Lovely Atreya

Lovely Atreya
ingin sembuh


__ADS_3

Atreya mulai membuka matanya saat sedikit sinar matahari yang lolos dari celah gorden yang tidak tertutup rapat menerpa wajahnya. Ia mengucek kedua netranya agar bisa melihat sedikit lebih jelas.


Dia baru sadar Matthew sudah tidak ada disampingnya. "kemana dia? apa sudah berangkat ke kantor?eehh, tapi kan ini hari libur? pergi kemana sepagi ini?" pertanyaan demi pertanyaan berputar dalam benaknya.


Akhirnya dia keluar dari kamarnya. menyusuri setiap ruangan namun sosok suaminya tak ditemukannya. Atreya berjalan ke dapur, disana hanya ada dua maid yang tengah sibuk menyiapkan sesuatu. keduanya tersenyum saat Atreya datang menghampirinya.


"nyonya mau sarapan sekarang? saya akan siapkan segera." tanya salah satu maid bernama Olive.


"nanti saja olive. aku mencari suamiku. kau melihatnya?" ujar Atreya malah balik bertanya.


"lho, tuan sudah pergi sejak pagi-pagi sekali, nyonya. memangnya tuan tidak bilang dulu?"


"tidak, olive. aku baru saja bangun." Sahut Atreya memutar kedua bola matanya seakan sedang berfikir. "suamiku tidak bilang mau kemana?" tanya Atreya kemudian.


"tidak nyonya. tadi pagi hanya memintaku mengambilkan kunci mobil yang merah saja." sahut Olive.


"kemana ya?" gumam Atreya. lalu dirinya segera kembali ke kamar. mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas.


Atreya mencoba menghubungi suaminya tersebut, namun ternyata ponselnya tidak aktif. perempuan itu jadi cemas memikirkan suaminya. apalagi ditengah kondisinya yang sedang kurang sehat sejak kemarin malam. akhirnya dia berinisiatif untuk menelpon Satria. mungkin Matthew sedang bersamanya.


"Hallo, Rea." sapa Satria diseberang sana terdengar serak seperti baru saja bangun tidur.


"Sat, apa Matthew sedang bersama mu?" tanya Atreya.


"gak ada, aku masih di apartemen. lagipula ini kan hari libur."


"oh gitu ya." sahut atreya semakin cemas. jadi kemana Matthew yang sebenarnya. dia tidak pernah pergi tanpa pamit seperti ini sebelumnya.


"memang dia gak bilang mau pergi kemana?" tanya Satria.


"Matthew pergi disaat aku masih tidur. aku coba telpon tapi ponselnya gak aktif. aku hanya khawatir aja, Sat. semalam dia demam dan sempat mimisan."


"hah? dia mimisan lagi?" Satria terdengar terkejut. "kemarin dikantor juga dia mimisan. aku sarankan ke dokter tapi tidak mau."


mendengar itu malah membuat Atreya semakin khawatir. perasaannya mulai tak karuan. dia merasa suaminya itu menyembunyikan sesuatu darinya.


*****


Sementara ditempat lain. seorang lelaki tengah berbaring di ruang pemeriksaan. seorang dokter tengah memeriksa kondisi tubuh lelaki itu yang ternyata Matthew.


"aku sudah berkali-kali menyarankan mu untuk kemoterapi, tapi kau terlalu menyepelekan penyakit mu itu , Matt" ujar sang dokter lalu membantu Matthew untuk turun dari tempat pemeriksaan karena sudah selesai.


"penyakitmu bukan penyakit sepele. tidak seperti penyakit-penyakit lainnya yang dikasih obat langsung sembuh." ucap sang dokter seraya menyimpan stetoskopnya diatas meja lalu menatap serius ke arah sang pasien dihadapannya.

__ADS_1


"harusnya kau lebih aware. semangat untuk sembuh, jangan pasrah begitu saja tanpa berusaha." dokter itu terus menerus menasihati Matthew yang masih diam membisu.


