
"Dimana Casey?" Tanya Matthew saat dirinya dan Atreya baru sampai dari perjalanan bulan madunya.
"sedang berenang dihalaman belakang bersama Bella dan pemuda itu." sahut Lily. "lebih baik kalian istirahat dulu. Casey baik-baik saja kok. kan ada Bella juga yang menemani." ucap sang bibi mencoba menenangkan Matthew yang sepertinya terlalu mengkhawatirkan Casey.
"cuma gara-gara pemuda yang dekat dengan Casey itu, kalian bisa pulang lebih awal dari yang sudah dijadwalkan?" ucap Kyle dengan nada sinis lalu terkekeh. "luar biasa. bukankah sebelumnya kalian juga saling mengenal kan?" tanyanya lagi.
"cukup Kyle!! jangan memancing di air keruh." ujar Lily memberi peringatan. dia sudah paham maksud Kyle yang selalu memperkeruh suasana dan mengambil kesempatan diantara kekisruhan.
"aku bertanya sesuai dengan apa yang aku tidak ketahui Bi. itu saja." sela Kyle tersenyum miring lalu beranjak pergi dari sana entah kemana.
Matthew sama sekali tak menanggapi respon dari sang kakak barusan. Karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Pikirannya kini tertuju hanya pada Casey.
"ini sebenarnya ada apa sih? siapa yang sedang bersama Casey? seorang pemuda dan Bella. siapa mereka?" Cerca Atreya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar dari obrolan diantara Matthew, Lily juga Kyle.
"Satria sedang bersama Casey." ujar Matthew dan sukses membuat Atreya terbelalak lebar.
"what??" Atreya mengernyitkan keningnya. mendengar nama Satria saja sudah membuat tenggorokannya merasa tercekat. apalagi bila ditakdirkan untuk melihatnya kembali.
"iya. gak sengaja mereka bertemu dikantor Daddy. Casey tidak mau jauh-jauh dari dia. akhirnya Daddy memintanya untuk menginap sejak hari kemarin." ungkap Matthew.
Atreya bergeming. kini dia tau alasan Matthew mengajaknya kembali lebih cepat. lelaki itu tidak mau melihat Casey kembali dekat dengan Satria.
"aku akan menemui Casey. tunggulah disini!" ujar Matthew segera beranjak menuju kolam renang dihalaman belakang.
sementara Atreya akhirnya memutuskan untuk langsung ke kamarnya saja. perjalanan barusan membuatnya sedikit pusing, karena Jhon mengendarai mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi dan itu karena perintah dari Matthew sendiri.
*
"Casey!!", Panggil Matthew saat Casey, Satria dan Bella tengah asik bermain main di kolam.
"Daddy?" Casey terkejut. bocah itu tidak menyangka kedua orangtuanya telah kembali.
Matthew mendekati tepian kolam. berusaha tetap ramah seraya menyunggingkan senyuman.
"apa kabar, Sat?" tanya Matthew lebih dulu menyapanya.
"baik, Pak." sahut Satria lalu menaikkan tubuhnya keatas tepian kolam. menyugar rambutnya yang basah seraya berusaha untuk tetap tenang.
"maaf, Casey sudah menyulitkan mu." ucap Matthew berkata lirih.
"tidak apa-apa, Pak. namanya juga anak kecil." jawab Satria.
"ayo Om!! ajarin aku berenang lagi. bibi Bella payah." teriak Casey dan membuat Satria juga Matthew ikut tertawa.
"eh, sembarangan ya ngatain aku payah. dasar bocah!!" umpat Bella lalu menjipratkan air kolam ke wajah Casey hingga bocah itu menjerit.
"Bell!! bukannya kamu gak bisa berenang? gak usah sok-sokan ngajakin anakku berenang deh." Teriak Matthew terkekeh.
__ADS_1
"kita bukan berenang kak. tapi main air." sahut Bella seraya menjulurkan lidahnya tanda meledek. "oiya, mana Kaka ipar? aku belum berkenalan lho." ujar Bella mengedarkan pandangannya mencari sosok Atreya.
