
Setelah rasa sakit diperutnya sudah mereda, dan Dokter Marissa menyatakan baik-baik saja, Atreya pun berpamitan dan segera keluar dari ruangan dokter obgyn tersebut.
"Bagaimana? semuanya baik-baik saja kan?" cerca Andrew yang sedari tadi menunggunya diluar selama pemeriksaan dokter Marissa terhadap kehamilan Atreya.
"Ya, aku baik-baik saja" sahut Atreya datar, "Oya, terimakasih tadi sudah membantuku. Maaf kalau sudah merepotkan Anda, Tuan O'Brien"
Andrew mengibaskan tangannya, "it's Oke, Nona Atreya. Aku melakukannya atas dasar kemanusiaan. lagipula anda istri dari kawan baik ku sendiri, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja" ujar Andrew, berharap ucapannya kini bisa meluluhkan hati Atreya yang sepertinya sudah terlanjur membenci lelaki itu karena perkataannya tempo hari.
DRRTT! DRRTT!
Tiba-tiba ponsel Atreya dalam tasnya bergetar. Membuat Atreya mengabaikan perkataan Andrew, lebih memilih mengambil ponselnya yang masih bergetar karena ada panggilan masuk.
Satria? ada apa dia menelpon ku?
Atreya segera mengangkat panggilan telpon dari Satria.
"Ada apa, Sat?"
Wajah Atreya tiba-tiba menegang setelah kalimat tanyanya terucap.
"Apa? Matthew collapse? Aku segera kesana!"
Atreya menutup ponselnya dengan raut wajah cemas. Andrew pun ikut panik melihat ekspresi Atreya. "apa yang terjadi?"
Atreya tidak menjawab pertanyaan Andrew barusan. Ia pergi begitu saja dengan tergesa-gesa.
*
Atreya berlari menyusuri koridor menuju ruangan tempat Matthew dirawat. Andrew mengikutinya dari belakang. Wajahnya nampak khawatir sambil melihat ke arah perawat yang sedang membersihkan ruangan yang sudah kosong tersebut.
"Tuan Matthew sudah dipindahkan ke ruang icu, nyonya." ucap perawat disana.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Sus?" tanya Atreya panik.
"Saya kurang tahu, Nyonya. Sebaiknya anda menemui Dokter Steve saja."
Tanpa menjawab apapun pada perawat itu, Atreya pun segera beranjak kembali keluar ruangan tersebut.
**
Atreya dan Andrew segera pergi menyusuri koridor menuju ke ruang ICU. Ternyata didepan ruang ICU itu sudah ada William, Kyle, Satria dan Bella. Mereka duduk dikursi tunggu tepat didepan pintu keluar-masuk ruangan yang merupakan unit perawatan khusus untuk pasien dengan penyakit serius dan butuh pemantauan ketat itu.
__ADS_1
Suara sepatu Atreya yang berbenturan dengan lantai membuat mereka menoleh ke arahnya. Menatap Atreya yang baru saja datang ditemani Andrew dibelakangnya.
"Bagaimana keadaannya, Dad? kenapa jadi seperti ini, apa yang terjadi?” cerca Atreya dengan mata penuh kecemasan sambil mengunci tangannya didepan dada, berharap tidak akan terjadi apa-apa pada suaminya itu.
"Dia sedang ditangani dokter, kita hanya bisa menunggunya disini" ujar William, "Atreya, kamu dari mana saja?" tanya William lagi seraya menatapnya sekilas lalu mengalihkan perhatiannya kepada Andrew yang kini berada disamping Atreya. William mengernyit, merasa mengenali Andrew tapi lelaki tua itu tidak mampu mengingatnya.
"Bukannya jagain suami, malah keluyuran."
Degg!
Ucapan Kyle yang tiba-tiba itu menusuk jantung Atreya. "apa maksud, Kak Kyle?"
Kyle berdecih sinis, memandangi adik iparnya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki yang terbalut sepatu. "Kau tau apa yang terjadi?" Kyle mendekati tubuh Atreya, reflek perempuan itu sedikit bergerak mundur, "ketika kami datang, Matthew sedang mengalami sesak nafas sendirian diruangannya. Untung aku dan Daddy datang tepat waktu, lalu disusul Bella dan si Satria itu. Lantas kau dimana waktu itu?" Kyle lalu menggeser tatapannya ke arah Andrew dengan sorot mata tajam, "pacaran dengan lelaki ini, hah?"