"Kau jangan kaget jika sering merasakan rasa lelah yang berlebihan, pendarahan, mimisan atau bahkan memar. Karena itu menunjukkan menurunnya sistem imun yang tidak dapat melawan sel kanker dalam tubuhmu." ujar dokter Steve yang menangani kasus Matthew, pasien penderita leukimia stadium dua.


"sudah cukup ocehanmu, Steve!! sekarang intinya apa aku bisa sembuh atau tidak?" ucap Matthew akhirnya bertanya.


Steve malah tertawa mendengar pertanyaan dari Matthew.


"bisa sembuh atau tidaknya itu ya dari dirimu sendiri, Matt" ujar Steve. "dari dulu aku selalu mengingatkan mu untuk melakukan pemeriksaan secara rutin, konsultasi, serta tindakan-tindakan medis lainnya seperti terapiĀ atau penggunaan obat untuk menekan sel kanker dan mencegahnya berkembang di organ tubuh yang lain."


"tapi kau tidak melakukannya, Matt. apa perlu Atreya tau masalah ini?" ujar Steve menautkan kedua alisnya.


"jangan!!" sergah Matthew cepat.


"kenapa? jika dia mengetahuinya, dia tidak akan membiarkan kau berkeliaran seenaknya sendiri begini. dan dia pasti akan merawatmu dengan baik" sahut Steve. Dokter itu selalu kewalahan dengan pasiennya yang satu ini. bandel dan tak mau diatur. kalau bukan karena anak dari sahabat ayahnya itu mungkin dokter itu sudah nyerah duluan.


"justru itulah alasannya kenapa aku tidak mau Atreya tau. aku tidak mau menghabiskan sisa waktu ku hanya untuk berbaring tak berdaya. aku ingin membahagiakan Atreya dan Casey disisa hidupku yang entah berapa lama lagi." ujar Matthew.


"seriously?" Steve menautkan sebelah alisnya. "memangnya kau tidak ingin sembuh dan membahagiakan mereka lebih lama lagi?"


Tiba-tiba pertanyaan dari Steve itu membuat Matthew bungkam. siapa yang tidak mau membahagiakan orang-orang yang dicintainya lebih lama bahkan kalau bisa sepanjang mereka hidup? Matthew ingin sekali sembuh. namun dia juga tidak ingin penyakitnya ini malah membuat mereka jadi bersedih atau bahkan jadi mengasihinya.


Matthew sudah mengetahui penyakit yang dideritanya ini sudah lama. Jauh sebelum dirinya bertemu kembali dengan Atreya. Awalnya, selain untuk kepentingan bisnis, Dia memang sengaja memilih Indonesia untuk menenangkan diri dari penyakit yang tengah dideritanya. Lelaki itu tau, negeri yang memiliki banyak pulau itu sangat terkenal di mancanegara sebagai negara dengan alam yang indah. Negara kepulauan seluas 1,91 juta km2 itu memang memiliki bentang alam yang memesona. dan Matthew memilihnya untuk sekedar melarikan diri sejenak dari masalah yang tengah ia hadapi.


Namun siapa sangka, justru di negeri sanalah dirinya bisa kembali bertemu dengan sosok perempuan yang selama ini di carinya.


"oke, sekarang apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Matthew akhirnya ia ingin mencoba untuk sembuh dengan jalan medis.


"kemoterapi, radio terapi atau pembedahan bila itu diperlukan." sahut Steve seraya mengetuk-ngetukan jari telunjuknya diatas meja.


"terserah. tolong atur saja jadwalnya! aku akan mencari alasan apapun kepada Atreya yang penting dia tidak pernah tau semua ini." ujar Matthew.


"kau ini benar-benar aneh, Matt" ucap Steve menggeleng-gelengkan kepalanya.


*****


Atreya tengah duduk termenung diatas tempat tidur sambil memegangi ponselnya. dia menunggu kabar dari Matthew yang tak kunjung mengabarinya. Atreya bahkan sudah menghubungi Lily, barangkali Matthew ada disana bersama Casey. tapi ternyata Matthew tidak ada juga dirumah ayahnya itu.