"dia dikamarnya. mungkin kecapean." jawab Matthew berbohong.
"Ya jelas lah kecapean. selama berbulan madu kakak pasti yang membuatnya kelelahan setiap saat, iya kan?" sahut Bella terkekeh menggoda kakak sepupunya itu. Matthew hanya tertawa kecil saja menanggapi gadis cerewet seperti Bella.
Satria berusaha mengalihkan pandangan ke sembarang arah. bersikap acuh tak acuh seolah tidak ingin mendengarnya, namun sayang kedua kupingnya masih berfungsi dengan baik. tidak ada kata-kata Bella yang terdengar samar. semuanya kata-kata Bella malah sangat jelas sekali mensayat-sayat hatinya hingga terluka begitu dalam.
Sementara di salah satu Balkon kamar, yang terletak dilantai dua rumah itu tengah berdiri seorang perempuan yang tengah memandang teduh lelaki bertelanjang dada yang duduk ditepian kolam.
Atreya bisa melihat sosok mantan kekasihnya lagi meski dari kejauhan. guratan pemilik wajah Asia yang sesungguhnya masih ia rindukan.
"apa kabar, Sat. aku harap kamu selalu baik-baik saja." gumam Atreya berkata lirih. kini bukan perasaan cinta yang bersarang dihati perempuan itu. tapi lebih ke perasaan rasa bersalahnya yang telah mengecewakan hati lelaki setulus Satria.
Di keadaan yang sangat mencanggungkan ini, Satria sadar sedang diperhatikan seseorang disuatu tempat. wajahnya seketika mendongak keatas, sejenak netra berlainan warna itu saling bertatapan. Satria merasa ulu hatinya ditusuk belati. Ya benar, Dia wanita yang memenuhi kepalanya selama ini. Namun saat Atreya menyadari Satria tengah memandanginya, Dia pun hanya menatapnya sekilas dan buru-buru masuk kembali ke dalam. menutup pintu kamarnya menuju ke balkon yang berhadapan langsung dengan kolam renang rumah mertuanya tersebut.
*****
Malam harinya, entah kenapa Matthew tidak bisa memejamkan kedua matanya. Mungkin karena dia kepikiran tentang Casey yang tadi sore ingin tidur bersama Satria. "sebegitu dekat kah Casey, hingga tidurpun ingin bersama dengannya. padahal aku dan Atreya sudah kembali." gumam Matthew dalam hatinya merasa sedih.
Matthew pun terpaksa meminta tolong Atreya untuk membuatkannya secangkir teh hijau untuk menyegarkan tubuhnya yang akhir-akhir ini mudah lelah. Atreya yang belum tertidur pun beranjak menuju dapur untuk memasak air panas terlebih dulu. di dapur terlihat sudah nampak sepi, mungkin para Maid sudah berada di kamarnya untuk beristirahat.
Atreya mengambil pan kecil untuk memasak air. sambil menunggu air itu mendidih, lalu Atreya mengambil sekantong teh hijau celup dan dimasukkannya kedalam cangkir. tak lama kemudian air dalam pan itu mendidih. Atreya segera mengangkatnya lalu menuangkan ke dalam cangkir yang sudah berisi teh hijau celup. sedikit mengaduknya dengan menggunakan sendok agar teh hijau cepat larut.
"Rea?" tiba-tiba seseorang datang dan mengagetkannya. Atreya begitu terkesiap saat orang itu adalah Satria yang hendak mengambil air mineral didalam kulkas.
"Teh hijau untuk siapa?" tanya Satria seraya melirik ke arah cangkir berisi teh panas yang masih tergeletak diatas meja dapur.
"Matthew" jawab Atreya tercekat.
"Owh" Satria membulatkan bibirnya.
Atreya berfikir mungkin ini waktu yang tepat untuk dirinya meminta maaf untuk semua kesalahannya pada Satria.
"Sat." lirih Atreya. "aku minta maaf untuk semua kesalahanku padamu." ucap Atreya lagi tanpa ragu.