Tuduhan Kyle barusan sungguh membuat Atreya sakit hati, ingin sekali dia menyangkalnya, namun entah kenapa ia tak sanggup berucap lagi. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu besar yang menghantamnya. Dipikirannya kini hanya ada Matthew.
Bagaimana bisa Matthew bisa sesak nafas padahal sebelumnya dia baik-baik saja, bahkan meminta ku pergi untuk makan. Bodoh kamu Atreya!! kenapa tadi aku lupa tidak menitipkannya pada perawat selama aku keluar? Aarrgh...
Atreya mengutuk pikirannya sendiri, dia hanya menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Matthew selama dia tidak ada disamping suaminya tersebut.
"Sudah, Kak Kyle!! tuduhan mu itu berlebihan. Ini Tuan Andrew, dia partner bisnis kita dari GA group" ujar Bella akhirnya meluruskan kesalah pahaman ini.
"Ka...kamu, Andrew O'Brien?" William berusaha menerkanya. Pantas saja dia merasa mengenali sosok lelaki yang tadi datang bersama menantunya itu. ternyata memang benar, dia teman kecil Matthew yang dulu sering berkunjung kerumahnya untuk bermain dengan anaknya tersebut.
"Tuh kan apa aku bilang? suaminya sakit, ini malah enak-enakan makan di restoran bersama lelaki lain. Dasar jal*ng!!" sarkas Kyle memotong ucapan Andrew yang berusaha menjelaskan semuanya.
"Apa mau mu sebenarnya?" entah kekuatan dari mana Atreya bisa dan berani mengucapkan pertanyaan itu meskipun dengan lutut gemetar. Sungguh, dia tak terima atas tuduhan Kyle yang sudah memperkeruh suasana, apalagi mengatainya dengan sebutan jal*ng.
"Pakai bertanya lagi, harusnya aku yang bertanya, Atreya. Kenapa kamu meninggalkan Matthew sendirian disaat tidak ada orang lain yang menunggunya? kalau kamu tidak bisa menunggu rasa laparmu itu, harusnya kau titipkan pada perawat. apa susahnya sih? kau kan tau kami akan datang, setidaknya tunggulah sebentar sebelum kami tiba. Dasar istri gak berguna!" ujar Kyle yang terus saja menghujam Atreya hingga membuatnya semakin terpojok.
Perempuan itu tak sanggup lagi berkata selain memejamkan kedua matanya sesaat. Lalu terdiam dengan hati yang panas menahan emosi marah, sedih, kecewa, semuanya menjadi satu.
"Atreya, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Satria khawatir. Atreya dilihatnya hanya berdiri mematung, seperti tidak sedang berada disana. pandangan matanya kosong entah melihat apa.
Perempuan itu tidak menangis, tidak ada air mata yang membanjiri pipinya. dia bahkan tidak terisak. bahunya memang terlihat sedikit bergetar, dan samar Satria bisa melihat lututnya juga gemetar, sehingga perempuan yang tengah hamil itu selalu berpegangan pada dinding untuk bisa tetap berdiri tegak menahan tubuhnya sendiri.
Tapi Satria tau, kondisi seperti itu jauh lebih berbahaya. entah seberapa parah kesedihan atau luka yang tertoreh dihati Atreya saat ini, sampai-sampai perempuan itu bahkan tidak bisa menangis seperti itu. padahal Satria tau, tuduhan Kyle tadi pasti membuat Atreya kecewa dan sedih. Dia tau siapa Atreya, perempuan itu selalu menangis jika ada yang menyakiti hatinya.
"Sat, aku harus ke toilet" ujar Atreya lirih, nyaris berbisik. Kepalanya menoleh ke arah Satria sedikit. "kalau ada apa-apa hubungi aku!"
Detik berikutnya Atreya sudah bergegas melangkahkan kakinya menuju toilet, meninggalkan Satria dan orang-orang disana yang untuk beberapa detik terpaku melihat kepergian Atreya.