"kemana dia? aku benar-benar khawatir. jaga dia untukku, Tuhan" Atreya hanya bisa berucap lirih, memohon kepada sang Pencipta untuk selalu menjaga suaminya dimana pun dia berada.


tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Atreya reflek mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang baru datang.


"Matt! kamu dari mana saja sih? kenapa gak mengabari orang rumah? aku bingung dari tadi mencarimu." Cerca Atreya melampiaskan rasa kesal, khawatir, dan marah menjadi satu pada suaminya yang baru datang itu.

__ADS_1


Matthew hanya tertawa mendengar ocehan sang istri, dan membuat lelaki itu menjadi gemas dan langsung memeluknya. Atreya yang merasa masih kesal berusaha melepaskan rengkuhan Matthew. namun suaminya itu malah semakin mengeratkan pelukannya hingga usaha Atreya pun sia-sia. perempuan itu pun menyerah dan malah membalas pelukan suaminya begitu erat.


"aku hanya mengkhawatirkan mu, Matt." ucap Atreya berkata lirih.


"aku minta maaf karena pergi gak bilang-bilang." sahut Matthew masih memeluk tubuh sang istri.


"memangnya kamu dari mana?" Atreya sedikit mendorong tubuh Matthew untuk melepaskan rengkuhannya.


"habis menemui dokter Louis, dia dokter keluarga ku." sahut Matthew berbohong dan begitu santai.


"lantas kenapa pergi sendiri dan tidak membangunkan ku? aku memang selalu bangun kesiangan, tapi aku mudah dibangunkan, Matt." protes Atreya masih nampak kesal.


"tadi ku lihat kamu tidur begitu nyenyak, Rea. aku gak tega membangunkan mu." ujar Matthew. "lagi pula tidak ada yang perlu dikhawatirkan. aku baik-baik saja kok."


"memang kata dokter kamu sakit apa?" Atreya memasang wajah serius.


"hanya kelelahan saja. dokter hanya memberiku Beberapa obat dan vitamin."


"Oya? kalau gitu mana obatnya? aku bisa cari tau jenis obat itu dari internet"


"heuh?" Matthew begitu terkesiap. ini bahaya. Atreya bisa tau dong kalau Matthew diberikan obat-obatan untuk penghambat sel kanker yang diresepkan dokter Steve tadi.


"mana obatnya?" pinta Atreya seraya mengulurkan telapak tangannya kehadapan Matthew.


"hhmm. obatnya tertinggal di mobil. nanti saja aku ambil kalau sudah waktunya minum obat."


"aku akan mengambilnya sekarang." Atreya langsung beranjak namun aksinya segera ditahan oleh Matthew.


"ayolah, gak ada yang perlu dikhawatirkan, sayang." Matthew berusaha agar Atreya tidak mengambil obat-obatan tersebut. "oiya, bagaimana kalau malam nanti kita dinner diluar. kau mau?" tawarnya agar Atreya tidak membahasnya lagi.


"dinner?" Atreya menyipitkan kedua matanya.


"Ya, kita dinner. Dan kita ajak juga Satria dan Bella? jadi anggap saja sedang double date." ujar Matthew sebisa mungkin mengalihkan Atreya.


"double date? memangnya Satria dan Bella itu---" Atreya tak melanjutkan kalimatnya.


"kenapa? kamu cemburu kalau mereka ada hubungan spesial?" ujar Matthew mendelik dan langsung mendapat cubitan dibagian perut dari Atreya.


"awww. sakit sayang!" pekik Matthew meringis, tapi setelah itu malah terkekeh seraya menggoda istriny lagi hingga Atreya lupa tentang obat-obatan itu.


.


.

__ADS_1


.


jangan lupa beri rate bintang 5 ya buat novel inišŸ¤— šŸ™


__ADS_2