"Sudahlah Rea. kamu gak perlu bersikap seperti itu. aku tidak pernah menyalahkan mu untuk alasan apapun." ujar Satria lalu menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkannya lagi. "mungkin karena cintaku terlalu tulus sama kamu, Atreya."
Sesaat Atreya mendongak ke atas. menatap wajah Satria yang nampak sayu. namun perempuan itu segera mengalihkan tatapannya sebelum akhirnya akan terhanyut.
"Rea," lirih Satria melukis ekspresi menyedihkan. Jemarinya mencuri jemari Atreya.
Atreya tersentak, dengan senang hati melepas rangkuman jemari mereka. "aku minta maaf untuk rasa mu yang kini tidak berbalas, Sat. Tapi kamu tau sendiri alasannya kan? aku sudah menikah dengan Matthew. Dan kini perasaanku sudah tidak sama lagi." ungkap Atreya dengan berat hati.
"oke, Aku minta maaf." ucap Satria tulus.
Atreya mengangguk. "Aku pergi dulu ya, Sat. Jaga dirimu baik-baik. dan Aku harap kamu mengerti." Ungkap Atreya tersenyum muram.
__ADS_1
Atreya pun segera mengambil cangkir teh untuk suaminya tersebut, lalu beranjak pergi meninggalkan Satria yang masih bergeming sambil bersandar didinding tembok dapur.
*
"Kok lama?" Tanya Matthew menyelidik memandang Atreya.
Atreya tidak menjawab pertanyaan sang suami. dia lalu menyimpan cangkir teh hijau itu di atas nakas karena masih terlalu panas jika langsung diberikan kepada Matthew.
"Kamu bertemu Satria?" Tanya Matthew lagi. Kali ini sarat akan kesakitan dan kepedihan.
"Iya, tadi gak sengaja bertemu didapur." Atreya memaksa matanya tidak lari berkeliaran. Dia tatap pupil yang membesar milik Matthew.
"Ada urusan apa kalian sampai mengobrol? Apa yang kalian bicarakan?" Cecar Matthew sinis.
Atreya menghela nafas. Demi apa pun dia ingin berbohong kali ini. Atreya ingin punya kekuatan berteleportasi. Menghilang dari sini agar tidak perlu menjawab pertanyaan yang diajukan Matthew barusan.
"Jawab aku Atreya!" Bentak Matthew.
"Dia membicarakan Casey" ungkap Atreya akhirnya berbohong.
"Maksudnya?" Matthew mengernyit.
"Dia hanya mengatakan kalau Casey sudah tidur. dan kita gak perlu mengkhawatirkannya." ujar Atreya. berharap Matthew berhenti dan tidak lagi membahasnya.
Matthew pun akhirnya memutuskan untuk tidak lagi membahas Satria. dia meraih cangkir teh hijau diatas nakas dan menyeruputnya dengan hati-hati hingga habis tak tersisa.
Atreya duduk dihadapan Matthew, memindai wajah sang suami yang terlihat lelah dan sedikit pucat.
"ku rasa besok kita perlu ke dokter." ujar Atreya menatap wajah sang suami.
Matthew mengernyit heran. "kamu sakit, sayang?" tanya Matthew seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Atreya.
Atreya menggeleng. "sepertinya kamu yang sakit, Sayang. wajah mu sering terlihat pucat dan lelah. kamu sakit apa sih? besok aku antar ke dokter ya!"
Matthew malah tertawa. Lelaki itu lebih memilih menggigit bibir Atreya dibanding menjawab pertanyaan kritis dari sang istri. Lagi-lagi Matthew lari dari kejaran pertanyaan Atreya. Namun kali ini tidak ada protes lagi. Perempuan itu malah membalas ciuman Matthew dengan tidak kalah hangatnya.
Atreya melepas bibir mereka yang berpagutan. "Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Matt."
"Pertanyaan itu tidak penting. yang pasti aku baik-baik saja." Timpal Matthew mengecup lama sudut bibir Atreya. Dia pandangi perempuan yang dia sayangi setengah mati ini dengan tatapan lembut.
.
.
.
.
__ADS_1