__ADS_1
*
Tangan Atreya mengelus lembut perutnya. Sejak tadi bayi didalam perutnya itu seolah tau ibunya kini sedang bersedih, sehingga janin itu cenderung diam, tidak ada pergerakan seperti biasanya.
"Mama baik-baik saja kok, sayang. Daddy kamu juga pasti akan baik-baik saja. Mama yakin ketika kamu lahir nanti, kamu akan melihat Daddy mu dan merasakan hangat serta pelukannya", bisik Atreya pada perutnya seraya tersenyum meski susah payah. Dia tau janinnya tidak bisa melihat senyumnya, tapi Atreya yakin bayi dalam perutnya ini bisa merasakannya.
Atreya merasa takjub terhadap ketahanan dirinya yang sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Lihat saja, tidak sebutir air mata pun keluar dari matanya!! hebat sekali bukan? Bagi Atreya bisa menahan diri untuk tidak menangis seperti ini adalah pencapaian luar biasa.
Meskipun Atreya bisa merasakan hatinya terasa sangat sedih dengan kondisi Matthew saat ini yang terngah berjuang melawan penyakitnya. Kini suaminya itu tengah collapse di ruang ICU, Atreya benar-benar shock dan tertekan. Dia ingin menangis, mungkin dengan demikian hatinya bisa sedikit terobati, bukan? tapi nihil, air matanya enggan keluar, membuat dadanya semakin terasa berat.
Atreya memejamkan matanya, ia memerintahkan otak dan tubuhnya untuk rileks seiring hidung dan paru-parunya menarik dan menghembuskan oksigen. Atreya melakukan pernapasan panjang dari hidung ke hidung yang sudah lama dia pelajari dari pelatih yoganya sejak kehamilan pertamanya dulu.
Akhirnya ritme bernafasnya sudah mulai teratur, Atreya sudah merasa lebih tenang dan rileks, serta kembali berfikiran positif tentang suaminya, dan sedikit melupakan tuduhan Kyle tadi. Atreya mulai membuka matanya perlahan dan bisa berpikir dengan jernih, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang hilir mudik dikepalanya. Meyakinkan kekhawatiran yang dirasakannya kini tidak akan pernah benar-benar terjadi.
Atreya berdiri didepan wastafel bercermin, mencuci kedua tangannya lantas tidak perduli dengan kemungkinan akan merusak riasan tipis diwajahnya itu. Air keran yang dingin membuat wajahnya terasa lebih segar. Melihat bayangan wajahnya dicermin membuat Atreya kembali termenung.
Sekali lagi Atreya menatap bayangannya di cermin sebelum benar-benar beranjak meninggalkan toilet, "Suami ku akan baik-baik saja. Matthew akan baik-baik saja, Rea" ujar Atreya tegas untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, Matthew akan baik-baik saja. Dia laki-laki yang kuat."
Atreya tergeragap, menoleh ke arah sumber suara, menatap kaget pada Satria dan Bella yang baru saja melangkah masuk dan berjalan mendekatinya.
"Sat, Bella? semuanya baik-baik saja kan?" Atreya khawatir.
"Iya, Rea. Semua akan baik-baik saja" sahut Satria.
"Kenapa kamu kemari? ini toilet perempuan" Atreya melotot ke arah lelaki yang sudah bertahun-tahun dekat dengannya.
"Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Rea. Lagi pula disini tidak berdua, ada Bella kan?" ujarnya tertawa tipis.
Atreya tersenyum samar, ia lalu terdiam. Entah kenapa kini tiba-tiba saja kedua matanya mulai mengembun.
Satria mengerti apa yang tengah ada dibenak Atreya saat ini. Maka lelaki itu hanya menarik Atreya ke dalam pelukannya. Dan Atreya menerima pelukan itu dengan pasrah. Ia merasa beban berat yang dirasakannya telah menekan dadanya sejak lama. Tidak perlu menunggu lama, Akhirnya perempuan itu pun menangis juga dipelukan Satria.
Bella merasa takjub melihat kedekatan Satria dan Atreya,
Sedekat itu kah persahabatan diantara mereka berdua? Tiada yang lebih indah daripada kasih seorang sahabat, sahabat menaruh kasih di setiap waktu selalu ada dalam setiap kesusahan, kesedihan, dan kegembiraan.
.
.
__ADS_1
.