengacungkan jempol, terlihat sekali ia gugup dengan apa yang akan dikatakan Dokter Marissa. Matthew mencari tangan Atreya untuk dia genggam.
"Baiklah, kalian akan mendapatkan seorang bayi perempuan yang sehat sebentar lagi" ujar sang Dokter 99% merasa yakin.
"Yeayy!!! aku akan punya adik perempuaaaan..." seru Casey terlihat girang.
"Oh?!" Atreya dan Matthew berseru hampir bersamaan, lantas detik berikutnya mereka saling berpelukan bahagia. Seorang putri tak lama lagi akan menyapa semesta.
.
.
__ADS_1
.
.